
Fariz melajukan motornya dengan sangat kencang, hatinya sungguh sakit untuk ke dua kalinya dia kalah oleh Abangnya. Kesempatan terakhir untuk memiliki Mika musnah sudah.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Azka yang melihat istrinya kini terlihat sangat pucat.
"Gak apa-apa, Bang. Cuma mau istirahat aja," balas Mika.
Azka membawa Mika ke kamar untuk beristirahat, di peluknya Mika yang kini terbaring di sebelahnya.
"Apa Fariz baik-baik aja, dia pergi dalam keadaan terluka," ujar Mika.
"Dia pasti baik-baik aja, namanya laki-laki udah biasa kalo cuma bekas tonjokan."
"Mika ngerasa bersalah, Bang."
"Ini bukan salah kamu, ini udah takdir. Gimana kita ada dalam hubungan yang rumit," balas Azka sambil membelai rambut Mika.
"Terlalu banyak orang yang di sakiti. Apa gak sebaiknya kita beneran pisah aja setelah dua tahun, seperti perjanjian awal." Azka kaget kenapa Mika berpikiran seperti itu.
"Gak boleh ngomong gitu gak ada perjanjian seperti itu, Abang gak suka kamu ngomong pisah," ketus Azka.
"Bukanya kita udah sepakat?"
"Gak ada, udah Abang bakar jauh-jauh hari. Abang gak mau lebih banyak yang terluka kalo semua tau kita melakukan ini hanya karena terpaksa. Lagian, sekarang siapa yang mau pisah. Abang udah terlanjur sayang sama Adek," ucap Azka sambil mengeratkan pelukannya.
"Mika juga sayang sama Abang."
"Kalo beneran, sayang jangan ngomong pisah-pisah terus Abang gak suka."
"Iya, maaf. Mika cuma gak ingin nyakitin orang lain," lirih Mika.
"Biarkan kali ini kita sedikit egois untuk kebahagiaan kita. Abang, gak tau gimana jadinya kalo kamu ninggalin, Abang. Masalah Fariz biarkan saja dulu, nanti dia juga bisa melupakan kamu." Azka mulai mencium Mika. Rindu yang dia tahan harus di tuntaskan saat ini juga.
"Fariz, kamu dari mana?" tanya Oma.
"Abis ketemu Mika."
"Kamu ketemu dimana?" tanya Oma yang bingung gimana Fariz bisa tau keberadaan Mika.
"Di Bandung. Oma tenang aja, Mika udah sama, Bang Azka."
"Azka di sana?" Makin bingung Oma karena ternyata Azka juga tau Mika di Bandung.
"Iya, tadinya Fariz pikir ini kesempatan Fariz buat ngedapetin Mika. Tapi, ternyata Bang Azka nemuin duluan. Sekali lagi Fariz kalah, Oma," lirih Fariz. Oma memeluk Fariz.
__ADS_1
"Berbesar hatilah, kamu tau dari pas Mika udah nerima Azka, harusnya kamu mulai mundur dan melupakan semuanya. Bukanya Oma jahat, Oma cuma gak mau kamu terluka lebih dalam."
"Fariz tau Oma ini salah aku sendiri, waktu itu aku pikir Bang Azka dan Mika hanya sekedar menikah, tapi Fariz salah, ternyata mereka saling mencintai."
"Kamu yang sabar, semua sudah takdir. Oma harap kamu lebih dewasa dengan semua ini. Apa kalian berantem, biar Oma obati luka kamu." Oma melihat ada luka bekas tonjokan di bibir Fariz.
"Gak apa-apa, ini cuma luka kecil. Fariz mau istirahat aja Oma." Fariz pergi menuju kamarnya.
Dia menghempaskan tubuhnya di kasur. Rasa sakit akan tonjokan yang Azka berikan gak sebanding dengan sakit hati karena akhirnya harus kembali merelakan Mika buat Azka.
Azka mengajak Mika pulang lagi ke rumah. Namun, Mika menolak selain belum siap ketemu Fariz, Mika juga gak mau masih ada Sheryl di rumah itu.
"Yakin, gak mau pulang. Adek gak tau 'kan, kalo kemaren Sheryl dan keluarganya dateng nyuruh Abang nikah." Mika melotot siluman rubah bener-bener minta di karungin.
"Terus, Abang gimana?"
"Tentu aja nolak, kan Abang cuma cinta sama kamu," jawab Azka.
"Serius?"
"Makanya ayo pulang, kalo nanti tiba-tiba Sheryl bawa penghulu langsung gimana?" bujuk Azka. Mika mikir, bener juga si Sheryl kan tipe ngototan.
"Ya udah, Mika ikut. Tapi, Mika ke rumah Ibu aja, ya."
Mika membereskan barang-barangnya dan ikut Azka pulang.
Bu Tia menyambut Mika dengan haru, dia langsung memeluk Mika dan menciuminya.
"Kamu sehat? Anak kamu baik-baik aja?" tanya Bu Tia.
"Alhamdullillah semua sehat," balas Mika. Azka menurunkan koper Mika dan membawanya ke kamar.
"Kamu ketemu Azka? Katakan apa yang terjadi?"
"Gak ada apa-apa, Bu kita hanya salah paham. Mika yang terlalu cepet ambil keputusan," jawab Mika.
"Syukurlah, Azka bingung nyariin kamu, bolak-balik ke toko. Cuma Ibu juga gak tau kamu di mana, kasian si Azka."
"Biarin aja, biar tau rasa," ucap Mika sambil terkekeh. Azka duduk di sebelah Mika. Dia sudah berganti pakaian dengan celana pendek dan kaos biasa.
"Abang, gak pulang?"
"Kamu ngusir, Abang cuma mau nginep di rumah Ibu," balas Azka.
__ADS_1
"Pulang sana, gak usah ikut-ikutan di sini."
"Biarin, ini Ibu aku juga," balas Azka sambil memeluk Bu Tia. Bu Tia tersenyum, melihat Mika dan Azka baikan lagi.
"Udah, Azka nginep di sini aja, Mik. Barangkali dia masih kangen sama kamu," ujar Bu Tia.
"Azka kangen sama Ibu, kok. Bukan dia," tunjuk Azka pada Mika.
"Oh, jadi gitu. Ya udah, Mika mau kabur lagi aja," rajuk Mika.
"Eeeehhh, baperan banget, sih. Iya, Abang bercanda sayang," ucap Azka sambil berganti memeluk Mika yang kini tersenyum.
"Mi, Azka dimana? Kok gak ikut makan malam?" tanya Sheryl ketika sedang makan malam bersama keluarga Oma Diana.
"Mami, juga gak tau," jawab Mami Niar
"Gak usah cariin Azka, tentu saja dia sedang bersama istrinya," cletuk Oma Diana.
"What ...! Mama tau dari mana?"
"Tau lah, emang kamu Ibu yang hanya bisa arisan tanpa peduli anaknya," ketus Oma.
"Alhamdullillah, berarti Mika udah ketemu dan mereka baikkan lagi," ujar Papi Leo.
"Papi apaan, sih! Mami gak mau dia kembali lagi, pokoknya jangan sampai Mika menginjakan kaki di rumah ini lagi," tegas Mami Niar.
"Kalo gitu, kenapa bukan kamu aja yang pergi dari sini?" sinis Oma Diana.
"Oma ngusir Niar?" tanya Mami Niar gak percaya.
"Kamu udah bolak-balik Mama usir tapi masih bandel di sini juga. Kalo kamu masih ingin tinggal di sini terima Mika dan bawa jauh wanita ini," tegas Oma sambil menunjuk ke Sheryl.
"Kenapa Oma gak suka sama Sheryl. Sheryl sedang mengandung anak Azka, loh," rengek Sheryl.
"Kamu mungkin bisa bohongi Niar tapi, gak saya. Jangan ngarep kamu bakal masuk ke keluarga ini," ketus Oma.
"Oma jahat banget sama Sheryl. Apa Oma pikir Sheryl sejahat itu," Isak Sheryl.
"Gak usah nangis, air mata buaya kamu gak mempan buat saya," ucap Oma Diana. Mami Niar langsung sigap menenangkan Sheryl.
"Ma, jangan gitu. Kasian Sheryl," keluh Mami Niar.
"Kamu bakal jadi orang yang paling nyesel karena terus belain dia. Asal kalian tau, Azka sedang mengumpulkan bukti tentang kebohongan wanita ini," ketus Oma sambil pergi. Sheryl meremas tangannya dia harus segera mencari cara agar Azka mau bertanggung jawab.
__ADS_1
Bersambung.