Mikhayla

Mikhayla
Arcel_Part_39


__ADS_3

Arya dan Celi serta Qila sampai di mall yang mereka tuju.


“Langsung main apa makan dulu?” tanya Arya.


“Pipis dulu,” balas Qila. Celi dan Arya tertawa, ada aja anak si Azka.


Celi mengajak Qila ke toilet, sementara Arya menunggu di luar.


“Arya!” sapa seorang cewek. Dia sederhana, tak seperti teman wanitanya yang lain. Namanya Arumi, tentu saja mereka pernah punya masa lalu.


“Arumi, di sini juga?”


“Iya, kamu sama siapa?”


Arya belum sempat menjawab saat Celi muncul sambil menggandeng Qila.


“Ini istri kamu?” tanya Arumi.


“Ini--.”


“Ayo, Qila katanya udah nggak sabar mandi bola,” potong Celi, dia menggandeng tangan Qila menjauh dari sana.


“Aku cabut dulu.” Arya berlalu, sampai tiba-tiba suara Arumi menghentikan langkahnya.


“Aku tau dia bukan istri kamu. Nggak mungkin orang yang nggak punya hati memiliki istri!”


“Arumi, sudahlah. Aku minta maaf untuk semuanya.” Arya berbalik dan kembali menghampiri Arumi.


“Maaf, kamu pikir ini mudah!”


Arumi menampar Arya, kemudian dia pergi begitu saja. Arya hanya menatap. Dia kembali menyusul Celi dan Qila.


Qila berada di dalam wahana permainan mandi bola. Sementara Celi menunggu, duduk sambil memperhatikan Qila.


Arya mendekat, dia duduk di samping Celi. Celi hanya melirik malas, alasan kenapa dia tak mau diajak jalan sama Arya adalah seperti ini, selalu saja ada wanita yang tiba-tiba datang.


“Lecek amat mukanya,” ujar Arya. Celi langsung menegang wajahnya.


“Ish, mana ada!”


“Itu!” Arya menowel hidung Celi, makin manyun jadinya.


“Dia mantan gue, udah dua tahun pisah. Emang, saat putus nggak baik-baik. Dia ngajak nikah, gue nggak mau. Waktu itu belum kepikiran, kan lagi ngejar lu juga. Intinya kurang sreg aja di hati.”


“Ngapain jelasin ke gue? Nggak penting!”


“Cel, gue mohon. Mau, ya, nikah sama gue. Gue udah tobat!”


“Lu itu cuma penasaran sama gue, karena gue nggak kaya cewek lainnya. Ntar juga kalo udah dapetin lu ninggalin gue.”


“Nggak bakal, nih, jantung gue deg-degan banget, sumpah! Liat lu kaya liat kuntilanak.”

__ADS_1


Celi menarik tangannya yang Arya letakan di dada miliknya. Dia juga merasakan jantung Arya yang berdebar. Namun, kata 'kuntilanak' bikin dia jadi kesel.


Arya kembali menarik tangan Celi dan membawa kembali ke dadanya.


“Sumpah, Cel. Lu beda, gue bisa rasain.”


Celi menatap Arya, hatinya juga bilang Arya serius. Bahkan, perasaannya semakin tak bisa dibohongi. Kalau dia juga suka sama Arya. Lagi-lagi, alasan yang sama julukan playboy yang tersemat pada Arya, membuatnya harus berpikir ulang.


“Apa buktinya kalo lu bener serius?”


“Gue nggak bakal sejauh ini, Cel. Sekuat apa lu nolak, gue terus ngejar lu. Gue pantang ditolak. Cuma lu yang bikin gue kaya gini. Gue mohon, kasih kesempatan.”


“Kalo gue nggak ngasih kesempatan, ngapain jalan sama lu sekarang,” ucap Celi lirih, tetapi Arya masih bisa mendengar.


“Maksud lu?” tanya Arya tak percaya. Celi tersenyum, kemudian mengangguk. Arya hendak memeluk Celi karena bahagia. Tiba-tiba, Qila muncul.


“Aunty, laper.”


“Oh, laper. Ayo kita nyari makan.” Celi berdiri meraih tangan Qila, kemudian dia pergi meninggalkan Arya dengan tangan yang masih merentang. Sadar dicuekin, Arya memeluk dirinya sendiri. Kemudian, menyusul mereka.


“Sayang, abang mau ngomong,” ujar Azka.


“Ngomong aja, Bang,” balas Mikha tanpa melihat Azka, dia fokus menyiram tanaman.


“Duduk sini, Dek!”


“Tanggung!”


Mikha mengehentikan kegiatannya, dia beralih dan langsung duduk di samping Azka.


“Sebelumnya abang minta maaf soal semalam. Sebenarnya, Abang ke rumah tante Rina.”


“Maksudnya?”


“Kamu janji jangan marah!”


“Iya, apa dulu.”


“Janji dulu.”


“Cerita dulu!” desak Mikha.


“Jangan marah.”


“Ish, gimana mo marah apa nggak tergantung cerita Abang. Sekarang cerita dulu, atau Mikha ngambek!”


“Iya, iya,” ucap Azka menyerah, wanita memang tidak bisa dikalahkan.


“Beberapa hari terakhir, tante Rina sering datang ke cafe. Dia membawa Rain juga.”


“Ngapain? Abang bukan ayahnya?!”

__ADS_1


“Tante Rina sakit, sekarang dia dirawat. Dan Rain, dia di rumah sama Sheryl, ada asisten di sana. Cuma, sepertinya dia mulai tak betah. Sheryl yang mengamuk membuatnya nggak kerasan.”


“Lalu, apa hubungannya sama Abang?”


“Tante Rina nitip Rain sama kita. Aku belum jawab, ini bukan hal mudah. Aku nggak mau bikin masalah di rumah tangga kita.”


Mikha terdiam, tak lama Azka menerima telepon. Wajahnya berubah pucat.


“Inalillhi ...,” lirihnya.


“Ada apa?”


“Tante Rina meninggal.”


Mikha merosot, tubuhnya lemas. Dia memang tak mengenal bu Rina. Hanya, saja ini cukup membuatnya sedih.


Mikha menelpon Celi, menitipkan Qila padanya. Dia dan Azka akan ke rumah bu Rina. Menurut pengakuan Azka, suami bu Rina telah lebih dahulu meninggal karena penyakit jantung. Harta yang mereka miliki habis untuk berobat baik untuk suami bu Rina atau Sheryl yang tak kunjung membaik.


Acara pemakaman selesai, Rain terus berada di pelukan Mikha. Mereka kembali ke rumah bu Rina. Marni asisten rumah tangga bu Rina memberikan sebuah surat. Isinya agar Mikha dan Azka mau merawat Rain. Sungguh, ini pilihan sulit bagi Azka atau Mikha. Apalagi, Qila belum tau soal hal ini.


“Lalu, bagaimana dengan Sheryl?” tanya Mikha.


Terdengar suara teriakan dari sebuah kamar. Itu suara Sheryl, kemudian suara tertawa terbahak. Mikha sangat sedih dengan hal ini.


“Maaf, Bu. Bu Rina sudah mencarikan rumah sakit jiwa buat non Sheryl. Nanti petugas akan datang menjemput. Jadi, Ibu dan Bapak nggak usah khawatir,” ujar Marni.


Meski merasa kasihan, Mikha juga tak sanggup kalau harus merawat Sheryl.


Marni menyerahkan tas isi barang-barang Rain. Azka menerimanya.


“Sayang, ikut tante sama om, ya,” ujar Mikha. Rain mengangguk tanpa jawaban. Masih terlihat jelas sisa-sisa bekas air matanya yang mengering.


Di mobil, Mikha memangku Rain, gadis cilik itu tidur di pangkuannya.


“Bang, bagaimana kita harus ngejelasin sama Qila.”


“Anak kita pinter, Sayang. Dia pasti paham.”


“Mudah-mudahan.”


Jangan tanya hati Mikha, tentu saja ini hal yang tak mudah. Merawat anak dari orang yang hampir membunuhnya. Bukan, karena dia sok baik. Hanya saja, Rain bukan sosok yang layak untuk dibenci.


“Lalu, pak Alex itu ke mana? Dia harusnya tanggung jawab!”


“Sayang, pengusaha seperti pak Alex mana mau. Dia hanya membeli Sheryl, masalah lainnya dia nggak tanggung jawab.”


“Tapi, kenapa bu Rina menyuruh kita untuk buru-buru bikin surat adopsi buat Rain, ya?”


“Mungkin biar gampang ngurus semua, Sayang.”


Mikha mengangguk, paham. Akhirnya mobil sampai di pelataran rumah milik Azka. Celi dan Arya sudah menunggu. Qila berlari menyambut orang tuanya. Langkahnya terhenti saat Mikha keluar dari mobil sambil menggendong Rain. Raut wajahnya berubah menjadi kecewa.

__ADS_1


Qila berbalik arah, dia langsung berlari dan masuk ke dalam rumah. Menerobos pintu dan langsung ke kamarnya. Mikha hanya menghela napas panjang. Dia sudah menyiapkan diri akan kekecewaan anaknya. Paham, Azka mengejar Qila ke dalam. Arya dan Celi hanya diam tak mengerti.


__ADS_2