Mikhayla

Mikhayla
Part_27


__ADS_3

Mika tertidur setelah makan siang, dia merasa aneh, ada yang berbeda kenapa tiba-tiba di perutnya terasa sedikit berat. Mika membuka selimutnya, ternyata Azka tidur di balik selimut. Tangannya melingkar dengan posisi kepala menghadap perut Mika.


Mika tersenyum, kemudian menggeleng. Dia menepuk ke dua pipinya, menyadarkan diri ini mimpi apa bukan? Melihat ada Azka di sini.


"Masa, sih gue gila? Ini makhluk ghaib pasti yang suka gangguin ibu hamil dan menjelma menyerupai suami. Ini gak bisa dibiarin." Pelan-pelan Mika mengambil guling di sampingnya. Kemudian memukul kepala Azka sekuat tenaga.


"Aww ... Ampuun, ampun sakit, sayang," keluh Azka sambil menutupi mukanya.


"Hah! Ini asli? Bukan jelmaan jin?" tanya Mika masih gak percaya.


"Dih, bukanya di sambut, di peluk, di cium atau ngajakin perang langsung, ini malah di timpuk pake guling," ketus Azka.


Mika mencubit ke dua pipi Azka.


"Ih, kok nyata banget, sih?" gumam Mika yang masih belum percaya ini real Azka. Azka mencium pipi Mika kemudian memeluknya.


"Abang, kangen banget. Mulai sekarang Adek, Abang iket biar gak lari lagi," ucap Azka.


"Emang Mika, guk guk?"


"Abis kamu bandel, Abang gak suka, ya kamu gak nurut sama suami."


"Mika gak nyangka Abang sampai sini? Oma yang ngasih tau?" tanya Mika masih dalam pelukan Azka.


"Nggak! Emang Oma tau kamu di sini?" tanya Azka.


"Emmm, sebenernya waktu itu, Mika bingung mau kemana. Pas di terminal Oma telepon, nyuruh Mika nunggu di cafe aja, biar Mang Amin jemput Mika terus anter ke sini. Kata Oma daripada gak jelas ngumpet aja di sini," terang Mika.


"Adek, nakal. Gak boleh kabur-kaburan lagi. Abang gak suka," ucap Azka sambil membingkai wajah Mika.


"Itu salah Abang. Abang nuduh Mika yang jahatin siluman rubah." Mika menepis tangan Azka.


"Bukannya Abang gak percaya."


"Alah, buktinya Abang milih nganterin dia ke rumah sakit daripada nemenin Mika yang sedih, Abang masih cinta 'kan sama dia?" Mika merajuk kali ini dia memalingkan wajahnya dari Azka sambil bersidekap.


"Dek, Abang cuma nolongin dia. Abang inget kamu aja dulu suka pingsan pas hamil muda. Abang pikir kamu mengerti dengan keadaan Sheryl makanya Abang pergi. Abang cuma kasian dia lagi hamil ada bayi di dalamnya itu aja," terang Azka. Mika menatap mata Azka.


"Beneran itu doang?" tanya Mika luluh.


"Ciusan, gak boong, deh. Kalo nggak ngapain Abang sekarang di sini bela-belain nyewa dektektif buat nyari kamu."


"Serius? Pake dektektif?" tanya Mika gak percaya.


"Iya, mana gak cuma satu, mahal lagi."


"Oh, jadi gak ikhlas?" ketus Mika.


"Dih, baper. Buat orang yang Abang sayangi, jangankan cuma nyewa dektektif biasa, kalo perlu Abang datengin James Bond ke sini buat nyari kamu," ucap Azka sambil menowel hidung Mika.

__ADS_1


"Gak usah gombal, deh," ucap Mika sambil manyun.


"Gak usah mancing-mancing, deh," balas Azka sambil mendekatkan tubuhnya ke Mika.


"Jangan deket-deket, perut Mika udah besar, engap!" protes Mika.


"Tadi, pas kamu tidur, Abang udah ngobrol sama anak kita, dia bilang hari ini pengen maen sama Papanya," ucap Azka genit.


"Alesan!"


"Serius, ntar anak kita nangis loh."


"Gak bakalan!"


"Oke, kita buktiin, ya. Kalo emang perutnya gerak dan nendang dua kali berarti dede bayi kangen pengen maen bareng," ujar Azka.


"Oke, siapa takut!" ujar Mika percaya diri karena biasanya bayinya akan nendang terus-terusan kalo di ajak ngomong.


"Dede, kangen gak sama Papa, kalo kangen. Nendang dua kali, ya biar papa bisa maen sama kamu," ucap Azka sambil mengusap perut Mika. Diam, perut Mika gak gerak sama sekali.


"Hahahaha, Abang kalah gak usah ngarep nengokin." Mika menertawakan Azka yang sekarang garuk-garuk kepala, bingung gimana bujuk anaknya yang di dalam perut


"Entar dulu, sekali lagi," kata Azka.


"Dede, ngambek sama Papa, iya, deh Papa minta maaf, makanya biar kita baikan ayo tendang Mama dua kali, biar kita bisa maen bareng," bujuk Azka.


"Yeeeey ... anak kesayangan Papa pinter banget, ayo Mama Mika kita maen bareng sama Dede," ujar Azka genit sambil menubruk Mika yang cuma bisa pasrah.


Setelah bermain bersama Papa dan Anaknya, Mika menuju balkon menikmati suasana senja. Senyum terus terukir di wajahnya mengingat apa yang terjadi tadi.


"Kamu, lama-lama gila, loh kalo gini caranya," ucap Azka sambil memeluk Mika dari belakang.


"Siapa yang bikin Mika gila coba?" Goda Mika.


"Wah, mau Abang bikin lebih gila?"


"Emang bisa?"


"Bisalah, ayo ikut kalo mau bukti," ajak Azka.


"Cukup, jangan lakukan," tolak Mika


"Kenapa?"


"Udah, deh gak usah mulai."


"Siapa? Itu Adek tau yang mulai, bukan Abang."


"Iya, deh. Udah sekarang daripada debat, ayo jalan-jalan sore," ajak Mika.

__ADS_1


"Ayo, mau kemana?" tanya Azka.


"Yang deket aja, Bang. Jalan-jalan sekitar villa. Mika cuma mau jalan kaki aja," jawab Mika.


"Ayo, Abang temenin tapi kalo cape bilang, ya." Mika mengangguk kemudian dia dan Azka pergi.


Mika duduk di sebuah taman menunggu Azka yang sedang membeli es krim. Sebuah tepukan membuatnya kaget. Mika tersenyum.


"Fariz ...." Mika berdiri. Fariz segera memeluk Mika.


"Akhirnya, gue nemuin lu. Mikhayla, jangan pergi. Jangan buat gue gila," ucap Fariz terus memeluk Azka.


"Fariz, lu tau gue di sini?"


"Iya, gue terus nyariin lu, kali ini gue gak bakal lepasin lu lagi." Mika bingung apa maksud Fariz. Fariz masih memeluknya seolah gak mau lepas.


"Lepasin, gue gak enak di lihat banyak orang," ujar Mika.


"Gak akan, kali ini lu milik gue," ucap Fariz posesif.


"Lu ngomong, apa?" tanya Mika bingung. Fariz masih tetap memeluknya.


Azka yang membawa es krim sambil tersenyum tiba-tiba merasa marah melihat Mika dalam pelukan Fariz. Bahkan Fariz mencium pucuk kepala Mika. Azka melihat Mika mencoba melepaskan diri namun Fariz terlalu kuat.


"Lepasin, bini gue brengsek ...." Azka menarik baju Fariz kasar dan menghadiahi sebuah tonjokan. Mika menutup mulutnya gak percaya dengan perkelahian Kaka adik itu.


"Gue yang nemuin Mika duluan, Bang sesuai perjanjian gue yang berhak ngedapetin Mika."


"Brengsek! Mika bukan barang. Gak bisa lu maen ambil seenaknya. Dan sebelum lu nemuin Mika di sini, gue udah nemuin dia di villa kita. Jadi singkirkan harapan bodoh lu."


"Bang, lepasin Mika, Abang gak bisa bahagiain dia. Abang cuma buat Mika terluka," ucap Fariz tanpa ragu.


"Cukup, Fariz, tutup mulut lu, jangan sampai Abang bertindak lebih."


"Kenapa? Memang itu 'kan kenyataannya?" tantang Fariz. Azka hendak menghajar Fariz lagi tetapi Mika memeluk Azka dari belakang.


"Udah, Bang. Cukup jangan seperti ini, Mika takut," lirih Mika. Tinju yang tadinya hendak Azka berikan pada Fariz menggantung begitu saja. Azka berbalik dan memeluk Mika.


"Maafin, Abang. Maaf karena semua ini terjadi," ucap Azka.


"Ini salah Mika, karena Mika ada di antara kalian." Mika terisak, sangat menyedihkan dia jadi penyebab masalah antara Azka dan Fariz.


"Nggak seperti itu, andai Abang lebih tegas dari dulu semua gak akan terjadi."


Mika semakin menangis, dalam pelukan Azka. Fariz melihat Mika begitu terluka karena kelakuannya, dia merasa bersalah menyakiti Mika begitu dalamnya. Hanya karena dia mencintai bukan berarti dia harus memiliki.


'Mika mungkin ini saatnya aku melepaskan' batin Fariz sambil menjauh dari Mika dan Azka.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2