Mikhayla

Mikhayla
Part_37


__ADS_3

“Bro, bantuin gue!” Arya menerobos masuk ke ruangan Azka. Ini kali kesekian dia melakukan hal itu. Azka hanya memincingkan mata, kembali fokus pada pekerjaannya.


“Apalagi?” Azka bertanya.


“Pinjemin Qila, sebentar.”


Azka menghentikan pekerjaannya, dia menatap Arya?


“Lu pikir anak gue sejenis barang? Udah kaya pinjem apaan.”


Arya tergelak, dia sadar salah ngomong barusan.


“Maaf, deh. Maksudnya gue boleh nggak ngajak anak lu jalan-jalan.”


“Sama mamanya?”


“Ish, ngaco yang nggak sama Mikha juga kali. Maksud gue anak lu doang.”


“Buat apa? Gue nggak paham.”


“Gue niatnya mo ngajak Celi jalan. Tapi, gue yakin banget dia pasti nggak mau. Jadi—“


“Lu manfaatin anak gue!” potong Azka.


“Boleh, ya,” mohon Arya.


“Tanya Mikha!”


“Yes!” Arya senang dia yakin banget kalau Mikha pasti bakalan kasih ijin.


TK tengah jam pulang sekolah, semua siswa berhamburan keluar kelas. Rain tengah duduk di ayunan saat kedua anak kembar itu menghampiri.


“Mamanya Rain, kan gila,” ujar teman sekelas Rain yang bernama Alesha, dia kembaran Kaysa.


“Kalian nggak boleh ngomong kaya gitu. Kasian Rain!” seru Qila.


“Kamu jangan deket-deket Rain kata mama aku, nanti ketularan gila,” ucap Kaysa gadis cilik berambut kriting.


“Mama kamu bohong!” pekik Rain sambil berdiri, kemudian dia mendorong Kaysa hingga terjatuh. Kaysa menangis, membuat mamanya yang tengah duduk sambil berbincang dengan wali murid yang lainnya mendengar.


Kaget, Mila—mama Kaysa menghampiri.


“Kenapa, Sayang. Kamu jatuh?” tanya Mila pada anaknya.


“Rain dorong aku, Ma!” adu Kaysa.


“Bener kamu lakuin itu?” Mila menghampiri Rain. Dia semakin ketakutan, menangis tanpa suara.


“Kaysa dan Ayesha mengejek mama Rain, bilang kalo mamanya gila. Rain jadi marah,” ujar Qila membelanya.

__ADS_1


Mila tersenyum sinis, menghampiri Rain dan mencengkeram kedua bahunya. Menatap Rain tajam.


“Mama kamu memang gila,” sinisnya.


Mata Rain membulat. Mulutnya semakin bergetar.


“Tante jahat, mama nggak gila. Eyang bilang mama cuma sakit!” jerit Rain sambil menutupi kedua telinganya.


Mila tertawa. “Iya, sakit jiwa!” ujarnya.


“Tidak! Tante bohong, mama Rain nggak gila!” Rain terus berteriak sambil menggelengkan kepalanya, kedua tangannya masih menutup telinga miliknya.


Qila langsung memeluk Rain. Dia mencoba menenangkan. Mikha yang mendengar ribut-ribut segera menghampiri. Ada beberapa ibu-ibu yang tengah kumpul sambil berbisik.


Ada yang mencibir tentang Sheryl yang gila, tak sedikit pula yang mengecam kelakuan Mila yang keterlaluan.


“Kamu nggak pantes sekolah di sini. Anaknya orang gila!”


Mikha geram dia berjalan lebih cepat.


“Maksud Ibu apa?!” tanya Mikha dia tak habis pikir, Mila juga punya anak bagaimana mungkin seorang ibu berkata seperti itu.


“Nggak usah ikut campur bukan urusan kamu!”


“Ini urusan saya, karena Ibu kasar sama anak kecil,” geram Mikha.


“Apa nggak malu, seorang wanita dewasa mem-bully anak kecil? Di depan anaknya sendiri lagi. Bersikaplah seperti seorang Ibu!” tegas Mikha.


Mila melirik ke sana-kemari dia tersadar, ternyata banyak yang memperhatikan. Segera berlalu begitu saja. Pergi, tanpa permisi. Sambil menarik kedua tangan anak kembarnya.


“Rain nggak apa-apa?” tanya Mikha dia jongkok di depan kedua anak kecil yang masih berpelukan.


“Mama Rain nggak gila 'kan, Tante?” tanya Rain dengan terisak. Mikha hendak menjawab saat Rain tiba-tiba menyela.


“Tante nggak boleh bohong!” Kali ini Rain menatap mata Mikha. Jujur hati Mikha tak kuat melihatnya. Anak ini, harus menanggung banyak hal di usianya yang masih belia.


Mikha mengambil napas dalam-dalam. “Mama kamu hanya sakit, dia butuh pengawasan dokter.”


“Mama sering teriak-teriak, tante Alma suka marah-marah datang ke rumah bilang mama gila.” Kali ini tangis Rain makin kencang, Mikha segera memeluknya. Tak tega rasanya. Qila pun ikut menangis dalam pelukan, entah apa dia paham atau tidak yang jelas dia ikut bersedih.


“Eyang kamu mana, Sayang?” tanya Mikha.


“Eyang ke rumah sakit anterin mama berobat. Jadi, Rain sendiri.”


Mikha diam, dia bingung sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Bagaimana dengan Rain. Bu Mirna wali kelas Rain dan Qila berlari menghampiri.


“Rain kata eyang, kamu ikut ke rumah bu guru dulu. Nanti, eyang jemput di sana,” kata bu Mirna sambil meraih tangannya. Rain mengangguk, setelah basa-basi Rain pergi dengan gurunya.


“Ayo, Sayang kita pulang,” ajak Mikha.

__ADS_1


“Ma, apa mama Rain itu beneran gila?”


Mika tercekat, dia mencondongkan tubuhnya ke arah anak gadisnya.


“Qila nggak boleh ngomong gitu, Sayang.”


“Tapi, kata Ayesha dan Kaysa ....” Ucapan Qila menggantung. Mikha paham betul apa yang dimaksud anaknya.


“Bagaimana pun kondisi mama Rain, kita nggak boleh mencela, Sayang. Itu nggak baik, menyakiti Rain nantinya.” Mikha mencoba memberikan penjelasan masuk akal pada anaknya.


“Qila cuma kasian.”


“Iya, mama paham. Jadi, sekarang Qila paham kenapa waktu itu Rain meluk mama?”


“Iya, Ma. Karena dia kangen mamanya.”


“Nah, itu pinter. Sekarang kita pulang. Udah siang mama laper.”


“Qila juga.”


Celi tengah berada di restoran. Kali ini Ani mengajaknya untuk bertemu dengan bu Ginting dan anaknya. Sebenarnya Celi merasa berat hati, karena sudah pasti hal ini tak jauh-jauh dari perjodohan.


Namun, Ani bilang selama Celi belum menentukan pilihan. Dia berhak mencarikan jodoh yang lain.


“Celi, ini anaknya bu Ginting. Namanya Afnan.” Ani memperkenalkan Celi pada Afnan. Kalau dengan bu Ginting memang beberapa kali main ke rumah untuk urusan bisnis tipirwir. Celi mengangguk dan tersenyum menyapa.


Pria berbadan tegap memakai kemeja hitam itu membalas senyumnya. Jujur, tak ada yang kurang. Afnan termasuk kategori pria idaman. Namun, aneh Celi justru membayangkan Arya. Dia segera menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Mama sama Bu Ginting ada pertemuan member tipirwir. Kalian nggak apa-apa 'kan ditinggal berdua.”


Celi menatap geram arah mamanya. Ingin sekali berteriak kalau ini di rumah bukan restoran. Dua orang ibu itu lantas pergi, menyisakan Celi dan Afnan.


Hening. Tak ada yang berbicara. Baik Celi dan Afnan seperti merasa tak nyaman.


“Apa kamu ngerasa nggak nyaman sama pertemuan ini?” tanya Afnan.


“Jujur, iya. Dijodohin itu rasanya, kaya nggak laku.” Celi tersenyum getir.


“Bener juga, padahal kita masih muda.” Afnan ikut tersenyum.


“Gue balik aja, ya.”


“Tunggu! Celi. Jangan pergi dulu, kita makan dulu. Anggap aja ini bukan perjodohan, hanya dua teman yang sedang makan bareng.”


Celi yang tadinya sudah berdiri, kembali duduk. Dia setuju dengan Afnan. Hanya makan siang, tak lebih.


Celi hampir tersedak, saat tiba-tiba muncul seseorang duduk di sampingnya. Dia tersenyum sinis menatapnya yang tengah makan.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2