
Wajah Celi memanas, dia tak bisa menyembunyikan perasaannya. Kaget dan malu bercampur jadi satu. Arya hanya tersenyum, sambil mengusap pipi Celi yang telah dia cium.
Kembali Celi semakin merona, dia merasa getaran di dadanya kian kencang. Ada rasa nyaman saat tangan Arya menyentuhnya.
Sejenak dia memejamkan mata menikmati tiap rasa yang menjalar. Khayalannya terpotong saat suara Arya terdengar.
“Sekarang pulang, ya!” ajak Arya sambil menyalakan mobilnya. Celi hanya mengangguk kaku tak berkata apa-apa. Dia masih tak percaya dengan apa yang Arya lakukan barusan.
Perjalanan lancar, tak macet seperti biasanya beruntung mereka sampai dengan cepat di rumah Celi. Celi langsung membuka pintu mobil, tetapi Arya mencegahnya.
“Apa?” tanya Celi
“Nggak nawarin mampir?”
“Nggak! Aku capek, besok juga ketemu!”
“Yah, padahal aku masih kangen,” sesal Arya.
“Nggak usah modus. Udah sana pulang. Aku mau istirahat.” Celi mengibaskan tangannya, pergi meninggalkan Arya.
Celi langsung masuk ke rumah, dia mencari mamanya. Aman tak ada orang, dia bergegas menuju dapur mengambil minuman.
Dapat serangan dari Arya membuat kerongkongannya kering. Tangannya memegang pipi yang bekas ciuman dari Arya. Tersenyum, dia lantas bertingkah seperti orang gila. Menari mengintari meja makan persis drama india.
Ani yang baru saja datang menatap heran anak gadisnya. Botol tipirwir pesanan tetangga meluncur begitu saja dari tangannya. Celi tersadar, dia menoleh ke sumber suara.
“Mama,” lirihnya, tangan masih mengambang di udara tanda dia menghentikan tariannya tiba-tiba.
“Are you ok? Your ndas kepentok?” tanya Ani sambil menghampiri anaknya, dia mengusap kening yang tak panas tetapi kelakuan Celil absurd.
“Mama, ih! Jahat banget, Celi sehat tau!”
“Lah, terus ngapa joget-joget kaya kremian gitu?”
“Em ... em, Celi cuma. Cuma lagi latihan nari aja?”
Ani menatap anaknya tak percaya, ini pasti terjadi sesuatu. Celi tak biasnya seperti ini. Sebagai ibu dia paham kepribadian anaknya.
“Habis jalan sama Arya?” tanya Ani.
“Mama tau?” Celi merasa mamanya mempunyai indera ke enam.
“Mama udah tua, paham apa yang terjadi.”
“Celi cuma bahagia, Ma.”
“Iya, mama seneng kamu udah bisa membuka hati buat orang lain. Pesan mama, kamu jangan terlalu gunain hati tapi pikiran juga. Kalo terlalu pake perasaan, biasanya ntar sering ribut.”
Celi heran, yang namanya dua orang saling mencintai, ya, harus pakai perasaan. Kenapa ini nggak boleh? Aneh.
“Maksud Mama apa?”
“Ya, kamu tau Arya buka orang biasa, dia punya masa lalu dengan banyak wanita. Mama harap, kamu bisa lebih dewasa dan pengertian. Dia sedang berusaha menata hidupnya. Kamu harus bantu dia, buat dia keluar dari masa lalunya.”
__ADS_1
“Gimana caranya?” tanya Celi.
“Kasih dia kepercayaan dan kesempatan.” Celi mengangguk, paham dengan apa yang Ani katakan. Dia memeluk mamanya.
“Mama dari mana?”
“Habis ngambil tipirwir di rumah mamanya Afnan. Bu RT pesen botol minum.”
“Sekarang botolnya mana?” tanya Celi.
“Ya ampun! Mama lupa tadi jatuh pas liat kamu goyang. Ah, gara-gara kamu ini. Moga-moga nggak lecet.” Ani memunguti botol yang dia jatuhkan. Celi hanya memperhatikan, tanpa ingin membantu.
Dia lantas pergi ke kamarnya. Menutup pintu rapat, diletakkannya tas di atas meja. Meraih handphone yang ada di dalamnya. Satu notif dari playboy gesrek.
[Sayang, aku udah nyampe. Tadi ngebut biar cepet. Udah kangen pengen chat]
Celi mendadak mual membaca chat dari Arya. Dia merasa Arya seperti anak SMP yang baru pacaran. Berbanding terbalik dengan umurnya yang bangkotan dan tukang pacaran.
[Untung nggak nabrak] balas Celi.
Arya melotot mendapati pesan dari kekasihnya, sungguh di luar dugaan, ternyata Celi menanggapi dengan cuek dan kasar seperti bukan chat dengan pacar.
[Kok, gitu. Nggak boleh kasar, Sayang]
Celi mengernyit, siapa yang kasar?
[Aku cuma ngomong apa adanya]
Arya menghela napas. Ceweknya memang ajaib. Harusnya dia paham.
[Apa?]
Celi membalas singkat pesan Arya.
[Senyum kamu]
Celi menutup mulutnya, Arya memang paling bisa kalau membuatnya kejang-kejang.
[Emang gula] balasnya.
[Senyum kamu itu kek narkoba, Sayang. Kalo nggak dilihat sehari bikin sakaw]
Kali ini Celi tak berekspresi, baginya nggak banget. Lebay dan norak.
[Gaje] Celi meletakkan handphone miliknya, dia mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi. Badannya terasa lengket, butuh penyegaraan.
[Kok, gaje? Ini serius!]
Arya kebingungan, chat darinya tak kunjung Celi balas. Apa benar dia marah? Bukannya, tak ada yang menyinggung dari perkataannya?
Dipencetnya nomor sang kekasih, tak cukup sekali. Berkali-kali, dia melakukannya tetapi tak ada jawaban.
Handphone milik Celi memang berbunyi. Hanya saja dia tengah menikmati tetes air yang mengguyur tubuhnya. Tak ada yang dia dengar selain suara air dari keran miliknya.
__ADS_1
Arya bolak-balik tak tenang di kamarnya. Benarkah Celi marah? Kalau sekarang dia datang ke sana, apakah akan diterima? Di tengah kebingungannya Risma menghampiri anaknya.
“Kenapa?”
“Eh, Mama ngagetin aja!”
“Kamu kaya lagi kebingungan?”
“Celi ngambek.”
Risma menatap heran, bukannya tadi Arya bilang habis jalan sama Celi, kenapa ini malah ngambek?
“Kok, bisa?” tanya Risma
“Nggak tau, Arya cuma kirim pesan doang.”
“Pesan apa!” tegas Risma, dia takut anaknya mengirimkan pesan aneh-aneh.
“Apa, sih, Ma. Curiga banget,” ucap Arya cemberut.
“Sini nggak hapenya mama mau lihat!”
“Nggak, orang nggak apa-apa, kok!” tolak Arya.
“Sini buruan!”
Terjadi tarik-menarik antara ibu dan anak itu. Hingga akhirnya, Arya mengalah. Karena, Risma terus melotot padanya.
“Dari tadi, kek. Jadi nggak capek mama,” kata Risma, dia mulai membuka pesan anaknya pada Celi.
Risma terbahak saat mendapati chat terakhir milik Arya. Dia benar-benar tak menyangka anaknya sekolot ini. Kalah sama Sule.
“Ini apaan? Pantesan Celi kesel. Norak, nggak banget.”
Arya mengernyit, tahu apa soal anak muda. “Udah balikin, Mama nggak usah sok tau!” ketus Arya sambil mengambil handphone miliknya.
“Halah, nih, Mama balikin. Celi juga lagi ngambek. Nggak ada manfaatnya juga pegang HP.”
Risma menyerahkan handphone pada Arya. Dia keluar dari kamar anaknya. Sementara Arya menatap benda pipih tersebut dengan perasaan yang entah.
Celi selesai mandi, dia mengambil handphone miliknya setelah berganti baju. Heran melihat belasan panggilan tak terjawab dari Arya. Saat dia akan menelepon balik, Ani memanggil anaknya.
“Cel, ada yang mau ketemu,” ujar Ani.
“Siapa?”
“Keluar aja dulu, nanti juga kamu tau.”
“Celi ganti baju dulu, Ma. Nggak enak pake baju tidur.”
“Udah, nggak masalah udah wayahna tidur juga.”
Celi mengikuti mamanya ke ruang tamu, dia mematung saat mendapati pria yang tersenyum padanya. Segera dia duduk di depannya.
__ADS_1
Bersambung.