MINE! The Alpha'S Lover

MINE! The Alpha'S Lover
PROLOG ; Meninggalkan Gladea Pack


__ADS_3

Lolongan serigala memenuhi pendengaran gadis kecil yang mulai terbangun dari mimpi negeri dongeng nya. Ia menatap dengan wajah kebingungan melihat tidak ada Anie---Ibu Asuh yang selalu tidur di sebelahnya. Gadis itu berjalan membuka pintu kamarnya lalu sekelebat cahaya dari kobaran api yang terpantul pada jendela istana menarik perhatian nya.



Dengan mengandalkan sebuah kursi terdekat, gadis kecil itu melihat semua kekacauan yang terjadi pada wilayah Gladea Pack. Bangunan Houspack yang ada di kaki gunung serta villapack di istana habis terbakar oleh raungan api yang terus menyulut kematian. Para Wolf petarung baik Warrior Istana ataupun para pemberontak, saling berperang mengukir kebisingan. tetapi kejadian itu masih sulit di pahami oleh gadis kecil itu sehingga ia hanya terdiam melihat peristiwa kejam tersebut.


"Clarissa," Panggil seorang pria yang terlihat penuh luka dan darah, menghampiri Putrinya.


"Daddy?" Gadis bernama Clarissa tersebut menghampiri sang Ayah.


Tapi bukannya menyabut sambutan dari sang Putri Harrit--Ayah Clarissa justru menarik Putrinya dengan sangat terburu-buru menuju taman rahasia yang ada di belakang istana. Ia dengan raut ketakutan menggenggam kedua bahu Clarissa sembari melihat sekelilingnya dengan penuh waspada.


"Rissa Ayah minta maaf, kau harus tetap hidup. Ayah tidak punya pilihan lain." Harrit mengeluarkan belati pusaka milik leluhur Gladea Pack. Lalu dengan gemetar mengarahkan ke dada Putrinya sendiri lebih tepatnya pada sebuh lambang wolf nya. Ia menusuk sedikit mengukir goresan yang membasahi gaun tidur Clarissa dengan darah.


Clarissa menangis merasakan sakit, dan terus meminta Ayahnya untuk berhenti memperdalamnya. Harrit harus cepat melakukan nya ia pun tidak tega harus melukai Putri yang sudah ia jaga lebih dari nyawanya, tapi situasi saat ini jauh lebih genting. Seakan menyadari musuhnya telah menemukan keberadaan nya Harrit dengan cepat merapal kan mantra sihir yang membuat lambang tadi menghilang tidak untuk luka Rissa.


"Gama!" Teriak Harrit, di ikuti dengan munculnya Serigala coklat bertubuh besar di sebelah Clarissa.


Sekali Lagi Harrit menyentuh wajah Putrinya dengan penuh rasa bersalah sembari menghapus air mata Putrinya. "Rissa, dengarkan Ayah. pergi dari sini kau harus tetap hidup, bersembunyi lah sebisa mu dan jangan sampai tertangkap oleh Paman mu."


"Hiks, Rissa mau sama Daddy, hiks....,hiks. Rissa sayang Deddy jangan tinggalkan Rissa sendiri."


"Putriku Rissa. kau tetap harus pergi, lari lah sejauh yang kau bisa dan ingat ini baik-baik jangan pernah kembali ke sini. Gladea Pack bukan lagi tempat mu untuk pulang. Apapun yang kau dengar jangan pernah kembali ke sini, Ayah mohon...,"


Harrit menangis di hadapan Putri kecilnya. Sosok Alpha yang selalu di junjung dengan Ketanggungan nya dalam memimpin Gladea Pack itu terlihat sangat lemah, baik Harrit ataupun jiwa Wolf yang ada pada tubuhnya.


"------Ayah mohon, tetaplah hidup tanpa di ketahui oleh kaum Werwolf ataupun bangsa Immortal yang lain Rissa. Ayah tidak perduli dengan karunia Moon Gaddes yang mencintaimu, tapi Ayah hanya ingin kau hidup dengan baik tanpa harus memikul beban. Meski kau memiliki hak untuk memimpin Gladea Pack di masa depan----Ayah harap, Jangan pernah kembali!"


Harrit berdiri ia menatap Wolf salah satu bawahan terpercayanya untuk membawa Clarissa. Saat itu ia melihat Albram adik Harrit yang memimpin pemberontakan datang sembari menyeret tubuh wanita yang telah tak bernyawa.


"Mommy," Gumamnya saat mengenali siapa wanita yang di bawa paman nya dengan tampang wajah merendahkan.


Harrit menoleh ketika menyadari belahan jiwanya telah mati di tangan Adik nya. Amarah berkecamuk memenuhi pikiran Alpha tersebut untuk menghabisi dalang yang membunuh Mate nya.


"Kiara!" Panggil Harrit dengan sangat terluka. Ia menatap benci terhadap Albram yang telah membunuh rakyat Pack dan juga keluarga kecilnya.


"Kau akan mati ditangan ku, Albram!"


"Kau terlalu berbangga diri, Alpha." Sindir nya dengan wajah keji yang melirik Tuan Putri kebanggan Gladea. "Putri Clarissa, ternyata kau ada di sini rupanya---Paman sangat merindukan mu sayang."


"Jangan sentuh Putri ku. Gama, pergi dari sini!!" Teriak Harrit lalu merubah wujud menjadi wolf berwarna abu abu untuk menghalangi Albram.


Albram mulai jengah ia pun menyuruh para Assasin nya untuk mengincar Putri. "Seret Tuan Putri kemari. Anak yang diramalkan bulan tidak boleh hidup!"


Gama merubah wujudnya menjadi manusia, ia lantas memeluk sang Tuan putri sembari menyeretnya dengan paksa, karena Clarissa terus saja memberontak sembari menangis memanggil sang Ayah yang mengabaikan nya akibat melawan Albram.


Gama berusaha melindungi Putri kecil itu dari Assasin yang terus menghalanginya. Clarissa tidak banyak bergerak ia masih terpaku dengan pertarungan Ayah dan Paman nya.


Hingga pemandangan mengerikan terlukis jelas dikedua mata gadis berusia 9 tahun itu. dimana sang Alpha harus jatuh berlutut dengan tusukan pedang di hadapan para pemberontak. Gama yang menyadari sesuatu hal, bergerak cepat memeluk dan menutup mata Tuan Putri nya itu.


Namun sayang, kecepatan Albram menebas kepala Harrit tidak terelakkan saat gadis itu masih bisa menyaksikan eksekusi dari celah jemari Gama. Tubuh Clarissa bergetar ketakutan dengan air mata yang telah memupuk di kedua mata permata nya berwarna coklat keabuan.


"DADDY!!" Teriakan Clarissa terdengar sangat nyaring hingga ke telinga para Werewolf yang memang memiliki kepekaan pada indra suara.


Gama dengan berat hati melarikan diri membawa Clarissa memasuki hutan belantara yang sangat lebat. Ya, Gladea Pack memang tidak berdiri di alam Immortal mereka membangun kerajaan werewolf di dunia manusia lebih tepatnya hutan Kalimantan negara Indonesia.


Untungnya sihir yang membentengi Pack dan lokasi yang strategis tidak akan mudah di temukan manusia sekalipun. Ini sudah hal yang lumrah jika para Kaum Immortal berkelana membangun kerajaan sendiri di dunia Manusia tanpa melibatkan manusia seperti hukum alam yang ter tuntut jelas bagi siapa pun.


"Gama lepaskan aku---Daddy, Daddy..., kita harus menolongnya. Gama lepas!!" Clarissa terus memukul dada Gama yang mendekapnya sembari berlari.

__ADS_1


Assasin Albram begitu kuat dan berhasil menyusul mereka. Gama yang menyadari akan keberhasilan yang begitu sedikit mengubah rencananya, dia melompat lalu menumbangkan beberapa pohon kemudian mengambil lompatan jauh menyebrangi jurang di hadapan nya.


Melihat musuhnya sedikit kesusahan, Gama segera menurunkan Tuan Putri. "Putri, saya minta maaf tidak bisa pergi bersama anda. Anda harus pergi sendiri, di bawah kaki gunung ini terdapat rumah pemukiman Manusia pergilah dan bersembunyi di sana."


"Aku tidak mau sendiri, hiks..., Gama."


"Piutri harus tetap hidup. Lupakan kejadian ini, lupakan Gladea Pack dan jangan pernah kembali ke wilayah ini. Anda harus memenuhi keinginan terakhir Alpha."


"Risaa takut sendiri, hiks..."


"Putri kita tidak punya banyak waktu, bawa kalung ini. Ini milik Luna Kiara, meski tidak terlalu banyak membantu setidaknya kalung ini bisa menyamarkan hawa keberadaan mu dari incaran Albram, sebagai manusia." Gama membantu memakaikan kalung tersebut kepada Clarissa.


"Anda hanya perlu bersembunyi sebentar, anak buah ku akan mencari Putri. Mereka akan mencarikan tempat yang aman untuk mu Putri."


"Tapi Gama, bagaimana aku bisa bertahan?"


"Anda putri yang kuat. Saya yakin anda bisa melewati cobaan ini, Putri. Demi rakyat Gladea Pack tetaplah hidup. Biar aku yang mengatasi di sini. Bersembunyi lah di lingkungan manusia, aku yakin Albram tidak akan berani menyentuh mu. Karena Moon Goddes melarang kaum Werewolf untuk membunuh ataupun hanya sekedar menunjukkan kekuatan nya di hadapan manusia. Tolong pahami situasi saat ini Putri."


Clarissa memeluk Gama sesaat, ia menghapus air matanya lalu melihat hutan di belakang Gama lebih tepatnya menerawang jauh melihat kondisi Ayah Ibu nya yang sudah tidak bisa lagi bersama nya. Clarissa anak perempuan yang di banggakan bukan hanya sekedar status nya sebagai anak Alpha melainkan, ia memang sangat cerdas dan kadang bersikap dewasa dengan wibawa yang lucu untuk usia belia nya.


"Aku akan menepati janji Daddy dan Gama. Tapi tolong, Gama juga harus tetap hidup."


Gama menahan perasaan kecewa karena ia telah bertekad tidak akan pergi sebelum berhasil membalas kematian Alpha nya. Sebagai Beta kepercayaan Harrit, ia memeluk tuan putri manis di hadapan nya, meski harus berbohong tapi ia tetap bersumpah di hadapan calon penguasa Gladea Pack----jika saja peristiwa ini tidak terjadi.


"Saya bersumpah atas nama Moon Goddes, Putri."


Clarissa menoleh sekali lagi kearah Gama kemudian dengan perasa sedih, kecewa, ketakutan, dan berbagai macam perasaan memaksa Clarissa harus terus berlari menuruni pegunungan, tidak perduli bagaimana ranting dan bebatuan melukainya ia harus tetap bertahan hidup.



Jangan khawatir Rissa, kau masih punya diri ku.


"Terimakasih, Selena."


...--༺🌛🌟🌜༻--...


15 Tahun Kemudian


Jakarta, Indonesia.


Clarissa berhenti berlari dari kegiatan joging malam rutinitas nya. Ia berdiri memandang langit lebih tepatnya kepada rembulan. Namun pandangan dari manusia di sekitarnya kembali mengusik Clarissa, karena terpesona dengan paras jelitanya yang terlihat seperti seorang model dari eropa.


Rambut hitam pekat bergelombang, yang ia kuncir satu, dengan kedua iris mata yang menyihir banyak kaum adam dalam sekali lirikan. Belum lagi kulit putih seindah padang salju dengan tinggi badan sangat ideal bagi kaum wanita.


Dengan sedikit gugup Clarissa kembali memakai masker dan topi hitam nya guna menutupi wajahnya. Ia memasangkan earphone di telinganya kemudian kembali berlari menuju apartemen nya.


Clarissa menekan kode rumahnya lalu memasuki apartemen yang berada di lantai tiga. Ia berjalan menuju balkon dan mengintip sedikit kearah persimpangan jalan. Meski ia mencoba terlihat tenang tapi sebenarnya ia cukup gelisah karena mereka kembali menemukannya.


Benar, sudah 15 tahun berlalu. Dan selama itu Paman nya masih mencari keberadaan nya. Jika sudah begini solusinya adalah ia harus pindah tempat, meski tidak sampai tertangkap tapi jika di kejar seperti ini terus siapa yang tidak akan muak.


Untungnya karena ini masih di wilayah pemukiman manusia mereka tidak akan bertindak gegabah, jadinya ia bisa menyusun rencana untuk melarikan diri.


Dulu ia sempat beberapa kali du adopsi oleh manusia dari panti asuhan tapi setiap bergabung dengan keluarga baru, Paman nya akan membunuh mereka tanpa di ketahui pihak manapun---dengan memanfaatkan manusia yang gila akan harta, sehingga ia bisa memerintahkan mereka untuk menghabisi mereka.


Karena Clarissa sudah tidak kuat melihat para manusia harus menjadi tamengnya, ia pun memilih hidup sebatang kara ketika memasuki usia 15 tahun. Untung lah kalung peninggalan Ibunya memiliki keajaiban yang sangat berguna seperti menyimpan barang permata milik keluarga yang dapat Clarissa jual untuk bertahan hidup sebagai Manusia sehingga ia tidak perlu mengemis di pinggir jalan.


"Kali ini kita harus pindah kemana lagi? Kurasa sudah hampir semua wilayah di Indonesia kita tempati bahkan di beberapa Pack kecil di hutan."


Selena---Shewolf milik Clarissa mengutarakan pendapatnya. Benar mereka adalah dua jiwa yang berada di satu tubuh karena ia adalah kaum Werewolf, meski berbeda jiwa mereka tetap satu; saling berbagi penglihatan, perasaan, keluh kesah menjalani hidup ini juga telah mereka rasakan dan saling berbagi seakan mereka ada satu orang.

__ADS_1


"Entah lah, Seperti nya Paman juga menyebar semua Assasin nya di provinsi yang pernah kita tinggali."


"Kalau begitu kita harus apa?"


Clarissa sudah muak dan sangat lelah hidup dalam kejaran dan terus bersembunyi. Ada kalanya ia sangat marah dan berpikir untuk menemui paman nya sendiri untuk membalaskan dendam orangtuanya. Tapi lagi lagi janji Ayah nya membelenggu itu semua.


"Oh, bagaimana jika kita pergi ke eropa saja? Sekalian mencari Mate kita Rissa."


"Mate ya...,"


"Ada apa dengan mu? Apa kau sudah menyerah hanya karena kita tidak bisa menemukam nya di sini."


"Entahlah, tapi aku hanya takut dengan reaksinya."


Selena yang mulai memahami situasi yang membuat Clarissa termenung, terdiam. Benar kenapa dia tidak memikirkan hal ini, dan selalu bersemangat sendiri untuk memaksa Clarissa mencari Mate mereka.


Habis bagaimana yaa. Mereka memang bangsa Werewolf apalagi darah murni rembulan mengalir padanya. Hanya saja, sejak kejadian Ayahnya menghilangkan lambang tanda kelahiran seorang Wolfy, Clarissa tidak akan pernah bisa merubah ataupun melakukan shift wujud Wolf nya. Begitulah yang di katakan Gama saat pertemuan rahasia mereka di usia nya 14 tahun.


Dan yang terjadi Clarissa di nyatakan sebagai Werewolf tak sempurna atau bisa menjadi aib yang sangat memalukan bagi bangsa Werewolf. Karena buat apa di sebut bangsa Werewolf kalau dia tidak bisa menunjukkan sosok Wolf sebagai anugrah dari Moon Goddes. Jika suatu saat dia bertemu dengan Mate nya akan kah dia bisa menerima sosok nya?


Clarissa berdecak kesal, ia tidak bisa menyalahkan keputusan Ayah nya meski ia tidak mengerti dengan tindakan itu, tapi pasti Ayah nya memiliki alasan dan sudah jelas itu berkaitan dengan paman nya.


Sudahlah, Clarissa sudah lelah dengan mengurisi caranya bertahan hidup, ia tidak akan terlalu menggubsir sosok Mate nya. Toh jika pun memang Moon Goddes mencintainya, ia pasti akan mengasihani anak remahan ini.


"Ini salah ku karena tidak cukup kuat untuk memunculkan lambang Wolf itu kembali."


Clarissa berjalan memasuki kamarnya lagi dan memandang dirinya di cermin seakan berbicara dengan dirinya yang lain. "Selena, kita sudah membahas hal ini. Semua ini bukan salah mu, kau tidak lemah. Apa kau tahu, Aku bisa bertahan sampai saat ini berkat dirimu. Disaat Ayah dan Ibu pergi kau yang selalu menyemangati ku. Kau Wolf ku yang sangat kuat dan tidak akan pernah tergantikan."


"Lagipula, meski kita tidak bisa berubah menjadi Wolf. Aku bisa menggunakan sihir yang bisa melindungi kita--meski bukan kekuatan besar ini sudah cukup. Keinginan mu untuk melindungi ku, memberikan sesuatu yang spesial bahkan tidak semua Werewolf bisa melakukan sihir malah itu hal yang mustahil."


"Oh, Rissa aku sangat berterimakasih atas dirimu yang tidak malu memiliki wolf seperti diriku di dalam dirimu. Mungkin kita bisa aman, semua karena ibu yang berasal dari kaum Witch."


"Ayolah, kurangi rasa bersalah mu. Kau spesial.---"


"Tidak! Bukan aku tapi kita."


Clarissa yang merasa sahabat hidup nya telah kembali ceria menghela nafas seakan mereka tengah tersenyum lega atas perjuangan nya hingga sampai saat ini.


"Kalau begitu bagaimana kita mengurus mereka?"


Clarissa harus berpikir cepat. Mengingat para Assasin Albram akan segera bergerak ketika sudah sepi atau tepatnya pukul dini hari nanti. Jika dia pergi menemui Gama yang berada di hutan papua bersama werewolf kepercayaan ayah nya dulu dia pasti akan aman---tapi Clarissa yakin, setelah Paman nya itu mengetahui keberadaan nya dia dan seluruh pengikut Gama akan di incar.


Walau sudah pasti, tapi Clarissa tidak mau menambah beban mereka. "Tempat yang tidak akan mudah di lacak Paman. Sebuah tempat terpencil dan sangat jauh dari pemukiman-----"


"Rissa ini hanya pendapat ku. Apa kau tidak ada pikiran untuk pergi ke hutan Nehela?"


"Hutan Nehela? Tapi jika kita pergi ke eropa dimana hutan Nehela adalah perbatasan dengan jantung alam Immortal itu akan berbahaya juga kan?"


"Kurasa tidak. Meski Ayah meminta kita untuk menutup diri dari kaum Werewolf dan bangsa Immortal lain nya, tapi yang ku maksud kita hidup di desa yang berada di lereng hutan Nehela. Gama pernah bilang, di sana bisa menjadi alternatif untuk melarikan diri karena kita bisa mencari Fiera---teman Ibu. Karena dia bangsa Witch dia bisa membantu menghilangkan jejak kita."


Clarissa yang merasa Selena memutuskan komunikasi mind link pikiran, membuat Clarissa harus mengambil keputusan yang baik untuk mereka. Ia melirik keluar jendela, dan para Assassin Albram masih setia memandang apartemen nya.


Ia menimbang banyak hal mulai dari resiko dan keuntungan dari keputusan nya. Jika dia pergi ke sana ada kemungkinan Paman nya tidak akan melacaknya karena ada bibi Fiera dan jika beruntung ia hanya perlu menjadi manusia yang membaur tanpa mencolok di sana dengan begitu ia tidak perlu khawatir mengenai bangsa Immortal / werewolf lain nya.


"Baiklah, ayo kita pergi ke Swiss. Semoga saja Paman tidak berhasil menangkap ku malam ini---Oh Dewi Bulan, tolong terangilah langkah ku dan kali ini saja berikan aku sebuah tempat yang benar-benar bisa ku sebut rumah. Saya mohon Dewi," Ujar Clarissa seraya memohon kepada rembulan.


Tapi sebelum itu ia perlu memberi kabar kepada Gama melalui surat sihir, karena ia tidak tahu dimana Fiera tinggal.


...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...

__ADS_1



__ADS_2