Mikhayla

Mikhayla
Part_34_ArCel


__ADS_3

Mikha mendekatkan tubuhnya ke Celi, ingin tahu lebih banyak apa maksud sahabatnya.


"Arya terus deketin gue, tapi hati gue masih ragu. Sementara Mama tanya soal cucu terus. Ya kali gue bisa bikin sendiri!" Celi menghirup napas dalam-dalam, dia merasa sesak dengan tekanan dari mamanya.


"Arya baik loh!"


"Baik emang, cuma dia kan playboy. Inget banget, terakhir ketemu di cafe. Kita lagi ngopi bareng, ada sesembak yang tiba-tiba datang maen guyur aja kopi ke muka, apa gue nggak kesel!" Celi teringat kejadian saat itu. Kesal bercampur malu saat tanpa aba-aba gadis SMA itu melakukan hal memalukan padanya.


"Hiihii ... serius segitunya."


"Ah, lu nggak percaya pasti kalo gue bilang. Pokoknya horor kalo jalan sama dia." Celi menyenderkan tubuhnya di sofa, pikirannya menerawang.


"Lu sendiri gimana, suka nggak sama Arya?"


"Entahlah, gue pusing. Kadang kangen, kadang juga sebel," keluh Celi. Dia terdiam sejenak, "lu nggak pengen jadiin gue ipar. Fariz masih jomblo 'kan?" lanjutnya.


Mikha yang tengah meneguk orange jus miliknya mendadak tersedak.


"Lu kenapa? Nggak ikhlas Fariz buat gue?" tanya Celi.


"Lu mau ngajakin gencatan senjata. Udah cukup, gue terjebak antara Azka sama Fariz. Sekarang lu pengen kek gitu?"


"Habis gimana lagi, gue pusing."


Mikha nggak habis pikir, Celi masih saja rada oleng. Padahal usianya sudah 25 tahun.


"Cel, jodoh itu nggak main-main. Jangan asal sembarangan. Gue termasuk yang beruntung karena berjodoh dengan Azka meski berawal dari kesalahan. Jangan sampai menyesal."


"Mama nyuruh gue bawa cowok buat besok malam Minggu. Dan gue nggak ada cadangan cowok siapa. Apa boleh gue pinjem Raka?" tanya Celi dengan wajah memelas.


"No! Emak lu tau Raka adek gue. Ogah jangan libatin dia, masih kecil lagi fokus kuliah!" tolak Mikha.


"Huft ... pusing gue sumpah. Ya Alloh kasih Celi yang cantik jelita ini jodoh."


Dan tiba-tiba ....


"Jodoh lu udah dateng, Sayang!"


Mikha dan Celi melihat ke arah sumber suara.


"Aryaaaa!" pekik Celi dan Mikha bersamaan.


"Iya, Tuhan emang udah nulis kita buat bersama makanya pas lu doa langsung dikabulin. Gue dateng di waktu yang tepat." Arya duduk di sebelah Celi. Risih, Celi bergeser sejauh mungkin hingga mepet ke Mikha.


"Jangan jauh-jauh, dong, Sayang. Latihan buat duduk bersama di pelaminan," ucap Arya genit.


"Mikha, tolongin gue. Usir dia!"


"Bang Arya, ada perlu apa? Azka masih di cafe," ujar Mikha dia mencoba menengahi.


"Tadinya gue pengen ketemu lu. Cuma pas banget ada Celi di sini. Rejeki nomplok hiiihii ...," ucap Arya sambil terkekeh. Celi hanya bisa manyun.


"Buat apa?" tanya Mikha.


"Minta bantuan lu buat ngedeketin gue sama Celi," ujar Arya sambil mengedipkan matanya genit ke arah Celi.


"Dasar eyang subur. Nggak usah genit sama gue!"


"Jan jutek-jutek ngapa, makin gemesin tau!"


Mikha hanya bisa terkekeh melihat dua makhluk ajaib tengah saling meledek di depannya.

__ADS_1


"Udah, sih nikah aja. Ngapain kek gini. Kaya anak kecil tau nggak!" usul Mikha.


"Gue, sih mau, Mik nikah. Temen lu!" Arya menunjuk ke arah Celi.


"Nggak segampang itu buat ngedapetin gue! Udah, ah. Gue pulang aja." Tanpa permisi Celi pergi begitu saja. Arya segera menyusul.


"Sayang, tunggu!" Arya meraih tangan Celi.


"Lepas! Jangan panggil gue sayang. Nanti dikira kita pacaran, gue makin nggak laku!" omel Celi.


"Lu, kan sayangnya gue. Nggak boleh pacaran lagi sama orang lain."


"Denger, ya, Om. perasaan gue nggak pernah, tuh, bilang kita pacaran."


"Itu barusan bilang," ujar Arya.


"Serah, deh. Gue mau pulang!" Celi kembali meninggalkan Arya.


"Gue ikut, mo ketemu calon mertua!" Arya membuntuti Celi dari belakang.


"Nggak usah, mobil lu gimana?"


"Nggak apa-apa, di rumah Mikha aman!"


Lama-lama Celi gerah juga dibuntuti terus oleh Arya. Dia lari Arya ikut lari, dia berhenti Arya ikut berhenti. Kesal Celi yang tadinya berlari mendadak berhenti.


Arya langsung menubruk tubuh Celi. Hampir saja Celi terjatuh, dengan sigap ditangkapnya tubuh sang pujaan hati.


Arya tersenyum, sementara Celi hanya bisa diam menikmati irama detak jantungnya yang kian berpacu.


"Betah amat di pelukan gue." Suara Arya membuat Celi tersadar. Dia segera mendorong Arya menjauh.


"Sok tau!" ketus Celi. Kesal.


"Tau lah, gue liat lu menikmati saat dipeluk barusan!"


"Nggak usah ngeledek, deh!" geram Celi.


"Ayo nikah. Gue nggak ngajak pacaran loh!"


Celi menatap mata Arya, dia diajak nikah di tengah jalan sama playboy. Omegot mimpi apa semalam.


Celi hendak menjawab ajakan Arya saat wanita bertubuh sintal dengan gaun yang kurang bahan berwarna merah cabe datang menghampiri.


"Beb, udah lama kita nggak ketemu. Sumpah gue kangen banget." Wanita itu langsung memeluk Arya, Celi kesal dia berbalik dan pergi meninggalkan Arya.


Arya hendak mengejar tetapi wanita itu terus memeluknya, hingga dia susah bergerak. Dilihatnya Celi semakin menjauh dan telah masuk ke dalam taksi.


"Laura lu apa-apaan, sih?"


"Why? Apa yang salah, gue cuma kangen sama lu!"


"Ck ... gara-gara lu cewek gue kabur!" ketus Arya.


"Tadi cewek lu, yaelah lu udah tobat. Nggak seru!"


"Pliss jangan kaya gitu lagi kalo ketemu. Orang jadi salah paham," ucap Arya.


"Udah, sih lupain aja. Ayo jalan sama gue, seru-seruan kek biasa," ajak Laura sambil bergelayut di lengan Arya.


"Gue nggak bisa. Gue tegesin, jangan pernah sentuh gue lagi!" tegas Arya. Dia meninggalkan Laura sendiri.

__ADS_1


"Yah ... salah satu ATM gue udah tobat," sesal Laura sambil berlalu pergi.


Arya balik lagi ke rumah Mikha, dia terus saja mencoba menghubungi Celi tetapi tak diangkat.


Mikha yang tengah membersihkan tanaman di depan rumah heran karena Arya kembali tanpa Celi. Dia hanya sendiri.


Tanpa permisi Arya langsung duduk di kursi yang ada di teras rumah Mikha.


"Temen lu ngambek!" ujar Arya memulai pembicaraan.


"Kenapa? Abang apain Celi?" tanya Mikha, dia melepas sarung tangan miliknya dan menghampiri Arya. Duduk di sebelahnya.


"Ada cewek tiba-tiba nongol meluk gue! Gue nggak bisa berbuat apa-apa, Celi pergi nggak mau dengerin penjelasan dari gue!"


"Ck, pantesan Mikha juga kalo jadi Celi langsung kabur!"


"Emang cewek kaya gitu, ya?"


"Abang, kan playboy ngapa jadi tanya Mikha. Lebih paham harusnya!"


"Cewek yang gue deketin itu cuma buat main-main, baru Celi yang serius. Makanya gue aslinya nggak tau gimana caranya ngedapetin hati cewek."


Mikha terbahak, sejujurnya dia merasa kasihan, tetapi juga bahagia karena sang playboy kena azabnya.


"Laki sama bini sama aja, ngetawain gue! Tolongin gue, ya. Bantu gue buat ngedapetin Celi!" mohon Arya.


"Bang, Mikha nggak bisa maksa Celi, cuma Mikha bakal bantu buat promoin Abang ke Celi. Gimana?" usul Mikha.


"Serah, deh yang penting lu bae-baein gue di depan Celi. Nanti, bayaran sekolah Qila, biar gue yang tanggung!" ucap Arya.


"Dih, ogah. Bapanya masih mampu!"


Arya dan Mikha tertawa bersama.


Celi masuk ke dalam rumah. Mamanya yang tengah menyemprot bonsai miliknya melirik ke arah anak gadis satu-satunya.


"Ih, dasar playboy, dimana-mana pasti ketemu sama ceweknya. Ngeselin!" rutuk Celi, dia segera mengambil air putih dan meminumnya tanpa sisa.


"Kenapa, sih?" tanya Ana--mama Celi.


"Au ah!"


"Berantem sama cowok kamu!"


"Mama aku nggak punya cowok!" ketus Celi.


"Bagus, deh. Kalo gitu besok mama mau kenalin kamu sama anak Bu Ginting!"


"Tidaaak!"


Bersambung.


Kali ini aku pake cast artis indo๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ ngeri dikira nggak NKRI.


Celi



Arya, gaesh!


__ADS_1


__ADS_2