
Bab 29
*Flashback on
Kimmy telah berada di lapangan dimana sudah ada belasan orang yang sedang memanah.
Keberadaan Kimmy membuat Kristal terkejut. "Kimmy. Apa yang dia lakukan disini?" Kristal melihat alat yang di bawa oleh Kimmy. "Gawat, apa dia sudah mengingatnya?" Tanpa pikir panjang Kristal pun bergegas keluar dari lapangan itu agar tidak di ketahui Kimmy. Namun Kimmy melihat sosoknya sekilas dari belakang.
"Itu seperti Kristal."
Kimmy pun mengikutinya berharap itu adalah Kristal. Akan sangat baik jika mereka bertemu di lapangan itu.
Namun ketika sudah berada di aula utama, Kristal malah berlari keluar untuk kabur.
Kimmy pun ikut berlari mengejarnya. Namun Kimmy malah teralihkan oleh suara keributan atas penyerangan musuh Milo.
Suara tembakan beruntun membuat yang mendengarnya seakan menahan nafas. Kimmy segera bersembunyi di balik pohon besar yang lebarnya dua kali tubuhnya guna menyelamatkan diri.
Setelah situasi mulai hening, Kimmy yang merasa sudah aman pun melihat situasi di sekitarnya.
"Oh jadi ini penyerangan tuan Milo. Pantas saja suasananya seperti sedang perang."
Kimmy terus melihat keadaan. Dia ingin tahu seberapa banyak musuh Milo yang menyerangnya hari ini.
Namun netra nya menangkap gelagat aneh dari balik sebuah patung yang berukuran sebesar manusia itu.
"Hah pistol?" Kimmy melihat Milo yang berjalan perlahan ke sebuah gerai.
"Aahh, jadi maksudnya seperti itu."
Kimmy pun mengambil satu buah anak panah dan siap untuk menolong Milo.
Ah dia jadi bernostalgia akan pertemuan pertama nya dengan Milo di hutan. Bedanya, saat itu dia menggunakan ketapel, sedangkan sekarang dia menggunakan busur dan panah.
Semenjak dia dihutan, dia belum pernah menggunakan panah. Bahkan dia belum pernah melihatnya hingga sekarang. Namun entah mengapa saat melihat benda tersebut dia seperti merindukannya.
Dan benar saja saat dia hendak menggunakannya, dia tidak kesulitan sama sekali seperti seorang pemanah handal.
Disaat Kimmy menarik busur, ingatannya perlahan memasuki kepalanya sedikit demi sedikit.
Namun dia pun berusaha fokus untuk melepaskan anak panah tersebut agar tepat sasaran.
Kepalanya sakit dan semakin sakit. Semakin banyak ingatan, semakin sakit.
Sang anak panah di lepaskan. Ingatan yang semakin bertambah cepat memasuki kepalanya membuat matanya berkunang-kunang hingga tubuhnya seketika tumbang tak sadarkan diri.
__ADS_1
*Flashback off
"Jadi karena memanah ingatan mu kembali?"
Kimmy mengangguk. "Panah itu seperti separuh hidupku. Aku hampir mengikuti olimpiade dan menjadi atlet jika saja kejadian buruk itu tidak menimpa ku." Suara Kimmy melemah di akhir kalimat. Lew merasa iba terhadapnya. Dia pun mengusap kepala gadis yang sedang tertunduk sedih mengingat kejadian buruknya.
"Sudahi kesedihan mu, hidup mu masih panjang. Masih banyak jalan untuk melangkah ke depan untuk bahagia."
Pagi hari yang cerah secerah senyuman Kristal.
Pagi ini adalah pagi pertamanya dia ada di mansion Milo. Tentunya dia akan sarapan bersama pria idamannya itu.
"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Milo yang sudah ada di meja makan.
"Sudah lebih baik."
"Masih mimpi buruk?"
"Sekali." Kristal yang merasa tidak enak akan traumanya di hadapan Milo, lebih tepatnya takut terbongkar.
Sarapan pun di mulai dengan sangat sunyi. Kristal hanya melirik Milo sesekali lantaran perasaan canggung yang masih menyelimutinya.
Namun setelah sarapan, Milo yang hendak berangkat bekerja pun mengucapkan sebuah kalimat yang ingin sekali didengarnya satu bulan silam.
"Besok, mulailah untuk membuatku jatuh cinta."
Dia pun melangkah ke kamarnya dengan bersenandung, melompat kecil, dan sesekali memutar tubuhnya mengembangkan rok selutut yang ia pakai. Setelah di dalam kamar pun dia berguling-guling, dan memeluk benda benda yang dapat di jangkau nya.
Sungguh pagi hari yang bahagia.
Lain halnya dengan ibunya yang pagi ini sedang merasakan takut sekaligus sakitnya dalam menerima siksaan kecil dari seorang pria bertopeng kayu yang datang entah dari mana dan bagaimana caranya dia masuk ke ruangan khusus Sivia di butik.
Plak, plak.
Sivia memegang kedua pipinya yang terasa panas akibat tamparan pria bertopeng itu. Bahkan sudut bibirnya terlihat sobek. Ini adalah tamparan ketiga kalinya karena Sivia masih bisa terlihat sok kuat di wajahnya.
"Tuan, apa salah saya." Lirih Sivia.
Pria itu menyeringai dibalik topengnya. "Hngg, Kemana wajah sok kuat tadi."
"Ma-maaf."
"Bisakah kau becus sedikit saja mengurus putrimu."
'Putriku? Apa yang terjadi? Tuhan, tolong selamatkan dia.' Batin Sivia yang mulai ketakutan.
__ADS_1
"Suruh putri bodoh mu itu datang kesini."
"Tapi, tapi untuk apa." Sivia sudah sangat takut jika putrinya akan di apa apakan oleh pria bertopeng itu.
"Berani membantah? Apa kau ingin merasakan ikat pinggang ku lagi?" Geram pria bertopeng.
"Tidak, kumohon jangan membuat luka itu lagi. Suamiku akan curiga. Bahkan, bahkan Milo juga."
"Oh, jadi kau menyebut nama badjingan kecil itu agar bisa selamat dari ikat pinggang ku ya.."
Dug.
Sivia terpental ke belakang dengan batuk darah ketika ulu hatinya di tendang oleh pria bertopeng itu.
Uhuk.
"Karena kecerobohan putri bodoh mu itu membuat ingatan Kimberly kembali."
A-APA.. ingatan Kimberly kembali? Seketika tubuh Sivia lemas mendengarnya. Ditambah ulu hatinya yang terasa sangat sakit membuatnya ingin pingsan segera di tempat itu jika tidak ingat Kristal.
"Putrimu telah ceroboh bermain panah di komplek olahraga, tempat yang sama dimana nona Kimberly ada di sana sehingga menarik perhatian nona Kimberly untuk bermain panah juga. Singkat cerita, nona Kimberly mendapatkan ingatan nya kembali ketika melepaskan anak panah dari busurnya itu."
Sivia semakin tak berdaya mendengar cerita dari bawahan pria bertopeng. Bisa di benarkan memang Kristal sangat ceroboh dalam hal ini.
Sivia yang sudah tak berdaya di lantai pun berusaha memutar otak agar putrinya itu bisa selamat dari pria bertopeng itu.
"Pasti ada alasan. Ya, Kristal bermain panah di sana karena ada alasan. Bahkan dia belum tentu bisa memegang panah karena baru sembuh dari traumanya."
Sebenarnya pria bertopeng itu bukan tipe orang yang suka berbelit dalam pembicaraan. Namun karena kepolosan dan kebodohannya, dia merasa harus memanfaatkan Kristal terlebih Kristal adalah kakak dari Kimberly.
"Jika begitu suruh putri mu untuk kemari. Aku ingin tahu apakah alasannya bisa diterima atau tidak."
"B-baik."
Hah, Sivia sedikit lega mendengarnya. Setidaknya masih ada harapan sedikit untuk Kristal selamat dari pria bertopeng.
Dengan tangan sedikit gemetar, Sivia menelpon Kristal.
"Halo sayang, ibu ingin kau kesini sekarang juga. Tidak, ibu tidak apa-apa, hanya merasa kurang nyaman saja. Ibu merindukanmu. Ya, hati hati. Tut Tut."
Setelah menunggu hampir satu jam, Kristal sampai di butik ibunya. Tentunya Sivia telah berdandan dan membersihkan ruangan untuk menutupi semuanya seperti tidak terjadi apapun.
Sivia langsung saja ke intinya bicara dengan Kristal mengenai masalah ini.
"Sayang kenapa kamu malah bermain panah di tempat yang sama dengan Kimby?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin tidak menunda waktu lebih lama lagi untuk bisa memanah. Jika lebih lama lagi maka Milo akan bosan menunggunya."
"Apa kau tidak sadar jika itu menarik perhatian Kimby?"