Mikhayla

Mikhayla
Part_17


__ADS_3

Keesokan harinya dokter datang memeriksa keadaan Mika.


"Gimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Azka.


"Alhamdullillah, sudah mendingan. Tapi, Ibu harus benar-benar bed rest ya, soalnya kandungannya sangat lemah. Dan, satu lagi. Mohon pengertiannya buat Bapak, untuk sementara waktu dilarang melakukan hubungan suami istri. Karena ini berbahaya bagi janin yang ada di dalamnya," jawab dokter. Azka menepuk jidatnya. Padahal dia sudah berkhayal yang indah-indah setelah nyampe rumah.


"Emm ... gak bisa banget, ya, Dok. Pelan-pelan gak boleh?" tanya Azka masih usaha. Dokter itu tersenyum.


"Bapak, yang sabar puasa dulu. Demi anak Bapak," ujar Dokter itu sambil menepuk bahu Azka. Setelah itu, Dokter bilang kalo Mika besok keadaanya memungkinkan bisa langsung pulang.


"Sebel, deh. Masa gak boleh," ketus Azka merengut.


"Biasanya juga, gak pernah. Apa bedanya?" tanya Mika.


"Bedalah sekarang, kan kita udah pacaran. Masa gak boleh." Lagi Azka makin merengut. Mika tertawa.


"Inget, kata Dokter, Bang. P-U-A-S-A," terang Mika. Azka makin manyun, Mika yang gemas mencium pipi Azka. Azka yang kaget dapat serangan langsung membalas mencium Mika bertubi-tubi. Mika tergelak karena Azka nyosor terus. Fariz masuk di saat yang tepat. Tuperware isi bubur titipan oma buat Mika terjun bebas dari tangan Fariz. Hal itu membuat Azka menghentikan kejahilannya.


"Abang, ke toilet dulu," ucap Azka ngeloyor pergi. Bener-bener gak bertanggung jawab tersangkanya malah kabur.


"Gue ganggu ya," tanya Fariz suasana mendadak gerah apalagi setelah melihat Mika dan Azka.


"Ng-nggak kok, btw lu bawa apa?" tanya Mika tergagap malu ketahuan sama Fariz.


"Oh, ini titipan dari Oma," jawab Fariz sambil membuka isi tuperware.


"Yah, jadi ancur gara-gara gue jatuhin" ucap Fariz menyesal setelah melihat isi dalam tuperware acak-acakan seperti hatinya.


"Gak apa-apa kok ini masih bisa di makan," balas Mika sambil meraih tuperware dari tangan Fariz dan memakannya. Mika makan dengan lahap dan belepotan. Fariz berinisiatif mengambil tissue untuk membersihkan mulut Mika. Azka datang dari toilet dan langsung mengelap mulut Mika dengan jempolnya.


"Dih, udah sembilan belas tahun makan masih kaya bocah Lima tahun. Bisa-bisa abang bingung mana anak mana bini. Belepotan semua, sih," sindir Azka.


Fariz memainkan tissue yang tadi dia ambil, terlalu lama menjadi obat nyamuk membuat dia gak tahan. Bukanya nyamuk yang pada mati malah hatinya yang kebakaran. Fariz pamit pergi ke kampus.


Esoknya Mika sudah di perbolehkan pulang.


"Kenapa gak di rumah Ibu aja sih, Bang?" tanya Mika. Sebenarnya dia masih belum siap berada satu atap sama Mami Niar.


"Di rumah, kan gak ada orang. Ibu ke toko, Raka ke sekolah. Nanti Adek gak ada yang jagain, kalo di tempat abang ada Bi Iyem sama Mang Dadang yang stay di rumah," jawab Azka sambil memasukan barang-barang Mika ke tas.


"Mika udah sembuh kok," rengek Mika.


"Yakin? Kalo udah sembuh, Dokter pasti gak nyuruh kamu bed rest dan abang puasa. Udah, deh terakhir kali Adek gak nurut, kan kaya gini kejadiannya," omel Azka. Mika merengut, Azka jadi cerewet banget sekarang. Terpaksa dia menuruti keinginan Azka.


Mika dan Azka sampai di rumah. Oma, Papi Rio dan Fariz menyambut mereka. Mami Niar cuek dan cuma mematung kaya manekin.


"Selamat datang, Mika. Maaf papi kemaren ada kerjaan di luar kota. Jadi, gak bisa jenguk kamu," ucap Papi Rio saat Mika mencium punggung tangannya.


"Gak apa-apa, Pi. Mika udah sehat kok," balas Mika.


"Pi, kata Dokter. Mika gak boleh kecapean. Jadi, buat sementara. Aku sama Mika mau pindah di kamar bawah, ya," pinta Azka.


"Tentu saja. Itu jauh lebih baik. Mika gak perlu bolak-balik naik-turun tangga," balas Papi Leo.


"Alah, manja banget, sih. Dulu pas mami hamil koprol juga bisa," cletuk Mami Niar.


"Iya, itu karena kamu hamil tetapi sekalian kesambet sun go kong makanya kaya gitu," balas Oma. Mami Niar hanya berdecak sebal.


"Sayang, jangan dengerin omongan Mami ya, anggap aja itu trompet penyambutan," ujar Azka sambil mengajak Mika istirahat. Sementara yang lainya tertawa mendengar cletukan Azka.


"Abang mau langsung ke cafe ya, mau ketemu Arya. Soalnya papi udah nyuruh Abang buat bantuin dia di perusahaan makanya, cafe mau abang alihin ke Arya dulu," ucap Azka.

__ADS_1


"Abang, gak cape? Gak istirahat dulu?"


"Cie, masih pengen sama abang, ya," goda Azka.


"Dih, siapa? Mika cuma gak mau ntar gantian Abang yang sakit karena kecapean."


"Udah, gak usah ngeles, abang juga pengenya deket Adek sama dedek bayi terus. Abang cuma sebentar, kok," ucap Azka sambil mengacak rambut Mika.


Terlalu lama tiduran di kamar Mika bosan. Azka juga belum pulang. Mika membuat susu ibu hamil di dapur.


"Neng, biar bibi aja," ujar Bi Iyem.


"Gak apa-apa, Bi. Udah selesai, kok," jawab Mika.


"Lain kali nyuruh bibi aja, ya. Takutnya mas Azka marah kalo tau Neng bikin sendiri," ujar Bi Iyem. Mika hanya mengangguk dan tersenyum.


Di tempat lain Azka seperti terburu-buru menyelesaikan pekerjaan nya.


"Kenapa, Bro? Kayanya buru-buru amat?" tanya Arya yang aneh gak biasanya liat sahabatnya seperti itu.


"Gue cuma pengen cepet-cepet pulang," jawab Azka tanpa menoleh ke Arya.


"Lu jadi bucinya Mika sekarang?" Arya ngakak kenceng banget.


"Brisik, lu . Makanya lu punya bini, biar tau rasanya."


"Jiah ... dulu aja sok nolak dan gak mau. Gue bilangin, ya. Belum tentu lu kaya gini kalo nikahnya ama Sheryl. Yakin gue," ucap Arya mantap.


Azka menghentikan aktivitasnya, bener juga yang Arya bilang, selama ini Sheryl yang selalu ngatur Azka, perintah ini itu. Gak kaya Mika yang walaupun masih bocah tau kewajiban.


"Iya, sih. Eh, lu denger gak kemaren si Sheryl overdosis minum obat tidur, kritis katanya," tanya Azka.


"Kapan? Kemaren? Serius, orang gue liat, kok di party nya Lusi dia dateng semalem," jawab Arya.


"Ck, mami lu, kan sama aja sama Sheryl," ujar Arya.


"Sialan lu." Azka melempar pulpen ke arah Arya.


"Gue saranin, lu jagain Mika dari mami lu sama Sheryl, mereka berdua itu bakal jadi orang yang paling seneng liat hubungan lu ancur," ujar Arya. Azka segera merapikan pekerjaannya dan bergegas pulang ke rumah. Omongan Arya buat dia kepikiran, apakah mami sebegitu bencinya sama Mika.


Mika melihat Fariz sedang main gitar di taman deket kolam renang. Mika menghampiri Fariz.


"Lagi ngapain?" tanya Mika.


"Eh ... nyantai, jomblo gini gak ada kerjaan," ujar Fariz sambil tertawa yang dibalas Mika.


"Kamu sendiri ngapain? Bukanya istirahat?" tanya Fariz.


"Bete, di kamar mulu, Bang Azka juga masih kerja," jawab Mika sambil duduk di samping Fariz.


"Mau dengerin lagu?" Mika mengangguk. Fariz memainkan gitarnya. Lagu Samson yang di cover sama Azmi judulnya bukan diriku. Lirik


Setelah ku pahami


Ku bukan yang terbaik


Yang ada di hatimu


Tak dapat ku sangsikan


Ternyata dirinya lah

__ADS_1


Yang mengerti kamu


Bukanlah diriku


Kini maafkanlah aku


Bila ku menjadi bisu


Kepada dirimu


Bukan santunku terbungkam


Hanya hatiku berbatas


Tuk mengerti kamu


Maafkanlah aku


Walau ku masih mencintaimu


Ku harus meninggalkan mu


Ku harus melupakan mu


Meski hatiku menyayangimu


Nurani membutuhkan mu


Ku harus merelakanmu


Mika yang tadinya semangat rada gak enak denger liriknya. Dan tanpa mereka sadari Azka memperhatikan mereka dari belakang.


"Gimana suara gue, keren 'kan?" tanya Fariz setelah menyelesaikan lagunya.


"Yeeeeey ... keren, kok keren daripada gue bonyok," seloroh Mika mencairkan suasana.


"Mikhayla, gue bakal mencoba ikhlas. Gue bakal tetep cinta sama lu, tetapi dengan cara gue," ucap Fariz sambil meraih tangan Mika. Mika menepis tangan Fariz


"Maaf, Fariz. Gak enak kalo ada yang lihat," ucap Mika.


"Lu berhak bahagia, Riz, jadi gue mohon jangan kaya gini," imbuh Mika.


"Entahlah, gue gak sanggup liat lu sama Bang Azka. Tapi, gue juga gak bisa jauh dari lu, gue harus gimana?"


"Maafin gue, Riz. Gue jadi luka di hati lu, ini semua bukan ingin gue," ucap Mika sambil terisak.


"Jangan nangis, ini salah gue bukan lu. Stop, lu bikin gue terluka," ucap Fariz sambil menyeka air mata Mika.


"Semua masalah ini karena salah gue, gak seharusnya gue di sini. Bener kata Mami," ucap Mika masih terisak.


"Lu apain bini gue," teriak Azka yang tiba-tiba udah di belakang Mika. Fariz yang kaget langsung berdiri.


"Ini, gak seperti yang Abang pikir. Bukan salah Fariz, ini Mika, Bang yang salah," ujar Mika sambil menyeka air matanya.


"Jangan pernah salahin diri kamu sendiri,  semua ini bukan salah kamu, dan jangan pernah nangis di depan cowo lain. Apalagi ngebiarin dia yang hapus air mata kamu," ujar Azka sambil memeluk Mika.


"Maaf ...," lirih Mika.


"Abang yang minta maaf karena membawa kamu ke kehidupan yang rumit ini, kita jalani bareng-bareng biar kita makin kuat," ujar Azka.


Pengen rasanya Fariz ikut berpelukan bareng Mika dan Azka. Tapi, ngeri di tendang sama Abangnya. Jadi, Fariz mending menyingkir aja hancur, gaes.

__ADS_1


''Pernah sakit, tapi tak pernah sesakit ini. Karena pernah cinta. Tapi, tak pernah sedalam ini'' Fariz bersenandung galau masuk ke dalam kamar.


Bersambung.


__ADS_2