MILLION% Mafia Dan Gadis Panah

MILLION% Mafia Dan Gadis Panah
makan siang


__ADS_3

Bab 23


Ya, tentu Milo sudah tahu identitas Roma sedari hari pertama bekerja. Dan Roma tidak kaget jika Milo mengetahui identitas nya.


Oleh sebab itu Milo membiarkan Roma dekat dengan dua gadis yang ada dalam genggamannya tersebut. 


 


Meskipun demikian, Milo masih harus waspada dengan siapapun karena kita tidak tahu isi kepala setiap orang.


"Kau tidak menjawabku?"


"Y-ya tuan."


"Aku tak yakin jika tujuanmu masuk ke perusahaan ku adalah untuk belajar semata."


Alis Roma saling bertautan. Benar, tujuan lainnya adalah untuk mendekati Kimmy. Namun, apakah itu harus dijawab? Pikirnya.


"Katakan padaku! Kau tahu kan konsekuensi apa yang akan dihadapi oleh Emilio."


Ya, Roma sangat tahu konsekuensinya. Konsekuensi yang tidak hanya diterima oleh dirinya sendiri, tapi semua orang yang memakai marga Emilio yang tidak bersalah sekalipun.


"Jawab!" Suara Milo datar. Namun tegas.


"Tidak ada tuan, saya hanya sedikit tertarik dengan seorang gadis."


"Apa itu sebuah Jawaban?"


"Anda bisa melakukan apa saja jika saya berbohong."


"Melakukan apa saja yaaa..tuk,tuk."  Milo mengetuk meja dengan telunjuknya.


Setelah diam beberapa saat, Milo pun melirik Kimmy yang sedari tadi menyimak.


"Ingin belajar menembak?"


Dalam sekejap mata suasana berubah menjadi mencekam ketika Milo mengeluarkan sebuah pistol dari balik jasnya. 


Kimmy sangat syok melihat pistol tersebut yang malah di letakkan di tangannya dan diposisikan dalam genggamannya. 


Dan tak tanggung-tanggung, Milo langsung mengarahkan pistol tersebut ke kepala Roma sehingga baik wajah pria itu dan Kimmy langsung pucat di buatnya. 


Kimmy mencoba menarik tangannya dari genggaman Milo tapi genggaman itu sangat kuat. Kimmy benar-benar takut akan situasi ini. Apa dia harus benar-benar di paksa menembak orang? 


"Tuan apa yang kau lakukan, lepaskan tanganku dan pistol ini. Aku mohon." Saking takutnya Kimmy seakan tidak bisa menangis rasanya. Tenggorokannya terasa sakit tercekik.


Sedangkan pria yang diacungkan pistol tersebut hanya bisa mematung pasrah dengan keringat yang bercucuran dan wajah pucatnya. 


Ingin lari meminta pertolongan pun percuma. Keluarganya yang kaya raya pun tidak bisa menolong nya. Yang ada mereka semua akan bernasib sama dengan nya. 


"Aku akan nenghitung mundur, dan kau harus menarik pelatuk nya." Bisik Milo di telinga Kimmy yang membuat merinding sekujur tubuh Kimmy.


Setelah berbisik Milo pun melihat kembali menikmati wajah pucat Roma dengan menghitung mundur.


Tiga

__ADS_1


Dua


Kimmy dan Roma menutup matanya saat Milo menarik pelatuk pistol tersebut.


Satu


_Klek.


Hening. 


Dua orang yang menutup matanya terlihat seperti lupa bernafas. Sampai terdengar suara pistol di letakkan di atas meja, mereka membuka mata dengan menghirup rakus oksigen. 


Tak. 


Hos, hos.


Milo menyeringai tipis melihatnya. 


"Maaf aku lupa tidak mengisi pelurunya."


Milo pun langsung menarik Kimmy keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Roma yang nyawa nya belum terkumpul setelah dihantam syok yang tiba-tiba.


Kimmy di bawa masuk ke sebuah mobil oleh Ben. Mobil itu langsung melaju setelah pintu tertutup. Kesadarannya masih belum sepenuhnya normal atas apa yang terjadi barusan. 


Setelah menempuh perjalanan 30 menit, seorang supir wanita menuntun Kimmy untuk masuk ke sebuah tempat para wanita mempercantik diri. 


"Salon kecantikan? Untuk apa?"


Tanpa sepatah katapun supir wanita itu langsung membawa masuk Kimmy yang telah di tunggu didalam sana.


Rasa syok nya sepertinya belum hilang juga meskipun sudah 2 jam lamanya Roma meringkuk seperti itu. 


"Sudah, dia memang menakutkan, tapi dia hanya menakuti mu saja."


"Diam Kristal!."


"Baiklah, baiklah. Lebih baik kau makan siang dulu, karena untuk mengejar Kimmy butuh tenaga bukan."


"Tidak mau."


Kristal pun merasa kehabisan tenaga membujuk Roma. Dia beralih memegang sumpit untuk memulai makan. "Jika tidak mau ya sudah, aku akan menghabiskannya dan aku akan pergi ke alun alun sendiri." 


Sontak saja Roma langsung bangkit dan duduk di bersebelahan dengan Kristal untuk makan. 


Roma memang tidak mau ditinggal pergi pergian oleh teman-temannya, karena baginya dia harus menikmati waktu sebanyak banyaknya selagi masih muda, karena setelah dia sudah sah jadi pewaris dia pasti akan sangat sibuk memegang perusahaan keluarganya.


Di sisi lain, mobil yang membawa Kimmy telah sampai di mansion. Kimmy pun  langsung dibawa masuk ke sebuah ruangan oleh supir wanita.


Saat pintu terbuka, netra nya begitu disuguhkan dekorasi ruangan yang indah yang serasi dengan warna gaunnya. Dia benar benar seperti putri dari negeri dongeng.


Suara piano mengiringi langkah Kimmy sampai pada sebuah meja makan dimana sudah ada Milo menunggunya.


"Kimmy, duduklah. Sudah lama kita tidak makan siang bersama bukan."


Rahang Kimmy seakan ingin jatuh mendengarnya. "Jadi aku di paksa ke salon dan berdandan hanya untuk makan siang?"

__ADS_1


Milo hanya diam dengan wajah dinginnya dan mengajak Kimmy bersulang.


Kimmy mau tidak mau pun bersulang kemudian dia memakan makanannya dengan sedikit kasar.


"Apa kau masih syok sehingga tidak ikhlas makan siang bersama ku?"


"Anda pikir ada orang yang tidak syok saat di paksa menembak orang." Nada Kimmy masih terdengar kesal. 


"Aku hanya bercanda." Jawab Milo dengan enteng tak berdosa.


Gila.


Yang seperti itu dia bilang bercanda?


Jika saja dia lupa pistol itu masih ada satu peluru, maka suara pistol itu akan terdengar "dor" bukan "klek" seperti tadi.


"Itu disebut bercanda karena anda lupa mengisi pelurunya bukan?"


Milo tersenyum tipis mendengarnya.


Bukan lupa mengisi peluru, melainkan Milo sengaja mengambil pistol yang kehabisan peluru untuk memberi peringatan kepada Roma agar suatu saat Roma tidak berani memanfaatkan Kimmy karena Kimmy adalah salah satu aset perusahaannya. Atau mungkin, mengincar hati Kimmy. Awas saja.


Sore hari.


Ketiga anak muda itu sudah ada di alun alun kota. Di sana ada sebuah bazar yang diselenggarakan oleh panti asuhan SS.


Kimmy dan Roma sedang bermain basket bersama anak anak sekitar. Sedangkan Kristal menjadi penonton yang menyemangati keduanya. 


Di sudut lain, Leuwi Charlie yang merupakan donatur terbesar di panti asuhan SS baru saja tiba sebagai tamu kehormatan. Dia hanya ingin mengapresiasi kegiatan bazar tersebut.


Tiba-tiba, Leuwi dikagetkan oleh sebuah bola basket yang mengenai tubuhnya. Dia pun segera menangkap bola itu dengan tangan kokohnya.


Hap.


Tak lama seorang gadis berlari menujunya untuk mengambil bola di genggam Leuwi. 


"Maaf, maaf, aku tidak sengaja." Teriak Kimmy ketika berlari.


Deg.


Jantung Leuwi berdetak kencang saat melihat gadis itu. 


Perlahan bola matanya berkaca-kaca terharu akan pertemuan tak terduga ini. 


Semakin Kimmy mendekat semakin tak berkedip rasanya. 


Greepp. Kimmy mengambil bola itu langsung setelah sampai.


"Tuan, sakit tidak? Maaf ya aku tidak sengaja."


Mata Leuwi berkedip-kedip seakan tak percaya rasanya. Gadis itu memanggilnya tuan? Apa gadis ini sudah lupa padanya, atau mungkin karena ini sedang berada ditempat umum? 'Ah lebih baik aku bersikap seperti Kimmy bersikap terlebih dahulu di tempat ini.' Batinnya.


"Tidak, tidak sakit kok. Kembali lah bermain." 


"Syukurlah. Kalau begitu aku kembali kesana. Permisi." Kimmy langsung kembali ke lapangan. 

__ADS_1


Leuwi pun di sambut oleh para pengurus panti dan kemudian sedikit berbincang di tempat yang agak jauh dari keramaian. 


__ADS_2