
Bab 21
Ben menghentikan mobilnya kemudian ia bersuara setelah membuka ponselnya. "Di sana sedang ada kemeriahan karnaval laut. Nona Kimmy dan Kristal juga ada di sana."
Seketika Milo mengalihkan pandangannya ke pantai yang disebutkan Ben.
"Malam malam begini?"
"Benar. Karena malam ini ada pesta kolam renang di karnaval tersebut."
Milo pun sedikit tertarik akan karnaval tersebut.
Tidak, bukan karnaval nya. Melainkan apa saja yang bisa dia lihat dari dua gadisnya itu.
"Ayo kita kesana."
Ben langsung membawa mobilnya berparkir di tempat yang telah tersedia.
Kemudian tuan dan asisten itu langsung menuju pesta kolam renang yang di maksud.
Dentuman musik sangat memekakkan telinga dengan gemerlap lampu di seluruh sisi.
Pesta malam yang sangat ramai dari berbagai kalangan.
Sekelompok pria dan wanita yang bersantai dengan memiliki bir di kasur pelampung kolam tiup. Banyak juga yang bersantai di darat bersama kelompok nya masing masing seperti di kursi maupun menggelar tikar. Sebagian berdansa ria. Ada yang hanya sekedar nongkrong bersama dengan teman-temannya. Bahkan anak-anak pun ikut serta meramaikan pesta tersebut.
Kolam renang yang sangat luas yang mampu menampung masing masing 400 orang.
Kolam itu di bagi menjadi dua. Satu untuk pesta sungguhan, dan satu untuk bermain yang selalu di penuhi oleh anak anak dan remaja.
Milo memilih duduk di bangku malas menikmati suasana sekitarnya.
Kemudian netra nya melihat beberapa sosok yang di kenalnya.
Terlihat Kimmy, Kristal dan seorang pria yang dia tahu adalah Roma, sedang bermain kejar-kejaran di kolam. Mereka bercanda dengan saling melempar bola bola transparan yang seukuran bola basket. Pria yang bersama dua gadis itu selalu menjadi tameng bagi Kimmy maupun Kristal di setiap penyerangan bola.
Sudut bibir Milo sedikit terangkat melihatnya. Entah mengapa moodnya kembali membaik setelah melihat dua gadis itu yang bermain dengan ceria.
Ben pun akhirnya menghela nafas lega melihat tuannya yang telah lebih baik.
Bola yang di lempar Kristal rupanya terlalu jauh hingga ke daratan. Kimmy pun keluar dari kolam untuk mengambilnya.
Namun di tengah jalannya dia bertabrakan dengan seorang pria.
"Maaf kan aku, aku tidak sengaja. Mari ku bantu." Ucap pria itu.
__ADS_1
Sorot mata Milo berubah menjadi tajam ketika pria itu mengulurkan tangannya menolong Kimmy. Tangan itu tidak hanya menggenggam tangan Kimmy setelah menolong, tapi tangan yang satunya menyentuh punggung Kimmy yang tidak di balut apapun.
Kimmy memakai pakaian renang yang hanya menutupi tubuh bagian depannya saja. Sedangkan tubuh belakangnya sangat terbuka dan hanya sebuah tali yang melingkar di punggung atasnya.
Ini benar-benar pemandangan yang membuat nya mendidih. Dengan sorot matanya yang membunuh, Milo bergegas menarik Kimmy dan memberikan bogem mentah kepada pria itu.
Bugh.
"Hei apa yang kau lakukan." Kimmy sangat terkejut dibuatnya lantaran tuannya itu tiba-tiba saja muncul dan memukul orang.
Kristal dan Roma sama terkejutnya. Namun mereka tidak berani mendekati Milo karena peraturan yang harus bersikap asing terhadap Milo, terlebih lagi sorot mata membunuhnya yang begitu terpancar.
Milo pun langsung melepaskan jas nya dan memakainya agak kasar. Sekilas Kimmy terlihat sangat imut dengan tubuh yang seperti tenggelam saat mengenakan jas Milo. Itu terlihat menggemaskan.
Tanpa sepatah katapun, Milo menarik Kimmy untuk pulang. Namun Kimmy menolaknya.
"Aku tidak mau pulang seka- aahh." Kimmy memekik lantaran Milo tiba-tiba menggendongnya.
"Eeiii, acaranya belum selesai. Aku tidak mau pulang sekarang." Protes Kimmy dengan meronta ronta dalam gendongan Milo.
Dari jarak beberapa meter, adegan itu di potret oleh mata-mata untuk di laporkan.
Cekrek.
"Apa kamu tidak merasa kalau Milo seperti sedang cemburu?." Ucap Kristal dengan wajah lurus ke depan.
Ya, Roma merasa seperti itu juga. Reaksi Milo yang menyuruh pengawalnya untuk mematahkan tangan pria itu adalah suatu hal yang berlebihan. Eh tidak, itu tidak berlebihan. Dia pun akan melakukan hal yang sama jika gadis kesayangannya di sentuh pria lain. Batin Roma yang saling bersahutan.
"Kimby itu sangat berharga. Sudah sepantasnya tuan Milo menghukum pria itu."
Kristal memutar bola matanya. "Ya, ya, Kimmy sangat berharga dan tidak boleh ada pria yang menyentuhnya selain ayah. Lalu apa kamu tidak penasaran, apa saja yang terjadi di dalam mansion Milo? Apakah mereka selalu menjaga jarak seperti yang terlihat?" Kristal mulai memberikan percikan api untuk Roma.
"Cukup Kristal, jangan bicara sembarangan. Selalu berpikirlah positif."
Roma pun segera pergi dari pesta kolam renang tersebut yang segera diikuti Kristal.
Di mobil
Kimmy masih menekuk wajahnya sepanjang jalan.
"Katanya aku sudah diberikan kebebasan bisa bermain kemana saja."
"Benar, tapi itu untuk bermain dan bersenang-senang bersama Kristal. Bukan mengobrol setelah ditabrak pria."
"Aaaaa, tuan tampan yang kejam, kau seperti sedang cemburu- aaahh.." Tiba-tiba Milo membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi hingga membuat Kimmy terkejut setengah mati.
__ADS_1
"Hei, apa kau ingin bunuh diri?"
Suasana mendadak menjadi tegang saat ada beberapa mobil mencoba berlomba menubruk mobil Milo.
"Siaall."
"Ambil dan pakailah penutup kepala yang ada di dasbor. Cepat!" Ucap Milo di sela menghindari tubrukan mobil yang diciptakan musuh.
Kimmy pun buru-buru mengambil dan memakai benda tersebut. Sebuah penutup kepala berwarna hitam yang hanya menyisakan kedua bola matanya saja seperti yang sering digunakan oleh para maling.
"Gunakan ini. Lindungi dirimu sendiri. Jangan panik. Aku akan melindungimu dari jauh sebisaku." Ucap Milo dengan memberikan sebuah senapan pada Kimmy.
Sepasang bola mata Kimmy melihat senapan di tangannya dan Milo bergantian. 'Bagaimana dia bisa setenang ini saat ada yang menyerangnya seperti ini?' batinnya.
"Jangan melihat ku seperti itu. Aku sudah terbiasa dengan situasi ini."
Milo menginjak rem saat mobilnya sudah ada di jalanan sepi. Dia turun terlebih dahulu untuk menembaki musuh terdekat agar Kimmy bisa berlari lebih dulu untuk bersembunyi. Namun beberapa orang malah menargetkan Kimmy. Untung saja gadis itu menguasai beladiri.
Milo menghampiri musuh dengan pedangnya di tangan kanan. Sedangkan tangan kirinya masih sesekali menembaki musuh yang mendekati Kimmy jika gadis itu agak kewalahan menghadapinya.
Ben dan pengawalnya yang baru datang karena ditinggal tuannya itu segera membantu.
Tentunya dalam hitungan beberapa menit satu persatu musuh telah tumbang.
Ben dan pengawalnya masih terus menyisir musuh yang mulai bersembunyi.
Kimmy menghela nafas lega kemudian berlari menghampiri Milo.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Milo terhadap Kimmy.
Kimmy hanya menggelengkan kepalanya dengan nafas yang terengah-engah. Seketika matanya membola melihat di belakangnya ada yang mengarahkan sebuah belati ke leher Milo.
"Awas.."
Jlebb.
Orang tersebut seketika ambruk di tanah dengan pedang menancap di perutnya bersamaan belati yang berlumur darah.
Namun beberapa saat kemudian Milo terbelalak melihat tangan Kimmy yang berdarah memegang sebelah wajahnya dari balik penutup kepala tersebut.
"Kimmy, Kimmy kau berdarah?"
Milo seketika panik dan langsung membawa Kimmy ke rumah sakit.
Sedangkan di balik gelapnya malam, di atas pohon yang cukup besar, sebuah teropong telah berhenti mengamati kejadian tersebut.
__ADS_1