
Bab 11
Keesokan harinya
Di sebuah bar, Milo menyesap wine favoritnya setelah kepergian rekan bisnisnya. Dan tak lama kemudian Ben datang untuk menjemput tuannya.
"Bagaimana?"
"Sesuai harapan tuan, nona Kimmy mampu mengerjakan pekerjaan anda di meja CEO hanya dalam 1 jam pengajaran." Ucap Ben dengan senyum bangga.
Sudut bibir Milo sedikit terangkat dengan raut bangga mendengarnya.
Ya, karena akhir akhir ini Milo banyak pertemuan penting yang tidak bisa di tunda, dia memutuskan mengambil Kimmy untuk bekerja di komputernya. Hanya komputer, agar dokumen dan berkas-berkas lainnya tidak terlalu menggunung tinggi saat di tinggal olehnya selama satu minggu kedepan.
Satu minggu kemudian
Milo telah tiba di kota kelahirannya setelah melakukan pertemuan terakhir satu pekan ini.
Hal utama yang akan dilakukannya adalah pergi ke perusahaannya. Dia akan mengecek situasi ruangan CEO nya yang di kuasai Kimmy satu minggu ini meskipun dia sendiri selalu memantaunya dari jarak jauh.
Mengapa di kuasai? Karena di dalam ruangan itu rupanya Kimmy tidak bekerja layaknya seorang karyawan perusahaan pada umumnya. Tidak hanya selalu membuat Edwin sang sekretaris kedua Milo repot dengan meminta ini dan itu, tapi gadis itu selalu membuat sekretaris Milo tepok jidat dengan perilaku Kimmy yang masih tergolong ABG.
Bayangkan saja jika di sela pekerjaannya Kimmy sempat-sempatnya bermain skipping, main busur, bermain dengan samsak tinju, bahkan tidur di sofa di jam kerja. Meskipun begitu, Milo cukup puas dengan hasil pekerjaannya.
Sungguh gadis yang aktif bukan?
Saat ini Milo telah sampai di ruangannya bersama Ben. Benar saja jika gadis itu saat ini sedang bermain dengan samsak tinjunya dengan Edwin yang sedikit memijit pelipisnya di sofa.
Edwin yang melihat CEO nya datang pun seketika bangun dari posisinya dan bergegas menghampiri Milo.
"Tuan, anda sudah datang? Maafkan saya tidak menyambut kedatangan anda."
Mendengar itu, seketika Kimmy berhenti dan perlahan menengok ke sumber suara.
"Tidak apa-apa sekretaris Edwin, aku paham jika kau sedang agak pusing mendengar pukulan samsak tinju." Ucap Milo dengan melihat tajam Kimmy yang sudah menoleh ke arahnya.
Glek.
Kimmy menelan salivanya dengan susah payah melihat mata elang Milo yang di takutinya.
Setelah beberapa saat.
"Edwin, kau boleh pulang untuk beristirahat karena lusa kau akan bekerja seperti ini lagi."
Setelah Edwin pergi, Milo duduk di sofa dengan pandangan yang tak lepas dari Kimmy.
"Sudah selesai bermainnya?"
Kimmy masih menunduk.
"Jika sudah selesai, segera mandi dan ganti bajumu karena ini sudah waktunya makan siang."
__ADS_1
Tanpa menjawab Kimmy langsung memasuki kamar pribadi Milo yang sudah sering di pakai tidur siang olehnya.
30 menit kemudian, Kristal datang dengan sebuah laporan di tangannya.
Setiap satu minggu sekali Kristal memang harus melaporkan hasil pekerjaannya kepada Milo meskipun Milo sudah menerima laporan setiap hari dari para pengajar Kristal.
Kristal memberikan berkas laporan tersebut dengan wajah sumringah karena dia membawa hasil yang sesuai dengan keinginan Milo.
Namun seketika Kristal mengernyit saat melihat dalam ruangan itu terdapat samsak tinju. Dia bertanya tanya dalam hatinya sejak kapan ada samsak tinju di ruangan itu? Ingin rasanya dia bertanya, tapi Milo adalah orang yang sangat tidak suka dengan orang yang banyak bertanya untuk hal yang tidak penting.
Pertanyaan itu muncul karena memang Kristal sendiri baru memasuki ruangan itu saat memberikan laporan mingguan nya setelah liburan. Terlebih dia tidak diizinkan memasuki ruangan Milo jika tidak ada hal penting.
Kristal pun memilih untuk duduk di sofa sembari menunggu Milo selesai dengan laporan mingguan nya.
Dan entah sejak kapan Kimmy sudah duduk di sofa itu terlebih dahulu dengan tubuh yang segar setelah mandi.
Deg.
Seketika Kristal membeku dengan detakan jantung yang seperti ingin melompat dari tempatnya.
Ben yang tadinya hanya melihat sekilas pun seketika menjadi perhatiannya dari mejanya.
Ben pun mendekati Kristal yang terlihat mencurigakan saat melihat Kimmy. Wajahnya pucat dengan mata yang tertuju pada wajah Kimmy. Terlebih ekspresinya yang seperti melihat hantu.
Milo yang merasakan aura panik Kristal itu langsung menghampirinya dengan rasa penasaran yang tinggi.
"Kristal, kau kenapa?" Milo memegang pundaknya yang terasa gemetar dengan dada yang kembang kempis.
"Kristal…" Milo mengguncang pundaknya.
Suara Kristal tercekat karena dia tidak bisa mengendalikan detakan jantungnya yang semakin cepat seperti ingin melompat dari tempatnya. Seketika dirinya tiba-tiba merasakan mual karena perutnya terasa sangat perih.
"Kau mengenalnya?" Milo menyipit.
"Aku.. A. Aaaahh.."
Kristal memegang perutnya kesakitan.
"Kristal, kau kenapa."
"Pe-perutku. Aahh.."
"Ayo kita ke rumah sakit."
Namun Kristal mencegahnya dengan tangan.
"Tolong ambilkan obat mag ku di dalam tas." Ucap Kristal dengan terbata menahan kesakitan.
Milo pun langsung menggendong Kristal sembari memberi perintah kepada Ben, kemudian membaringkannya di sofa.
Dengan langkah cepat, Ben kembali dengan membawa obat mag yang diminta Kristal.
__ADS_1
Setelah Kristal meminum obat tersebut, Kimmy yang sedari tadi melihat wajah Kristal pun tiba-tiba merasa sakit kepala.
"Ssshh… aaa. "
"Nona Kimmy, anda kenapa?" Tanya Ben yang ada di sampingnya dengan lembut.
Kimmy tidak menjawab dan malah semakin meremas rambutnya kuat. Itu membuat Ben menjadi tambah khawatir sehingga perhatian Milo teralihkan olehnya.
"Nona." Suara Ben cukup keras saat berusaha menenangkan Kimmy.
Sontak saja Milo yang tak kalah khawatir langsung menghampiri Kimmy dan menggendongnya.
"Ben, cepat ambilkan obat penenangnya."
Ben pun bergegas ke mejanya dengan terburu-buru. Setelah menemukan obatnya, dia langsung memasuki kamar dimana Milo sudah membaringkan Kimmy yang masih memegang kepalanya yang berdenyut.
Kepanikan Milo dan Ben tak luput dari perhatian Kristal. Di sofa, dia melihat pintu kamar pribadi itu dengan tatapan bencinya.
Apa posisinya, sampai seorang Milo dan sekretarisnya itu sangat panik dengan sebuah sakit kepala. Ucapa dalam hati Kristal.
20 menit kemudian
Perut Kristal yang perih dan mual itu sudah berangsur membaik. Milo duduk di hadapannya untuk sedikit mengintrogasi terkait ekspresi Kristal saat melihat Kimmy.
"Kau mempunyai mag?"
Kristal mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Beberapa hari yang lalu, karena akhir akhir ini aku selalu lupa makan karena terlalu bekerja keras."
Milo dan Ben menghela nafasnya dengan raut wajah datar. Ben memutar bola matanya malas.
"Apa pekerjaan itu terlalu sulit untuk mu sampai harus bekerja sekeras itu?"
"Sedikit." Kristal tersenyum kecut.
"Lalu sekarang kau telat makan siang sampai kambuh seperti ini?'
"Hmm."
"Mengapa. Apa kau lupa lagi karena giat bekerja?"
"Aku hanya terlalu bersemangat memberikan laporan mingguanku padamu, karena ini adalah hasil yang cukup memuaskan sesuai keinginan mu."
Milo memejamkan matanya beberapa detik dengan sedikit menggerakkan kepalanya ke kanan kiri untuk mengurangi rasa kesalnya.
"Yasudah, sekarang kau makanlah dulu. Makanan sudah datang."
Milo yang akan kembali ke kursinya pun di cekal oleh Kristal.
__ADS_1
"Makan lah dengan ku. Kau belum makan siang bukan?"
Karena merasa perutnya sangat lapar, Milo pun terpaksa makan siang bersama Kristal.