
Mika masih belum bisa tidur, di sampingnya terlihat Azka yang sudah terlelap. Bagaimanapun juga ini saatnya perjuangan yang sebenarnya. Mika harap nanti, saat badai itu benar-benar datang mereka siap menghadapinya.
Mika menciumi pucuk kepala suaminya. Entah sejak kapan dia jatuh cinta sama Azka. Karena mau di bilang cinta ini terlalu cepat. Tapi, kalo bukan cinta dia gak mau kehilangan dan ngerasa memiliki.
Azka mengeliat dari tidurnya. Dia bangun dan tersenyum melihat Mika sedang memandangnya.
"Belum tidur?" tanya Azka dengan suara serak. Mika hanya menggeleng.
"Kenapa? Laper?" Azka membelai rambut Mika.
"Nggak, kok. Cuma lagi liatin Abang aja. Ternyata suamiku ganteng banget," ucap Mika sambil terkekeh.
"Baru tau, Abang ganteng udah dari orok." Azka menarik Mika ke dalam pelukanya.
"Kamu masih kepikiran soal Abang sama Sheryl?"
"Sedikit," balas Mika.
"Maafin, Abang udah bikin Adek gak nyaman. Abang janji, bakal profesional. Gak akan Abang nyia-nyiain Adek, apalagi ada anak kita."
"Iya, Bang. Mika gak nyalahin Abang, kok. Ini justru saatnya Abang buat ngebuktiin kalo ada ataupun gak ada Sheryl, Abang udah biasa aja," ucap Mika.
"Makasih, ya dari awal kamu selalu ngertiin Abang, kok bisa, sih istri Abang yang imut-imut ini dewasa banget," ujar Azka sambil mencubit hidung Mika.
"Aww ... sakit, Bang," keluh Mika.
"Sakit, ya. Mana yang sakit, sini Abang cium biar sembuh." Azka menciumi hidung Mika. Mika kegelian.
"Dasar, modus," ketus Mika.
"Tapi, Adek suka 'kan Abang modusin? Ngaku, deh."
"Suka ... suka banget malah," balas Mika sambil tertawa.
"Wih, udah berani terang-terangan, ya. Sekarang bobo dulu, kasian dede bayi masa di suruh begadang." Mika memeluk Azka lebih erat.
"Mika sayang sama Abang," ucap Mika sambil mendongakkan wajahnya.
"Abang juga sayang sama, Adek," balas Azka sambil mencium bibir Mika.
Paginya hari ini jadwal Mika periksa kandungan. Oma dan Azka menemani Mika periksa.
"Gimana, Dok. Bayinya cewe apa cowo?" tanya Oma yang emang berharap cicitnya cewe.
"Emm ... bayinya gak mau kasih lihat, Bu. Di gambar ini, dia nunjukin pantat. Jadi, jenis kelaminnya belum di ketahui.
"Ya ampun Azka, anakmu iseng sekali masa Oma di kasih pantat," ketus Oma yang disambut tawa.
__ADS_1
"Bu, ini karena bayinya sedang dalam posisi seperti ini. Bulan depan, kita USG lagi, siapa tau udah pindah posisinya," terang Dokter Rena.
"Iya, ih ... Oma, anak Azka, tuh baik kaya Mamanya. Gimana keadaan bayinya, Dok?"
"Alhamdullillah, sehat. Berat badan sama lingkar kepalanya normal seperti kandungan usia lima bulan pada umumnya. Ibu, apa ada keluhan?"
"Gak, ada, Dok cuma masih suka pusing dikit," balas Mika.
"Ya itu wajar yang dialami ibu hamil. Yang penting masih batas normal," pungkas Dokter Rena.
"Alhamdullillah, ya, Mik. Kamu dan bayinya sehat. Oma sangat senang," ucap Oma saat perjalanan pulang di mobil.
"Iya, Oma berkat doa Oma," balas Mika.
"Doa, Abang juga dong. Papanya," ucap Azka gak mau kalah.
"Iya, ih ... gak mau kalah, deh." Mika mencubit lengan suaminya yang sedang menyetir.
Sampai di rumah Azka gusar setelah menerima telepon dari kantor papinya.
"Kenapa?" tanya Mika.
"Papi telepon, besok suruh berangkat ke Surabaya," jawab Azka ragu. Mika tersenyum.
"Kenapa ragu? Bukanya kita udah omongin dan Mika udah kasih izin. Yang penting Abang hati-hati." Azka menggenggam tangan Mika.
"Bang, cuma dua hari. Kalo Abang lagi gak sibuk kita bisa VC gampang 'kan." Mika masih meyakinkan walaupun dalam hatinya ada keraguan yang sama besar. Ada perasaan yang entah apa gak bisa di jelaskan.
"Iya, kamu jaga diri ya, anak kita juga. Makan yang banyak buah juga banyakin. Adek, kan susah kalo di suruh makan buah."
"Iya, Abang Mika bakal jaga diri. Abang juga, kalo Sheryl macem-macem Abang baca Ayat Kursi aja. Biar Sheryl lenyap," ujar Mika.
"Hehe ... udah kaya setan aja dia." Azka terkekeh.
"Ya udah, Mika bantuin Abang packing. Apa aja yang mau di bawa." Azka dan Mika menyiapkan barang keperluan yang akan di bawa. Karena ini hanya dua hari, Azka tidak terlalu banyak bawaannya.
Azka memeluk Mika erat sebelum berangkat ke Bandara, dia sengaja berangkat lebih awal. Gak mau satu pesawat sama Sheryl.
"Kamu, yakin ngebiarin Azka di sana berdua sama Sheryl?" tanya Fariz setelah kepergian Azka.
"Kenapa? Gue percaya sama Abang, Riz."
"Iya, sama Abang gue percaya. Sama Sheryl ...."
"Gue juga sebenernya berat banget. Tapi, gimana lagi. Ini soal kerjaan gak mungkin gue nyampurin urusan pribadi ama kerjaan. Gue minta doanya aja, ya biar Abang baik-baik di sana. Cuma dua hari, kok." Mika mencoba bersikap biasa di depan semua orang.
Hari ke dua Azka di Surabaya, tumben banget seharian gak ada kabar. Biasanya Azka selalu VC atau sekedar ngasih kabar pakai chat. Ini tumben dari semalam Azka gak ngabarin apa-apa. Tiba-tiba sebuah notif WA muncul di Hp Mika.
__ADS_1
Mika menutup mulutnya, menggeleng tak percaya dengan apa yang dia lihat. Beberapa gambar Sheryl kirim pada Mika. Di sana terlihat Sheryl dan Azka tidur bareng, tubuh mereka ditutupi selimut. Mika menghirup udara banyak-banyak jangan sampai dia kekurangan oksigen buat ngadepin masalah ini.
"Kamu kenapa, Mik?" tanya Oma yang melihat raut wajah Mika berubah.
"Perut Mika sedikit sakit. Mika istirahat dulu ya, Oma." Tanpa menunggu jawaban Mika bergegas ke kamar. Mika segera chat Celi.
'Cel, tolong cari tau ini foto asli apa palsu coba lu tanya si Fany yang ngerti ginian. Plus lu jaga rahasia. Jangan kasih tau Raka apalagi Ibu'
'Omegot, Ferguso bener-bener gue gak nyangka kadal buntung. Dasar! Oke, gue bakal nyuruh si Fanny buat nyari tau. Besok kita ketemuan di cafe buat bahas ini. Sekarang lu, jangan banyak pikiran. Ini belum tentu bener. Lu, positif thinking aja'
Mika merebahkan tubuhnya setelah membaca chat Celi. Mika harus mempersiapkan diri. Ini yang di inginkan Sheryl kehancuran dirinya dan Azka. Dan itu gak bakal Mika biarin. Entah sudah berapa lama Mika terlelap, perutnya memberikan kode untuk di isi.
Mika memeriksa HP-nya gak ada chat atau panggilan dari Azka. Mika berjalan gontai ke dapur, membuka kulkas dan mengambil Apel. Dia memanggang roti dan membuat segelas susu.
Sore harinya Azka datang dengan wajah penuh penyesalan. Mika tersenyum.
"Maaf ... maafin Abang." Azka memeluk Mika.
"Mika, percaya. Abang sekarang mandi dulu. Bau banget, mau Mika bikinin makan?" Azka heran, apakah Mika masih baik-baik saja setelah tau apa yang terjadi.
"Nanti, Abang mau ngomong dulu."
"Gak mau, sekarang mandi dulu, buruan," perintah Mika. Azka segera mandi. Mika menyiapkan baju ganti suaminya. Dia juga membuat teh hangat dan roti bakar buat Azka.
Azka memeluk tubuh Mika dari belakang. Terlihat pantulan wajah Azka yang kalut dari cermin.
"Maafin, Abang ... Abang gak inget apa yang terjadi. Semua tiba-tiba ... tiba-tiba ...." Azka gak bisa melanjutkan omongannya.
"Maksud Abang ini?" tanya Mika sambil menunjukan foto yang Sheryl kirim. Azka kaget. Melepaskan pelukanya dan merebut HP itu dari tangan Mika.
"Brengsek, Sheryl," umpat Azka.
"Abang, tenang, ya. Semua bisa di atasi kalo kita tenang," ujar Mika.
"Gimana Abang bisa tenang, Abang di jebak," ucap Azka.
"Bang, ini yang Sheryl pengen. Dia pasti yang paling seneng kalo liat kita berantem dan hancur. Bang, yang penting Mika percaya sama Abang."
"Makasih, sayang. Abang beruntung punya istri kaya kamu. Kamu gak bakal ninggalin Abang 'kan?"
"Tentu, Mika dan dede bayi akan terus di samping Abang." Mika memeluk Azka. Azka sedikit lega karena ternyata Mika gak terpengaruh. Hanya, dia gak habis pikir gimana caranya Sheryl bisa masuk ke kamar dia.
Mika sengaja mengirim foto Azka yang sedang terlelap sambil memeluk dirinya pada Sheryl. Gak lupa, Mika kasih sedikit pesan.
'Trik murahan gak mempan buat gue. Gak semudah itu lu bikin gue dan Azka goyah."
Bersambung.
__ADS_1