MILLION% Mafia Dan Gadis Panah

MILLION% Mafia Dan Gadis Panah
bab 19


__ADS_3

Bab 19


Di tempat lain pun Milo sedang merayakan pesta ulang tahun istri dari sekretaris Edwin. Namun Milo datang saat pesta telah usai, disaat orang orang telah pergi dari pesta tersebut tapi bukan berarti Milo tidak berpesta. 


Tentu saja sang tuan rumah akan berpesta kembali bersama Milo. Pesta dengan suasana yang sangat formal, yang berada di ruangan khusus kedap suara.


Ini memang sudah menjadi tradisi dari Milo sendiri yang hanya akan menemui tuan rumah secara pribadi dan private.


Setelah beberapa saat menikmati pesta private, Ben pamit setelah istri sekretaris Edwin yang keluar dari ruangan tersebut dengan alasan kesehatan.


Tak lama setelah pintu ditutup oleh Ben, meja di ruangan itu berguncang lantaran Milo tiba-tiba bergerak dari tempat duduknya kearah Edwin.


"Badjingan. Siapa yang menyuruhmu."  Tangan Milo mencengkram kuat leher sekretarisnya. Entah apa yang terjadi, Milo tiba-tiba merasakan pusing tak lama setelah bersulang dengan sekretarisnya. 


Lehernya terasa akan patah, Edwin yang mendapat cekikan kuat seperti itu hanya bisa pasrah tanpa memberontak sedikit pun. Itu membuat Milo kesal dan langsung melepaskan Edwin dengan membantingnya ke lantai. 


Terlihat Edwin berusaha menghirup oksigen sebisa mungkin di tengah rasa sakitnya. 


Milo berusaha memfokuskan pandangannya yang mulai kabur bersamaan pusing yang terus menyerangnya. Bahkan sekarang nafasnya pun mulai terengah-engah mulai mencari oksigen. Dia hendak berjalan secepat mungkin keluar dari ruangan tersebut. Namun langkahnya terhenti saat melihat seorang wanita yang entah sejak kapan dia ada di ruangan tersebut.


Milo yang langsung bergerak akan melumpuhkan wanita tersebut seketika membeku saat sebuah kata terucap dari mulut wanita tersebut.


"Nak."


Kedip/wajah ibunya, kedip/wanita cantik, kedip/wajah ibunya.


Pupil matanya melebar seketika saat wajah ibunya yang terlihat.


"I-ibu.." Lirih Milo. Perlahan dia melepas cengkraman tangannya dari tubuh sang wanita.


Wanita tersebut tersenyum akan reaksi Milo. Jemari lentiknya menyentuh wajah tampan yang ada di depan matanya.


"Kau semakin tampan dan gagah." Suara yang setengah berbisik.


Milo mengambil tangan lembut itu menggenggamnya erat. Bola matanya yang berkaca-kaca tidak lepas dari wajah sang ibu yang di lihat nya.  "Ibu kemana saja? Tidakkah ibu merindukan putra mu yang sangat khawatir ini?" Ucap nya dengan suara parau.


'Astaga, suara parau nya saja terdengar seksi.' Batin sang wanita.


"Maaf membuat putra ibu khawatir."


Wanita tersebut memeluk; mencoba memberikan kehangatan untuk Milo. Dengan tangan yang gemetar, Milo pun membalas pelukan itu dengan erat seakan tak ingin dilepaskan. Entah kenapa tubuhnya berangsur lemas saat ini.


Menghirup aroma tubuh yang perkasa, wanita itu menggigit bibir bawahnya dan menelan ludah berkali-kali. 


'Jika bukan karena misi, mungkin sekarang aku sedang merasakan kegagahan pria ini. Ah, otot-otot ini membuat rahim ku basah.' Batinnya dengan mata terpejam. 


Wanita mana yang tidak menggilai seorang Milo. Selain kekuasaan dan kekayaannya, aura dan tubuhnya yang kuat nan gagah pun sungguh menggoda iman para wanita.

__ADS_1


Tidak ingin lepas kendali, wanita itu pun segera melangsungkan aksinya. Dia mengeluarkan sebuah jarum suntik dari lengan jaketnya. 


Gerakan wanita itu sangat halus sehingga Milo tidak menyadari jika jarum suntik itu telah menusuk leher belakangnya.


"Kau.." Ucap Milo tertahan kala jarum suntik itu terus menekan lehernya sampai cairan didalamnya habis.


Tubuhnya berangsur melorot seiring rasa sakit yang dirasakannya secara perlahan.


Namun dengan kesadaran yang minim, Milo berhasil menarik rambut wanita itu bersamaan dengan sebuah tendangan keras yang menghantam pintu ruangan tersebut.


Brak!!


Pelakunya adalah Ben dengan pistol di tangannya.


Terlihat Ben cukup berantakan dengan beberapa memar di wajahnya setelah benar-benar di sulitkan oleh para penyusup di rumah Edwin.


Melihat itu, sang wanita berusaha melepaskan cengkraman tangan Milo di rambutnya dengan memukuli tubuhnya sebisa mungkin. Namun wanita itu malah memekik memaki Ben yang terus menembaki kakinya dengan langkah cepat menujunya.


"Aaarrghh, berhenti asisten ssialan."


Dor.


Dor.


"BERHENTIII!!"


Di perusahaan, dua gadis cantik tengah berjalan bergandengan untuk makan siang. Sampai di pintu masuk utama, tiba-tiba Kristal memegang perutnya. 


"Aduh…" Kimmy berhenti melihat Kristal. "Sakit perut. Kau pergilah duluan. Daahh"


"Dasar.." gumam Kimmy yang melihat Kristal berlari kecil. Dia pun melanjutkan langkahnya menuju restoran yang dia tuju. Restoran yang ada di sebrang perusahaan yang menjadi langganannya.


Namun baru beberapa langkah, dirinya berpapasan dengan seorang pria yang dikenalnya saat ulang tahun Kristal tempo hari.


"Kimmy..? Sendirian?"


"Ehh. Aku bersama Kristal, tapi dia sedang ke toilet. Kak Roma sedang ada janji disini?" 


Roma tersenyum tipis. Dia tersenyum karena sangat senang akan bisa bertemu Kimmy setiap hari.  


"Oh tidak. Aku disini karena sedang bekerja di perusahaan ini."


"Benarkah?" Kimmy sedikit terkejut karena seingatnya dia tidak pernah melihat Roma di perusahaan ini. 


"Hmm" Roma mengangguk.


"Sejak kapan?"

__ADS_1


"Hari ini."


"Pantas saja aku baru melihatmu. Lalu Kak Roma bekerja di bidang apa?"


"Di bagian divisi pemasaran."


"Wah,, satu kelompok bersama Kristal dong."


Roma hanya tersenyum dan segera mengajak Kimmy untuk ke restoran lantaran teriknya matahari.


"Cuaca sangat panas, ayo kita ke restoran dulu."


Saat Kimmy dan Roma sedang menyebrang, Kristal keluar dari persembunyiannya dengan tersenyum yang kemudian segera menyusul keduanya.


Di dalam restoran.


Kristal yang baru datang pun pura-pura bertanya dengan melihat wajah keduanya bergantian.


"Kalian kapan ketemu?" 


"Kemarin." Jawab Roma dengan nada sedikit kesal.  "Keterlaluan kamu, adik sendiri di tinggal di parkiran. Mana cuaca panas banget lagi."


"Hehe, maaf. Panggilan alam." 


"Kenapa tidak bilang kalau kak Roma sudah bekerja di perusahaan." Tanya Kimmy menatap Kristal.


"Biar jadi kejutan." Kristal masih nyengir.


"Biasa aja sih." Kimmy pura-pura ngambek.


"Yeee pura-pura ngambek. Ketemu orangnya mah gak kejutan, tapi makan siangnya yang kejutan." 


Kimmy masih menunggu kelanjutan dari Kristal. 


"Karena makan siang ini akan ditraktir Roma sebagai perayaannya menjadi karyawan."


Roma pun terbatuk saat meminum air mineral.  "Heiii aku ini belum satu hari bekerja, dan kalian sudah memalak ku?"


"Bukan aku, tapi Kristal." Ucap Kimmy dengan enteng. Sedangkan Kristal hanya memamerkan gigi nya.  


"Kami tidak akan bersikap baik padamu jika tidak mentraktir kami. Ingat, temanmu hanya kami berdua disini." Ancaman Kristal.


Roma hanya berdecak dengan wajah cemberutnya. Dia pun mengangguk.


"Baiklah aku tidak akan sungkan." Ucap Kristal menyeringai.


"Aku juga." Tambah Kimmy yang di lanjut dengan cekikikan dari keduanya.

__ADS_1


Mulai hari itu, mereka bertiga selalu makan siang bersama setiap hari saat jam istirahat. Bahkan perlahan Roma menjadi anggota ketiga yang akan selalu mengekor kemanapun dua gadis itu pergi atas ide Kristal. Dan tentunya sesekali juga Kristal akan membuat alasan agar Kimmy hanya ditemani Roma.


__ADS_2