MILLION% Mafia Dan Gadis Panah

MILLION% Mafia Dan Gadis Panah
hukuman


__ADS_3

Bab 9


Milo memasuki ruangannya bersama Ben setelah meeting di pagi hari. 


"Sudah selesai?"


"Sudah."


"Sekarang tolong buatkan kopi untukku, tidak terlalu manis dan tidak terlalu pahit."


Kimmy terdiam sejenak dengan wajah yang sedikit bingung lantaran tadi pagi saat sarapan Milo mengatakan pada Kimmy jika mulai pagi itu Kimmy akan bekerja dengannya di perusahaan. Namun ternyata setelah sampai di ruangan itu Milo malah membuatnya sibuk di kamar pribadinya seperti mengepel, mengganti sprei, merapikan baju dan lainnya. 


Awalnya, Kimmy pikir itu untuk mengisi kekosongan saat di tinggalkan sendirian di ruangan itu. Namun ternyata Kimmy mulai mengerti pekerjaannya saat Milo memintanya kopi.


"Tuan, bukankah saat sarapan kau bilang mulai pagi ini aku akan bekerja di perusahaan."


"Ini memang di perusahaan ku." Jawab Milo sembari duduk di kursi kebesarannya.


"Iya sih, tempatnya di perusahaan mu, tapi kenapa harus jadi pelayan mu." Ucap Kimmy menautkan kedua alisnya.


"Bukan pelayan, tapi asisten pribadi ku."


"Hah, jadi aku bekerja sebagai asisten pribadi bukan karyawan di perusahaan?" Kimmy melongo.


"Sepertinya kau ingin sekali bekerja di perusahaan ini?" Selidik Milo.


"Karena kemarin kau memberiku berkas itu dan aku berhasil mengerjakannya. Aku pikir aku akan bekerja di perusahaan seperti wanita wanita di drakor. Mereka sangat cantik dengan setelan jas nya." Kimmy tertunduk cemberut.


"Cukcukcuk.. Itulah akibat kebanyakan nonton drama. Kau jadi berekspektasi tinggi sebelum menghadapi realita."


Ffftt.. Ben menahan tawanya.


Kimmy semakin cemberut lantaran di ejek oleh Milo. 


"Sudahlah, pergi buatkan kopi yang ku minta. Ingat, tidak terlalu manis bukan berarti pahit dan tidak terlalu pahit bukan berarti manis."


"Apa kau juga ingin kopi Ben?"Tanya Kimmy dengan suara kesalnya lantaran Ben sedang menahan tawa untuknya.


"Tidak nona, terimakasih." Jawab Ben namun Kimmy malah melengos pergi.


Milo benar-benar membuat Kimmy kesal lantaran Kimmy harus bolak-balik ke pantry karena rasa kopinya tidak sesuai dengan lidahnya. 


Banyak alasan yang di lontarkan Milo untuk Kimmy agar mengulang lagi membuat kopi.


Jika kata terlalu manis atau terlalu pahit itu sudah biasa. Namun Milo yang luar biasa aneh malah menyebutkan kata-kata yang membuat Kimmy pusing.

__ADS_1


Kurangi manisnya 5 persen


Pahitnya masih terasa 2 persen dari manis


Tambah manisnya 1,6 persen dan kurangi pahitnya 0,90 persen.


Siapa yang bisa mengukur persentase manis pahitnya dari secangkir kopi? 


Kepala Kimmy yang sudah seperti mengeluarkan asap pun menghentakkan kakinya kesal di depan Milo.


"Kau kesal?"


"Tidak. Sangat tidak kesal." Kimmy menampilkan senyum yang terpaksa yang terlihat jelas senyum kekesalan. 


Kimmy tidak boleh membuat Milo memecatnya lantaran Milo telah mengancamnya jika orang orang yang telah di pecat nya tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan di manapun di negeri ini. Tentu Kimmy tidak punya pilihan lain karena dia benar-benar tidak tahu apapun saat keluar dari desanya.


Saat Kimmy akan melangkah lagi, tiba-tiba Milo menghentikannya.


"Cukup."


"Ada apa tuan. Berapa persen lagi yang anda inginkan di kopi anda?" Suara Kimmy benar-benar halus lantaran dadanya sudah gemetar menahan kesal. 


"Makanlah dulu, ini sudah masuk jam makan siang."


Kimmy dengan langkah gontai nya menuju sofa yang memang sudah tersaji beberapa hidangan yang masih hangat.


Namun di tengah makannya, Kimmy menyipit lantaran Ben sedang memperhatikannya dari jaraknya. 


"Kau menungguku makan Ben? Mengapa tidak makan bersama?" 


"Saya disini hanya memastikan anda makan dan minum obat dengan baik nona."


"Obat?"


Matanya mencari di antara makanan di atas meja itu. Benar saja di samping gelas minumannya memang sudah tersedia piring kecil yang berisi obat-obatan Kimmy. Mata Kimmy beralih melihat ke meja CEO dimana Milo juga meliriknya sesekali. Jika begini, mau tidak mau dia harus meminumnya. 


"Tuan, anda benar-benar akan menjadikan nona Kimmy asisten pribadi?" Tanya Ben setelah Kimmy memasuki kamar pribadi itu untuk istirahat.


"Ya, untuk sementara biarkan dia menjadi asisten pribadi ku sebagai hukuman."


Ya, ini adalah hukuman untuk Kimmy karena telah membuatnya kesal tadi malam.


Setelah makan malam, Milo menyusul Kimmy ke kamarnya karena ingin memberitahu jika besok Kimmy akan di jadikan anak magang olehnya. Namun Milo yang hendak membuka suaranya pun seketika menyipitkan matanya saat melihat Kimmy yang sedang menatap malas tempat tidurnya yang telah tersedia obat dan piyamanya. 


"Ck, aku benar-benar seperti anak kecil." Ucapnya dengan mengambil piyama dan obatnya ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Bukan Kimmy yang menjadi perhatiannya, melainkan barang yang Kimmy bawa ke kamar mandi. 


Jika Kimmy membawa piyama ke kamar mandi, itu artinya dia akan memakainya di kamar mandi. Lalu obat? Untuk apa dia membawa obat ke kamar mandi? Tidak mungkin kan dia akan meminumnya di kamar mandi sedangkan gelas airnya saja masih ada di atas nampan.


Beberapa saat kemudian, Kimmy yang keluar dari kamar mandi dengan setelan piyama itu seketika membeku saat sebuah suara dingin nan tajam itu bergema di telinganya.


"Kau apakan obatnya."


Kimmy hanya menelan salivanya kasar ketika menoleh ke sumber suara. 


Kini, di sofa kamar itu sorot mata Milo benar-benar menunjukkan kekesalannya terhadap Kimmy setelah mendengar pengakuannya. Kimmy mengaku jika dia membuang obatnya ke closet karena sudah benar-benar bosan dengan semua obat-obatan dan perawatannya yang seperti sedang sakit keras itu.


Sedangkan gadis di depannya itu hanya bisa menunduk takut karena sorot mata elang yang seperti ingin merobek kulitnya. 


"Asal kau tahu, aku membeli obat-obatan itu dengan pengawasan Ben dan sudah melalui seleksi beberapa dokter terkemuka di negri ini hanya untukmu. Dan kau malah membuangnya ke closet hanya karena alasan bosan? Katakan, bagaimana aku harus bersikap padamu setelah ini."


"Katakan!" Bentak Milo.


Kimmy terperanjat kaget dengan bentakan Milo sehingga dia menjawab dengan suara terbata-bata dan sedikit belepotan.


"M-maaf tuan, saya minta maaf. Saya hanya merasa sudah sehat dan tidak mau meminumnya lagi, itu obat itu membuatku tidur terus, badan ku terasa kaku dan pegal-pegal karena tidur banyak."


Mendengarnya, kekesalan Milo pun mendadak reda. Sudah sehat, ya Kimmy merasa sudah sehat, tapi Milo tidak akan memberi tahunya karena tidak ingin Kimmy kepikiran dengan sakit kepala yang di deritanya itu.


"Jadi kau membuang obat karena pegal-pegal?"


"Apa.. tidak seperti itu."


"Kau bilang badan mu pegal-pegal karena banyak tidur."


"Iya, tapi alasan membuang obat kan karena aku sudah sehat." Gumam Kimmy yang masih di dengar Milo.


"Baiklah, untuk mengurangi rasa pegal mu aku akan memberikan pekerjaan untukmu besok."


"Benarkah?"


Mata Kimmy jadi hijau saat mendengar kata pekerjaan. Matanya benar-benar berbinar seperti menemukan harta karun yang padahal pekerjaan adalah suatu hal yang melelahkan bagi yang sudah mengenal dunia itu. 


Gadis ini benar-benar baru keluar dari hutan. 


"Jika kau sudah bekerja, apa kau akan meminum obat mu dengan rutin?"


"Ya, tentu." Ucap Kimmy tersenyum yang dalam hatinya berkata, aku akan meminumnya jika aku mau.


Tentunya isi senyuman itu dapat di tangkap oleh Milo karena Milo adalah pengamat yang cerdas. 

__ADS_1


***


__ADS_2