MILLION% Mafia Dan Gadis Panah

MILLION% Mafia Dan Gadis Panah
berkenalan


__ADS_3

haloo semuanya...


author minta maaf karena sudah berminggu-minggu author belum up di karenakan kesibukan di dunia nyata .


untuk itu author hari ini baru bisa up 2 bab dulu yaa...


makasih semuanya buat yang mau mampir di novel author yang receh ini .


love love kesayangan author semuanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Bab 14


6 hari kemudian


Kimmy membuka sarung tangan tinjunya dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. 


Kimmy yang baru melepaskan sebelah sarung tangan tinjunya dengan refleks memiringkan lehernya karena tiba-tiba ada sebuah belati melesat.


Pupil matanya melebar saat menatap belati yang menancap di samsak tinju. Dan baru saja Kimmy menoleh, tubuhnya sedikit terhuyung saat seorang pria yang menggunakan masker hitam di wajahnya langsung menyerangnya. 


Sejujurnya Kimmy sangat terkejut dan takut bahkan ingin menangis. Raut ketakutan semakin terlihat saat sekelebat ingatan saat dirinya di kepung oleh beberapa pereman. Namun entah mengapa tubuh kurusnya mempunyai refleks yang bagus sehingga dirinya berhasil menangkis setiap serangan pria tersebut. 


Setelah beberapa menit bertahan dengan rasa takut, emosi, serta denyutan di kepalanya yang menjadi satu, seketika tubuh kurusnya mendapat sebuah kekuatan yang cukup besar yang terkumpul di kaki kanannya. Akhirnya, Kimmy meluapkan semua dengan sebuah tendangan di perut pria tersebut.


Bug. 


Pria tersebut terhuyung dua langkah dengan memegang perutnya. 


Di tengah nafas yang terengah-engah, Kimmy mengerutkan keningnya saat melihat pria tersebut terkekeh sambil membuka maskernya. 


"T-tuan."


"Pertahanan diri yang cukup bagus. Aku menyukainya."


"Ck, dasar kurang kerjaan." Ucap Kimmy dengan langkah kesal memasuki kamar pribadi Milo. 


Sedangkan Milo melihatnya dengan sebuah senyuman yang sangat jarang terlihat di wajah dinginnya.


25 menit kemudian, Kimmy yang sudah membersihkan diri, kini duduk di sofa atas perintah Milo yang kini sedang berkutat di laptopnya. 


Di waktu yang bersamaan, Ben datang bersama Kristal.


"Aku ingin kau memantau anak perusahaan ku yang ada di negara C." Ucap Milo sambil menyodorkan laptop tersebut.


"Tapi sebelumnya tolong periksa data keuangan dua bulan terakhir."

__ADS_1


"Emm," Kimmy mengangguk.


Milo kembali ke kursinya karena dia tahu jika Kristal sudah datang. 


"Sepertinya ibumu benar-benar merawatmu dengan baik." Ucap Milo yang sebenarnya ini adalah sebuah ejekan untuk Kristal jika gadis itu mengerti.


"Emm, kasih sayang seorang ibu memang tiada duanya."


Milo yang tidak pernah merubah ekspresi di wajahnya itu aslinya sedang muak mendengar kalimat tersebut. 


"Apa yang ingin kau katakan Kristal."


Bukannya menjawab, perlahan Kristal melihat ke arah sofa dimana ada Kimmy yang sedang sibuk dengan laptopnya.


"Apa dia anak yang baik?"


"Mengapa kau bertanya seperti itu?"


Kristal pun kembali melihat wajah Milo.


"Sepertinya berteman dengannya tidak buruk."


Milo sedikit menggerakkan alisnya.


"Yakin ingin berteman dengannya? Dia hanya gadis miskin, tidak akan selevel dengan mu."


Milo sangat tahu jika Kristal yang terlahir sebagai anak orang kaya dengan kemanjaan yang akut tidak pernah berteman dengan orang-orang dari kalangan bawah. Matanya hanya melihat anak anak tampak sederajat dengannya, dan tentunya melalui seleksi dari ayahnya karena tidak ingin putrinya masuk ke dalam pergaulan bebas.


Kristal melihat ke arah sofa lagi, melihat datar di setiap gerakan Kimmy. "Ketika melihatnya yang mampu bekerja dengan mu, terselip sedikit iri padanya. Aku ingin sepertinya, yang masih sangat muda tapi bisa membuatmu percaya. Untuk itulah aku mulai berubah pikiran, untuk apa kuliah lagi, mengapa tidak belajar bersama kawan saja apalagi kawan tersebut terbilang lebih hebat dariku."


Kristal pun kembali melihat wajah Milo yang sedari tadi tidak pernah melepaskan pandangannya dari wajahnya itu.


"Belajar sambil bermain bersama teman bukankah tidak akan membuat kita tertekan?" Kristal sengaja mengatakan ini agar Milo melihat betapa tertekannya dia. Ini bertujuan agar dirinya bisa membuat Milo yakin agar tidak curiga dengan niatnya. 


"Aku tahu, aku belum pernah berteman dengan orang miskin, tapi setidaknya dia tidak jahat karena dia adalah asisten pribadi mu."


Milo masih tetap tidak mengalihkan pandangannya dari wajah Kristal. Dia masih betah menelisik di setiap inci dari wajahnya. Wajah yang terlihat datar, sedikit takut, iri, dan di dominasi oleh raut sendu. 


Namun bukan raut itu yang di lihat Milo sekarang, Milo melihat ada sedikit kedewasaan dari Kristal. Ini membuat sudut bibirnya sedikit terangkat, saking sedikit nya seperti tidak terlihat. 


Milo mulai menilai jika sebenarnya Kristal hanya butuh bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan manjanya. Pantas saja dia begitu susah di ajari, padahal para pengajarnya adalah orang orang yang mempunyai kecerdasan di atas rata-rata, pikirnya.


Menilik dari ini, tidak ada salahnya jika mereka berdua berteman. Toh kedua gadis itu sama sama dalam genggamannya. Dia pun tidak akan kesulitan untuk memantau mereka terutama memantau perkembangan Kristal. 


Milo hanya ingin tahu seberapa jauh Kristal berkembang dari keinginan pertemanan ini. Dan juga, dia ingin tahu apakah ada maksud lain dari pertemanan ini mengingat Kristal yang tidak pernah berteman dengan orang miskin. 


"Jika kau ingin berteman dengannya dengan tujuan positif itu, maka aku mengizinkannya."

__ADS_1


Kristal tersenyum kepada Milo. 


"Boleh aku mendekatinya sekarang?"


"Sebentar saja, hanya untuk berkenalan karena dia sedang sibuk."


Kristal pun langsung menuju sofa untuk memulai perkenalannya dengan Kimmy.  Tentu saja ini di lihat oleh Milo dan Ben dari mejanya masing-masing.


"Hai, maaf mengganggu." 


Kimmy menghentikan gerakannya kemudian melihat orang yang tiba-tiba datang mengganggunya. 


"Bolehkah kita berkenalan. Nama ku Kristal, siapa namamu?" Ucap Kristal dengan menyodorkan tangannya untuk bersalaman.


"Kimmy." Ucapnya dengan menyambut tangan Kristal. 


"Baiklah Kimmy, bolehkah aku menjadi temanmu?"


"Kau ingin berteman dengan ku?"


Kristal mengangguk. "Emm."


"Mengapa?"


"Karena aku sendirian di sini dan butuh teman."


"Bukankah di perusahaan ini ada ribuan orang? Mengapa harus aku yang jadi temanmu?"


Nampak bola mata Kristal sedikit bergerak mendengar pertanyaan itu.


Sedangkan di sudut lain, tampak Milo dan Ben mengulum bibirnya menahan tawa.


"Karena kau asistennya Milo. Aku percaya jika orang yang ada di dekat Milo pastilah orang yang baik dan jujur. Dengan kata lain, tidak akan membahayakan. Dan juga,, kau adalah gadis yang cukup hebat. Jadi, kita bisa berbagi ilmu dan energi positif."


"Darimana kau tahu jika aku cukup hebat"


"Berapa usia mu?"


"18 tahun."


"Di usia semuda itu dengan menjadi asisten pribadi Milo itu adalah hal yang cukup hebat. Kau tahu, Ben berhasil di angkat menjadi asisten pribadinya ketika usianya 21 tahun."


Kimmy manggut-manggut mendengarnya.


Tiba-tiba suara Milo mengagetkannya.


"Kristal, waktu mu sudah habis."

__ADS_1


"Baiklah Kimmy, aku menunggu jawaban mu sebelum keluar dari ruangan ini." Ucap Kristal dengan sebuah harapan.


Kimmy pun mengangguk setelah diam beberapa saat karena sejujurnya dia juga butuh seorang teman. Terlebih lagi dia begitu penasaran dengan Kristal, bukan hanya wajahnya yang tidak asing, tapi dia seperti mempunyai ikatan dengannya.


__ADS_2