
Bab 16
Siang hari.
Ruangan CEO.
Ben memberikan sebuah plastik klip kecil yang berisi obat obatan kepada Kimmy.
"Nona, ini obat yang harus anda minum di malam hari. Jangan lupa untuk meminumnya tepat waktu."
Kimmy mengangguk. Namun sebuah suara membuat tangan Kimmy menggantung saat akan mengambil benda tersebut.
"Ben, sebaiknya kirimkan dokter yang akan memberikannya obat itu sekalian untuk berjaga jaga. Aku tak yakin jika ada yang bersikap patuh."
Ben menghela nafasnya dan menarik kembali obat tersebut.
Sedangkan Kimmy mencebikkan bibirnya.
Di sisi lain, Kristal memasuki ruangan CEO dengan wajah cemberutnya. Langkah panjangnya seakan tidak sabar untuk menemui pemilik ruangan tersebut.
Brak.
"Milo kau kejam sekali. Sudah tahu hari ini kami akan ke villa, tapi masih membawa Kimmy meeting."
Wajah cemberut Kristal terlihat imut, tapi bagi Milo itu tidak menarik.
"Kimmy itu pekerja teladan, dia mendahulukan kewajibannya daripada kemanjaannya, kau paham."
"CK, aku itu ulangtahun tahu. Bukannya memberi kado malah menyindir seperti itu."
"Baguslah kalo merasa." Ucap Milo sembari bangkit dari kursi kebesarannya.
Sedangkan Ben segera mengambil perlengkapan yang akan di bawa nya untuk pergi bersama Milo.
"Semuanya sudah siap tuan."
Milo melihat kedua gadis itu sebelum pergi.
"Ingat untuk selalu hati hati menyangkut namaku. Mengerti."
Kedua gadis itu mengangguk patuh.
Beberapa jam kemudian.
Di sebuah ruangan besar, Villa Milo.
Happy birthday to you,.
Happy birthday to you,.
Tidak lebih dari 20 orang memeriahkan acara ulang tahun Kristal. Dimana semuanya adalah anak anak yang boleh berteman dengannya karena seleksi ketat ayahnya.
Sebagian dari mereka adalah teman teman di kampusnya, sebagian lagi adalah anak anak kerabat dan rekan bisnisnya. Dan semuanya adalah anak orang kaya.
Di sampingnya, Kimmy yang sedang ikut menyanyikan lagu "happy birthday" dengan penuh senyuman itu perlahan berubah menjadi tegang. Matanya terpejam seketika sebuah ingatan menyerbu kepalanya.
Gadis kecil yang mirip dengan nya itu selalu menyanyikan lagu "happy birthday" dengan wajah yang penuh senyuman nan bahagia di sampingnya, di samping wajah yang mirip dengan Kristal. Sebuah momen yang terus berulang ulang dengan angka lilin yang terus bertambah.
Wajah Kristal kini telah berada di depan lilin yang menyala. Namun saat bibirnya telah terbuka untuk menghembuskan nafas dari mulutnya, tiba-tiba suasana menjadi riuh saat Kimmy berteriak kesakitan memegangi kepalanya.
__ADS_1
"Kimmy kau kenapa. Kimmy…" Kristal memegang sisi tubuh Kimmy yang sedang tidak karuan menahan sakit kepalanya.
"Cepat panggilkan dokter."
Kristal dengan cemas membawa Kimmy ke kamar di bantu oleh teman lainnya.
Sesampainya di kamar, Kristal masih terus memegang lengan Kimmy yang terus bergelut dengan sakit kepalanya.
"Kimmy tenangkan dirimu agar tidak semakin sakit."
Kristal malah bertambah panik melihat adiknya seperti itu.
Tiba-tiba seorang teman memanggil Kristal.
"Kristal, lilin mu sudah mau habis. Kembalilah dulu untuk sekedar tiup lilin."
Di tempat itu, ada sebuah kepercayaan jika lilin ulang tahun sampai habis karena di biarkan, maka kesialan atau hal buruk akan menimpa keluarga si pemilik lilin tersebut.
Rupanya samar-samar Kimmy masih bisa mendengar suara di sekitarnya di sela kesakitannya.
"Pergilah, aku tidak apa-apa. Ah,, ini acara mu."
'Acara ku?' Batin Kristal melihat Kimmy sejenak dengan raut tak terbaca. Kemudian dia pergi ke tempat dimana ada lilin yang harus segera dia tiup.
Di sepanjang langkahnya Kristal terus membatin dalam hatinya.
'Benar. Ini adalah acara ku, acara yang sengaja ku buat untuk membuka peluang bagi dirimu bertemu pria lain. Sebut saja ini adalah usaha pertama yang ku lakukan untuk mu menemukan jodoh agar kau bisa segera pergi dari rumah besar Milo.'
*Flashback on
Menjelang malam, kedua gadis berada di dalam mobil dengan wajah yang puas. Mereka puas karena akhirnya hari yang di tunggu-tunggu pun tiba. Sebuah hari dimana mereka bisa menghabiskan waktu seharian penuh tanpa gangguan dari Milo.
Kimmy menggigit bibirnya sejenak merasa tidak enak harus menolak Kristal.
"Eee,, maaf Kristal kau tidak bisa mengantarku." Kristal mengernyit. "Mengapa?"
"Tuan bilang aku tidak boleh pulang jika bukan Ben atau orang kepercayaannya yang menjemputku. Jam berapa pun aku akan pulang aku harus menunggu jemputan dari tuan."
Kristal sempat melirik Kimmy yang ada di sebelahnya. "Milo membuat aturan seperti itu. Mengapa?"
Kimmy menghembuskan nafasnya malas.
"Masih aturan yang sama. Kita harus berhati-hati dalam menyangkut namanya."
Kristal semakin bingung.
"Lalu apa hubungannya dengan pulang. Memangnya kau pulang ke mana?"
"Ke mansion."
Ckiiiiiittt…!!!
"Aaahh!"
Kimmy berkedip-kedip atas keterkejutannya sebelum menghela nafasnya. Dia pun mencoba memarahi Kristal. "Kristal… mengapa mengerem mendadak seperti itu?? Apa kau tahu jika ini sangat berbahaya?"
Hening.
Kimmy menoleh kearah kemudi. Terlihat Kristal hanya terdiam mencengkeram stir mobil nya erat.
__ADS_1
'Mansion? Jadi Kimmy tinggal di mansion. Satu atap bersama Milo? Bagaimana kalau mereka, mereka saling nyaman satu sama lain? Bagaimana kalau mereka semakin dekat, bagaimana kalau– bagaimana—' Batin Kristal yang terus bergejolak bersama dengan pikirkannya yang mulai menjalar kemana-mana yang terlihat jelas di wajahnya. Cengkramannya semakin erat sehingga tanpa sadar tangan Kristal bergetar.
Melihat kondisi Kristal yang seperti itu, Kimmy mencoba memanggil namanya.
Kimmy mengulurkan tangannya di lengan Kristal dan sesekali mengguncangnya.
"Kristal, kau kenapa? Kau sakit?"
"Kristal."
"Kristal.. Kristal."
*Flashback off
"KRISTAL!!!"
"Ah. Ya." Kristal tersadar dari lamunannya.
"Kenapa malah melamun? Cepat lilinnya akan habis."
"Ah ya." Jawab Kristal yang langsung bergegas bersama temannya itu.
Setelah sampai di depan kue, Kristal melihat sejenak lilin angka 23 yang sudah tinggal setengah.
'Di hari kelahiran ku tahun ini, aku sengaja merayakannya tanpa keluarga ku. Ulang tahun sekaligus reuni, hanya ini yang aku pikirkan saat ini untuk menjauhkanmu dari Milo. Setidaknya aku bisa menjauhkan hatimu darinya terlebih dahulu.'
Dia pun langsung menutup mata dan memanjatkan doa dalam hatinya.
'Tuhan, semoga rencana ku berhasil untuk menjauhkan Kimby dari Milo.'
Fuuuhh.
Lilin yang tinggal setengah itu padam dengan sekali hembusan nafasnya.
_
_
_
Kimmy sudah terlelap setelah di tangani dokter.
Di ruangan lain, saat ini semua orang sedang bermain biliar untuk mengisi kekosongan setelah tiup lilin. Sebagian juga ada yang bernyanyi karaoke.
Di sudut lain, Kristal mendatangi seorang pria yang sudah selesai dengan telponnya.
"Hai Roma. Boleh aku bertanya."
Pria bernama Roma itu menoleh ke sumber suara.
"Hai juga Kristal." Roma menjawab dengan ramah sesuai karakter nya. "Katakan saja."
"Saat akan tiup lilin, kau ingat gadis yang jatuh sakit tadi?"
Kening Roma mengerut mengingatnya. "Ya, aku ingat."
"Itu adalah Kimby."
Roma terkejut.
__ADS_1
"Kimby…?"