
Bab 20
Pagi ini akhirnya Ben bisa bernafas lega lantaran Milo telah terbangun dari pengaruh bius.
Obat bius dosis tinggi yang di berikan oleh wanita cantik di tempat Edwin tempo hari membuat Milo tertidur selama tiga hari lamanya.
Kondisi Milo pun tidak terlalu menghawatirkan. Penawar racun yang Ben berikan berhasil menyelamatkan Milo dari kelumpuhan.
Ya, Milo di racuni oleh Edwin atas ancaman oleh sekelompok orang tak di kenal. Dia bahkan tidak bisa melapor sedikit pun kepada Milo maupun Ben karena tubuh istrinya yang sedang mengandung itu di pasang bom dengan penjagaan ketat.
Edwin yang di monitori juga pun tidak mempunyai pilihan lain. Dia percaya jika Milo akan berhasil meloloskan diri dari jebakan sekelompok orang jahat itu, bahkan berhasil menumbangkannya.
Edwin bertugas memasukan racun ke minuman Milo. Racun yang akan membuat sarafnya lumpuh secara perlahan yang memberikannya efek halusinasi. Itulah sebabnya Milo melihat wanita cantik tersebut sebagai ibunya.
Sedangkan istri Edwin mendapat tugas memancing Ben keluar dari ruangan agar memuluskan aksi sang wanita cantik saat Milo tinggal seorang diri, yaitu menyuntikkan obat bius agar Milo mudah di bawa oleh mereka.
Semua telah di atur mengikuti perintah.
Beruntung, Ben segera menyuntikkan penawar racun segala racun sebagai pertolongan pertama.
Untuk Ben, tentunya dia juga dibuat kesulitan karena dia pun hampir masuk ke dalam jebakan para penyusup itu.
Bukan.
Bukan penyusup. Melainkan musuh terdekat Milo sendiri yakni pamannya, Marion.
Ya, apa yang terjadi tempo hari di rumah Edwin adalah rencana pamannya untuk membuat Milo lumpuh secara perlahan.
Namun, mengapa tidak langsung membunuhnya saja dengan racun yang mematikan? Ah mungkin saja pamannya itu ingin dia hidup menderita secara perlahan, pikir Milo.
Berbicara tentang pamannya, Milo pun melangkahkan kakinya menuju ruangan bawah tanah dimana pamannya itu di kurung.
Kondisi Marion cukup memprihatinkan. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka cambuk yang paling terlihat.
Raut kesakitan terlihat jelas meskipun dia sedang terlelap akan lelahnya siksaan yang ia dapat selama beberapa hari ini.
Melihat kondisi Marion, sudut bibir Milo sedikit terangkat. Dia cukup puas akan pekerjaan para anak buahnya dalam menyiksa Marion.
Byuurrr
Aaarrghh
Marion merasakan nyawanya seperti sedang di hantam tanpa aba-aba.
Tubuhnya yang sedang terlelap itu sangat syok oleh air mendidih yang di guyur oleh anak buah Milo.
Sekarang, luka lepuh telah bertambah di tubuhnya.
Marion benar-benar tak berdaya. Namun kepalanya masih harus di paksa mendongak menatap wajah dingin Milo nan arogan.
Seketika bola mata Marion benar-benar memancarkan api kebencian untuk keponakannya itu.
__ADS_1
"Badjingan kecil. Awas saja, aku akan membalas mu seratus kali lipat." Maki Marion dengan bercampur nafas yang terengah.
"Paman, simpan suaramu untuk esok hari. Karena besok, mungkin teriakan mu akan jauh lebih keras."
Suara yang terdengar lembut di telinganya itu membuat Marion muak. Dia benar-benar naik darah lantaran keponakannya itu malah mengejeknya di tengah siksaan yang di terimanya.
Marion mendapat bogem mentah setelah meludahi kaki Milo. Meskipun begitu, dia masih bisa kembali ke posisi nya
Cuuiihh.
Bugh.
Api kebencian terus berkobar di mata Marion. Namun Milo hanya menanggapinya dengan sangat santai.
"Aku bukan paman mu. Berhenti memanggilku begitu bocah tengik."
"Benar. Kau bukan pamanku. Dia sudah tiada saat aku berusia 16 tahun."
Mendengar itu, Marion tertawa dengan kesakitannya.
"Ha ha, apa usiamu sekarang masih 16 tahun sampai sampai kau tidak pernah sadar jika wajah mu tidak mirip dengan kakak dan kakak ipar ku?"
Deg.
Milo mematung dengan detak jantung yang seakan menikamnya.
Benar. Dia baru tersadar lagi akan hal itu.
Dia ingat bahwa dirinya pun pernah bertanya pada sang ibu saat usia 14 tahun. Namun ibunya menjawab bahwa wajahnya mirip dengan almarhum kakeknya, kakek dari ayahnya yang belum pernah ia lihat fotonya sekalipun.
Ekspresi wajah kulkas 12 pintu itu tetap tidak ada perubahan. Namun Marion dapat melihat ada kilatan syok dari sorot mata Milo. Itu membuatnya cukup senang.
Marion tersenyum miring ketika matanya melihat rambut di kepala Milo. "Coklat."
Hening.
"Marco, yang kau anggap ayahmu itu memang hobi berganti ganti warna rambut setiap tahunnya. Namun saat kau hadir di kehidupannya, warna rambutnya selalu coklat. Ha ha."
Seringai iblis Marion benar-benar terpampang nyata di wajahnya yang babak belur. Dia benar-benar puas akan hal ini. Setidaknya, dia telah berhasil membalas rasa sakit akan penyiksaan ini walaupun hanya sedikit.
Milo melirik asistennya, dan dengan sigap Ben memberikan sebuah dokumen ke tangan Milo. Itu membuat seringai Marion luntur seketika.
"Lihatlah! Dengan kekuasaan ku, aku mampu mengambil kembali seluruh harta Puero, termasuk milik mu."
"Kau–.."
"Ya benar, kau. Kau sudah tidak memiliki apapun lagi di dunia ini. Harta paling berharga yang kau banggakan, kini sudah tidak ada."
Marion tertegun mendengar kalimat terakhir. Dia melihat wajah Milo dengan tatapan sulit diartikan.
Gedebug.
__ADS_1
Marion menjatuhkan diri dan memohon kepada Milo.
"Tolong obati aku walau hanya sedikit. Ini sakit sekali." Marion meringis namun mulutnya sedikit berkomat kamit.
Milo menyipit melihatnya. Dia pun menyuruh anak buahnya untuk membawa
Marion ke ruangan medis untuk di obati agar masih bisa menerima siksaannya.
Aaarrghh…
Di perjalanan, Marion berteriak.
Semua orang mengabaikannya karena memang Marion sedang kesakitan.
Padahal di balik teriakan itu, seseorang sedang menusukkan jarum suntik di tubuh Marion tanpa disadari sekitarnya.
Rupanya ada penyusup di tempat Marion di sekap. Dua orang dikirim khusus hanya untuk memastikan Marion tidak membuka mulut soal apapun yang dia ketahui.
Saat tubuh Marion hendak di baringkan, tiba-tiba Marion memeluk tubuh Milo dari belakang dan membisikkan sesuatu yang membuat Milo mematung seketika.
Hooekkk..
Marion muntah darah di tubuhnya dan langsung ambruk seketika. Tubuhnya kejang-kejang lalu kehilangan nyawanya begitu saja.
Menjelang malam.
"Tuan, apakah anda ingin sesuatu?" Tanya Ben dari kemudi nya.
"Tidak."
"Seperti makanan, minuman, barang, atau—"
"Sebaiknya kau turun dari mobil ini jika masih berisik."
Ben pun hanya menghela nafas karena hanya bisa menuruti perkataan dari tuannya itu. Dari kemudi nya, dia hanya bisa melirik sesekali pada Milo yang tidak merubah pandangannya dari layar ponselnya.
Sedari tadi Milo tetap melihatnya, melihat sebuah foto keluarga. Lebih tepatnya foto terakhir yang dia punya sebelum berpisah dengan orang tuanya saat dia berusia 16 tahun.
Di lihatnya satu persatu wajah di foto tersebut.
Wajahnya yang tampan nan menawan itu memiliki garis wajah yang tegas dengan mata berwarna abu kebiruan. Sungguh berbeda dengan ayah dan ibunya yang memiliki wajah oriental khas Asia dengan warna mata hitam.
Ucapan Marion masih terngiang di telinganya. "Marco, yang kau anggap ayahmu itu memang hobi berganti ganti warna rambut setiap tahunnya. Namun saat kau hadir di kehidupannya, warna rambutnya selalu coklat. Ha ha."
Milo menghela nafasnya.
Benar.
Di foto tersebut terlihat jelas warna hitam di bagian akar rambut ayahnya. Ini membuktikan bahwa warna coklat rambut ayahnya memang hanya sekedar cat rambut.
Saat mobil melewati pantai, Ben pun tersenyum karena mempunyai sebuah ide.
__ADS_1
Di sepanjang jalan dia memikirkan cara agar bisa mengalihkan kesedihan Milo lantaran sudah satu jam lebih tuannya itu melihat foto di ponselnya.
Ckiitt…