
Bab 8
Di tengah ledakan granat itu, team tengah dan team pelindung mencoba menembakinya. Namun peluru mereka meleset karena pandangan mereka terhalang oleh beberapa ledakan dari granat lain yang di lemparkan ketua bertopeng itu di sepanjang pelariannya.
Ketua bertopeng benar-benar sengaja melempar granat nya ke sembarang arah karena dia tahu jika di pulau itu bukan Milo yang terkepung, melainkan dirinya dan klannya.
Hingga akhirnya ketua bertopeng pun berhasil melarikan diri dengan sebuah jet ski. Dia melaju dengan kecepatan tinggi tanpa peduli dengan ombak yang bergulung di tengah gelapnya lautan.
Team rescue yang berada di kapal feri langsung menghujaninya dengan peluru, tapi rupanya ketua bertopeng itu masih beruntung karena hanya ada satu peluru saja yang melesat menggores bahunya. Dan yang lebih beruntung lagi, team rescue kehilangan ketua bertopeng itu setelah dia menceburkan diri ke laut saat jet ski nya berjarak kisaran -+100 meter dari pantai.
Kejadian ini langsung di laporkan kepada Milo sehingga Milo langsung menyuruh sebagaian pasukannya untuk berpencar di pesisir jika ketua bertopeng itu sempat lolos.
Di kegelapan, terlihat sorot mata di balik topeng yang begitu nyalang saat melihat pasukan Milo yang sedang melakukan penyisiran.
Arghh. Sialan kau Milo. Beraninya membuatku terjebak di tempat ini. Umpat orang bertopeng dalam hati dengan nafas yang tersengal-sengal.
Seketika dia tersadar akan situasi dan segera melepaskan topengnya lalu menguburnya dengan pasir pantai. Setelahnya dia pun langsung pergi dengan hati-hati agar tidak tercium oleh pasukan Milo.
***
Satu hari kemudian
Milo yang baru mendarat di negaranya langsung pergi ke rumah sakit untuk menjemput Kimmy yang sudah di perbolehkan pulang.
Di kamar VVIP, Kimmy sedang menggerutu kesal lantaran dirinya merasa capek karena harus menjalani serangkaian tes kesehatan yang membuatnya bosan.
"Aku ini hanya sakit kepala, mengapa segerombolan medis itu sangat berlebihan. Dan sampai kapan aku disini? Mengapa Ben tidak menjemputku."
Kimmy pun berbaring bergerak ke kiri kanan seperti anak kecil yang sedang merengek "Ah disini sangat membosankan. Kapan aku bisa keluar dari tempat ini."
Tiba-tiba tubuh Kimmy refleks terduduk karena terkejut mendengar suara dingin yang dia kenal.
"Sekarang kau sudah bisa pulang."
Eh,
"Kau bisa langsung pulang setelah menjawab pertanyaan dari Ben."
Tak menunggu lama, Ben pun langsung bertanya kepada Kimmy.
"Nona, boleh saya tahu siapa nama ibu anda?"
"Nama ibuku …" Kimmy mengerutkan keningnya beberapa saat. "Kenapa aku lupa nama ibuku sendiri ya."
"Lalu nama ayah anda?"
"Ayah? Aku tidak tahu karena selama ini aku tinggal bersama ibu."
Ben menghela nafasnya. Dia sudah tahu akan jawaban ini.
"Lalu apa anda ingat kejadian sebelum anda jatuh ke sungai?"
Kimmy mencoba mengingatnya. Perlahan gambaran dirinya yang terjatuh ke sungai mulai memasuki kepalanya.
Namun beberapa detik kemudian, kepala Kimmy terasa berdenyut saat tiba-tiba muncul sebuah gambaran dimana dia terjatuh di tempat yang gelap.
Dan gambaran itu terus melintas di kepala Kimmy berulang-ulang hingga denyutan di kepalanya semakin bertambah yang membuat Kimmy menjerit kesakitan.
Aaahh…
__ADS_1
Ben dan Milo sangat terkejut melihatnya.
"Ben, cepat panggil dokter." Titah Milo yang di liputi rasa panik.
Setelah beberapa saat, dokter yang telah selesai memeriksa keadaan Kimmy pun mulai bersuara.
"Sepertinya nona mengingat kejadian yang tidak menyenangkan di masa lampau, sehingga saat teringat kembali atau berusaha mengingat kejadian tersebut membuat kepala menjadi sakit dan berdenyut. Saya mengingatkan untuk tidak terlalu menekannya dalam mengingat karena nona sedang dalam masa pemulihan."
Milo dan Ben saling pandang dengan pandangan yang hanya mereka yang tahu.
Satu jam kemudian, Kimmy di bawa pulang ke mansion setelah terbangun dari obat penenang.
Setelah sampai di mansion, Kimmy langsung di bawa ke ruangan kerja.
"Kau pergi dari desa untuk bekerja bukan?" Tanya Milo yang berjalan ke sofa dengan sebuah berkas di tangannya.
Kimmy mengangguk.
Kemudian Milo melempar berkas tersebut di hadapan Kimmy sebelum dirinya mengambil posisi duduk.
Brak.
Pekerjaan anak magang. Batin Ben sembari mengernyit saat melihat berkas tersebut.
"Jika kau bisa mengerjakannya dalam waktu satu jam. Maka aku akan memberikanmu sebuah pekerjaan."
"Apa kau sanggup?" Tambah Milo
"Akan aku coba." Kimmy mulai melihat berkas itu. "Tapi.. Bagaimana cara mengerjakannya?"
"Ben kau urus dia." Ucap Milo sembari bangkit dari posisinya.
"Baik tuan."
Ben memasuki kamar Milo dengan berkas yang di kerjakan Kimmy.
"Tuan, nona Kimmy rupanya cukup cerdas. Dia bisa langsung memahami semuanya hanya dalam satu atau dua kali pengajaran." Ucap Ben dengan tersenyum senang.
Milo juga ikut tersenyum sembari melihat hasil pekerjaan Kimmy.
Lumayan. Batin Milo.
Melihat senyuman Milo, Ben pun mencoba bertanya akan rasa penasarannya di saat tuannya itu tiba-tiba memberikan sebuah pekerjaan anak magang untuk Kimmy.
"Tuan, apa yang membuat anda tiba-tiba memberikan pekerjaan itu kepada nona Kimmy?"
Milo terdiam sejenak.
"Entahlah. Sebenarnya aku hanya iseng saja."
"Lalu apakah anda akan …." Tiba-tiba saja ponsel Ben bergetar.
"Tuan, nona Kristal menelpon."
"Angkatlah."
Ben pun menggeser tombol hijau kemudian menekan loudspeaker.
"Ya nona Kristal."
__ADS_1
"Ben, tolong katakan pada Milo, aku ingin ikut liburan bersama ayah dan ibuku."
"Bukankah anda di fasilitasi oleh tuan Milo agar anda bisa meninggalkan semuanya untuk sementara waktu." Tegas Ben.
"Aku tahu. Tapi aku ingin refreshing setelah bekerja keras. Lagipula mereka hanya orang tuaku, tidak ada yang lain. Anggap saja ini hadiah yang ku minta karena aku berhasil menaikkan posisi ku."
Terlihat Milo menghela nafasnya malas.
"Sebentar nona saya akan tanyakan dulu pada tuan."
Ben melihat tuannya dan di jawab dengan anggukan oleh Milo.
"Baiklah nona, tuan mengizinkannya. Tapi anda harus ingat dengan pesan tuan untuk hati-hati yang menyangkut nama tuan."
"Ok Ben, aku mengerti. Terimakasih."
Tut.. Tut..
Setelah itu, Milo pergi ke lantai tiga untuk menemui Kimmy. Entah mengapa dia ingin banyak bicara dengannya, atau mungkin dia ingin mengenal lebih dekat dengan Kimmy.
Di ruang tv
Milo bersuara untuk memecah keheningan yang tercipta sejak 30 menit yang lalu.
"Sudah 30 menit kau menunduk. Apa lehermu tidak merasa pegal?"
"Sedikit." Jawab Kimmy pelan.
"Lalu mengapa kau terus menunduk seperti itu?" Kimmy hanya diam. "Apa aku terlihat menyeramkan bagimu?"
Ah, rupanya kau sadar juga. Batin Kimmy.
"Lihat aku. Aku ingin bicara."
Kimmy pun perlahan melihat wajah Milo. Wajah yang sangat tampan dengan rambut rambut halus di sekitaran dagunya, serta bola mata biru muda cenderung abu-abu yang mampu membuatnya tak berkedip. Namun sorot matanya yang begitu tajam seperti elang malah membuatnya takut.
"Sudah selesai mengagumi ketampanan ku."
Eh, Kimmy mengerjapkan matanya beberapa kali.
"Baiklah Kimmy Dalton, apa pendidikan terakhir mu?"
"Aku tidak sekolah."
"Tidak sekolah atau tidak ingat?"
"Tidak tahu, karena seingatku aku tidak sekolah."
"Jika kau tidak sekolah mana mungkin kau bisa membaca dan mengerjakan berkas yang kuberikan." Milo mulai kesal.
"Iya juga ya." Kimmy manggut-manggut.
"Beri tahu aku, mengapa kau terlihat sangat mudah mengerjakannya. Apa kau pernah mengerjakan hal seperti itu sebelumnya?"
"Mengapa ya." Kimmy terlihat bingung. "Mungkin karena aku merasa pernah melihatnya."
"Kau pernah melihatnya?" Milo menaikkan sebelah alisnya.
"Entahlah. Mungkin itu hanya perasaanku."
__ADS_1
"Ya sudah, kau istirahat lah untuk menunggu makan malam."
Kimmy pun memasuki kamarnya. Sedangkan Milo melihat pintu kamar Kimmy yang sudah tertutup dengan sebuah pikiran.