
Bab 18
Kimmy pun menatap langit malam yang terlihat beberapa bintang yang sedang berkelip. Kemudian dia menutup matanya menikmati sepoi-sepoi angin laut dengan hati yang gundah.
'Mengapa hubungan ku dan ibu tidak seperti dia. Tuhan, bolehkah aku iri?'
Tiba-tiba, ada sebuah suara yang membuatnya membuka mata.
"Hai, boleh aku temani?"
Kimmy mengangguk.
"Sepertinya kau sedang sedih. Apa yang terjadi?"
"Tidak ada. Aku hanya rindu orang tuaku."
"Benarkah? Jika rindu mengapa tidak menelponnya?"
"Tidak bisa."
"Mengapa? Pulsamu habis? Kau boleh memakai ponselku." Dengan cepat pria itu mengambil ponsel di saku celananya.
Namun Kimmy hanya tersenyum melihat ponsel itu. "Bukan masalah pulsa, tapi masalahnya orangtuaku tidak mempunyai ponsel."
"What…? Ini tahun berapa masih ada yang tidak punya ponsel. Apa kau tidak bisa membelikannya? Katakan saja biar ku belikan."
"Terimakasih kak…? Ucap Kimmy menggantung saat ingin menyebutkan nama pria di hadapannya itu.
"Roma, namaku Roma."
"Ah ya, terimakasih atas perhatiannya kak Roma, tapi ponsel itu tidak akan berfungsi karena di sana tidak ada sinyal."
"Apa mereka tinggal di hutan?" Roma mengkerut keningnya.
"Ya, orang tuaku tinggal di desa di tengah hutan."
Roma gelagapan merasa bersalah atas ucapannya yang terbilang menyinggung.
"Ah maaf, aku tidak bermaksud…"
"Tidak apa. Kak Roma memang tidak mengerti sejak awal."
"Bukankah kamu adiknya Kristal?"
Kimmy tersenyum. "Bukan, Kristal sengaja memperkenalkan aku sebagai adiknya agar aku nyaman ada di sini."
"Lalu kau kerja apa di sini?"
"Aku kerja di Million Corp."
"Wow. Kau hebat sekali. Bisa kau ceritakan bagaimana rasanya menjadi bagian perusahaan itu? Kau tahu, aku ingin ingin sekali mendapat pengalaman di sana."
Baru saja Kimmy akan menjawab, tiba-tiba ada sebuah tangan terulur di depan wajah Kimmy.
"Adik, maukah kau menari denganku?"
__ADS_1
Kimmy melihat si pemilik tangan, kemudian melihat sekitarnya. Benar, susana telah berubah menjadi pesta menari entah sejak kapan.
Roma menepis tangan tersebut.
"Hei, apa apaan kau ini tiba-tiba mengajaknya menari. Dan, siapa yang kau panggil adik hah?" Ucap Roma dengan ketus. Dia mendadak kesal lantaran ada yang merebut Kimmy darinya.
Sedangkan pria yang bernama Antoni itu menjawab tak kalah ketus nya.
"Dia kan adiknya Kristal, sudah pasti dia adik kita semua. Dan, mengapa kau yang menolak ku hah?"
"Karena aku yang akan menari dengannya. Ayo Kimmy." Ucap Roma sembari menarik Kimmy ke tengah tengah pesta. Namun rupanya Antoni malah menahan lengan Kimmy yang satunya.
"Hei aku yang mengajaknya duluan."
"Kau tidak lihat aku yang bersamanya sejak tadi?" Roma tak ingin kalah.
"Ck, lepaskan!" Antoni.
"Kau yang lepaskan!" Roma.
Kedua pria itu menatap sengit satu sama lain.
"Sudah sudah. Aku tidak ingin menari dengan siapapun."
"Tidak bisa." Ucap Roma dan Antoni yang masih menatap sengit.
"CK, kompak sekali. Kenapa tidak kalian saja yang menjadi pasangan menari."
"Tidak sudi."
Kimmy menghela nafasnya. Kemudian dia menemukan sebuah ide.
"Bagaimana caranya?" Tanya Antoni berbinar.
"Bagaimana kalau kalian balapan lari?"
"Setuju."
"Bersedia, siap, mulai."
Kedua pria itu langsung berlari kencang. Namun baru beberapa meter berlari, mereka menurunkan ritme kecepatan berlari nya hingga seperti sedang berjalan cepat.
Pasalnya, mereka harus berlari dengan memegang sebuah gelas yang penuh dengan minuman. Siapa yang minumannya tidak berkurang melebihi garis, maka dia lah pemenangnya. Perlu diingat jika garis di gelas itu adalah tiga perempat nya jumlah minuman dalam gelas itu.
Roma dan Antoni telah tiba di garis finis, yakni di hadapan Kimmy. Namun sayangnya, jumlah minuman dalam gelas mereka melebihi garis bahkan berkurang sampai setengah gelas. Itu artinya tidak ada yang menang.
Sontak saja kedua pria itu tidak terima dan meminta tanding kembali.
Mau tak mau Kimmy pun memberikan sebuah tantangan kembali. Sekarang adalah saatnya lomba lari. Siapa yang bisa mengejar dan menarik lengan Kimmy lebih dulu, maka dia pemenangnya.
Kimmy berlari lebih dulu meninggalkan kedua pria yang sedang menunggu aba-aba darinya. Dia tertawa senang saat melihat wajah bodoh keduanya yang menunggu aba-aba darinya.
"Kimmy, tunggu aku." Antoni langsung melesat.
Roma pun tak kalah menambah kecepatan berlari nya agar segera mengalahkan Antoni.
__ADS_1
Namun rupanya kemampuan berlari Antoni tidak bisa di ragukan. Beberapa meter lagi dia akan meraih lengan Kimmy. Tidak ingin kalah darinya, Roma menambah kecepatan berlari nya seperti kesetanan dan,
Pletak.
AAAAWW…
"Hei apa kau gila?" Antoni memarahi Roma yang telah menjitak kepalanya dari belakang.
Roma hanya menyeringai dan langsung melanjutkan mengejar Kimmy yang terus berlari sembari tertawa. Tentunya Kimmy tahu apa yang terjadi di belakangnya karena dia sempat menengok kebelakang saat kejadian itu.
Tawa Kimmy begitu lepas membuat senyuman di bibir Kristal begitu merekah.
'Adik, tetaplah tertawa seperti ini. Kakak harap kedepannya ada pria yang bisa membuat mu tertawa dalam kebahagiaan. Asalkan itu bukan Milo.' Batin Kristal yang tidak melepaskan pandangannya dari adiknya.
Antoni yang tidak terima kepalanya di jitak pun bergegas berlari mengejar Roma. Ya, kali ini dia ingin mengejar Roma untuk membalaskan rasa nyut-nyutan di kepalanya. Rupanya jitakan Roma benar-benar sangat sakit kawan.
Antoni yang memang seorang atlet tentu langsung bisa menyusul Roma dan menjitak kepalanya.
Pletak.
"Hei, apa kau sedang balas dendam?" Teriak kemarahan Roma.
"Pikirmu apa yang kau lakukan tidak perlu di balas hah?"
Kedua pria itu masih bertarung urat leher. Kimmy menyaksikan tontonan mengocok perut itu bersama semua teman temannya yang entah sejak kapan sudah menepi dan berhenti menari.
Tanpa di sadari oleh keduanya, ada seorang pria yang mempunyai jiwa iseng tingkat dewa yang sedang mendekati mereka. Dengan seringai jahilnya dia pun menjitak kedua kepala pria yang sedang bertarung urat itu.
Pletak.
AAAAWW…
"Kau cari mati?" Pekik Antoni dan Roma.
"Wah, kompak sekali. Santai,, aku hanya ingin mengetes kekompakan kalian saja, hehe."
Antoni dan Roma saling melirik. Dengan saling mengedipkan mata, mereka langsung membalas jitakan itu pada pria iseng itu.
Pletak.
Pletak.
"Hei, kalian ingin memecahkan kepalaku?" Pekiknya.
"Jika itu bisa, maka aku akan dengan senang hati melakukannya." Roma.
"Dengan senang hati." Antoni.
Melihat seringai keduanya, pria iseng itu langsung lari agar tidak di cabik cabik oleh keduanya.
"Hei jangan lari kau Gil, aku belum memecahkan kepalamu." Antoni.
Akhirnya ketiga pria itu berlari saling mengejar kecepatan, lebih tepatnya berlomba kecepatan untuk menjitak.
Ketiga pria itu tidak hentinya mengganggu satu sama lain. Bahkan yang awalnya hanya menjitak, mereka akan memukul atau melakukan apa saja agar bisa saling membalas.
__ADS_1
Kekonyolan tiga pria itu membuat suasana menjadi pecah dengan gelak tawa. Bahkan beberapa ada yang ikut main kejar-kejaran versi mereka masing-masing.
***