
Pagi ini Azka pulang ke rumah untuk bersih-bersih setelah memastikan keadaan Mika yang walaupun belum sadar tetapi masih baik-baik saja. Dan tentu saja bayinya yang masih butuh perawatan intensif. Namun dalam keadaan stabil.
"Kamu pulang? Gimana Mika?" tanya Mami Niar.
"Azka pulang mandi doang, Mi. Nanti Azka balik lagi. Masih belum sadar, doain Mika ya, Mi."
"Tentu, Mami akan doain Mika. Mami berhutang maaf dan terima kasih sama dia," sesal Mami Niar.
"Mika pasti senang kalo pas sadar liat Mami udah kaya gini," ucap Azka sambil memeluk Mami Niar.
"Maafin Mami, Azka. Karena Mami hampir saja menghancurkan kebahagiaan kamu," lirih Mami Niar.
"Mi, Azka tau. Mami hanya ingin yang terbaik buat Azka. Meskipun itu salah. Bukan berarti Mami sengaja, itu hanya karena Mami gak tau siapa Sheryl sebenarnya."
"Terima kasih, karena udah ngertiin Mami. Ya udah, kamu mandi sekarang. Mami siapin sarapan buat kamu," ucap Mami Niar.
Azka masuk ke dalam kamarnya, dia kaget banget karena di sebelah tempat tidurnya sudah ada box bayi warna pink lengkap dengan pernak-pernik yang lucu. Perlengkapan bayi, seperti baju, bedong, popok dan yang lainya semua sudah lengkap dengan motif lucu khas bayi perempuan.
"Cepet pulang kesayangan Papa, semua udah nungguin kalian," lirih Azka. Dia terharu karena ternyata semua orang menyambut kehadiran bayinya. Padahal kalau di ingat lagi flash back ke belakang. Semua ini terlihat gak mungkin, karena kehadiran bayi itu gak ada yang mengharapkan dan di awali dengan ketidaksengajaan.
Bu Tia menunggu Mika di rumah sakit bersama Raka. Setelah di periksa Dokter, Mika di pindahkan ke ruang rawat biasa, kondisinya sudah stabil, walaupun masih belum sadar. Sesuai permintaan Azka, Mika di pindahkan ke ruangan VIP agar keluarga bebas menjenguk.
"Mika, kenapa kamu belum bangun? Apa kamu gak pengen liat anak kamu? Bayinya perempuan, dia cantik kaya kamu," ucap Bu Tia sambil menciumi tangan Anaknya.
"Bu, sabar kata Dokter mungkin, Kak Mika akan sadar sebentar lagi, kita tunggu sama-sama, ya," ujar Raka.
"Ibu, cuma gak sabar aja, pengen ngasih tau semuanya," ucap Bu Tia.
"Iya, Raka yakin, Kak Mika bakal seneng banget."
Setelah bersih-bersih Azka keluar untuk sarapan, sudah lama sekali Azka gak pernah lihat ibunya masuk ke dapur, karena sibuk dengan arisan dan sosialitanya. Azka tersenyum dan menghampiri Maminya.
"Tumben," sindir Azka.
"Emang kamu gak kangen sama masakan, Mami?"
"Kangen, dong. Kangen banget malah."
"Ya udah. Diem aja, tunggu mateng gak usah, sindir-sindir Mami," ketus Mami Niar. Azka hanya tersenyum, dia tau Maminya malu di ledekin kaya gitu.
Fariz nongol dia memandang Azka seolah-olah bertanya apa yang merasuki Mami Niar? Azka hanya mengangkat ke dua bahunya.
__ADS_1
"Gak usah kode-kodean. Mami tau kalian lagi ngomongin, Mami," sindir Mami Niar yang masih konsentrasi dengan penggorengannya.
"Nggak, kok. Kita gak ngapa-ngapain. Iya, kan, Bang?"
"Iya, Mami suudzon, nih. Gak boleh tau."
"Denger, ya. Mami cuma ingin nebus kesalahan Mami selama ini, yang udah terlalu sibuk sama geng Mami Anti Jones, Mami udah keluar dari grup itu, dan mau fokus ngurus, cucu," ucap Mami Niar.
Azka dan Fariz tersenyum, akhirnya Mami Niar balik lagi seperti dulu. Sebenarnya dia orang yang baik, hanya saja ketika Papi Leo sukses, Mami Niar mulai lupa dengan semuanya, dia hanya fokus dengan arisan, arisan terus.
Bu Tia menatap sendu keadaan cucunya, dia gak tega melihat bayi yang masih merah itu bolak-balik di suntik injeksi dan cek darah atau yang lainnya.
"Bu, jangan sedih. Itu buat kebaikan si dede. Bikin dia kuat," hibur Raka, yang tau banget pasti ibunya gak kuat melihat suster dengan cekatan menusukan suntikannya.
"Kasian, Raka. Ibu pengen cepet bawa bayi itu pulang. Gak tega rasanya."
"Iya Raka tau. Tapi, bayi Kak Mika beda, Bu dia perlu perawatan yang intensif, makanya gak sembarang orang boleh pegang," ucap Raka. Bu Tia memukul bahu Raka sambil tersenyum.
"Sok tau, kamu," cibir Bu Tia. Raka terkekeh.
Bu Tia balik ke kamar Mika dan ternyata dia sudah sadar walaupun masih lemah dan hanya tersenyum. Suster sedang memeriksa Mika.
"Bu Mika masih lemah ya, Bu jangan terlalu banyak di ajak bicara biar dia istirahat," ucap Suster sambil berlalu.
"An-anaku ...?" lirih Mika.
"Ada, dia perempuan sekarang masih di inkubator, dia cantik kaya kamu. Buruan sehat, biar bisa lihat dia," ucap Bu Tia sambil tersenyum. Mika menangis haru, "Jangan nangis, Ibu tau kamu bahagia. Ibu juga sangat senang. Apalagi semua keluarga Azka sangat bahagia termasuk Mami Niar, kamu cepet sehat, Nak." Mika mengangguk.
Sheryl tanpa malu kini duduk di ruang tamu keluarga Oma Diana. Kali ini lebih parah selain orang tuanya dia juga membawa saksi yang katanya roomboy hotel dan juga polisi.
"Kali ini, saya tidak akan selunak kemarin, kalo kamu belum mau nikahin anak saya. Kamu akan saya masukin penjara," gertak Pak Yoga.
"Bener-bener siluman rubah, gak tau malu banget kamu, masih berani ke sini setelah apa yang kamu lakukan sama Mika!" cibir Mami Niar geram.
"Jangan hina anak saya, Bu. Saya bisa penjarakan Ibu dengan pencemaran nama baik," ancam Pak Yoga. Mami Niar langsung menutup mulutnya meski geram dia diam saja kali ini.
"Maaf, Pak saya tetap tidak bisa!" tegas Azka.
"Berarti kamu siap di penjara?"
"Atas dasar apa? Saya gak ngerasa melakukan sesuatu yang kriminal, justru anak Bapak yang telah mencelakakan istri saya, hingga dia harus melahirkan awal sebelum waktunya," tegas Azka.
__ADS_1
"Ardi, kamu ceritakan apa yang terjadi di hotel," titah Pak Yoga kepada Ardi si roomboy hotel.
"Saya, melihat Pak Azka dan Mbak Sheryl masuk di kamar yang sama, kemudian saya juga melihat Pak Azka dalam kondisi tidak sadar. Setelah saya membantu mereka saya pergi, namun sebelum itu saya mendengar Pak Azka memaksa Mba Sheryl melakukan hubungan terlarang, Mbak Sheryl menolak tapi Pak Azka ngotot. Dan saya pikir itu bukan urusan saya, makanya saya tetap pergi," terang Ardi.
"Kamu dengar! Itu yang kamu lakukan terhadap anak saya." Pak Yoga dan Sheryl tersenyum puas, karena dia merasa Azka terpojok.
Azka menyuruh Fariz mengambil laptopnya. Oma yang geram mendengar penuturan roomboy masih berusaha bersikap tenang, karena dia melihat Azka seperti gak kaget.
Azka memutar flsh disk yang kemarin dia dapat dari Arya. Dan semua orang terkejut, Pak yoga dan Sheryl yang tadinya tersenyum berubah jadi pucat.
"Ini, yang sebenarnya terjadi. Dia cuma 5 menit berada di kamar saya, dan tidak ada roomboy atas nama Ardi. Tapi, di kamar Pak Alex dia sampai pagi, lalu apakah saya yang telah melakukan hal itu? Atau Pak Alex? Lihat saja kelakuan mereka dari mulai loby hotel sampai masuk kamar, mereka seperti pengantin baru," terang Azka. Semua keluarga Oma Diana bernafas lega.
"Ini tidak mungkin, Pak Alex bilang CCTV itu udah di hapus," ucap Sheryl tanpa sadar.
"Emang sudah di hapus, tapi karena Mika langsung menyuruh Arya meminta CCTV itu sehari setelah kejadian kamu kirim foto ke Mika, CCTV itu masih ada. Dan yang menghapus itu si Arya. Kamu tau? Istriku sangat pintar, bahkan tanpa aku tau dia udah nyari bukti kegilaan kamu duluan," ucap Azka sambil tersenyum.
"Kurang aja, dasar bocil menyebalkan aku akan balas semuanya," teriak Sheryl gak jelas, sambil mengacak-acak rambutnya.
"Jangan seperti itu, Nak nanti kamu kumat lagi, ayo minum obatnya," ucap Bu Sinta sambil memasukan sebuah obat ke mulut Sheryl.
"Dia kenapa?" tanya Oma
"Dia punya penyakit kejiwaan, dimana saat dia tidak dapat memiliki apa yang dia inginkan, dia akan depresi dan seperti ini. Itu sebabnya, saya sangat memohon agar Azka menikahi Sheryl, karena hanya bersama Azka Sheryl menjadi sehat kembali. Tolong, Azka pertimbangkan lagi," mohon Bu Sinta.
"Maaf, Bu saya sudah mempunyai istri. Saya gak bisa menikahi Sheryl. Walaupun jujur dulu saya sangat mencintai dia, dan tentu saja saya pernah bolak-balik ngajak dia nikah tapi dia gak mau," ucap Azka.
"Itu, karena obsesi dia yang jadi model dan mengharuskan dia melajang. Makanya dia terus-menerus menolak," ucap Bu Sinta sambil terisak.
Pak Yoga hanya menunduk, dia juga melakukan semua ini hanya untuk putrinya agar dia sembuh. Namun, semua tidak bisa di paksakan. Dia membawa anak dan istrinya pulang.
"Aku akan membalas kalian, kalian gak bisa bahagia sementara hanya akuĀ terluka," teriak Sheryl sambil tertawa lalu menangis gak jelas.
Azka sangat shock, jadi dia selama ini pacaran sama orang gila, pantes saja dia sering melihat Sheryl meminum obat itu katanya itu vitamin.
"Ya ampun, tragis banget. Sheryl ternyata dia ...." Ucapan Mami Niar menggantung Papi Leo memeluk bahu istirnya.
"Bang, Abang gak tau kalo Sheryl sakit?" tanya Fariz.
"Nggak, dia sangat pintar menutup semuanya," jawab Azka.
Azka mendapatkan telepon dari Bu Tia kalo Mika sudah sadar, dia tersenyum dan langsung menuju rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung.