Mikhayla

Mikhayla
ARCEL PRT_42


__ADS_3

Celi masuk ke dalam kamar. Dia menutupi wajahnya dengan bantal. Antara malu dan bahagia campur jadi satu. Hatinya lega, karena akhirnya dia bisa mengungkapkan apa yang dirasakan.


“Ya Allah, aku harap semua bakal indah kaya gini terus. Semoga, Arya pilihan yang terbaik,” gumam Celi, setelah itu dia mulai memejamkan matanya.


Paginya rumah Mikha dan Azka kedatangan tamu. Azka pernah lihat wanita yang tengah duduk di depannya, hanya saja dia lupa.


“Ibu siapa?” tanya Azka pada wanita itu, dia hampir seumuran mami Niar. Wajahnya cantik dipoles dengan make-up tebal.


“Saya Liora, istri pak Alexander.”


“Alexander, maksudnya ....”


“Iya, papanya Rain,” ucap Liora memotong perkataan Azka.


“Ibu ada urusan apa ke sini?” tanya Azka.


Mikha yang baru datang, segera ikut duduk setelah meletakkan teh di meja.


“Saya, datang menjemput Rain!”


Mikha dan Azka saling pandang, ini terlalu mendadak. Bukannya mereka yang dikasih amanah oleh bu Rina.


“Tapi, kami nggak bisa ngasih gitu aja, Rain bukan barang. Bu Rina yang memberi amanah pada kami,” ujar Azka.


“Iya saya tahu, makanya saya ke sini. Hal itu terjadi karena bu Rina, takut saya tak terima dengan kehadiran Rain. Tolong ambil surat wasiat itu, ada tanggal di mana dia buat. Dan bandingkan dengan video ini yang baru kemarin dia buat sebelum meninggal. Jadi, saya yang lebih berhak atas Rain.”


Mikha mengambil surat wasiat tersebut, dan mencocokkan dengan video milik Liora, di situ terlihat bu Rina berkata bahwa yang akan mengasuh Rain adalah Alexander ayah biologisnya.


“Bagaimana?” tanya Liora.


“Nggak semudah itu, Bu!”


“Ini pengacara, mari kita bikin perjanjian. Kalau saya melakukan hal yang tak baik pada Rain. Pak Azka bisa membawa saya ke penjara.”


Azka melihat ke arah samping Liora. Arash pengacara yang sedang naik daun, sudah pasti dia tidak bohong.


“Baiklah, mari kita buat surat perjanjian. Tapi sebelumnya, biarkan Rain yang memilih dengan siapa dia akan ikut,” ujar Azka.


“Baiklah, silakan. Sudah dipastikan dia akan ikut saya,” ucap Liora mantap.


Mikha memanggil Rain yang tengah bermain di kamar. Tanpa Mikha dan Azka duga. Rain langsung berlari dan menghambur ke pelukan Liora.


“Bunda!” teriaknya bahagia.


“Sayang, apa kabar. Maaf bunda terlambat. Kemarin ada kerjaan, kamu senang di sini?”


“Senang, Tante Mikha baik sama Om Azka juga Qila.”


“Berarti, kamu siap kalo hari ini kita pulang?”

__ADS_1


“Siap, Bunda!”


“Ya udah, kamu tunggu di mobil, ada om Tatang di sana. Nanti, bunda nyusul masih ada yang harus dibicarakan sama Tante dan Om!”


“Siap, Bunda. Rain boleh peluk Om sama Tante dulu?”


“Boleh, dong!” balas Liora.


Rain memeluk Azka bergantian dengan Mikha.


“Tante, terima kasih. Tante baik banget sama Rain. Pertama kali Rain peluk Tante di sekolah, Rain ngerasa nyaman banget. Tante udah Rain anggap kaya Mama.”


“Sama-sama, Sayang. Apa kamu nggak mau tinggal sama tante?” tanya Mikha.


Rain menggeleng. “Rain nggak mau merusak kebahagiaan Qila. Dia satu-satunya teman yang Rain miliki.”


Mikha kembali memeluk Rain, dia takjub dengan pola pikir gadis kecil itu. Setelahnya, Rain langsung pergi ke luar. Menuju mobil milik Liora.


“Pasti kalian bertanya bagaimana saya dekat dengan Rain? Jadi, setiap kali gurunya membawa Rain ke rumah saat bu Rina mengantar Sheryl berobat, sebenarnya Rain bersama saya. Saya mendekati Rain, karena dia satu-satunya anak yang Alexander miliki. Alex tahu hal ini, kalau saya akan membawa Rain ke rumah. Dia menantikan saat ini. Mungkin karena dia sudah tua dan tak bisa bermain dengan wanita lagi.” Liora terkekeh di akhir ucapnya.


“Tapi, bagaimana dengan yang lainnya, anak Ibu misalnya?” tanya Mikha.


“Saya tidak mempunyai anak, maka dari itu saya mencintai Rain karena dia anak suami saya.”


Mikha dan Azka tak bisa menolak, akhirnya mereka membuat perjanjian serah terima Rain. Rain dibawa Liora, Mikha hanya mampu melambaikan tangan. Azka memeluk istrinya.


Azka dan Mikha pergi menuju rumah orang tuanya. Sampai di sana Azka dan Mikha melihat Qila tengah menonton kartun dengan oma. Nampak mereka tertawa bersama.


“Asik banget, sampai nggak tau mama dateng,” ucap Mikha sambil duduk di sebelah Qila.


“Mama!” pekik Qila senang, dia langsung memeluk mamanya.


“Oma, apa kabar?” tanya Mikha, dia melepaskan pelukan Qila dan beralih mencium tangan oma.


“Allahamdulliah, baik. Mau jemput Qila?” tanya oma.


“Iya Oma,” balas Mikha sambil mengangguk.


“Qila, main di kamar dulu, Sayang. Oma mau ngomong sama Mama kamu.”


Qila manut pergi meninggalkan mereka. Azka ikut duduk di sebelah Mikha.


“Mami mana, Oma?” tanya Azka.


“Biasa arisan. Papimu belum pulang. Fariz juga, oma kesepian. Beruntung ada Qila,” balas oma.


“Makanya Oma tinggal sama kita aja.”


“Mikha, kalo oma tinggal sama kalian, bakal hancur ini rumah sama ulah mami kamu.”

__ADS_1


Azka dan Mikha terbahak, tak lama mami pulang dia masih kesal dengan Mikha dan Azka perihal Rain.


“Duduk, Mi. Azka mau cerita.”


“Apa! Soal anaknya Sheryl. Mana dia, nggak ikut?”


“Sini makanya duduk.”


Niar manut, dia duduk. Kemudian Azka menceritakan apa yang terjadi. Soal Liora dan Rain. Mami Niar tersenyum lega. Tanpa harus ada yang tersakiti masalah ini telah selesai dengan mudah.


Arya tengah menunggu Celi di depan rumahnya, suasana sore ini cukup cerah. Sebenarnya, lebih nikmat kalau buat berkencan bukan silaturahmi mantan. Namun, bagaimana lagi ini salah satu syarat dari sang dambaan hati.


Celi menghampiri Arya yang menunggunya sambil menyenderkan tubuh di mobil miliknya. Sengaja, tak diajak masuk. Nanti, yang ada malah gosip bareng mamanya.


“Udah siap?” tanya Celi.


“Udah, dong. Kan ada kamu!” jawab Arya sambil meraih tangan Celi.


“Ya udah ayo, buruan. Kita mau ke mana?” Celi segera masuk ke dalam mobil diikuti Arya.


“Em, ke rumah Arizka,” ujar Arya sambil menyalakan mobilnya.


“Hapal, ya!”


“Kan ada catetan, Sayang. Ini dia.” Arya menunjukkan daftar mantan miliknya. Celi menutup mulut saat lebih dari 20 nama bertengger di sana.


“Ini mantan kamu? Semua?!”


“Belum semua, ini yang aku inget.”


Celi memukul lengan Arya bertubi-tubi. Arya menghentikan mobilnya di sisi jalan. Ngeri terjadi sesuatu.


“Kamu kenapa, sih, Sayang?” tanya Arya sambil memegangi kedua tangan Celi.


“Kamu gila? Sebanyak ini tapi belum semua!”


“Ya, maaf. Aku cuma itu yang inget.”


“Astaga Arya! Parah sumpah!”


“Terus ini gimana?”


“Ayo lanjut!”


“Ya kamu jangan mukul, disayang kek, dicium. Sakit tau dipukul,” keluh Arya sambil kembali melajukan mobilnya.


“Kamu pantes ngendapetin itu!” ketus Celi.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2