
Bab 26
Setelah beberapa hari.
Kimmy sering melamun setelah terbangun dari pingsannya. Di setiap jamnya dia selalu teringat akan kejadian itu.
Bagaimana dirinya di kejar oleh sekelompok bandit untuk di bunuh yang ternyata adalah orang orang ayahnya adalah sebuah mimpi yang terasa nyata.
Ya, berulang kali Kimmy selalu menegaskan pada dirinya bahwa itu hanyalah sebuah mimpi buruk baginya.
Meskipun mimpi itu sangat nyata; nyatanya itu mustahil jika dia benar-benar mengalami nya, karena ayahnya sudah tiada saat dia masih bayi.
Di tengah lamunannya, seseorang meletakkan tangan di pundaknya.
"Ini masih pagi, tidak baik melamun terus. Lebih baik kita sarapan." Ucap Kristal.
Kimmy hanya mengangguk dan segera melangkah ke meja makan.
Berbeda dengan Milo yang memutuskan untuk menyudahi penyelidikan itu di meja makan. Baginya itu hanya menghabiskan waktu saja lantaran tidak ada jejak apapun soal penculikan ini. Bahkan ceceran darah pun telah tertimbun oleh tanah. Semuanya benar-benar bersih dan rapi. Meskipun dia begitu penasaran siapa yang menolong ketiga anak muda itu khususnya Kimmy, kali ini dia tidak akan memikirkannya. Karena baginya yang terpenting sekarang mereka bertiga telah selamat.
Jam istirahat.
Tiba-tiba Kristal menerobos masuk ke ruangan CEO setelah Kimmy dan Roma pergi makan siang.
"Bagus, hari ini kau sudah berani menerobos masuk tanpa izin ku. Bagaimana caranya aku menyukaimu jika seperti ini?"
Milo sengaja mengucapkan ini karena sudah muak dengan Kristal yang terus mengganggunya dengan selalu memberikan makan siang dan beberapa aksesoris kecil lengkap dengan surat cintanya hampir setiap harinya. Baginya Kristal sangat kekanak-kanakan.
"Maaf, tapi aku punya satu permintaan."
"Katakan." Ucap Milo malas
"Aku ingin kita menikah."
"Kau kehabisan obat?"
"Ibuku menekan ku untuk segera menikah. Ibu menginginkan seorang cucu."
"Lalu?"
"Nikahi aku."
Wajah Milo terlihat seperti mengejek. "Aku tidak tertarik."
"Milo, ayolah…"
"Jika kau ingin menikah ya menikah saja."
"Justru itu aku mengajakmu."
"Kau bisa dengan pria lain."
"Tapi aku maunya kamu. Cuma kamu pria yang aku cintai."
Milo hanya berdecak.
"Keluar." Milo begitu malas meladeni Kristal.
__ADS_1
"Kalau begitu mari kita berkencan lebih dulu untuk mengenal satu sama lain."
"Keluar."
"Satu bulan, aku akan membuatmu jatuh cinta pada ku dalam waktu satu bulan."
"Jika tidak berhasil?"
"Jika tidak berhasil,,, aku akan pulang ke rumah orang tuaku dan tidak akan mengganggumu lagi."
Sepertinya ini saatnya dia harus menyelesaikan permasalahan ini. Dia merasa Kristal sudah terlalu lama berada di genggamannya tanpa kejelasan akan kebenarannya. Lebih cepat maka lebih baik karena Kristal sendiri mempunyai keluarga dan masa depannya masih panjang.
Baiklah, sudah di putuskan dia akan mengikuti permainan Kristal. Dan jika Kristal adalah gadis yang di carinya, maka Milo tidak akan melepaskannya.
"Baik, aku setuju. Tapi sebelum kencan, aku memiliki satu syarat."
"Panah. Kau harus membuat ku terkesan dengan permainan panahan mu itu." lanjut Milo.
Deg.
Seketika jantung Kristal seakan ditikam belati. Dia benar-benar syok akan syarat itu. Namun dia mencoba untuk tegar.
Melihat ekspresi itu, Milo menyipit. Dia merasa ada yang disembunyikan oleh gadis itu tentang panah. Ataukah, mungkin sebenarnya Kristal tidak bisa memanah? Hmm, sepertinya dia harus menyelidiki ini lebih khusus lagi.
"Bagaimana?"
"Ta-tapii, tapiii…"
"Kau tidak bisa memanah?"
"Trauma?" Kristal mengangguk. "Aku bisa membimbing mu untuk melawan rasa trauma itu."
Gawat.. jika Milo yang membimbingnya maka gangguan kecemasannya akan kambuh. Dan itu takut akan membongkar rahasianya.
"Aku tidak yakin bisa melawan traumanya." Kristal menunduk sedih.
"Kau harus yakin dan bisa! Karena wanita yang ingin bersamaku haruslah wanita yang kuat."
Tidak ada pilihan lain bagi Kristal. Dia sudah terlanjur jatuh kedalam permainan Milo akibat permainannya sendiri.
"Baiklah. Tapi,, aku ingin belajar sendiri. Biar aku yang memilih tempat dan dokter untuk membimbing ku. Dan juga, biarkan aku bertemu ibu setiap hari. Karena hanya ibu yang bisa membantuku ketika trauma itu datang."
"Tidak masalah." Kali ini Milo membebaskan apapun untuk Kristal karena permainan ini adalah permainan terakhir untuk gadis itu.
Setelah keluar dari ruangan Milo, Kristal pun berusaha menghubungi ibunya yang susah sekali di hubungi beberapa hari ini. Namun Kristal segera pergi ke rumah sakit setelah berhasil menelpon ayahnya.
Di ruangan VVIP itu, Kristal menangis lantaran ibunya menyembunyikan deritanya dari dirinya.
Rupanya dua hari yang lalu, ibunya telah melewati masa Kritis akibat perampokan yang di alaminya. Di tubuhnya terlihat banyak memar dan luka memanjang dari cambuk.
Kristal benar-benar tidak berdaya melihat kondisi ibunya yang seperti itu.
"Mengapa ibu tidak memberi tahu ku." Ucap Kristal yang merasa berdosa tidak ada di samping ibu yang sedang kristis.
"Jangan menangis. Ibu hanya tidak ingin membuatmu cemas."
__ADS_1
Setelah puas menangis, Kristal pun memutuskan untuk merawat ibunya.
Dengan kelembutannya, Kristal menyuapi ibunya makan.
"Ibu, aku akan meminta Milo untuk menangkap para perampok itu. Mereka harus merasakan seperti yang ibu rasakan."
Uhuk.
Ibunya tiba-tiba tersedak mendengar itu.
Kristal langsung memberikannya minum dengan hati-hati.
"Tidak usah nak. Perampok itu sudah tewas."
"Benarkah. Secepat itu?" Kristal tidak percaya karena biasanya para penjahat yang banyak dosanya tidak akan mati secepat itu.
"Benar. Ada yang menolong ibu saat ibu tengah di siksa. Tidak tahu bagaimana pastinya. Ibu hanya mendengar suara tembakan beruntun sebelum ibu pingsan."
"Itu seperti yang kami alami saat di cegat para bandit."
Sivia hanya tersenyum tipis. "Malaikat penolong itu nyata."
Setelah hening beberapa saat.
"Nak, Kimmy selalu lebih unggul darimu. Apakah kamu membencinya?"
"Sepertinya tidak. Selama ini aku hanya merasa minder terhadapnya. Sampai saat ini aku masih menyayanginya."
"Benar, kamu harus menyayanginya karena dia adikmu sendiri. Meskipun kelak kamu membencinya, jangan pernah berfikiran untuk menyakitinya. Kamu hanya perlu menjauhinya jika rasa benci itu benar-benar menusukmu."
Kristal mendengarkan semua nasehat ibunya.
Sore hari.
Kimmy melakukan panggilan video kepada Kristal.
"Kristal kau di rumah sakit mana, aku dan Roma ingin menjenguk ibumu."
"Tidak usah. Saat seperti ini ibuku hanya ingin ketenangan."
"Baiklah, jika begitu titip salam untuk ibumu. Kami mendoakan kesembuhannya."
"Ya, akan aku sampaikan. Terimakasih."
Kristal langsung menutup panggilan video itu dan langsung berbaring di sebelah ibunya. Hari ini dia merasa lelah hanya untuk mengobrol dengan adiknya itu.
Sedangkan di sebuah ruangan besar.
"Tuan, anda tidak merasa jika apa yang dialami nyonya Sivia adalah sebuah hukuman atas sebuah perbuatan?" Ucap Ben yang telah mendapatkan informasi mengenai perampokan yang menimpa Sivia.
Menurutnya jika Sivia memang di rampok, mengapa mereka harus membawa Sivia ke sebuah bangunan tua di tempat terpencil untuk di siksa hanya karena Sivia menelpon polisi? Bukankah mereka tinggal membunuhnya di tempat dan membersihkan barang bukti. Yang jadi perhatiannya adalah kejadian itu terjadi satu hari setelah perampokan mobil Roma.
"Biarkan saja Ben. Kita lihat seberapa jauh ini bermuara. Jangan sampai kita capek dibodohi lagi mengejar yang tak pasti."
Mulai sekarang Milo akan membiarkan semuanya mengalir. Dia tidak ingin dibodohi lagi seperti mengejar Moon Fire yang tidak ada habisnya yang ternyata kata kuncinya hanyalah satu orang, yaitu tuan L.
***
__ADS_1