MILLION% Mafia Dan Gadis Panah

MILLION% Mafia Dan Gadis Panah
dinner


__ADS_3

Bab 22


Keesokan harinya


Di rumah baru.


Kristal membukakan pintu untuk Kimmy yang datang dengan membawa dua kopernya. Dia sungguh terkejut melihat kondisi wajah Kimmy. 


Kristal sangat cemas melihatnya hingga mencoba menyentuh perban di pipi Kimmy. "Ya Tuhan apa yang terjadi padamu? Apakah ini sakit?" 


Kimmy pun mengambil tangan Kristal. "Sudah lebih baik. Masuklah dulu, kita bicara di dalam."


Mereka telah berada di dalam rumah, lebih tepatnya di dalam kamar yang kedap suara.


Kimmy pun menceritakan kejadian dimana dia dan Milo di serang oleh musuh saat jalan pulang. Saat musuh berhasil di atasi, tiba-tiba seseorang yang hampir sekarat itu hendak menusuk leher belakang Milo dengan sebuah belati. Niat hati Kimmy yang ingin menarik Milo menjauhi belati pun malah menjadi petaka untuknya lantaran Milo sendiri sudah mempunyai refleks yang bagus dalam hal seperti ini. Alhasil, pipi kirinya lah yang terkena sayatan belati itu bersamaan dengan pedang Milo yang menembus perut sang musuh. 


"Jadi ini alasan kenapa Milo menyuruh asistennya itu mengatur ulang kebutuhan kita?"


Kimmy mengangguk. 


Di sisi lain, Ben melapor kepada tuannya.


"Sudah beres tuan, dan nona Kimmy telah sampai di rumah baru dengan selamat."


"Bagus." Milo merasa sedikit tenang dengan ini. Pada dasarnya alasan musuh menyerang tadi malam karena dirinya membawa seorang gadis. Itulah sebabnya dia melepaskan kedua gadis itu agar mereka aman dan tidak di ketahui musuh.


Setelah beberapa hari, luka di wajah Kimmy telah sembuh. Bahkan bekas luka tersebut sudah samar berkat kecanggihan teknologi di dermatology kepercayaan Milo.


Tap tap, Kristal memoles ulang foundation di wajah Kimmy.


"Ya ampuuunnn harus setebal apa aku memakai ini? Kita hanya akan bermain roller coaster." 


"Sudahlah ini demi keamanan mu. Bukankah Ben sering mengingatkan kita untuk menyembunyikan luka itu sampai warna kulitnya kembali?"


"CK, merepotkan." 


Wahana bermain.


Tiga anak manusia tertawa terbahak-bahak saat keluar dari permainan roller coaster.


"Haha kau melihatnya Kimmy, Kristal sangat jelek saat berteriak." Roma.


"Hei, kau juga sangat jelek bahkan saat tertawa."


Entah ejekan seperti apapun yang Roma dan Kristal lontarkan, Kimmy hanya tertawa. Dirinya begitu menikmati berada di tengah-tengah keduanya. Dia merasa tidak salah jika berteman dengan mereka berdua.


Sampai tiba lah mereka di kolam renang. Mereka malah bermain kejar-kejaran di tengah kolam. Karena mereka begitu jago berenang, para pengunjung pun bersorak melihat ketiga anak muda itu bercanda saling mengejar satu sama lain.

__ADS_1


Dan keceriaan itu sedang dilihat di ponsel Ben.


"Yeah, anak anak muda memang harus seperti ini." Ujar Milo.


Tiba-tiba Milo teringat akan sesuatu.


"Ben, selidiki wanita yang membius ku saat aku di racuni. Bisa jadi wanita itu berasal dari manusia yang bernama tuan L itu."


Ben mengangguk. Dia hanya perlu memberi perintah kepada team Bird untuk melacak jejak wanita itu.


Milo bersandar di kursi kebesarannya itu. Matanya melihat ke langit-langit plafon sembari mengingat kata kata terakhir Marion yang dibisikkannya ketika dia meregang nyawa.


Elsa… tuan L… 


Hooekkk… Marion muntah darah di tubuhnya.


Milo memejamkan mata sembari menghembuskan nafas dari mulutnya. 


Elsa dan tuan L. Dua kata dari dua orang yang menjadi petunjuk baru dari Marion. 


Milo mempercayainya karena itu adalah ucapan terakhir Marion saat meregang nyawa, terlebih lagi dia menyebutkan nama Elsa.


Elsa adalah putri Marion satu-satunya yang hingga kini belum ditemukan setelah menghilang dua tahun lalu. 


Bisa disimpulkan jika Marion meminta tolong kepadanya untuk menyelamatkan Elsa dari tuan L. Lalu tuan L adalah musuh yang sebenarnya karena Marion bekerjasama dengannya.


Kimmy dan Kristal telah berada di sebuah pantai. Mereka telah merias diri untuk dinner malam ini. 


Rupanya Kristal menyuruh Kimmy untuk dinner bersama Roma. Awalnya Kimmy menolak, tapi Kristal tidak ingin sendirian ketika berkencan dengan seorang pria yang baru dikenalnya.


"Nah, kau makan malam lah bersama Roma ya. Jangan menganggu ku, oke." Kristal


"Baiklah semoga berhasil." Kimmy.


Kristal hanya mengedipkan sebelah matanya lalu pergi menemui seorang pria yang telah menunggunya di sisi lain. 


Tentunya pria itu hanyalah pria bayaran agar Kimmy percaya dan mau duduk makan malam romantis dengan Roma. 


Perlahan tapi pasti, sedikit demi sedikit Kimmy sudah terbiasa ditinggal berduaan dengan Roma. Apalagi sekarang dia dan Kimmy sudah tinggal di luar area genggaman Milo, sudah pasti dia begitu leluasa mendekatkan Kimmy dengan Roma. 


Hidangan telah tersaji, Kimmy melihat ke tempat Kristal dan prianya itu, jarak yang cukup jauh karena hanya terlihat bayangannya saja.


"Apa menurutmu kencan Kristal akan berhasil?"


"Aku tidak tahu, biarkan saja mereka menjalaninya terlebih dahulu. Sebaiknya kita nikmati hidangannya karena nanti akan ada kejutan untuk mu." Ucap Roma yang mengajak Kimmy bersulang untuk memulai menikmati hidangan. 


"Untukku? Waah aku jadi penasaran." Ting. Kimmy bersulang dengan Roma.

__ADS_1


Setelah beberapa saat Roma mencoba membuka percakapan diantara mereka karena sedari tadi hanya suara ombak saja yang terdengar. 


"Kimmy.. Jika aku ingin menjadi pacarmu, apa kau mau menerimanya?"


Uhuk.. 


Kimmy terbatuk mendengarnya. Dia pun segera mengambil minum untuk meredakan batuknya.


"A-apa.. ? Kau bilang apa?."


Roma terdiam sesaat. Dia merasa ini terlalu cepat untuk Kimmy karena gadis itu sedang hilang ingatan. "Lupakan. Aku ingin bertanya, apa kau menyukai ku?"


"Tentu saja aku menyukaimu. Kau selalu menjaga dan memperhatikan ku disaat kita bersama. Sesekali aku merasa takut jika suatu saat kehilangan teman seperti mu."


'Teman ya,, sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi untuk membuka hatimu. Huufffttt sabarlah Roma, dia sedang hilang ingatan. Bahkan kalian baru saja bertemu kurang dari dua bulan, sangat wajar jika prosesnya akan panjang.' batin Roma.


Syuutt,, JEDEERrrrr…


Kembang api bertaburan sangat indah.


Kimmy berbinar melihatnya. 


Terpancar senyuman yang sangat indah menghiasi wajah Kimmy yang membuat Roma semakin terpesona.


Keesokan harinya.


Di perusahaan.


Hari ini adalah hari bebas. Setiap sebulan sekali perusahaan memberikan kebebasan kepada para pekerjanya. Semuanya bisa melakukan apa saja di perusahaan termasuk malas-malasan. Sedangkan bagi yang rajin mengerjakan pekerjaannya akan mendapatkan berupa uang lembur. 


Kimmy sedang berada di ruangan Kristal bersama Roma. Sedangkan Kristal sendiri dia malah bermain game di ruangan sebelah. Tentunya untuk memberikan ruang bagi Kimmy dan Roma. 


Entah angin dari mana tiba-tiba Milo memasuki ruangan itu. Namun seketika matanya menyipit saat melihat Kimmy sedang berbincang cukup akrab dengan seorang pria. Bahkan Kimmy terlihat sedang menyuapi keripik singkong dengan candaannya.


Sorot matanya seketika menjadi dingin. Entah mengapa dia tidak suka melihat pemandangan itu sehingga dia bergegas menghampirinya dengan Ben yang langsung menyiapkan sebuah kursi di samping Kimmy.


Roma dan Kimmy sedikit terkejut dengan kedatangan Milo yang tiba tiba. 


"Tuan. Ada apa? Apa ada meeting mendadak?." Tanya Kimmy.


Hening.


Menit demi menit keheningan terjadi dengan Milo yang terus melihat Roma dengan mata elangnya.


Tentu saja Roma yang di lihat seperti itu hanya bisa menunduk.


Setelah hampir 10 menit, akhirnya Milo bersuara memecah keheningan yang dia ciptakan sedari tadi.

__ADS_1


"Penerus Emilio."


__ADS_2