
Mobil melaju dengan Qila di dalamnya. Anak itu tak tahu kalau ada yang tidak beres di antara mereka.
“Bang,” lirih Mikha. Azka memeluk istrinya.
“Sabar, ya. Nanti kita cari solusinya. Sekarang biar Qila di sana dulu, nggak apa-apa.”
Mikha menangis, meski Qila biasa di rumah neneknya, tetapi kali ini beda. Rain datang dan menarik ujung baju Mikha.
“Maafin Rain, Tante,” ucapnya.
Mikha menghapus air matanya. Dia jongkok dan memeluknya.
“Bukan salah kamu, Sayang. Neneknya Qila kangen, jadi diajak nginep di sana. Nanti juga balik lagi.” Rain mengangguk. Meski dia dia sebenarnya paham apa yang terjadi. Di usianya, yang masih belia Rain memang memiliki pemikiran yang lebih dewasa.
“Kamu di sekolah temenan sama Rain?” tanya Niar pada cucunya. Dia ingin menyelidiki siapa Rain.
“Rain itu pendiam, Nek. Dia sering dikatain sama temen-temen. Kasian.”
“Maksudnya?” Niar masih tak paham.
“Mama Rain, kan, sakit. Kata mereka mama Rain gila.”
Niar langsung memeluk cucunya, dia tak mau Qila terkontaminasi dengan kata-kata yang kasar seperti itu.
“Sayang, kamu nggak boleh ikutan ngomong kaya gitu, ya.”
“Iya, mama bilang juga kalo mamanya Rain itu sakit. Jadi, nggak boleh ngomong sembarangan, nanti Rain sedih.”
Niar mengangguk, meski membenci Sheryl, dia juga tak ingin menyakiti anaknya. Hal itu sama sekali tak ada hubungannya.
Arya sibuk di dalam kamarnya, sedari dia datang belum keluar dari sana. Risma yang penasaran menghampiri anaknya.
Pintu diketuk tetapi Arya tak kunjung keluar. Akhirnya, Risma masuk kebetulan pintu tak dikunci. Terlihat, Arya tengah sibuk menulis sesuatu di kertas.
“Kamu lagi ngapain? Nggak makan?” tanya Risma.
“Ntar, Ma. Belum laper,” balas Arya masih sibuk dengan tulisannya.
“Oh, sibuk apa?”
“Bikin list daftar mantan.”
Risma terkejut, merasa ada yang salah di pendengarannya.
“Kamu bilang apa?” tanya Risma.
“Arya lagi bikin list daftar mantan, Ma. Celi mau pacaran kalo Arya minta maaf sama semua mantan. Tapi, Arya bingung, udah lupa siapa aja.”
Risma menjitak kepala anaknya. Arya meringis kesakitan.
“Sakit, Ma!” Arya memegangi kepalanya.
“Kamu! Sebanyak ini cewek yang kamu mainin!” seru Risma tak percaya. Dia menunjuk ke arah catatan milik Arya.
“Ini yang inget, aku ambil yang sekitar dua tahun ini, Ma,” balas Arya tanpa dosa.
“Ya ampun, Arya. Kamu! Apa pernah kamu mikir kalo yang dimainin itu anak gadis atau adik perempuan kamu!”
“Ma, kok, ngelantur. Nggak ada hal kaya gitu. Ini juga udah tobat.”
“Beruntung kamu ketemu Celi, dia bisa bikin sadar orang nggak punya hati kaya kamu.”
“Ya Allah, Mama. Anak sendiri loh, ini. Masih aja dijelekin.”
__ADS_1
“Kamu emang jelek. Buluk malah,” ketus Risma geram.
“Makannya, Ma. Doain biar Arya, bisa dapetin Celi. Nanti, Arya jadi tobat permanen.”
“Itu tergantung diri kamu sendiri!”
“Tergantung Celi, Ma. Karena saat ini dia tempat buat Arya berlabuh.”
Risma menatap anaknya, kali ini hatinya melembut, dia mengusap kepala Arya.
“Mama berdoa selalu yang terbaik buat kamu, Sayang!”
“Makasih, Ma.”
Arya memeluk Risma.
Tak beda dengan Celi, saat ini dia tengah menonton sinetron di channel ikan terbang bersama mamanya.
Matanya menatap lurus layar televisi, tetapi pikirannya ambyar entah ke mana.
“Cel, menurut kamu Afnan sama Arya lumayan yang mana?” tanya Ani.
“Lumayan yang pake sambel, kasih kecap dikit.”
“Kamu lagi ngomongin apa?”
“Baso, Mama lagi bilang, baso 'kan?” tanya Celi.
“Ya Allah, mama nggak lagi bilang baso, Sayang!”
“Eh, maaf. Celi salah denger, Ma,” sesal Celi.
“Kamu lagi mikirin apa?” tanya Ani. Dia merasa, Celi tengah mempunyai beban berat. Celi memeluk mamanya.
Ani tersenyum, akhirnya Celi mengakui perasaannya.
“Lantas, kenapa kamu kaya gini? Harusnya, bahagia dong.”
“Celi, hanya takut. Apakah, ini hal yang benar. Arya dengan masa lalunya.”
“Sayang, percaya. Seseorang pasti akan berubah, apalagi kalo dia merasa telah menemukan apa yang dia cari. Jadi, kamu jangan ragu. Biar dia juga yakin sama kamu.”
Celi mengangguk, kali ini dia mengerti. Tak mungkin juga dia terus membohongi perasaannya, hatinya juga berhak bahagia. Bukan hanya egonya, yang terus saja didahulukan.
Celi masuk ke dalam kamarnya, dia membuka pintu yang langsung mengarah ke balkon. Menikmati malam yang sedikit mendung. Beberapa bintang nampak malu memancarkan sinarnya. Mereka tersembunyi di balik pekatnya awan.
Handphone miliknya berdering, dia segera merogoh saku miliknya, ada nama Arya muncul di sana. Segera dia memencet tombol warna ijo.
“Halo?” sapa Celi.
“Belum tidur, Sayang?” tanya Arya.
“Belum.”
“Pasti lagi mikirin aku, ya?”
“Dih, pede sapa yang mikirin lu!” ketus Celi. Arya terkekeh.
“Pakenya aku, kamu, dong. Jangan lu, lu terus,” protes Arya.
“Nggak bisa!”
“Ya udah, panggil cinta atau sayang juga boleh.”
__ADS_1
Celi tersipu, Arya raja gombal. Pantas, ceweknya banyak.
“Nggak usah ngelantur!”
“Dih, kan kita pacaran sekarang,” kata Arya.
“Siapa bilang, kamu belum penuhi syarat dari aku!” ujar Celi kali ini pake aku dan kamu, kemajuan pikir Arya.
“Ini lagi bikin daftar nama mantan, Sayang. Besok, kita ketemu terus aku ajak kamu buat keliling, silaturahmi sama mantan. Gimana, kamu setuju?” tanya Arya.
Celi melompat, dia bahagia dan senang karena Arya masih mau memenuhi syarat konyol darinya.
“Harus banget, ya, aku ikut?”
“Harus, dong, Sayang. Kan kamu yang bakal kasih nilai. Ya, biar kamu lihat sendiri kalo aku serius.”
Celi diam dia memikirkan perkataan Arya, emang lebih baik dia ikut. Nggak baik, Arya bertemu mantan sendirian. Bisa jadi malah mereka CLBK.
“Oke, besok jam berapa?”
“Yes! Gitu, dong, Sayang. Makin lope jadinya. Abis makan siang aja, ya. Aku selesain kerjaan dulu. Biar jalannya enak.”
“Oke!” balas Celi.
“Emmm, kamu kangen nggak sama aku?” tanya Arya. Celi kaya orang gila, dia meloncat-loncat sambil menahan tawa karena nggak kuat dengan pertanyaan Arya.
“Nggak!” elak Celi.
“Terus kenapa kamu sampai loncat-loncat gitu barusan.”
“Mana ada?”
“Aku lihat, loh. Kamu di balkon.”
“Serius? Emang kamu di mana?” tanya Celi dia mencari Arya.
Arya menyalakan mesin mobilnya, dari sana Celi melihat kalo Arya ada di depan rumah tetangganya. Tepat mengarah ke tempat dia tengah berdiri.
“Mau ngapain?”
“Liatin kamu sebelum tidur!”
“Pulang sana! Udah malem!” titah Celi.
“Nunggu disayang dulu baru pulang.”
“Apaan, sih!” ketus Celi yang tak bisa menyembunyikan perasaannya.
“Aku sayang kamu, Cel. Aku bakal buktiin kalo aku berubah.”
Celi diam, dia tak tahu harus menjawab apa.
“Jangan diem, bilang sayang juga gitu. Biar aku tidur nyenyak.”
“Harus banget, ya!”
“Iya, harus pake banget.”
“Emm ... aku ... aku ... aku juga sayang sama kamu!” Celi langsung masuk ke dalam kamarnya setelah mematikan handphone miliknya.
Arya terbahak di dalam mobil, rasanya kaya ABG yang baru ngalamin cinta pertama. Ini luar biasa, baru dia merasa ada yang hidup di hatinya.
“Terima kasih, Sayang. Aku bakal bikin kamu terus bahagia,” gumam Arya dia langsung menjalankan mobilnya pulang ke rumah.
__ADS_1
Bersambung.