
Celi segera masuk ke kamarnya, mengunci rapat-rapat. Sambil menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Dia mulai memikirkan ucapan Arya.
Jujur, Celi yakin kali ini Arya serius. Terbukti setelah lima tahun mereka kenal, dua tahun ini Arya benar-benar fokus hanya mengejar dirinya.
Bukan sok jual mahal atau tak tahu diri. Hanya saja, perlu banyak pertimbangan mengingat menikah itu hal yang sakral dan serius.
Pintu diketuk, Celi membukanya. Ani datang dengan segelas cokelat panas.
“Mama masuk, ya.” Ani langsung menyerobot masuk ke kamar anaknya, tanpa menunggu jawaban. Diletakkannya nampan berisi cokelat hangat itu di atas meja, kemudian dia duduk di ranjang.
“Sini, mama mau ngomong.” Celi mendekati Ani dan duduk di sebelahnya.
“Mama tau kamu bimbang. Tapi, bukan berarti kamu bodoh.” Celi menautkan dahinya, tak mengerti apa maksudnya.
“Cel, mama ngerasa Arya serius sama kamu.”
“Mama, baru ketemu udah ngomong kaya gitu?”
“Dari caranya berbicara, dia tulus. Apalagi dia langsung bilang sama mama, mau jadi anak mama juga. Bukan jadi mantu.”
“Ish! Masa gitu aja Mama percaya!”
“Terus, kamu mau nyari yang kaya apa? Nyari yang ngajakin pacaran di luar, tapi nggak berani ngomong langsung sama orang tuanya!”
“Celi pusing, Mama keluar dulu!”
Celi mendorong mamanya pergi dari kamar. Ani hanya bisa pasrah, percuma juga memaksa. Dia hapal betul sifat keras kepala anaknya.
Setelah itu, Celi lantas merebahkan diri di kasur. Menutupi sekujur tubuhnya dengan selimut. Berharap, esok pagi tak seruwet malam ini.
“Gimana? Udah bisa bawa Celi ke sini?”
Risma menghancurkan selera makan pagi Arya. Tak ada ampun dia terus saja mendesak anaknya, untuk segera membawa calon istri ke rumah.
“Masih pagi, Ma. Baru juga mau makan.”
“Siapa suruh kamu lamban.”
“Ini juga lagi usaha, Ma.” Arya memasukan potongan roti tawar ke mulutnya.
“Ah, dasar lembek kamu!”
Arya melongo, Risma kejam. Dia mengatai anaknya lamban dan kali ini lembek.
“Mama!”
“Apa? Emang bener,” balasnya cuek sambil menyeruput kopi.
“Jahat! Anak sendiri dikata-katain!” sungut Arya.
“Makanya buktiin.”
“Iya, tunggu aja. Udah, ah, Arya berangkat dulu,” kata Arya sambil mencium tangan Ani.
“Hati-hati anak mama. Semoga jodoh kamu dekat, ya.”
“Aamiin.”
__ADS_1
Mikha dan Azka tengah sarapan, Qila sudah duluan masuk ke mobil untuk berangkat sekolah, dia selalu bersemangat setiap pagi.
“Rain, itu siapa?” tanya Azka. Mikha terdiam, dia lupa. Semalam ingin bercerita tentang hal ini, tetapi malah ketiduran.
“Dia anaknya Sheryl, Bang.”
“Serius?!”
“Iya, kemarin Mikha bertemu bu Rina, dia bilang Sheryl struk. Kejiwaannya juga semakin terganggu.”
Azka merasa miris dengan nasib Sheryl sekarang. Bukan, bukan karena masih belum move on. Hanya saja, dia tak pernah berharap mantan kekasihnya akan mengalami hal seperti itu.
“Bang, mikirin Sehryl?” tegur Mikha, mulutnya manyun tanda dia cemburu. Azka tersenyum, menggeser kursinya mendekati sang istri.
“Kamu cemburu?”
“Nggak!” elak Mikha, dari caranya berkata sudah jelas, dia sedang cemburu.
“Oh, kirain.” goda Azka.
“Abang, ish!” Mikha merajuk, dia hendak berdiri.
“Mau ke mana?” Azka mencekal tangan Mikha.
“Nganterin Qila sekolah.”
“Cium abang dulu.”
“Nggak mau!” Mikha pergi meninggalkan Azka, dia hanya tersenyum.
“Qila masuk sendiri. Bisa 'kan?” tanya Azka.
“Bisa, dong! Qila, kan berani.”
“Bagus, anak pintar salim dulu.”
Qila meraih tangan orang tuanya, menciumnya. Kemudian tak lupa pipi kanan dan kirinya dia cium juga. Setelah itu, dia melambaikan tangannya, bergegas masuk ke dalam kelas.
“Ada yang mau abang omongin,” ucap Azka.
“Soal Sheryl?”
Azka tertawa, Mikha benar-benar cemburu rupanya.
“Bisa jadi,” balas Azka sambil terkekeh.
“Ish, Abang!” Mikha memukuli lengan Azka.
“Iya, ampun. Maaf, ini soal Rain.”
Mikha menghentikan aksinya, dia mulai serius. Apalagi ini soal Rain, dia sedikit terganggu juga dengan anak itu.
“Kamu jangan terlalu ikut campur urusan Rain.”
“Maksud, Abang?”
“Qila bilang dia meluk kamu. Dan abang pikir Qila cemburu, Sayang.”
__ADS_1
“Itu nggak sengaja, Bang. Dia nubruk gitu aja.”
“Qila belum paham soal ini, dia pasti berpikiran seseorang sedang merebut Mamanya. Jadi, abang harap kamu hati-hati, ya. Jaga perasaan anak kita. Abang tau, kamu simpati sama Rain. Hanya saja, Qila lebih penting.”
“Maafin Mikha, Bang.”
“Iya, ini PR buat kita, agar Qila lebih mengerti tentang berbagi. Gimana juga, dia selama ini jadi anak tunggal. Mungkin ini saatnya kita nambah anak, Sayang.”
“Ish, Abang. Mikha udah serius, loh!”
“Abang juga. Nambah, ya,” ucap Azka sambil mengereling manja. Mikha cuek pergi meninggalkan Azka.
Azka segera meluncur ke cafe miliknya.
Celi tengah membersihkan aquarium kesukaannya. Di sana ada dua ikan ****** yang tengah berenang. Kenapa memilih ikan ******? Karena dia suka Upin Ipin.
“Ikan terus diurusin, kapan mau ganti jadi urus suami?” sindir Ani, dia berdiri di samping anaknya. Malas Celi hanya diam, tak menanggapi.
“Mau cari yang kaya apa, sih? Arya, tampan, mapan, serius apalagi coba?!”
“Apa, sih, Ma. Kiko sama Kiku jadi kaget. Uhhh ... anak mami, maafin Oma, ya, Sayang.”
Ani menggelengkan kepalanya, dia megusap dada melihat anaknya kumat.
“Ya Allah, nduwe anak siji kok, yo, kentir,” sesal Ani.
(Punya anak satu kok gila)
“Mama! Aku waras tau!”
“Kalo waras nggak mungkin ngomong sama ikan.”
Celi hanya manyun. Mamanya nggak bisa dilawan.
“Cel, Arya baik, loh!”
“Tapi, dia playboy!”
“Denger, ya. Playboy saat dia bener-bener jatuh cinta sama seseorang, dia pasti akan menyerahkan seluruh hatinya pada orang tersebut. Percaya, deh sama mama.”
“Sok tau!” sergah Celi.
“Ini pengalaman. Almarhum papa kamu dulu juga gitu, pas ketemu mama aja dia tobat!”
“Nggak percaya!”
“Dasar! Sana kamu ke makam papa tanyain ini bener apa nggak. Dasar kamu dikasih tau ngeyel bae!”
“Ma, biarin Celi kaya gini dulu. Jodoh itu datangnya dari Tuhan!”
“Iya, emang dari Tuhan. Tapi, kalo kamu nggak usaha, percuma. Kamu yang harusnya berjodoh sama dia malah diembat orang lain.”
Celi diam. Tak mampu melawan mamanya. Namun dalam hati dia juga membenarkan apa yang Ani bilang.
Bersambung.
Mohon maaf kalau sering telat Up. Puasa, banyak kesibukan di duta. Terima kasih buat yang masih setia
__ADS_1