Mikhayla

Mikhayla
Part_21


__ADS_3

Besoknya Mika ketemu Celi di cafe.


"Foto ini asli, Mik. Gue kesel sama Ferguso. Tapi, kok lu bisa, sih setenang ini?"


"Gue mesti gimana? Gue gak mau ceroboh marah gak jelas, berantem sama Azka. Itu yang Sheryl pengen gue pisah sama dia. Dan dia pasti bakal sorak paling kenceng kalo itu terjadi."


"Paling nggak, lu labrak kek si Sheryl," usul Celi.


"Cel, semua ini terjadi juga dari awal karena kesalahan gue, gak juga kali gue nambah kesalahan lagi, lagian yang penting gue sama Azka baik-baik aja. Dan justru itu yang bikin Sheryl uring-uringan."


"Gak ngerti, deh sama jalan pikiran lu."


"Makanya nikah, jadi lu ngerti. Cel, kalo gue cuma mikirin diri gue. Udah pasti gue minta pisah dan gue botakin si Azka sama Sheryl. Gue cabein dan gue arak keliling alun-alun. Tapi, karena gue mikirin banyak hati yang harus gue jaga, ada ibu, Raka, oma, papi Leo, Fariz dan juga yang paling penting anak gue. Makanya, gue mencoba tenang sambil nyari solusi." Celi mengusap tangan sahabatnya. Betapa Mika hidupnya penuh dengan hal sulit.


Arya datang menghampiri Mika dan Celi. Sebelumnya Mika telpon minta bantuan Arya.


"Bang, tolongin gue. Abang tau hotel anugrah tempat Azka menginap. Bisa gak Abang cari CCTV nya?"


"Hotel Anugrah yang di Surabaya kebetulan itu punya temen gue, jadi kita emang udah kerja sama kalo di Surabaya nginepnya di situ, gue bakal nyuruh temen yang di sana buat nyari tau. Btw, emang ada apa?" tanya Arya. Mika menunjukan foto Sheryl dan Azka.


"Gak, mungkin Azka bukan cowo kaya gitu. Mik, denger, ya selama tujuh tahun pacaran sama Sheryl dia bisa jaga napsunya. Masa sekarang nggak. Gue yakin ada yang gak beres," ucap Arya.


"Mika setuju, Bang. Makanya Mika minta tolong buat nyari CCTV itu. Mika mau tau kejadian yang sebenarnya."


"Oke, lu tenang aja. Lu bisa andelin gue." Arya ikutan geram, selama ini dia diam dengan kelakuan Sheryl. Tapi, kalo sampai dia berbuat lebih buruk Arya gak bakal tinggal diam kali ini.


Sebulan setelah kejadian itu. Mika dan Azka masih seperti biasa. Bahkan mereka lebih sweet lagi. Sheryl, entahlah Mika pikir dia udah kabur karena di cuekin Azka sama Mika. Taunya dia lagi nyiapin rencana lebih besar.


Seluruh keluarga besar oma Diana dibuat gempar dengan kelakuan mami Niar yang tiba-tiba datang membawa Sheryl dengan koper besar.


"Kalian semua duduk. Mami mau ngomong," ujar mami Niar sambil menggenggam tangan Sheryl. Sementara Azka memeluk bahu Mika. Oma Diana menatap dengan sinis. Papi dan Fariz bersikap tenang menunggu mami Niar bicara.


"Azka, Sheryl hamil anak kamu." Ucapan mami membuat seisi rumah kaget. Belum lagi karena jantung oma yang tiba-tiba kumat.


"Oma ... Oma tarik nafas. Oma tenang, ya," Azka berusaha membuat oma tenang sementara Fariz langsung menelpon Dokter.

__ADS_1


"Azka ... kamu ... kamu," Oma terbata-bata tak bisa melanjutkan omongannya.


"Maafin Azka, Oma. Azka bisa jelasin," sesal Azka sambil menggenggam tangan oma yang kini terbaring di kamar.


"Oma, dengerin Mika. Mika yakin, Bang Azka gak kaya gitu. Mika harap Oma tenang. Kita bakal cari solusi," ucap Mika meyakinkan. Ya, dia tentu saja hancur. Hancur sekali. Tapi, Mika pikir apa yang Sheryl buat, mungkin itu hukuman buat dia. Karena telah merebut Azka darinya.


"Maafin, cucu oma, Mika. Maafin dia yang terus menyakiti kamu," isak oma Diana. Azka menunduk sedih, dia telah menyakiti hati banyak orang.


"Oma, Mika gak apa-apa. Mika kuat, Oma tau Mika percaya, Bang Azka gak seperti itu. Jadi, Mika harap Oma tetep tenang, jangan banyak pikiran. Kasihan cicit, Oma ikutan sedih liat Oma uyut kaya gini," hibur Mika.


"MaaSyaa Alloh, Mika hatimu sangat baik. Oma sayang banget sama kamu." Mika memeluk Oma Diana.


"Mika mau selesaiin masalah ini dulu, ya. Nanti Mika ke sini lagi. Oma istirahat. Mika harap apapun nanti yang terjadi, Oma harus percaya kalo Mika sama Bang Azka bakal baik-baik aja!" Oma mengangguk.


Azka dan Mika kembali ke ruang tamu setelah Dokter bilang Oma Diana, hanya shock dan butuh istirahat. Di sana masih ada Sheryl, papi, mami dan Fariz.


"Mami pengen, kamu nikah sama Sheryl." Azka langsung menatap mami Niar gak percaya.


"Mi ...," ucap Azka dan Papi Leo bersamaan.


"Dia dulu langsung nikahin Mika pas tau, Mika hamil. Sekarang juga, dong. Mami yang periksain Sheryl sendiri tadi ke dokter. Jadi, kamu gak bisa ngelak," ucap mami Niar.


"Hey, apa hak kamu. Sheryl lagi hamil cucu mami." Ucapan mami Niar menusuk hati Mika. Bagaimana juga selama kehamilannya, mami gak pernah bilang atau ngomong kalo anak Mika cucunya, sedangkan dengan Sheryl, mudah banget mami ngomong kaya gitu.


"Oh, ya. Mika tetep gak mau Abang nikah sama dia, sebelum anak itu lahir dan tes DNA. gimana juga, Mika istri sah. Kalaupun Abang mau nikah lagi, butuh izin dari Mika. Kalo tetep ngotot Mika bisa laporin polisi," ucap Mika tenang.


"Abang, juga gak mau nikah sama siluman rubah, gimana juga Abang udah punya bidadari," ucap Azka bucin sambil meraih tangan Mika.


"Beb, kamu mau anak ini lahir gak punya ayah. Kamu tega, ya. Sama dia aja kamu sampai mutusin aku, demi anak kita kamu gak mau," isak Sheryl, mami Niar memeluk Sheryl menenangkan.


"Papi, setuju sama Mika, gimana juga ini beda kasus. Waktu Mika Azka mengakui kalo dia berbuat. Sedangkan sama kamu dia menolak," ujar papi Leo. Sheryl menyerahkan HP pada Papi Leo dan Fariz. Dia menunjukan foto-foto yang pernah dia kirim pada Mika.


"Abang ...," lirih Fariz tak percaya, dia geram karena telah mempercayakan Mika pada Azka.


"Tenang, ya. Mika udah memeriksa kalo emang foto itu asli. Tapi, itu gak ngebuktiin kalo Abang, udah ngelakuin sama Sheryl. Gak ada video, berarti hoax." Mika masih berusaha tenang.

__ADS_1


"Bener, Sayang. Abang gak ngerasa ngalkuin hal aneh, abang cuma ngerasa tidur doang," terang Azka.


"Azka, kamu bener-bener jahat, tega banget kamu gak mau ngaku." Sheryl masih terisak.


"Shey, selama tujuh taun, gue bisa jagaain lu, kenapa sekarang gue mesti lakuin sama lu. Gue pikir ini gak masuk akal," ucap Azka.


"Tapi, kamu juga nglakuin sama Mika? Apa bedanya sama aku," ucap Sheryl.


"Sumpah, ya terserah yang di sini pada percaya atau ngga. Azka gak pernah, ngerasa melakukan sesuatu sama dia. Dan gak ada bukti yang ngeberatin aku berhubungan sama dia kecuali foto itu!" tegas Azka.


"Fariz setuju sama Mika. Mending nunggu bayi itu lahir, kita tes DNA. Abis itu kita pikirin lagi kedepannya gimana," ucap Fariz.


"Oke, mami setuju. Tapi, karena Sheryl lagi mengandung cucu mami, mami putusin dia buat tinggal di sini," titah Mami Niar.


"Azka gak setuju."


"Fariz juga."


"Papi, No!"


"Kalo aku, sih, yes." Semua menoleh ke arah Mika.


"Sayang, apa maksud kamu?" tanya Azka gak ngerti.


"Bang, tipe ngotot kaya dia itu gak mempan diusir, apalagi ada Mami yang ngelindungin dia. Jadi, udah biarin dia di sini. Ini, kan yang dia pengen," ucap Mika.


"Gue, gak tau, ya apa rencana lu. Tapi, gue daripada ngadepin musuh lewat belakang. Mending kaya gini perang aja sekalian. Gue Mikhayla Arezky nantangin Lu, siluman rubah buat gencatan senjata di mulai dari sekarang," tegas Mika.


"Daebak ...," ucap Fariz.


"Sayang, kamu gak boleh emosi kasian anak kita," ujar Azka.


"Tenang, Mika gak emosi, Bang. Cuma ngasih peringatan aja," ucap Mika sambil berlalu. Kemudian dia membalikan badanya dan menatap Sheryl.


"Abang, dede bayi pengen di temenin, ngapain masih duduk di situ," ketus Mika.

__ADS_1


"Iya, sayang. I'm coming kesayangan papa," ucap Azka sambil merangkul Mika ke kamar. Gak lupa Mika mengejek Sheryl yang cemberut dengan menjulurkan lidahnya.


Bersambung.


__ADS_2