Mikhayla

Mikhayla
Part_38


__ADS_3

Arya tersenyum sinis, menatap Celi yang tengah makan berdua dengan seorang cowok. Dia kesal, ternyata ada saingan.


“Uhuk!” Celi tersedak, dia tak siap mendapatkan tatapan maut dari Arya.


“Pelan-pelan, Sayang,” ucap Arya. Dia mengambil gelas berisi orange jus, diserahkannya pada Celi.


“Terima kasih,” ucap Celi sungkan. Aneh, rasanya malu kaya ketahuan lagi selingkuh. Padahal antara dia dan Arya tak ada hubungan apa-apa.


“Kenalin, ini Afnan. Anaknya temen mama,” ujar Celi. Arya dan Afnan bersalaman. Mereka terlihat tak bersahabat, Celi meremas kepalanya. Dia bingung kudu oettoke?!


“Mau makan di sini juga?” tanya Celi.


“Gue ada meeting. Lain kali kalo mau pergi sama cowok ijin dulu!” sungut Arya tak suka.


“Tadi bareng mama, cuma mama pergi sama mamanya Afnan. Jadi, kita cuma berdua,” balas Celi sambil menunduk. Sumpah, dia ngerasa nggak enak banget. Aneh, memang.


“Iya, percaya. Ya udah gue meeting dulu. Orangnya udah dateng.” Arya mengusap pucuk kepala Celi, kemudian pergi.


Celi menatap kepergian Arya, kali ini hatinya yang tak karuan. Saat dia melihat Arya tengah meeting berdua dengan cewek cantik dengan body ngebanyol.


Afnan menatap Celi, dia paham gadis di depannya tengah cemburu. Dia tersenyum tipis, seolah menyadari. Pertemuan ini tak mungkin bisa berlanjut lebih jauh lagi.


“Kamu kenapa?” tanya Afnan.


“Aku? Emang kenapa? Ada yang aneh?”


Afnan menggeleng.


“Cel, abis ini jalan, yuk!” ajak Afnan.


“Sorry, aku nggak bisa. Cabut dulu, ya.”


Celi pergi meninggalkan Afnan sendiri, dia menuju meja Arya. Sementara Afnan merasa ini adalah sebuah jawaban. Kalau Celi dan cowok itu mempunyai hubungan spesial.


“Ekhm.” Celi berdehem.


Arya menoleh ke sumber suara, dia mengerenyit heran, tiba-tiba saja muncul Celi.


“Udah makannya?” tanya Arya.


“Udah barusan.” Tanpa disuruh Celi langsung duduk di sebelah Arya.


Cewek body ngebanyol itu tersenyum, dan ditanggapi oleh Celi dengan senyuman paling manis.


“Nggak pulang?” tanya Arya. Celi merengut, kali ini dia diusir.


“Ish, kok, manyun. Minta dicubit?” Arya heran melihat ekspresi Celi.


“Lu ngusir gue!”


“Ya nggak, Sayang. Siapa yang ngusir?”


“Barusan!” Celi masih saja merajuk.

__ADS_1


“Cuma nanya. Tunggu bentar, ya, suami dia belum dateng. Meetingnya sama lakinya, bukan dia,” ujar Arya.


“Jadi, dia udah punya suami?” tanya Celi nggak percaya. Cewek tadi mengangguk sambil tersenyum.


Tubuh Celi merosot di kursi, merasa bodoh karena cemburu. Hingga akhirnya, hampir membuat dirinya malu.


“Ma, papa kok nggak pulang-pulang?” tanya Qila. Saat ini Qila tengah berada di kamarnya, bersiap untuk tidur.


Mikha melihat jam di tangannya, sudah pukul 20.00. Harusnya, Azka sudah di rumah dari sebelum Maghrib. Namun, ini sudah terlalu malam dia tak pulang, bahkan mengabari.


Azka berjanji pulang kerja, dia akan membawakan Qila buku mewarnai. Makanya, Qila terus menunggu hingga malam.


“Qila bobo dulu, ya, Sayang. Mungkin papa masih sibuk.”


Qila mengangguk kemudian memejamkan matanya. Mikha keluar dari kamar Qila setelah dirasa dia benar-benar terlelap.


“Abang di mana?” tanya Mikha melalui sambungan telepon.


“Ini lagi pulang. Maaf, ya, lupa ngabarin. Tadi sibuk,” jawab Azka.


“Nyebelin, kasian Qila. Dia nunggu sampai malem, loh!”


“Iya, maaf. Beneran tadi sibuk banget. Ya udah, tutup dulu. Ini udah mau pulang.”


Paginya Qila manyun. Dia ngambek sama papanya. Azka paham betul anak gadisnya tengah merajuk padanya. Mikha yang paham memilih sibuk di dapur, membiarkan mereka bicara berdua.


“Maafin papa, ya, Sayang. Janji, deh. Nggak gitu lagi,” bujuk Azka.


Qila masih sibuk dengan boneka barbie miliknya. Dia tetap diam, malas menanggapi Azka. Saat itu muncul Arya.


“Kok, lu bisa masuk?” tanya Azka.


“Gue udah ketok pintu ampe tangan merah, nggak ada sahutan. Nih, liat!” Arya menunjukan tangannya yang memerah.


“Udah bilang sama Qila, kalo gue mau ajak dia jalan-jalan?” tanya Arya.


“Mau, Om!” seru Qila.


Sementara Mikha, meninggalkan pekerjaannya dan menghampiri mereka.


“Ada apa?” tanya Mikha.


“Bro, lu belum ngomong sama Mikha?”


“Sorry, semalem gue lupa,” balas Azka.


“Dasar! Mik, gue pinjem Qila bentar. Gue ajak jalan-jalan. Plis, biar Celi nggak nolak,” pinta Arya.


“Nanti ngerepotin, loh. Dia suka minta pipis dadakan,” kata Mikha.


“Nggak apa-apa, itung-itung latihan jadi orang tua,” ujar Arya.


“Boleh, ya, Ma,” rengek Qila.

__ADS_1


Qila memang dekat dengan Arya.


“Tapi kamu nggak boleh nakal, nurut sama Om Arya dan aunty Celi.”


“Iya!” balas Qila.


Arya membawa Qila menuju rumah Celi. Celi yang pengangguran tengah rebahan sambil mendengarkan musik.


Pintu kamar diketuk, Celi tetap tak menyahut. Kesal, Ani langsung menerobos masuk. Dicabutnya earphone yang menyangkut di telinga anaknya.


“Ih, Mama kasar!” protes Celi, dia mengubah posisinya menjadi duduk, wajahnya dia pasang mode kesal.


“Kamu yang nggak denger, mama panggil dari tadi.”


“Ada apa? Nggak seneng banget liat anaknya rebahan?”


“Ada Arya di depan, mau ngajakin kamu jalan. Mama udah bilang, iya.”


“Ma, kemarin Celi abis makan sama Afnan. Sekarang disuruh jalan sama Arya. Ya ampun, Mama kesambet?”


Ani menjitak kepala anaknya, Celi meringis kesakitan.


“Itu karena kamu nggak mau ngasih kepastian, siapa pacar kamu.”


“Ya nggak segitunya kali, Ma. Celi malu ditawarin kesana-kemari.” Celi merengut, harga dirinya terkoyak akibat perlakuan mamanya.


“Ish, siapa yang nawarin. Itu cuma usaha, buruan ganti baju. Arya sama Qila udah nunggu!” Ani pergi meninggalkan Celi. Sementara Celi kesal, nggak mamanya nggak Arya mereka punya cara membuat dia melakukan apa yang mereka suruh.


“Beraninya bawa Qila. Ish, dasar cowok ngeselin!” umpat Celi sambil mengoleskan lipstik di bibirnya.


“Tunggu sebentar, ya, aunty Celi lagi ganti baju,” ucap Ani pada Qila, dielusnya rambut milik Qila. Dia ingin segera mempunyai cucu juga.


“Ma, Arya mau ngomong.”


“Iya, kenapa?”


“Mohon maaf sebelumnya, kemarin Arya lihat Celi jalan sama cowok. Dia bilang Mama yang nyuruh.”


Ani tersenyum, dia menyamarkan rasa gugupnya. Ternyata, dia ketahuan sudah main belakang dari Arya.


“Oh, bukan hal yang penting. Bu Ginting dan mama temen arisan. Kebetulan, kemarin bawa anak-anak. Nah, takut mereka bosan. Kita suruh aja nunggu, sambil makan di cafe,” kilah Ani.


“Oh, Arya paham, Ma. Arya mohon, kasih kesempatan buat Arya sama Celi. Biar Celi nggak bingung. Jangan sampai hal ini terjadi lagi, ya, Ma,” ucap Arya lembut.


Ani mengangguk, ada rasa tak enak juga pada Arya. Beruntung Celi datang. Agak kaget juga melihat dandanan anaknya yang cetar. Arya sampai melongo.


“Mau ke mana, sih!” ketus Celi pada Arya. Arya yang masih terkejut tak menanggapi.


“Mandi bola, Aunty,” balas Qila.


“Asik berarti ke mall. Let's go!” seru Celi dia menggandeng tangan Qila.


Setelah pamit, mereka pergi ke mall yang dituju.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2