Mikhayla

Mikhayla
Part_8


__ADS_3

Paginya Azka kembali ke rumah Mika. Kemaren dia meninggalkan mobilnya di sana.


Pintu diketuk namun gak ada jawaban. Azka mengambil HP-nya dan menghubungi Mika.


"Lama banget, abis ngapain?" ketus Azka setelah Mika membuka pintu.


"Abis mandi, Bang, nih rambut Mika masih basah. Udah Abang duduk dulu. Mika mau beresin rambut Mika dulu. Ibu sama Raka lagi gak ada jadi Abang sendirian, ya, kalo mau minum ambil sendiri di dapur," ucap Mika panjang sambil meninggalkan Azka.


Azka duduk di teras, gak enak aja kalo dia masuk ke dalam yang lagi sepi gak ada orang.


"Abang pagi banget ke sini?" tanya Mika setelah dia rapi.


"Abang mau minta maaf soal Sheryl kemarin."


"Mika ngerti kok, Bang, Sheryl pasti sakit hati atas keputusan Abang. Ini bukan salah dia."


"Makasih udah ngerti, ya. Kita sarapan, yuk. Kamu udah makan belum?"


"Sarapan di sini aja Bang, Mika udah masak tadi," ujar Mika.


"Abang pengen ketoprak dari semalem 'kan. Ayo temenin," pinta Azka.


"Ya udah deh, Mika ambil tas dulu ya Bang."


Mika dan Azka menaiki mobil dan sampai di sebuah taman yang ramai dengan abang-abang jualan.


"Di sini enak banget ketopraknya Bang, gak apa-apa 'kan kalo makan di pinggir jalan. Kalo di resto Mika gak tau yang enak di mana," ujar Mika.


"Gak papa lah, kayaknya juga seru makan di sini," ucap Azka.


Setelah pesan dua ketoprak dan dua teh manis mereka duduk lesehan di tempat yang di sediakan.


"Bang, gimana Sheryl pasti dia gak terima banget sama keputusan Abang," ucap Mika sedih.


"Gak usah di pikirin, Dek, kamu tau gak bahkan sampai kemaren Abang masih pengen benerin hubungan Abang sama dia, Abang masih ngajakin dia nikah. Tapi, dia tetep gak mau. Abang juga jenuh, kita udah sama-sama dewasa tapi dia masih gak mau diajak komitmen. Makanya Abang ambil keputusan ini, semua ini gak ada hubungannya sama Adek, ini murni keputusan Abang sendiri," ucap Azka panjang lebar.


"Tetep aja kalo Mika gak hamil Abang gak bakal putus sama dia."


Sebelum Azka menjawab dua piring ketoprak dan dua gelas teh manis hangat tersaji di meja.


"Ini enak banget, Dek. Lebih enak dari yang di resto," ucap Azka

__ADS_1


"Bener 'kan, di sini emang jagonya ketoprak mah," balas Mika.


Ketoprak dan teh hangat habis, Azka bengong karena ternyata makanan enak itu harganya gak nyampe lima puluh ribu.


"Enak murah lagi, cepet kaya aku," gumam Azka. Mika hanya tertawa.


"Dih, dasar Tuan Crab. Ayo Bang, pulang," ajak Mika.


"Ke cafe dulu, yuk?"


"Ngapain?"


"Ada meeting bentar."


"Ya udah Mika naik ojol aja, gak usah dianter," kata Mika.


"Gak boleh, entar kaya kemaren naik motor ama Raka udahannya masuk rumah sakit," ucap Azka khawatir.


"Dih, lebay deh," ketus Mika.


"Di perut kamu ada anak Abang, Abang cuma jagain dia."


Mika terpaksa mengikuti Azka ke cafe.


"Kamu tunggu di sini, ya, kalo laper minta aja sama anak-anak," ucap Azka sambil meninggalkan Mika di ruangnya.


Mika berkeliling ruangan Azka melihat buku yang tersusun rapi di rak. Mika langsung mencari buku, siapa tau ada yang menarik.


Mata Mika terpaku pada sebuah foto, di mana ada Azka dan Sheryl tersenyum dengan bahagia. Hatinya sakit, iya sakit karena dia harus menjadi orang yang memisahkan mereka. Sakit karena dia harus menikah dengan orang yang hatinya terisi orang lain. Mika menyeka air matanya saat seorang OB membawakan segelas jus jeruk untuk Mika.


Duduk di sofa menunggu Azka yang katanya sebentar tapi nyatanya lama membuat Mika ngantuk. Tanpa sadar Mika sudah terlelap.


Azka dan Arya masuk ke ruangan Azka setelah meeting.


"Husstt ... diem, Bro. Mika ketiduran," ucap Azka setelah membuka pintu ruangannya.


"Ini calon bini lu," bisik Arya sambil mendekat ke Mika.


"Ck, jangan dekat-dekat bangun nanti," omel Azka sambil berbisik.


"Cantik, masih ori dan yang pasti ini alami semua," ujar Arya menilai. Ya Arya emang playboy yang udah pacaran sama cewe model apa aja. Jadi penilaian dia soal cewe jangan diragukan.

__ADS_1


"Fix lu beruntung, jauh banget dia dibanding Sheryl. Alisnya aja udah ori bulu matanya juga, idungnya gak mancung tp gak pesek, bibirnya ...." Belum kelar Arya ngomong Azka menjitak kepala Arya.


"Stop, berhenti lu nilai Mika sama otak ngeres lu."


"Kalo lu terpaksa sama dia, biar gue aja yang gantiin, Bro," ujar Arya.


"Sial lu, lu pikir apa. Fariz juga ngincer dia," ucap Azka sambil duduk di kursi kerjanya.


"Hah yang bener?!"


"Iya. Kemaren dia ampe nonjok gue nggak terima, dan bahkan pengen nikahin Mika," ucap Azka sambil bisik-bisik takut Mika bangun.


"Wohaaaaa, bener 'kan dugaan gue. Mika itu cewe baik-baik, Fariz yang pemilih aja suka," ucap Arya.


"Dan Mika juga sempet suka sama Fariz."


Arya langsung terbahak. Mika yang terganggu langsung bangun.


"Abang udah dateng," ucap Mika sambil mengucek matanya.


"Omegot, ngucek belek aja imut banget," seru Arya.


Mika langsung mode on denger suara lain, bukan Azka.


"Kenalin gue Arya, dalam kasus lu. Gue seribu persen dukung lu," ucap Arya sambil mengajak Mika salaman.


Mika bengong memandang Azka yang di balas anggukan. Mika membalas uluran tangan Arya.


"Mika," ucap Mika.


"Lu umuran berapa? Pasti belum 20 tahun ya," tebak Arya.


"Sembilan belas, Kak," ucap Mika.


"Ck, lu giliran khilaf dapatnya kaya gini. Pas sadar milihnya si Sheryl. Fix lu gak waras," bisik Arya ke Azka. Azka langsung menojok lengan Arya.


"Ayo, Dek, kita pulang jangan lama-lama deket sama Arya. Ikutan stres ntar, kasihan bayi kita," ucap Azka sambil mengajak Mika keluar.


"Cie ... bayi kita," seru Arya menggoda.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2