MILLION% Mafia Dan Gadis Panah

MILLION% Mafia Dan Gadis Panah
kristal yang manja


__ADS_3

Bab 12


Setelah makan siang bersama dan melihat keadaan Kristal yang lebih baik dari sebelumnya, Milo melanjutkan interogasi yang tertunda terkait Kimmy.


"Kristal, kau mengenalnya?"


Kristal mengerutkan keningnya. "Siapa?"


"Gadis yang sakit kepala tadi, kau mengenalnya?"


Kristal yang paham jika dirinya sedang diintrogasi pun berusaha setenang mungkin.


"Tidak, tapi aku seperti familiar. Memangnya kenapa?"


Setelah beberapa saat mengamati wajah Kristal, Milo pun bersuara.


"Tidak, hanya bertanya saja."


Rupanya suara Kristal yang lemah lembut dan ekspresi tenang beserta matanya yang sayu efek sakit mag itu kali ini berhasil menipu Milo.


"Boleh aku tahu, dia siapa? Sepertinya kalian sangat dekat." Tanya Kristal dengan melihat pintu kamar.


"Dia pekerja pribadi ku, itulah kenapa dia harus ada di dekatku terus."


"Maksudnya sebagai asisten pribadi?"


"Hmm, bisa dibilang seperti itu, tapi pekerjaannya lebih dari itu."


"Bukankah sudah ada Ben?" Kristal melirik Ben sebentar.


"Benar, tapi kesibukan Ben lebih dari yang kau bayangkan. Kau pasti tahu tentang itu."


Ya, semua orang yang ada di lingkungan Million grup pasti tahu betapa sibuknya seorang Ben yang bahkan lebih sibuk dari Milo sendiri. Ben adalah tangan kanan Milo yang bertanggung jawab mengurus dan menjaga kehidupan pribadi Milo, dunia bisnis, dan juga dunia mafia.


"Jika kau membutuhkan asisten pribadi, mengapa tidak mengatakannya sejak awal. Aku bisa melayani mu."


Kristal tidak rela jika Milo harus satu ruangan dengan wanita lain meskipun itu hanya sebagai asisten.


"Sudah ku bilang pekerjaannya lebih dari itu." Milo mengeram kemudian memicingkan matanya kepada Kristal. "Dan apa kau yakin kau sanggup bekerja seperti Ben?"


"Itu…"


"Kau gadis yang sangat manja Kristal. Dan jangan membahas tentang asisten lagi di depan ku." Tegas Milo


Kristal pun terdiam karena tidak ingin membuat Milo kesal.


Baik Ben dan Milo, keduanya menangkap kecemburuan dari wajah Kristal. Namun mereka masih harus menyelidiki Kimmy yang mendadak sakit kepala setelah terus menerus melihat Kristal.


Dua jam kemudian, Kimmy keluar kamar setelah terbangun dari obat penenangnya.


Milo pun mulai mengintrogasinya dengan perlahan.


"Apa yang terjadi dengan kepalamu?"

__ADS_1


Milo harus memastikan dulu penyebab sakit kepalanya Kimmy, karena bisa jadi Kimmy sedang mengingat sesuatu yang mengarah pada identitasnya, terlebih itu terjadi saat melihat wajah Kristal.


"Tadi kepalaku sangat sakit dan berdenyut."


"Sekarang masih sakit?"


"Sedikit." Kimmy menundukkan pandangannya. Dia berpikir, mimpi apa tadi sampai pria menakutkan ini tiba-tiba berbicara sangat lembut?


"Apa yang membuat kepalamu mendadak berdenyut seperti ini. Apakah kau mengingat sesuatu?"


Kimmy terdiam sejenak, dia pun tersadar akan penyebab denyutan di kepalanya.


"Wanita itu.. entah mengapa wajahnya seperti tidak asing bagiku."


"Kau merasa mengenalnya?" Milo menyipit.


"Sepertinya begitu."


"Lalu apakah ada gambaran lain di ingatan mu saat kepalamu berdenyut?"


"Tidak ada. Hanya wajahnya saja yang sekelebat terlintas di kepala ku. Semakin aku mencoba mengingatnya, kepalaku malah semakin berdenyut."


***


Keesokan harinya


Kristal telah duduk di kursi berhadapan dengan CEO. Wajah lesu dan sedikit pucat menjadi perhatian Milo.


"Apa kau sakit?"


"Sudah ke dokter."


Kristal menggeleng. "Aku ingin pulang ke rumah, ingin tinggal bersama ibu." Ucapnya dengan suara pelan.


"Bukankah beberapa hari yang lalu kau sudah menikmati liburan bersama ibumu?"


"Iya, tapi di saat sakit seperti ini aku ingin di rawat ibu ku." Ucap Kristal dengan raut yang ingin menangis.


Milo menautkan kedua alisnya melihat Kristal dan sempat menatap Ben beberapa detik.


Hanya sakit ringan seperti ini, dia ingin di rawat ibunya? Astaga.. ya sudahlah mungkin dia sedang merindukan ibunya. Batin Milo.


Hadeehh.. rupanya tingkat manja anda sangat akut ya nona, sampai anda ingin menangis seperti itu hanya untuk bertemu ibu. Batin Ben.


"Baiklah, kau boleh pulang setelah dari dokter. Ben akan mengantarmu."


Kristal pun mengangguk.


Setelah Kristal dan Ben menghilang di balik pintu, Kimmy baru keluar dari kamar.


"Loh, tuan kok masih disini? Ben kan sudah pergi?" Tanya Kimmy dengan raut bingungnya. Pasalnya beberapa menit yang lalu sebelum dirinya ke kamar mandi, Milo yang di dampingi Ben sudah berpamitan padanya untuk pergi ke luar kota.


"Ben pergi sebentar untuk mengurus sesuatu." Jawab Milo yang kemudian menasehati Kimmy agar tidak terlalu membuat sekretaris Edwin pusing saat ditinggal olehnya.

__ADS_1


_


_


_


Di tengah perjalanan, Kristal menoleh kepada Ben yang sedang memegang kemudi.


"Ben, siapa nama gadis yang ada di ruangan Milo?"


Bola mata Ben sedikit bergerak seperti hendak melirik kepada Kristal yang ada di sampingnya.


"Namanya Kimmy."


Kimmy.. gumam dalam hatinya. Alisnya sedikit mengernyit.


"Apakah benar itu nama aslinya?"


"Saya tidak tahu. Memangnya siapa nama asli nona Kimmy?"


Sial, kenapa aku lupa dengan lawan bicara di samping ku ini. Batin Kristal yang sedikit geram sembari mengatur nafas perlahan agar dirinya tetap tenang.


"Kimmy… aku merasa familiar dengan nama itu." Kimmy pun memasang raut yang sedang mengingat. "Ah, mungkin aku hanya pernah mendengar nama yang mirip dengannya."


Ben terdiam dengan kemudinya tanpa menggerakkan bola matanya lagi untuk melirik Kristal. Sepertinya nada bicara Kristal yang lemah lembut mampu menutupi nada kebohongannya.


Beberapa jam kemudian, di dalam pesawat.


"Bagaimana kondisi Kristal?"


"Secara keseluruhan kondisi nona Kristal baik baik saja. Hanya saja mag nona Kristal lebih parah dari sebelumnya dikarenakan stress berlebihan."


Milo menghela nafasnya malas dengan menyandarkan kepalanya di bangku pesawat.


"Gadis itu benar-benar sangat manja." Gumamnya dengan nada yang tidak suka.


Bagaimana Milo tidak suka terhadap kemanjaan Kristal jika hanya karena sebuah pekerjaan Kristal malah terkena mag. Bahkan sekarang hanya karena pekerjaannya dinaikkan sedikit tingkat kesulitannya, malah membuatnya stress yang memperburuk sakit mag nya.


Hanya karena pekerjaan, Kristal menjadi seperti itu. Sangat berbeda dengan Kimmy. Pikirannya.


Sedari awal bertemu, Kimmy selalu bersemangat meminta pekerjaan. Bahkan yang tak disangka adalah ketika Milo berhasil menggali potensi Kimmy hanya dengan keisengannya semata. Kimmy bahkan mampu menggapai apa yang diinginkan Milo hanya dalam satu atau dua kali pengajaran. Itu benar-benar sangat berbeda dengan Kristal.


Sepertinya, sedikit demi sedikit Kimmy berhasil menggeser posisi Kristal di pikiran Milo. Kristal yang selalu dipikirkan nasib masa depannya itu, kini Milo enggan memikirkan yang lebih lagi. Milo hanya akan menunggu sampai satu hal kebenaran itu terkuak dari diri Kristal.


Komplek perumahan SAA


Di sebuah balkon kamar, seorang pria sedang berdiri dengan gelas Vodka di tangannya.


Dia menyesap Vodka sembari menonton beberapa orang yang terlihat sedang menyamar di lingkungan perumahan tersebut.


Seketika pria tersebut terkekeh geli.


"Kepung saja tempat ini sesuka hati kalian. Karena kalian tidak akan pernah bisa menangkap ku." Ucapnya dengan menyeringai.

__ADS_1


***


__ADS_2