
Mikha membawa Rain masuk. Diletakannya anak yang tertidur pulas itu di kamar tamu. Kemudian, dia pergi ke arah dapur. Mengambil segelas air dingin dan meminumnya hingga tak bersisa.
Dia membuat orange jus untuk Celi dan Arya. Kemudian, menghampirinya yang tengah duduk di sofa.
“Minum dulu. Maaf, jadi ngerepotin kalian.”
“Mik, siapa anak itu?” tanya Celi nggak sabar.
“Anaknya Sheryl.”
“Serius?!” Celi tak percaya.
“Iya.”
“Terus, apa hubungannya sama kalian?” Kali ini Arya yang bertanya.
“Ibunya Sheryl meninggal. Dia menitipkan Rain sama kita, Rain cuma punya Sheryl, sedangkan dia depresinya makin parah.”
“Ini buka tanggung jawab kamu!” ketus Celi.
“Entahlah, Cel gue pusing!” Mikha menunduk meremas kepalanya.
“Sayang, saat ini Mikha cuma butuh dukungan, jangan bikin dia makin bingung,” kata Arya.
“Gue cuma ngomong kenyataan.”
“Iya, paham. Mik, kita pulang dulu. Kayaknya kalian butuh istirahat.”
“Terima kasih udah bantuin jagain Qila,” balas Mikha.
Arya dan Celi pamit pulang. Sementara di kamar Qila tengah manyun. Dia mendekap boneka teddy bear miliknya.
“Sayang,” panggil Azka. Qila tetap memunggungi papanya.
“Papa mau cerita, Qila dengerin, ya.” Azka menghentikan sejenak perkataannya.
“Kamu tau eyangnya Rain? Barusan banget, mama sama papa habis dari rumah Rain. Eyangnya meninggal.”
Qila langsung membalikkan badannya, menatap papanya. Azka menyentuh lembut pucuk kepala anaknya. Menatap Qila, mata dan hidungnya merah ciri khas orang menangis.
“Eyangnya Rain meninggal?” tanya Qila dengan suara serak.
“Iya, sini deket papa. Papa mau ngomong, tapi Qila kudu peluk papa.”
Qila mendekat, ditaruhnya boneka miliknya kemudian beralih memeluk Azka.
“Maafin papa sama mama, ya. Karena udah nggak jujur sama Qila. Tadi, nggak pamit langsung pergi gitu aja. Kamu pasti kaget pas liat mama gendong Rain?”
Qila mengangguk di dalam pelukan Azka.
“Sayang, Rain udah nggak punya siapa-siapa, kamu tau 'kan mamanya Rain sakit. Jadi, eyangnya Rain nitipin dia di sini. Kasian, kalo dia harus tinggal sendiri. Bayangin pasti kesepian. Beda kalo dia di sini. Ada mama, papa dan juga kamu. Itu pasti bikin Rain jadi lupa sama sedihnya.”
“Qila cuma takut, papa sama mama lupa sama Qila.”
“Anak papa, kok, ngomong gitu. Nggak, Sayang. Papa sama mama bakal tetap sayang sama Qila. Qila juga harus sayang sama Rain, ya. Dia sekarang soadara kamu.”
Azka mencoba menjelaskan. Entah Qila paham atau tidak, seenaknya dia harus memberi tahu hal ini.
“Iya, Pa. Qila ngerti.”
“Anak papa memang hebat, makin sayang jadinya.” Azka memeluk Qila dan menciumnya.
“Anak mama juga, dong!” seru Mikha ikut bergabung.
Mikha lega, setidaknya Qila belajar menerima. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya, mereka hanya bisa berdoa semoga ini yang terbaik.
Celi diantar Arya pulang. Mobil sudah sampai di depan rumahnya, tetapi Celi masih enggan turun.
“Ada yang aneh nggak, sih?” ucap Celi tiba-tiba.
“Apa yang aneh?”
__ADS_1
“Kenapa Mikha mau ngurusin anak musuhnya. Aku aja masih inget gimana Sheryl mau bunuh dia. Apa nggak mikir gitu.”
“Sayang, pasti Mikha punya pertimbangan, kenapa dia mau ngurusin Rain, ini juga nggak mudah buat dia. Kamu jangan menghakimi, cukup dengerin aja kalo dia cerita.”
“Gue cuma gemes aja.”
“Aku juga gemes. Sama kamu tapi,” goda Arya. Wajah Celi memerah, gombalan Arya bikin dia kejang-kejang.
“Gue pulang dulu, makasih, ya.” Celi hendak membuka pintu mobil, saat Arya mencegahnya.
“Tunggu!”
“Apa?”
“Hari ini kita jadian 'kan?”
Celi diam, dia tersenyum malu. Nggak habis pikir, kenapa Arya seperti anak kecil, apa iya harus dijelasin.
“Gimana?” Arya mendesak jawaban dari Celi.
“Gue kasih satu syarat, kalo lu bisa lakuin. Gue mau kita nyoba buat pacaran,” balas Celi.
Bukannya, cinta tanpa syarat. Lalu, ini apalagi? Kenapa Celi susah ditebak.
“Baiklah, apa itu?”
“Lu harus keliling, minta maaf sama semua mantan yang pernah lu sakitin.”
Wajah Arya berubah memucat, bagaimana mungkin, dia sendiri tak ingat berapa jumlah mantan yang dimilikinya.
“Kenapa? Nggak mau? Gue Cuma pengen, pas kita jalan bareng itu enak. Nggak ada yang tiba-tiba meluk lu atau nyiram air ke gue. Seenggaknya, kalo lu minta maaf. Mereka udah bisa ngerti kalo semua berakhir.”
“Gue, nggak inget berapa mantan pacar yang pernah gue miliki.”
Kali ini giliran mata Celi yang membulat.
“Parah!”
“Sayang, itu masa lalu. Percaya nggak bakal ada hal seperti itu.”
Celi membuka pintu mobil, dia pergi meninggalkan Arya. Arya memukul stir yang ada di depannya. Kepalanya pusing, saat Celi sudah bisa mulai menerima. Justru, Celi juga yang bikin syarat yang nggak mungkin.
Mikha mendengar suara Rain menangis. Dia yang tengah menyiapkan makan malam berlari ke arah kamar tamu.
“Sayang, udah bangun?” tanya Mikha, dia memeluk Rain.
“Rain, kangen eyang, Tante.”
“Sayang, kalo kangen eyang. Rain harus banyak berdoa biar eyang nggak sedih di sana.”
“Rain pengen ketemu sama eyang.”
“Rain, kamu nggak boleh gitu. Eyang, udah nggak ada.”
Suara tangis Rain semakin kencang, Azka yang tengah bermain bersama Qila sedikit terusik.
“Rain kenapa, Pa?” tanya Qila.
“Sepertinya, dia kangen eyangnya.”
“Emang nggak bisa ketemu lagi, ya?” tanya Qila polos.
“Nggak bisa, Sayang. Orang yang sudah meninggal nggak tinggal di dunia ini lagi.”
“Terus, tinggalnya di mana?”
“Ada tempat yang Tuhan khusus kasih buat mereka yang udah nggak ada. Namun, kita juga jangan lupa mereka selalu ada di hati. Jadi, kita wajib buat doain agar dia tenang di sana.”
Tiba-tiba terdengar suara kegaduhan dari luar, ternyata mami Niar datang. Kali ini dia sendiri, biasanya oma pasti ikut.
“Cucu nenek yang cantik? Where are you!” teriak mami Niar. Qila yang mendengar ada suara neneknya lantas berlari dan langsung menghampiri.
__ADS_1
“Nenek!” teriaknya sambil memeluk Niar.
“Aduh, cucu nenek udah besar, berat sekarang.” Niar menggendong Qila. Azka datang menghampiri.
“Mami, tumben nggak ngabarin.”
“Iya, kebetulan ada arisan di sekitar sini. Ya udah mami mampir.”
“Turun, Sayang. Nenek berat.” Azka menyuruh Qila turun dari gendongan. Namun, Qila malah merengut sambil memeluk leher mami Niar.
“Udah nggak apa-apa, Azka. Kangen, ya, sama nenek.”
Qila mengangguk. Saat itu Mikha muncul sambil menggendong Rain.
“Azka anak siapa itu?” tanya mami Niar.
“Rain salim dulu sama nenek, Sayang,” perintah Azka. Rain turun dari gendongan Mikha, begitu juga Qila turun dari gendongan neneknya. Rain meraih tangan Niar dan menciumnya.
“Ini anak siapa? Tetangga lagi main?” tanya mami Niar lagi.
“Qila sama Rain main di kamar dulu, ya. Papa, Mama sama Nenek mau ngomong dulu,” ujar Azka. Rain dan Qila mengangguk mereka langsung pergi ke kamar milik Qila.
“Duduk dulu, Mi. Sayang, kamu ambil minum buat Mami.”
Mikha menuruti perintah suaminya. Sebenarnya, kaget juga saat tiba-tiba mami datang. Entah bagaimana reaksinya, saat dia tahu kalo Rain adalah anak Sheryl.
“Azka, cepat katakan dia anak siapa? Wajahnya mirip seseorang, mami lupa tapi.”
Mikha datang dengan segelas teh hangat, cangkir teh dia letakan di atas meja. Kemudian, dia duduk di samping Azka.
“Mi, Mami harus tenang, ya. Dia, Rain anaknya Sheryl,” ucap Azka.
“Kamu bilang barusan apa? Anak siapa?!”
“Iya, Mi. Dia anaknya Sheryl.”
“Kamu gila, Azka. Kenapa bawa anak calon pembunuh itu ke sini. Buat apa!” seru Niar, dia emosi.
“Mi, Rain nggak punya siapa-siapa lagi. Eyangnya, baru meninggal tadi. Jadi, kami--.”
“Aku pikir cuma Azka yang otaknya nggak waras kamu juga!”
“Mi, tolong mengerti.”
“Nggak! Mami nggak ngerti. Kalo kalian masih mau pertahanin anak itu. Biar mami yang bawa Qila dari rumah ini.”
Mami pergi ke kamar Qila, dia melihat Qila dan Rain tengah bermain bersama. Hatinya panas melihat anak kecil dengan wajah mirip Sheryl.
“Qila, ayo ikut nenek, kamu nginep di rumah nenek, ya, Sayang.”
“Asiiik, emang boleh. Kan masih sekolah belum liburan.”
“Boleh, Sayang. Nanti berangkat sekolah dari sana!”
“Rain ikut, Nek?” tanya Qila. Niar menatap anak kecil di sebelah Qila. Rain, dia menunduk tak berani melihat Niar.
“Nggak, Sayang. Dia biar di sini saja. Ayo ikut, biar nanti nenek suruh orang ambil baju kamu.”
Qila berdiri mengikuti neneknya, tak lupa dia pamit pada Rain yang dibalas anggukan.
“Mi, Azka mohon jangan bawa Qila.”
“Usir anak itu, baru kamu boleh bawa Qila balik lagi ke sini,” ucap Niar geram.
“Mika mohon.”
“Nggak, mami kecewa sama kalian. Bisa-bisanya, hal seperti ini kalian putusin tanpa bicara dengan kami!”
“Ini baru terjadi, Mi. Kita belum sempat ngomong. Semua terjadi begitu saja,” balas Azka.
“Udah, stop! Mami nggak mau tau. Mami bawa Qila.”
__ADS_1
Niar menggendong Qila keluar dari rumah. Azka dan Mikha mengejar, tetapi tak mampu berbuat apa-apa.
Bersambung.