Mikhayla

Mikhayla
ARCEL_43


__ADS_3

Mobil melaju ke rumah milik Arizka, sebuah rumah sederhana dengan taman kecil penuh bunga. Dapat dipastikan si pemilik pasti orang yang mencintai keindahan.


Arya memencet bel rumah milik Arizka. Sesosok gadis berkacamata muncul. Dia tersenyum melihat Arya dan langsung memeluknya. Celi yang geram, mencubit pinggang Arya.


“Lepasin, ya, Rizka!” titah Arya. Namun, cewek itu makin mengeratkan pelukannya.


“Nggak mau, kalo dilepas nanti kamu pergi lagi.”


“Aduh, gimana ini,” ucap Arya dia meminta pendapat Celi.


“Lepasin cowok gue!” seru Celi. Rizka melepaskan pelukannya dia beralih menatap tajam Celi.


“Jangan mimpi. Mana ada Arya suka sama lu. Cewek pendek!” ejek Arizka.


“Maksud lu apa? Ngehina gue!” Celi mendorong tubuh Arizka.


“Jangan sentuh gue!” balas Arizka gantian dia yang mendorong Celi.


“Stop!” teriak Arya.


“Dia, Beb. Ngaku-ngaku cewek kamu,” ujar Arizka.


“Rizka, dia emang pacar aku. Bukan! Calon istri aku.” Celi langsung meraih lengan Arya.


Arizka menggeleng tak percaya. “Nggak mungkin, Beb. Kamu bilang cinta mati sama aku.”


“Sebenarnya aku ke sini mau minta maaf soal semua yang terjadi,” ucap Arya.


“Nggak semudah itu, Beb. Aku nggak bisa,” tolak Arizka.


“Please! Aku mohon, maaf buat semua salahku.” Arya merasa tak enak sekali, apalagi berulang kali Arizka menggelengkan kepalanya, sambil terisak. Sepertinya, ini sangat berat baginya. Celi sendiri merasa begitu iba, melihat Arizka yang tampak frustrasi.


Tiba-tiba pintu dibuka muncul sosok pria bertato, sangar. Nyali Arya ciut, ngeri kalau dipukul karena sudah membuat Arizka menangis.


“Ada apa ini?” tanya pria gondrong itu.


“Nggak ada apa-apa, Sayang. Aku abis ngerjain dia barusan. Jadi, dia mantan aku ke sini buat minta maaf, aku pura-pura frustrasi. Dan liat muka mereka pucet semua,” ucap Arizka sambil terbahak.


Arya dan Celi melongo. Jadi, mereka kena prank.


“Mau apa ke sini? Ganti rugi, sini duitnya!” ujar pria sangar itu. Waduh, Arya dan Celi malah dipalak.


“Nggak, Om. Kita cuma mampir, ayo, Sayang, pulang,” ajak Arya sambil menarik tangan Celi. Namun, pria itu menarik tangan Celi yang satunya.


“Kalo mau cewek lu baik-baik aja, bagi rokok.”


Arya segera mengambil dompetnya yang berada di saku celana. Dia menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah.

__ADS_1


“Bagus, sering-sering ke sini, ya,” ucap pria itu sambil menerima uang dari Arya. Tangan Celi terlepas, kemudian mereka pergi meninggalkan rumah itu.


“Sayang, kamu punya mantan kaya dia lagi enggak? Lumayan dapet duit.”


Samar-samar Celi dan Arya masih bisa mendengar ucapan pria itu pada Arizka, saat menuju mobil.


Arya dan Celi mengembuskan napas kasar. Mereka duduk merosot di kursi mobil.


“Mantan kamu model Sheryl?” ucap Celi tiba-tiba.


“Dulu dia enggak gitu, aku juga kaget. Dia akting ternyata. Setahu aku dia emang ngambil kuliah jurusan teater.”


“Pantesan keren aktingnya. Bisa gitu, aku ampe nggak tega barusan.”


“Kirain aku doang.”


Celi tiba-tiba tertawa, Arya heran. Apakah Celi kesurupan atau dia lagi nge-parnk juga.


“Sayang, kamu kenapa?”


“Lucu aja, barusan kita dibegoin bareng-bareng.” Celi kembali tertawa mau tak mau Arya ikut tertawa karena tak tahan melihat Celi yang terus terbahak.


“Okey, aku coret Arizka dari daftar, masih ada sekitar 20an lagi, Sayang. Besok aja, ya. Aku pengen pacaran dulu sekarang.”


Celi mengalihkan pandangannya, dengan kikuk dia menggosok-gosok kaca mobil. Arya tersenyum, merasa lucu dengan tingkah Celi.


“Aku di sini, loh. Madepnya situ mulu,” kata Arya.


Arya tahu kalau Celi tengah berbohong, dia pasti belum siap kalo digodain dia terus.


“Makan dulu, yuk. Aku laper!” Arya menjalankan mobilnya, kali ini Celi kembali normal.


Sampai di saung, Celi dan Arya memesan beberapa makanan. Mereka makan dengan pelan dan tanpa suara. Apalagi Celi, kembali membuat Arya terkekeh, Celi yang cuek mendadak jadi kalem dan hati-hati. Mungkin dia belum beradaptasi dengan status barunya.


Celi dan Arya telah selesai makan, mereka duduk di saung. Kaki Celi sengaja dia masukan ke dalam air kolam yang terletak di bawah saung. Ikan yang hidup di sana segera mengerubuti, geli rasanya.


“Terima kasih, ya,” ucap Arya.


“Buat?”


“Buat hari ini, aku seneng pas kamu mengakui kalo aku cowok kamu di depan Arizka barusan.”


Celi berdehem, dia mulai salah tingkah dan mencari alasan agar Arya tak terlalu GR.


“Cuma buat nyelametin kamu doang,” elak Celi.


“Apa pun itu, aku senang. Terima kasih.” Arya meraih tangan Celi, saat akan mencium tangan itu Celi segera menariknya cepat-cepat.

__ADS_1


“Ayo pulang,” ajak Celi sambil berdiri. Dia segera memakai kembali sepatu miliknya, berjalan mendahului ke luar dari saung. Arya tersenyum kecut, kali ini dia kehilangan kesempatan lagi.


Di parkiran, tanpa sengaja Arya bertemu dengan Suci mantannya.


“Arya, udah lama banget kita nggak ketemu. Ish, gimana kabar?” tanya Suci. Celi yang berdiri di samping Arya menatap Suci, gadis dengan lipstik tebalnya.


“Baik, kamu gimana?”


“Ngga lebih baik dari waktu masih bareng sama kamu,” balas suci sambil terkekeh, Arya tersenyum canggung sambil melirik ke arah Celi yang mulai berasap.


“Ini cewek aku.”


“Oh, hai aku Suci.” Suci mengajak Celi salaman. Celi menyambutnya sambil mengucapkan namanya.


“Ah, udah berapa lama pacaran. Arya ini tipe nggak bisa konsisten, dia nggak bakal mau terikat sama hubungan. Jadi saran aku mending kamu siapin hati sebelum dibuang kaya aku,” jelas Suci. Celi melongo, dia menatap Arya sambil melotot.


“Nggak, Sayang. Aku udah tobat,” ujar Arya membela diri, Suci terbahak.


“Sejak kapan kamu kaya gini, bukannya seorang Arya tak pernah takut ditinggalkan wanita?”


“Kali ini beda,” kata Arya.


“Oke, aku paham. Mungkin ini yang disebut menemukan tempat berlabuh. Well, aku ucapin selamat buat kamu Arya, semoga kalian bahagia. Ini tulus.”


“Serius?” tanya Celi tak percaya.


“Serius, aku bahkan iri sama Arya. Kami itu sama-sama nggak pernah bisa komitmen dengan satu orang. Makanya, kaget juga melihat perubahan Arya. Aku salut.”


“Berarti kamu maafin aku 'kan, Suci?” tanya Arya.


“It’s okey. Nggak ada yang perlu dimaafin. Aku ikut bahagia buat kalian. Aku pergi dulu, udah ditunggu di dalam. Bye, Celi.”


Suci pergi meninggalkan Celi dan Arya.


“Satu mantan telah tercoret dari daftar silaturahmi. Berarti masih ada banyak lagi. Sayang, aku makin semangat.”


“Semangat ketemu mantan?” sindir Celi.


“Ya, nggak lah. Semangat buat dapetin kamu seutuhnya.”


Celi pergi meninggalkan Arya menuju mobil. Arya mengekor di belakangnya. Arya duduk di depan kemudi, di sampingnya ada Celi.


“Ayo pulang, kenapa diem?” tanya Celi.


“Aku mau biar semangat, tiap kali selesai silaturahmi sama mantan, aku mau kamu kasih aku sun!”


“Maksud kamu bubur bayi?” tanya Celi pura-pura ****.

__ADS_1


“Kaya gini.” Arya mencium pipi Celi tiba-tiba tanpa aba-aba. Celi tak sempat menghindar, dia merasakan wajahnya memanas.


Bersambung.


__ADS_2