MILLION% Mafia Dan Gadis Panah

MILLION% Mafia Dan Gadis Panah
bab 28


__ADS_3

Bab 28


Syuutt..


Milo seakan menahan nafas dengan bola mata yang tidak ingin berkedip di buatnya. 


Deg.. Deg…


Kejadian ini.. seperti 11 tahun yang lalu.


GRRRRR


Anjing liar mengeram dengan air liur yang menetes melihat Milo di depannya bak daging lezat. Mata buas nya telah mengunci target dengan ancang-ancang untuk menerkamnya. 


Tanpa ampun anjing itu melompat ke tubuh Milo dengan gigi yang sedang mengoyak ngoyak mangsanya.


Milo menahan sekuat tenaga kepala anjing itu meskipun tubuhnya terus terkena cakarnya. 


Syuutt..


Jlebb. 


Anjing itu melolong kesakitan. 


'Dia.. apakah gadis itu ada disini?' Batinnya yang segera tersadar akan situasi.


Milo menoleh ke belakangnya dimana anak panah itu telah menancap di lengan seorang pria yang tengah bersembunyi tak jauh di belakangnya dengan sebuah pistol yang tergeletak di bawahnya.


Dor. Dor.


Milo langsung menembaki tanpa ampun orang tersebut. 


Tembakan itu mengundang perhatian Ben. Namun dia masih harus membereskan bom yang sebentar lagi selesai. 


Milo memutar tubuhnya ke sumber anak panah tadi, mencari sang gadis penyelamatnya. 


Netra nya melihat sosok seorang gadis yang dia kenal yang sedang menggenggam erat sebuah busur. Tubuhnya sedikit bergetar dengan wajah yang pucat.


Kristal. Gumam Milo dalam hati dan langsung mendekatinya dengan raut yang sulit di artikan.


Kristal merasa kakinya semakin tak bertenaga. Dia pun perlahan luruh ke tanah dan jatuh pingsan. Namun Milo mengulurkan tangannya menahan tubuh Kristal.


Tanpa aba-aba, Milo membawa tubuh Kristal kedalam gendongannya.


Didalam mobil.


Milo terus memandangi wajah Kristal yang ada di pangkuannya.


Jika gadis ini tahu dan melihat bahwa kepalanya ada di pangkuan Milo yang terus memandanginya, Kristal pasti merasa senang tak terkira.


Sedangkan di dalam mata yang tertutup itu, Kristal tersenyum bahagia ketika dirinya sedang berkencan dengan Milo.


Namun tiba-tiba sebuah panah melesat tepat beberapa inci dari samping wajahnya. 


Seketika tubuhnya menegang dan mulai menangis ketakutan. 


Hiks, hiks.


"Kristal, Kristal bangun." Milo mencoba membangun gadis yang sedang tertidur di pangkuannya itu dengan menepuk-nepuk pipinya.


Hos.. hos.. 


Kristal terbangun dengan keringat yang bercucuran. 


"Kau bermimpi?"

__ADS_1


"Panah. Hos.. Panah itu."


"Sudah, jangan takut. Aku ada di sini." Ucap Milo yang memeluk Kristal untuk menenangkannya.


Setelah beberapa saat tangisannya telah reda dan dia mulai tersadar jika dia sedang ada di tubuh seseorang. Kristal pun melihat wajah orang yang mendekapnya, dan seketika matanya melotot tak percaya.


Tunggu, aku ada di pelukan Milo? Apa ini mimpi? /Kedip kedip./ Baiklah jika ini mimpi aku akan tidur lebih lama lagi. Batin Kristal yang menutup matanya kembali untuk menikmati momen itu. 


Baru beberapa menit dia menutup mata tiba-tiba Milo membangunkannya 


"Kristal, kita sudah sampai."


Kristal pun membuka matanya sedikit terkejut. Dan dia lebih terkejut lagi ketika melihat pemandangan didepannya yang merupakan bangunan megah nan mewah.


"Ayo masuk." Ucap Milo. Namun Kristal hanya diam mematung karena takjub akan bangunan di depan matanya itu.


Milo pun mengambil tangan Kristal dan membawanya masuk kedalam mansion.


Sepanjang langkahnya Kristal tersihir oleh interior bangunan itu hingga tak sadar Milo telah membawanya ke sebuah kamar.


"Nah, ini kamarmu. Jika butuh sesuatu gunakan telpon itu untuk memanggil pelayan." 


Kristal masih dalam mode takjub dan sedikit bingung mendengar kalimat terakhir Milo.


Tak ingin berlama-lama melihat Kristal yang seperti itu, sang pemilik mansion dan asistennya itu segera pergi dari kamar Kristal. Namun gadis itu malah memanggilnya kembali.


"Tunggu Milo."


"Apa maksudnya ini. Aku ada di mana?"


"Kamu ada di mansion ku. Istirahatlah dulu. Nanti ada yang mengantarkan makan siang untuk mu."


Setelah pintu tertutup, Kristal melihat sekeliling kamarnya dengan perasaan haru dan berbunga. 


Dia pun menyentuh kasur dan berguling-guling di sana. Saking senangnya dia menghirup oksigen sebanyak mungkin seakan oksigen terakhirnya. 


 


Di ruangan lain.


"Tuan, bukankah untuk sekarang anda sedang menjauhkan nona nona dari anda?"


Milo meneguk minumannya sekaligus.


"Kimmy belum di temukan, Kristal pun sedang trauma karena menolongku. Lebih baik aku mengurungnya disini sementara."


Ben pun mengerti dalam diamnya. 


Matahari sudah terbenam.


Di sebuah kamar, seorang gadis meringis ketika membuka matanya. Dia baru tersadar setelah beberapa jam pingsan.


"Kau sudah bangun."


'Suara itu,, seperti ku kenal.' Batin Kimmy yang masih mengerjab-ngerjabkan matanya sembari memegang kepalanya.


"Hei.. kau tidak apa-apa? Apa ada yang sakit?"


Kimmy pun perlahan melihat wajah pria yang sedari tadi bicara padanya.


Kedip, kedip.


Satu detik.


Dua detik.

__ADS_1


Seketika matanya berkaca-kaca ketika teringat wajah sang pria.


"Kak Lew.." 


Pria yang di panggil kak Lew itu terkejut seketika. "K-kau memanggil ku apa? Siapa namaku?"


"Kak Lew, Lewis Charlie."


Mata Lewis berkaca-kaca dan mengerjap. 


Lew pun langsung memeluk Kimmy dengan perasaan haru.


"Kau.., kau mengingatku?"


"Tentu saja ingat. Kau saja yang pergi meninggalkan ku. Hiks. Tahukah jika aku sangat menderita tanpamu." Ujar Kimmy langsung membalas pelukannya dengan sebuah kerinduan.


Mendengar itu, mata Lewis memancarkan amarah dalam pelukan Kimmy.


Beberapa saat kemudian, Lew melepaskan pelukannya saat pelayan membawakan makanan.


"Makanlah dulu. Setelah itu kau bisa ceritakan semuanya."


Lewis pun tersenyum melihat gadis yang di carinya itu makan dengan lahap dihadapannya. 


Setelahnya.


"Bibi tolong siapkan tenda dan keperluan lainnya. Aku ingin kemah di taman rumah ini." Ucap Kimmy kepada seorang pelayan yang hendak membawa nampan bekas makanannya. Namun Lew langsung memprotesnya.


"Hei, kau baru saja siuman dari pingsan mu, tidakkah besok saja kita berkemahnya?" 


"Kakak,, tidakkah kau ingat jika di pertemuan pertama kita juga langsung berkemah seperti ini." 


Benar, tapi waktu itu karena hari sudah malam dan juga saat itu Kimmy sedang terluka. Singkatnya, Lew menolong Kimmy yang sedang histeris di pinggiran hutan.


"Ayolah… aku ingin merasakan kemah secara sehat kali ini."


"Benarkah kau sehat?" Lew menyipit.


"Tentu saja." Tuing Tuing. Kimmy melompat di kasur empuk itu.


Lew menghela nafas dan memberi kode pada pelayan untuk menyiapkan yang diinginkan Kimmy.


Setelah beberapa saat, semua telah siap. Kimmy dan Lew berjalan menuju taman belakang dimana sudah ada tenda dan perlengkapan lainnya.


"Apa kakak menguntit ku sehingga kakak bisa tahu bahwa aku pingsan di tempat itu." Goda Kimmy.


Lew menoyor kepala Kimmy dengan telunjuknya.


"Kamu berharap aku menguntit mu?"


"Hehe. Siapa tahu kan. Kakak itu sukanya datang dan pergi seenaknya sih." Kimmy memasang wajah merajuk.


"Aku ini pergi ke luar negeri agar cepat menyelesaikan pekerjaan agar aku bisa fokus padamu setelahnya. Tapi setelah aku kembali, aku seperti orang bodoh mencarimu."


"Maaf, aku juga tidak tahu jika akan hilang ingatan seperti ini."


Lew mulai menyalahkan api unggun kecil yang cukup untuk menghangatkan tubuh mereka. 


Kini, Kimmy sedang membuat jagung bakar dengan Lew yang mengolesi bumbu. 


"Kimmy, aku ingin bertanya."


Hmm. Kimmy masih fokus dengan jagungnya. 


"Kenapa kau sampai pingsan di komplek olahraga? Apa kau sendirian di sana?"

__ADS_1


__ADS_2