
Bab 10
Ini adalah hari ke 5 Kimmy menjadi asisten Milo. Wajahnya terlihat tenang dan santai saat mengancingkan lengan kemeja dan beralih memasang dasi di leher tuannya.
Namun percayalah si pemilik wajah tenang dan santai itu dalam hatinya benar-benar geram karena tuannya itu tidak berhenti melihatnya.
Menurutnya ini adalah situasi yang horor.
Pasalnya, saat dalam ruangan hanya berdua seperti ini, Milo selalu menyentuh dagunya hanya untuk memalingkan wajahnya agar bisa di lihat secara keseluruhan olehnya.
Milo seperti tidak mengizinkan wajahnya lepas dari pandangannya.
Itu membuatnya agak takut. Terlebih Milo selalu melihatnya dengan tatapan yang seperti sedang mengintrogasinya.
Lain halnya dengan Milo, saat ini dia sedang menikmati paras yang sangat menawan meski tanpa riasan apapun. Kimmy benar-benar sangat cantik seperti Dewi dari Asia timur.
Seketika mata Milo teralihkan oleh beberapa bintik-bintik kecil dan beberapa noda hitam akibat matahari.
Entah mengapa dia mendadak kesal jika kulit gadis di depannya itu terlihat kurang sehat dimatanya.
Tiba-tiba tangan kanannya terangkat memegang wajah Kimmy dan dengan gerakan halus ibu jarinya mengelus bintik bintik dan noda hitam itu. Dengan rasa terkejutnya Kimmy menepis tangan Milo cukup kasar.
Plak.
"Tuan, jaga ya tangan anda." Ucap Kimmy sedikit membentak yang kemudian melengos pergi dari kamar itu.
Milo pun tersadar apa yang tangannya lakukan. Kemudian dia berjalan mengikuti Kimmy yang sedang menggerutu kesal.
"Benar-benar ya dia itu, tidak mata tidak tangan sama saja horornya."
Sontak saja Milo langsung meraba sebelah matanya dan melihat tangannya yang tadi menyentuh wajah Kimmy dengan wajah bodohnya.
Di tengah sarapan,
"Ben, kau atur pertemuan Kimmy dengan dokter dermatology."
"Untuk apa?" Tanya Kimmy dengan mengernyit.
"Untuk memuluskan kulit mu yang sedang sakit itu. Wajahmu terlihat horor dengan bintik-bintik seperti itu."
"Apa..?" Pekik Kimmy.
Di ruangan CEO
__ADS_1
Kristal terkejut saat Milo melempar kasar sebuah dokumen laporannya.
Brak.
"Apakah liburan membuat kemampuan mu menurun?" Kristal menunduk. "Jika begitu, aku tidak akan pernah mengizinkan mu untuk liburan lagi."
Kristal mendongak mendengarnya.
"Milo, ini bukan salah liburan. Tapi pekerjaan ini berbeda dari biasanya, dan ini cukup sulit untukku. Berikan aku waktu, karena aku hanya belum terbiasa saja." Ucap Kristal dengan lembut yang padahal dirinya ingin sekali mencak-mencak dengan pekerjaan menyebalkan itu.
Kristal harus meredakan kekesalan Milo agar dia tetap berada di lingkungan Milo. Dia tidak ingin hanya karena kesal, dirinya akan terlantar dari fasilitas nya.
Milo menghela nafasnya dengan raut malas. Dia sudah bosan dengan mulut manis Kristal itu. Terlebih caranya bekerja yang cukup lelet karena sikap manja nya.
Malam harinya
Milo memasuki ruangan kerjanya dimana ada Ben yang sedang membereskan tumpukan berkas.
"Bagaimana Ben?"
"Hasilnya mengejutkan tuan, nona Kimmy mampu mengerjakan pekerjaan yang anda berikan tepat waktu." Jawab Ben yang terselip raut bangga.
"Sudah ku duga." Gumam Milo.
Kimmy yang di tantang kembali mengerjakan tumpukan berkas dalam 2 jam pun tentunya berhasil merampungkannya hanya dalam satu kali pengajaran dari Ben.
"Tuan, apa anda sedang memastikan jika nona Kimmy adalah anak orang kaya?"
Bola matanya sedikit bergerak atas pertanyaan Ben karena dirinya baru ingat jika identitas Kimmy belum di temukan.
Padahal, kali ini Milo tidak bermaksud mengulik identitasnya karena dia hanya ingin menggali potensi Kimmy lantaran sudah muak dengan kinerja Kristal.
"Entahlah. Aku hanya muak dengan kinerja Kristal, lalu ketika melihat Kimmy tiba-tiba aku ingin sekali menggali potensinya mengingat dia mampu mengerjakan tugas anak magang tempo hari."
Ben manggut-manggut mendengarnya. Beberapa detik kemudian,
"Tunggu, Ben, kau bertanya apa tadi?"
"Yang mana tuan."
"Yang terakhir."
Ben mengingat sejenak.
__ADS_1
"Saya bertanya, apa anda sedang memastikan jika nona Kimmy adalah anak orang kaya?"
"Ya, anak orang kaya. Aku yakin dia anak orang kaya seperti Kristal karena waktu itu saat mengerjakan berkas anak magang dia bilang pernah melihatnya. Dan sekarang, kau lihat sendiri kan hasilnya."
Ya, Ben sudah melihat sendiri hasilnya dan melihat cara kerja Kimmy yang begitu telaten dan rapi. Berbeda dengan seorang Kristal yang manja yang selalu mengeluh sulit.
"Jika nona Kimmy berasal dari keluarga kaya, mengapa dia tidak memiliki identitas?" Gumam Ben yang terdiam sejenak untuk merangkai beberapa hal yang terkait Kimmy.
Dari awal Ben yang mengamati gerak-gerik Kimmy memang sudah menduganya. Seorang gadis yang keluar dari hutan dengan pakaian kumuh, bukan hanya tidak kaget dengan peradaban modern, tapi dia mampu mengerjakan pekerjaan yang ada di perusahaan. Belum lagi dengan manner di meja makan, cara berbicara, berpakaian, dan keseharian lainnya yang merupakan sifat wanita yang berkelas.
"Mungkinkah…"
"Ada yang menyingkirkannya dari keluarga." Milo memotong ucapan Ben dengan raut datar.
Ya, itu adalah jawaban tentang identitas Kimmy saat ini.
Karena jika memang Kimmy yang berada di hutan karena kecelakaan, harusnya identitas Kimmy masih ada, atau mungkin ada keluarga yang sedang mencarinya bukan?.
Milo menyandarkan kepalanya di sofa setelah Ben pergi dari ruangan itu.
Entah mengapa dia malah memikirkan tentang Kimmy yang padahal bukan siapa siapa nya. Bahkan dia merasa kesal jika Kimmy ternyata memang di singkirkan dari keluarganya. Dan jika memang benar seperti itu, maka dia akan menjaganya erat erat dan pastinya akan membuat keluarga itu hancur berkeping-keping.
Entahlah, perasaan apa yang ada dalam benaknya saat ini. Mungkin saja dia kesal karena telah membuat gadis yang menolongnya menderita sakit kepala setiap hari karena pendarahan otak.
Beberapa menit kemudian, Ben kembali menemui tuannya dengan sebuah laporan.
"Tuan, ada laporan dari negara M."
"Katakan."
"Kemarin, salah satu pasukan kita menemukan mayat seorang pria di sekitaran bandara dan langsung melaporkannya kepada polisi. Namun hal mengejutkan datang saat polisi menyampaikan dari hasil investigasi jika pria tersebut sudah melakukan penerbangan ke negara S satu hari yang lalu dengan selamat."
"Tuan dari laporan ini, feeling saya mengatakan jika ini adalah ketua Moon Fire yang lagi lagi berhasil meloloskan diri dari kejaran pasukan kita."
"Ya, aku pun merasakan hal yang sama."
Masih di ruangan yang sama, setelah 30 menit akhirnya Ben kembali mendapatkan telepon dari team Bird yang berhasil menemukan seorang pria yang mencurigakan yang di yakini sebagai katua Moon Fire.
"Tuan, team Bird sudah menemukan seorang pria mencurigakan dari bandara internasional SS yang sekarang telah berada di kota ini. Bird menemukan jika titik terakhirnya sekitar dua jam yang lalu berada di SAA, sebuah komplek perumahan elit di kota ini."
"Segera kerahkan pasukan kita untuk menyisir komplek perumahan itu." Titah Milo.
"Baik tuan."
__ADS_1
***