
Fariz datang menemui Azka di kantornya.
"Ada apa? Tumben?" Azka masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Bang, selesein masalah Abang secepatnya sama Sheryl."
"Kenapa?"
"Mika tadi abis jambak-jambakan sama Sheryl." Azka menghentikan aktivitasnya.
"Serius?" Azka masih gak percaya, Mika emang galak tetapi dia bukan tipe orang yang main berantem gitu aja.
"Serius, Bang tadi untung ada gue. Kalo nggak? Tau, deh apa yang bakal terjadi. Mereka sama-sama keras kepala. Fariz cuma takut mereka, kan lagi hamil kalo terjadi sesuatu gimana?"
Azka berpikir, apa yang Fariz bilang bener juga.
"Bang, ini saatnya Abang ngebuktiin kalo Abang emang pantes buat Mika, gimana juga selama ini Mika yang terlalu banyak berkorban dan berjuang buat hubungan kalian."
"Iya, gue bakal cari bukti kalo Sheryl gak hamil anak gue, maksih udah ngasih tau ini."
"Ini semua buat Mika, kalo Abang ternyata gak pantes buat dia, jangan salahin gue, kalo gue ngambil Mika dari Abang." Fariz pergi meninggalkan Azka. Azka memijat pelipisnya, dia bener-bener pusing selain karena masalah Sheryl yang lebih berat adalah karena Fariz dia adiknya yang juga mencintai istrinya.
"Mika, kamu jangan terlalu keras sama diri kamu sendiri, inget ada anak kamu. Jaga emosi," tutur Oma saat main congklak.
"Mika cuma ngasih sedikit pelajaran, Oma."
"Oma, heran kenapa keluarga ini jadi kacau sekali, mungkin teguran karena kita sering lalai." Oma mendesah, menghembuskan nafas berat. Di hari tuanya justru masalah terus menghampiri keluarga ini.
"Oma yang sabar, ya. Semua pasti bakal baik-baik saja." Mika meraih tangan Oma dan mengusapnya.
"Oma sangat beruntung, karena kamu ada di sini, dulu Oma selalu merasa kesepian, cucu Oma cowo semua, punya mantu sebiji tapi, cuma arisan sana sini, kumpul sama geng sosialitanya."
"Sebentar lagi, cicit Oma lahir, Oma uyut gak bakal kesepian lagi, deh," ucap Mika ceria.
"Oma, udah gak sabar banget, kasian cicit Oma, dari dalam kandungan udah ngerasain banyak masalah." Oma mengusap perut Mika.
"Alhamdullillah, Oma biar nanti Dede bayi jadi anak yang kuat dan hebat."
Mika keluar dari kamar Oma dia melihat Sheryl yang sangat pucat dan bolak balik ke kamar mandi efek hamil muda.
"Lu gak apa-apa?" tanya Mika sambil memijit tengkuk Sheryl. Sheryl menepis tangan Mika.
"Gak usah sok baik lu." Mika gak peduli dengan penolakan Sheryl gimana juga dia pernah merasakan hamil muda.
"Gue bilang jangan ...." Belum selesai Sheryl bicara tiba-tiba dia udah ambruk, Mika menopang tubuh Sheryl, nyeri di perutnya gak dia hiaraukan.
"Mika ... Apa yang kamu lakukan sama Sheryl," pekik Mami Niar.
__ADS_1
"Mika, gak ngapa-ngapain, Mi. Sheryl pingsan sendiri," bela Mika.
"Kamu, gak usah ngelak dasar udik. Jahat kamu, gak cukup kamu ngrebut Azka dari dia dan sekarang kamu celakain dia!" Mika cuma bisa menganga mendengar semua cacian Mami Niar bertubi-tubi.
"Mi ... Mika ...."
"Ada apa ini?" Azka tiba-tiba sudah ada di rumah.
"Cepet, bawa Sheryl ke rumah sakit. Entah apa yang udah istri kamu lakukan sampai dia jadi seperti ini," ketus Mami Niar.
"Dek, apa yang kamu lakuin?" Mika hanya bisa menangis setelah Mami Niar bicara dengan segala tuduhanya sekarang Azka ikut meragukannya.
"Bang, Mika gak ngapa-ngapain," Isak Mika.
"Tapi, dia pingsang kaya gini?" tunjuk Azka masih tak percaya, apalagi setelah dia ingat perkataan Fariz kalo Mika habis berantem sama Sheryl. Wa
"Udahlah, gak usah dengerin dia muka polosnya gak bisa nutupin sifat jahatnya, ayo buru ke rumah sakit," ujar Mami Niar.
Azka menggendong Sheryl dan membawanya ke rumah sakit, dia memandang Mika sekilas yang masih terisak. Hatinya ingin memeluk Mika tetapi melihat Sheryl yang terkulai tak berdaya membuat dia lebih memilih membawa Sheryl ke rumah sakit.
Mika masuk ke dalam kamarnya dan memasukan baju-bajunya ke dalam tas. Dia udah mutusin buat pergi, perkataan mami yang begitu menyakitkan serta Azka yang seolah meragukannya membuat Mika tak tahan.
"Mika, kamu mau kemana?" Oma menghentikan langkah Mika.
"Maafin Mika, Oma maaf karena gak bisa tepatin janji buat bertahan. Mika menyerah Oma," isak Mika sambil memeluk Oma Diana.
"Nggak, Oma ini yang terbaik. Mika udah putusin mau pergi. Terima kasih karena Oma menyayangi Mika selama ini."
"Baiklah, terlalu sering kamu di sakiti sama keluarga ini, pergilah Oma harap, kamu akan lebih bahagia. Oma sangat menyayangimu." Mika menghapus air mata Oma.
"Maaf, Oma ini sangat sulit, maaf karena Mika menyerah."
"Oma, tau ini, terima kasih sudah bertahan selama ini, kamu tetep cucu Oma, jaga cicit Oma baik-baik."
Mika mantap pergi meninggalkan rumah ini. Fariz yang baru pulang dari kuliah tak sengaja melihat Mika masuk kedalam taksi sambil menenteng koper besar. Dia mengejar Mika dan memanggilnya. Namun, Mika tak peduli taksi itu terus melaju.
"Mika ... Mikhayla ...." Teriakan Fariz masih Mika dengar, tetapi dia tetep dengan keputusannya dia harus pergi. Mika terus terisak di dalam taksi, sangat berat meninggalkan semua yang ada di sana.
"Oma, apa yang terjadi?" Fariz melihat Oma Diana yang masih menangis.
"Mika, pergi." Hanya itu yang dapat Oma katakan.
"Kenapa? katakan Oma?"
"Mungkin dia sudah lelah, terlalu banyak yang terjadi. Biarlah Mika menemukan bahagianya sendiri," kata Oma.
Fariz menyambar kunci mobilnya menuju toko kue Bu Tia.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Bu," Fariz menjabat tangan Bu Tia.
"Waalaikumsalam, Nak Fariz tumben mampir," tanya Bu Tia ramah. Mata Fariz mencari ke segala penjuru toko, namun gak ada Mika hanya ada Raka yang membantu Bu Tia.
"Mika gak di sini, Bu?"
"Nggak, kemaren dia abis ke sini, emang dia gak di rumah?" tanya Bu Tia.
Fariz menyugar rambutnya kasar.
"Fariz, apa yang terjadi. Katakan pada Ibu, kemaren Mika ke sini dan mengatakan kalo Sheryl hamil anak Azka. Apa yang terjadi jawab," pekik Bu Tia sambil berkaca-kaca. Pengunjung yang ada di toko itu menatap ke arah Bu Tia. Raka segera menghampiri Ibunya.
"Mika, pergi dari rumah, Bu."
"Raka, cepat hubungi kakakmu cari tau dia dimana," titah Bu Tia sambil menangis. Raka segera mengambil HP-nya. Namun Mika gak menjawab telepon Raka meski berkali-kali dia hubungi.
"Gak mau diangkat, Bu," lirih Raka. Bu Tia makin menangis sejadi-jadinya.
(Raka, bilangin ibu kakak baik-baik aja, biarin kakak sendiri dulu)
Mika mengirimkan chat kepada Raka.
"Ya Alloh, Nak kamu dimana? Kenapa gak kesini aja. Kenapa malah pergi," Isak Bu Tia. Raka memeluk ibunya.
"Sabar, Bu. Kak Mika, pasti tau apa yang dia lakukan. Kita berdoa aja, semoga Kak Mika baik-baik aja," hibur Raka.
"Coba kamu tanya Celi," perintah Bu Tia.
"Celi, juga gak tau, Bu. Tadi, Raka udah kirim chat."
Bu Tia sangat terpukul dengan kepergian Mika. Fariz pamit pergi akan mencari Mika, siapa tau Mika ada di terminal atau stasiun.
"Beb, kamu di sini?" lirih Sheryl tersenyum karena melihat ada Azka di sampingnya.
"Kamu gak apa-apa?" tanya Azka.
"Aku, baik. Kan ada kamu." Sheryl tersenyum senang.
"Katakan, apa yang terjadi?"
"Mika mendorong aku, Beb karena aku bilang pengen di temenin kamu periksa kandungan. Terus aku gak inget apa-apa." Sheryl tersenyum licik.
"Mika gak mungkin kaya gitu."
"Beb, ini buktinya aku berada di sini sekarang, lagian kamu percaya banget sama dia. Kamu, kan baru kenal," rengek Sheryl sambil meraih lengan Azka dan memeluknya. Azka hanya diam tak bergeming.
Bersambung.
__ADS_1