MILLION% Mafia Dan Gadis Panah

MILLION% Mafia Dan Gadis Panah
Kimby?


__ADS_3

Bab 13


Di kediaman Frey


Kristal sedang duduk termenung di kasur orang tuanya. Dia sedang menunggu kedatangan ibunya yang sedang mengantarkan sang ayah ke bandara.


Setelah satu jam, yang di tunggu Kristal pun akhirnya datang.


"Ada apa sayang, kenapa kau pulang mendadak seperti ini?" Tanya Sivia.


Melihat kedatangan ibunya, Kristal langsung mengekspresikan perasaan cemasnya yang sedari semalam yang membuatnya tidak bisa tidur. 


"Ibu.. ibu.." ucap Kristal dengan meraih tangan ibunya yang kemudian masuk dalam dekapannya. 


Sivia sangat heran, mengapa putrinya pulang dalam keadaan cemas seperti ini. Untung saja suaminya itu sudah berangkat ke luar kota.


Setelah beberapa saat.


"Katakan pada ibu, ada apa? Mengapa kau cemas seperti ini?" Selidik Sivia dengan memegang kedua pipi Kristal.


"K-Kimby Bu.. Kimby.."


"Kimby?" Sivia tercengang mendengarnya. Mengapa putrinya tiba-tiba mengatakan nama itu setelah tiga tahun. Apakah putrinya yang polos ini bertemu dengannya? Pikirannya.


"Kristal, katakan! Apa kau bertemu dengannya?"


Kristal mengangguk cepat beberapa kali dengan ekspresi cemasnya.


"Dimana?"


"Di ruangan CEO."


"Apa? Sedang apa dia di sana?" 


Sivia tahu jika CEO yang diucapkan Kristal adalah Milo, pria dengan kekayaan fantastis yang disukai putrinya itu. 


Orang seperti Milo tidak akan menerima orang lain sembarangan bukan? Contohnya saja Kristal, dia memang berada di genggaman Milo, tapi Kristal tidak bisa menyentuhnya bahkan untuk bertemu saja harus dengan sesuatu hal yang dibilang penting. 


Ini membuat Sivia sedikit cemas juga dan mulai dihinggapi akan berbagai pikiran yang tidak di sukainya.


"Dia menjadi asisten pribadinya. Ibu, bagaimana ini.. dia sangat dekat dengan Milo. Dia bahkan dibawa masuk ke kamar pribadi itu." Ucap Kristal dengan merengek kepada ibunya.

__ADS_1


"Apa? Di bawa ke kamar? Untuk apa?" Pekik Sivia. Namun dia harus terus mengorek lebih jauh lagi mengingat ucapan Kristal yang kurang jelas jika perasaan cemas nya kumat. 


Kristal pun menceritakan tentang kejadian kemarin saat pertemuan pertamanya dengan Kimmy di ruangan CEO, yang untungnya dia terselamatkan oleh mag nya yang kambuh. Rasa terkejut, syok, dan cemas menjadi satu kala melihat wajah Kimmy. 


Melihat Kimmy menjadikan gangguan kecemasannya kambuh yang di rasa sudah sembuh dua tahun yang lalu. 


"Aku sakit mag gara gara bekerja keras untuk mendapatkan hasil yang diinginkan Milo bu, mengapa aku hanya di letakkan di sofa sedangkan Kimby di bawa ke kamar pribadinya hanya karena sakit kepala." Ucap Kristal dengan raut kesalnya.


Sivia mendengarkan semua cerita Kristal yang bermuatan curhat itu. Dia mencerna semuanya, takut jika sampai ada hal yang terlewatkan. 


"Lalu apa reaksi Kimby saat melihatmu?"


"Kimby hanya diam saja dan terus melihatku sebelum kepalanya sakit."


"Hanya asisten pribadi, Milo dan sekretarisnya sampai sepanik itu?" Gumam Sivia yang mengetahui bagaimana seorang Milo dan sekretarisnya. Dia pun mulai memikirkan kemungkinan demi kemungkinan yang bisa menghubungkan kepanikan seorang Milo dan sekretarisnya terhadap Kimmy. 


Setelah beberapa saat hening,


"Apa tidak ada hal lain lagi yang berkaitan dengan Kimby?" 


Kristal terdiam sejenak untuk mengingat. Seketika wajahnya bereaksi saat teringat satu hal.


"Ah, ibu.. Milo dan Ben menyebut Kimby dengan nama Kimmy. Awalnya aku pikir aku salah dengar karena saat itu Milo dan sekretarisnya sangat panik, tapi setelah aku bertanya lagi kepada Ben, dia mengatakan jika namanya adalah Kimmy."


Apa yang sedang terjadi, mengapa bocah itu tiba-tiba muncul dengan nama lain. Dan yang tak habis pikir, dia muncul di lingkungan pria sempurna seperti Milo. Apa dia sedang menyamar? Atau jangan-jangan…  tiba-tiba saja terlintas sebuah ingatan dimana Kimmy terperosok jatuh ke jurang. 


Setelah beberapa saat, Sivia menghentikan pikirannya karena teringat akan putri yang manjanya gak ketulungan itu sedang sakit. Sekarang, yang harus dilakukannya adalah fokus pada kesembuhan Kristal karena izinnya  kepada Milo adalah ingin di rawatnya.


Sedangkan gadis yang sedang di bicarakan itu, kini sedang anteng di ruangan CEO dengan tugasnya. Ya.. tentunya setelah puas bermain di ruangan besar itu.


Hari ini, dia harus memeriksa beberapa dokumen terkait kerjasama dari beberapa perusahaan besar yang menunggu persetujuan Milo. 


Kimmy membuka satu persatu dokumen tersebut dengan teliti sebelum di serahkan kepada Milo. Padahal, Milo tidak akan pernah membuka dokumen apapun jika belum melewati tangan Ben. 


Namun ini adalah salah satu bentuk belajar untuk Kimmy karena Milo menaruh harapan besar kepadanya setelah cukup muak dengan kinerja Kristal. 


Saat membuka dokumen selanjutnya, Kimmy menyipit saat melihat sebuah nama perusahaan yang tak asing baginya. 


Seketika, sekelebat ingatan sosok seorang ayah dan anak perempuan bergandengan memasuki perusahaan tersebut.


Kimmy mencoba memikirkannya kembali karena anak perempuan itu terlihat mirip dengannya. Namun kepalanya malah terasa berdenyut ketika mencoba memikirkannya. 

__ADS_1


Kedua tangannya menyiku di meja; memegang kepalanya dan sesekali meremas rambutnya guna mengurangi denyutan itu. Namun denyutan demi denyutan terus menghantam kepalanya sehingga Kimmy mengerang kesakitan dan semakin meremas rambutnya kuat sehingga menyenggol tumpukan dokumen itu.


Melihat pemandangan ini, sontak saja sekretaris Edwin mendadak panik dan segera mendekatinya. 


Perlahan, Edwin mengulurkan tangannya untuk menyentuh bahunya. "Nona, anda tidak apa ap-aaah..."


Duk.


Kimmy dengan refleks memelintir tangan Edwin yang menyentuh bahunya dan menekan kepalanya di meja CEO.


"Siapa kau?" Ucap Kimmy sembari memejamkan matanya menahan sakit di kepalanya.


"I-ini saya Edwin." 


"Edwin siapa." Kimmy menekan lebih kuat kepalanya sehingga Edwin agak menjerit.


"Aaaa.. Sekretaris Edwin, sekretaris tuan Milo."


Perlahan Kimmy mengendurkan dan melepaskan tangannya dari tangan dan kepala Edwin sembari mundur satu langkah.


Kimmy berdiri dengan masih memejamkan matanya dan kedua tangannya berpegangan di kursi CEO.


"Nona, anda sakit?" Tanya Edwin setelah melemaskan otot wajah dan tangannya.


"Aku hanya sakit kepala. Ssshh.." 


Raut wajah Kimmy benar-benar menunjukkan betapa sakitnya dia.


"Istirahatlah dulu nona, saya akan panggilkan dokter. Mari saya antar ke kamar."


Kimmy di bawa ke kamar dengan sedikit di papah oleh Edwin. 


Kejadian ini langsung di laporkan kepada Ben sebelum memanggil dokter, karena menurutnya ini cukup aneh. Hanya sakit kepala, mengapa seorang gadis kecil bisa melakukan refleks seperti itu, pikirnya. 


Setelah melaporkannya pada Ben, akhirnya Edwin tidak jadi memanggil dokter lantaran Ben menyuruhnya untuk memberikan obat yang ada di laci mejanya.


Edwin begitu lega setelah melihat gadis yang membuatnya repot itu terlelap dalam pengaruh obat mengingat ekspresi kesakitannya di wajah polos itu.


Dan di tempat lain, Ben dan tuannya itu sedang melihat layar laptopnya untuk melihat detil kejadian yang di laporkan sekretaris Edwin.


"Refleks yang bagus." Gumam Ben.

__ADS_1


Sedangkan Milo, terlihat sudut bibirnya sedikit terangkat dan entah mengapa terlintas sebuah ide di tengah pemikirannya terhadap gadis tersebut. 


***


__ADS_2