
Azqila kini tumbuh menjadi anak yang cantik dan menggemaskan, memiliki mata mamanya bulat dan besar serta rambut kriting seperti papanya. Saat ini usia Azqila sudah lima tahun.
Hari ini pertama kali dia masuk sekolah taman kanak-kanak. Azka masih sedang berada di kamar mandi, sementara Mika memakaikan anaknya seragam sekolah.
"Cantiknya anak mama," puji Mika. Azqila tersenyum sambil memandangi pantulan dirinya di kaca.
"Kamu tunggu di sini, ya. Mama mau panggil papa dulu."
Mika mendudukan Azqila, di ruang makan. Segera dia menuju kamar menemui Azka. Terlihat Suaminya tengah memakai kemeja yang hendak dia gunakan untuk bekerja.
"Hari ini bisa nganterin Qila dulu, kan?"
Mika membantu Azka mengancing kemejanya.
"Bisa, dong, Sayang."
Mereka segera menuju meja makan. Setelah Azqila umur dua tahun, memang memutuskan untuk tinggal di rumah sendiri. Selain karena memang tak enak ada Fariz juga karena mereka ingin mandiri.
"Wuih ... anak papa cantik banget," puji Azka sambil mengusap lembut kepala putrinya, tak lupa mengecup pipi bocah menggemaskan itu.
"Iya, dong. Anak Papa!" balas Azqila.
"Good girl," ujar Azka sambil tersenyum.
Mereka sarapan bersama setelah itu Azka mengantarkan Mika dan Azqila ke sekolah. Karena ini hari pertama Mika ikut menunggu di sekolah.
"Sekolah yang pinter, ya, Sayang. Papa mau kerja dulu, sampai ketemu di rumah."
"Okeee ... bye Papa!" seru Azqila, mencium tangan papanya. Mereka berdadah ria.
Azqila masuk ke dalam kelas, sementara Mika menunggu di luar.
Azka meluncur ke cafe miliknya, dia sudah lama keluar dari perusahaan papinya karena ingin fokus dengan bisnisnya sendiri.
Perusahaan dia serahkan pada Fariz dan sampai sekarang dia masih jomblo. Entahlah, hal itu membuat Azka sering merasa bersalah. Apakah karena Fariz masih memikirkan Mika?
Azka masuk ke ruangannya, mulai mengecek berkas di mejanya. Ada beberapa yang harus dia tanda tangani.
Arya masuk, menerobos begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Bro, sibuk?"
"Menurut lu!"
"Ish ... serius."
"Apaan?" Azka menghentikan aktivitasnya.
"Celi, gimana caranya gue dapetin dia. Udah lima tahun, gue digantung. Kalo jemuran pasti udah koyak!" keluh Arya.
Azka terbahak, inilah azab playboy kampung. Giliran dia jatuh cinta beneran malah dicuekin.
__ADS_1
"Rasain lu. Ini balesan buat lu atas semua cewek yang lu mainin!"
"Nggak seru, deh. Gue mo tobat. Bantu gue, pliss ... bilang sama Mikha."
"Ngapa jadi bawa bini gue?"
"Lu nggak tau, sih. Mama terus ngasih foto cewek buat dijodohin sama gue. Gue ogah, nggak mau kalo bukan Celi."
Azka menatap sahabatnya, sepertinya Arya serius kali ini.
"Nanti gue bilang sama Mikha!"
"Yes! Gitu, dong. Lu emang best friend banget!" Arya memeluk Azka. Risih, segera dia mendorong tubuh Arya menjauh.
Arya keluar sambil bernyanyi riang, sepertinya dia senang karena Azka mengiyakan pintanya.
Hari pertama di sekolah hanya perkenalan dan memainkan beberapa game, Mika yang tengah duduk di tempat menunggu dikejutkan oleh suara seseorang.
"Mika 'kan?" ucap bu Rina. Ibu dari Sheryl.
"Iya, Ibu apa kabar?" Mika basa-basi, dia sebenarnya tak nyaman.
"Baik, anak kamu sekolah di sini?"
"Iya, Bu. Ibu sedang apa?"
"Anak Sheryl juga sekolah di sini."
Mikha semakin tak nyaman, dari sekian banyak sekolah yang ada di kota ini. Mengapa Azqila harus satu sekolah dengan anak dari orang yang hampir membunuhnya.
"Maksud, Ibu?"
"Sheryl struk, dia mencoba bunuh diri setahun yang lalu. Saat itu Sheryl loncat dari balkon. Kondisi kejiwaannya terus memburuk."
Mikha menganga, kasian sekali Sheryl. Dia harus menjalani kehidupan yang sangat mengenaskan.
"Mikha udah maafin, kok, Bu."
"Terima kasih, karena kamu mau memaafkan."
Bu Rina terisak, dia menangis haru. Mikha memeluknya erat. Mencoba menenangkan.
Anak-anak berhamburan keluar dari kelas, Azqila langsung memeluk mamanya. Di belakangnya ada seorang anak perempuan. Di mendekati bu Rina. Mikha menatapnya.
"Ini anaknya Sheryl. Rain salim sama Tante Mikha."
Anak cewek berusia sama dengan Azqila mencium tangan Mikha. Mikha tersenyum dibalas olehnya. Tanpa aba-aba dia memeluk Mikha. Mikha kaget, tetapi dia hanya bisa diam.
"Jadi ini pelukan seorang Mama, nyaman," ucap Rain.
"Rain, jangan seperti itu, Sayang. Ayo pulang!" ajak bu Rina nggak enak.
__ADS_1
"Sebentar saja, Eyang." Rain masih memeluk Mikha. Azqila kesal dia menarik tangan Rain, kemudian memeluk Mikha.
"Sayang, kamu nggak boleh gitu," tegur Mikha.
"Qila nggak suka, dia rebut Mama!"
"Maaf, ya, Bu. Qila nggak paham soal ini," sesal Mikha.
"Nggak apa-apa, Mikha. Ini salah Rain juga."
Bu Rina mengajak Rain pulang. Rain terus menatap Mikha, ada rasa iba di hatinya melihat Rain yang tumbuh tanpa kasih sayang ibunya.
"Qila, dengerin mama. Kamu nggak boleh kasar, ya."
"Tapi, Qila nggak suka, dia peluk Mama!".
"Iya, mama tau. Tapi, mama Rain lagi sakit, makanya dia kangen sama mamanya."
"Mama Rain sakit?" Azqila memeluk Mikha erat, "Mama nggak boleh sakit," rengeknya.
"Nggak, Sayang. Asal Qila janji, kudu jadi anak yang baik." Azqila mengangguk.
Mereka berdua pulang menggunakan taksi online, Azka tak bisa menjemput karena masih banyak pekerjaan.
Sampai di rumah, Celi sudah menunggu duduk di teras.
"Akhirnya pulang juga, gue udah kek cumi kering ini," protes Celi.
Mika dan Azqila tersenyum, Azqila mencium tangan Celi.
"Pinter, ya, anak lu," ucap Celi.
"Ish gue gitu emaknya. Ada apa, kok nggak telepon dulu?" Mikha membuka pintu rumahnya, Azqila masuk disusul yang lain.
"Ada yang mau gue curhatin."
"Bentar, ya, biar Qila bobo dulu."
Celi mengangguk mengerti, kini dia duduk di ruang tamu, sementara Mikha dan Qila pergi ke kamar.
Setelah mengganti baju Qila, Mikha kemudian menyuapinya. Setelah kenyang dia mulai membacakan dongeng untuk anaknya hingga terlelap.
Mikha menghampiri Celi yang tengah menonton TV sendirian.
"Ada apa?"
"Gue mau curhat."
"Soal apa?"
"Jodoh."
__ADS_1
Bersambung.
Hay, pada kangen sama Mikha nggak? Aku nongol lagi, ya. Kali ini mungkin bakal lebih banyak ke Celi sama Arya.