Mikhayla

Mikhayla
Part_23


__ADS_3

Sheryl benar-benar geram dengan tingkah Azka dan Mika. Bagaimana, mungkin Mika dapat merubah perasaan Azka secepat itu, padahal selama tujuh tahun bersama banyak hal yang mereka lewati.


"Mi, Azka jahat sama Sheryl. Azka, kan ayah bayi ini juga. Tapi, dia malah gak peduli dan cuma peduliin Mika," rengek Sheryl mengadu pada Mami Niar yang sedang bersantai bersama Papi Leo.


"Itu resiko kamu, bagaimana juga Mika istri sah, dia berhak memiliki Azka, sedangkan kamu masih di ragukan semuanya, jadi jangan terlalu berharap. Kalo bukan karena Mika, gak mungkin kamu ada di sini," sinis Papi Leo.


"Papi, kasar banget, sih. Gimana juga Sheryl lagi hamil anak Azka, Mami gak mau dia stress, kamu tenang, ya. Nanti Mami suruh Azka buat perhatian juga sama kamu," ucap Mami Niar. Sheryl tersenyum bahagia. Papi Leo cuma menggelengkan kepalanya, heran apa yang di pikirkan istrinya sehingga percaya kalo Azka adalah ayah bayi itu.


Makan malam tiba semua berkumpul di meja makan, Oma yang udah sehat dan Sheryl yang gak tau malu ikut makan bersama.


"Azka, kamu perhatiin Sheryl, donk. Dia, kan lagi hamil anak kamu. Jangan cuma Mika doang gak adil namanya," ucap Mami Niar di sela makan malamnya. Mika meremas ujung sendok kuat-kuat, kemudian terasa ada tangan yang mengusap pundaknya menenangkan yaitu Azka.


"Iya, Mami Azka bakal perhatiin, kok." Mika menoleh tak percaya, sementara Azka tersenyum meyakinkan dan Sheryl tertawa puas.


"Gitu, dong. Itu baru anak Mami," puji Mami Niar.


"Yeeeey, malam ini kamu temenin aku, ya. Aku susah tidur kalo di tempat baru, Beb," rengek Sheryl.


"Ya udah ntar malem kita malam jumatan, ya. Mumpung Jumat kliwon," ucap Azka santai. Semua yang ada di situ bingung tetapi hanya diam mendengarkan apa yang akan terjadi.


"Asiik, makasih, Beb. Ternyata kamu masih peduli sama aku," ucap Sheryl girang. Mika manyun, si Azka apa-apaan, sih.


"Iya, dong sekarang kamu siap-siap, gih. Sebentar lagi, kan muter," ujar Azka.


"Muter? Maksud kamu aku dandan yang cantik gitu? Kamu mau ngajakin aku jalan?" Sheryl kebingungan.


"Maksud aku, kamu yang muter nyari mangsa, aku di rumah jaga lilin. Katanya mau di ajakin malam Jumatan, bukanya biasanya kaya gitu, ya," ucap Azka sambil tertawa. Mika mengggeleng gak percaya suaminya iseng banget.


"Beb, emang aku **** ngepet," ketus Sheryl. Semua yang ada di situ tertawa ngakak. Hanya Mami yang repot mencoba menenangkan Sheryl.


"Adek, udah, yuk makannya, kita lanjutin malam jumatan kita. Sorry, ya, Shey gue mau malam jumatan bareng istri gue, jadi lu bisa-bisain, deh tidur. Atau kalo tetep gak bisa, lu pergi aja dari sini, itu jauh lebih baik," ucap Azka sambil mengajak Mika pergi.


"Kamu, kenapa, Dek? Manyun?" tanya Azka setelah sampai di kamar.


"Abang, mau nemenin, Sheryl?"

__ADS_1


"Gak, sayang." Azka mendudukkan Mika di pangkuannya.


"Tadi ngomong kaya gitu." Mika masih manyun, Azka gemas pengen segera mencomot bibir mungil istrinya.


"Itu cuma ngledek doank, Abang cuma ngerjain buktinya Abang di sini sama Adek," ujar Azka sambil melingkarkan tangannya di perut Mika. Ada yang berkedut di perut Mika.


"Sayang, anak kita gerak-gerak, Abang bisa ngerasain." Azka mengelus lembut perut Mika.


"Ini, kan udah mau tujuh bulan, Bang udah bisa nendang-nendang tau," ucap Mika.


"Iya, buka dong perutnya Abang mau lihat, gimana tendangannya," pinta Azka.


"Gak usah modus, deh."


"Serius, tuh kan makin kenceng, jangan-jangan minta nyari lawan si Dede."


"Maksudnya?" Mika mengerenyit bingung.


"Di dalem dia kesepian, nyariin temen buat main, makanya dia protes. Uhh ... sayang pengen di temenin Papa di dalem, ya." Azka mengusap-usap perut Mika yang kian membesar. Walaupun udah hampir tujuh bulan tiap di USG baby-nya tetep gak mau nunjukin jenis kelamin.


"Mau kamu juga 'kan?" goda Azka.


Paginya Sheryl menatap Mika tajam saat berada di dapur.


"Apa?" ketus Mika.


"Jangan, pikir lu udah dapetin Azka sepenuhnya. Anak ini juga punya hak yang sama dari Azka, jadi lu nyadar, sekarang boleh lu bahagia tapi, kita lihat aja bentar lagi lu bakal nangis darah," ancam Sheryl.


"Uuuhhh ... takuuttt, ngarep 'kan gue bilang gitu." Mika tertawa sambil menuangkan teh ke dalam cangkir, kemudian meminumnya.


"Lu, bocil songong banget, ya. Lu belum tau siapa gue!"


"Hmm, tau kok, tau banget siluman rubah? Gumiho atau Kyubi?"


"Brengsek!" umpat Sheryl sambil menampar Mika. Mika gak diem aja langsung menjambak Sheryl.

__ADS_1


"Harusnya udah dari kemaren gue lakuin ini, gue heran kenapa gue bisa se sabar ini buat ngadepin lu." Mika masih menjambak Sheryl.


"Lepas, brengsek ini sakit," pekik Sheryl.


"Ampe botak juga gak bakal gue lepasin!" Mika masih menjambak Sheryl, Sheryl masih mencoba melepaskan tangan Mika. Fariz muncul dan langsung memisahkan mereka.


"Udah ... udah stop, kalian ngapain?" Fariz frustasi ngeliat ibu hamil yang bukanya pada istirahat malah adu otot.


"Riz, lu liat 'kan Mika jahatin gue barusan," adu Sheryl.


"Ngadu aja sini gue gak takut," tantang Mika.


"Kak, Mika gak bakal lakuin itu kalo Kakak gak mancing-mancing," ujar Fariz. Mika tersenyum penuh kemenangan.


"Wah, hebat, ya pake dukun mana? Sampai semua orang di sini belain lu." Sheryl mendekati Mika.


"Jaga mulut lu," tantang Mika.


Fariz sudah pusing bagaimana menghadapi dua wanita hamil yang sama-sama keras kepala. Beruntung Oma datang di saat yang tepat.


"Mika, ayo ikut Oma. Oma pengen di temenin main congklak." Suara Oma membuat Mika sadar, dia memang bisa main congklak sama Oma untuk mengurangi kebosanan.


"Iya, Oma," balas Mika sambil tersenyum dan meraih tangan Oma Diana, mereka pergi meninggalkan Sheryl.


"Brengsek, Mika gue akan bales semua," umpat Sheryl.


"Kak, inget Kakak lagi hamil, gak seharusnya nyari masalah, Kakak harus fokus sama anak Kakak." Fariz mencoba memberikan nasehat.


"Gue, cuma lagi berjuang buat anak gue."


"Yakin anak, Bang Azka?"


"Maksud lu, apa? Denger, ya Fariz gue bersumpah kalo gak bikin Azka jadi suami gue, gue bakal ancurin Mika sama Azka. Inget itu." Sheryl pergi meninggalkan Fariz. Fariz mengerjapkan matanya, gimana bisa Azka bertahan selama tujuh tahun dengan wanita menyeramkan seperti Sheryl.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2