MINE! The Alpha'S Lover

MINE! The Alpha'S Lover
Ayo Arungi Neraka Bersama!


__ADS_3

*Darkmoon Pack


- Castle Camp Pelatihan Werewolf


Aldera melihat keseluruhan dokumen yang di bawa Jay serta Pedro dari wilayah Asia Tenggara, lebih tepatnya menyelidiki Gladea Pack dan sosok Clarissa. Mereka membutuhkan waktu empat hari untuk bisa merangkum semua informasi yang di butuhkan, bahkan Demian yang turut berada di sana pun tidak mempercayai dengan semua laporan yang ada di dokumen tersebut.


Secara singkat, Jay dan Pedro menjelaskan bahwa Clarissa adalah seorang Putri bangsawan pada sebuah kerajaan Werewolf di hutan terdalam Negara Indonesia----Gladea Pack dan satu-satunya anak seorang Alpha besar, yang cukup berpengaruh di benua Asia pada dunia manusia.


15 tahun yang lalu Paman nya (Albram) melakukan pemberontakan untuk mengambil alih kursi kekuasaan dan mengeksekusi seluruh pengikut Harrit sebagai Alpha dan ayah Clarissa, bahkan kejinya jasad Alpha dan Luna harus di jadikan bahan cemooh dan di biarkan pada tiang keadilan selama dua hari sebelum mereka di bakar sebagai pemakaman terakhir tanpa ada batu nisan penghormatan selayaknya keluarga kerajaan.


Aldera meremukkan dokumen di tangannya, amarahnya meningkat dan sangat tidak sabar ingin memenggal kepala Albram, bahkan Zack di tubuhnya saja sudah menggeram---seakan ia siap merubah wujud serigalanya dan berlari ke Gladea Pack sekarang juga.


"Menurut laporan dari beberapa rakyat yang berhasil kabur dari Gladea Pack, mengatakan, Saat itu Luna Clarissa berhasil di bawa kabur oleh Gama---Beta Alpha Harrit dan membantunya beberapa kali selama Luna di buru oleh Albram." Tutur Jay.


"Meski begitu, sepertinya Gama tidak terlalu banyak berada di sisi Luna, karena ia harus menjaga persembubyian nya di hutan Papua."


"Jadi maksudmu, selama beberapa tahun Luna Clarissa hidup seorang diri mengatasi kejaran Albram?" Ujar Demian terlihat terkejut.


"Sepertinya begitu, sejak Luna meninggalkan Gladea Pack tidak banyak informasi yang kami dapat karena beliau hidup bersembunyi secara berpindah-pindah."


"Alpha....,"


"Bakar semua dokumen ini, pastikan kalian mengenali siapa tangan kanan Albram dan orang-orang nya. Jika kalian melihat mereka di perbatasan atau mencoba memasuki wilayah ini---bunuh mereka semua!"


"Baik Alpha."


"Oh, aku ingat!" Jay memecah topik hingga menarik perhatian. "Alpha, aku ingat sebagaian rakyat Gladea Pack bilang Albram juga memiliki hubungan dengan bangsa Vampir dan beberapa kali menculik manusia untuk diperdagangkan. Mungkin ada kaitan nya dengan Kerajaan Dextram."


"Segera cari tahu juga mengenai itu, Jay."


"Baik Alpha."


"Untuk sementara, rahasiakan sosok Clarissa. Dan jangan biarkan terlalu banyak werewolf ataupun ras lain mengetahui wajahnya, sampai aku sendiri yang memperkenalkan nya ke publik, kurangi pelayan Omega di sekitaran istana utama terutama pada ruangan ku. Perketat penjagaan di seliruh penjuru wilayah."


"Akan kami laksanakan, Alpha."


Aldera melihat selembar lukisan wajah Clarissa beserta keluarganya. Sosok Putri kecil yang tersenyum cerah di pelukan sang Ayah, melihatnya saja sudah cukup membuat jantung Aldera berdebar nyeri---perasaan bersalah membungkamnya. Ia menyesal telah mengatakan hal kasar mengenai sosok Ayah nya tanpa tahu cerita di belakangnya.


Aldera menggenggam erat lukisan tersebut kemudian meninggalkan ruangan komandan tentara di Castle camp pelatihan. Lalu berjalan keluar menuju istana utamanya yang terletak tak jauh dari Camp pelatihan para prajurit. Kini yang harus ia lakukan adalah meminta maaf dan memeluk kekasihnya atas sikap bodohnya.

__ADS_1


Pantas saja Clarissa begitu marah malam itu, dan Aldera siap jika memang Clarissa harus menampar atau memukulnya. Meski selama 4 hari ini Clarissa tidak lagi memberontak menunjukkan rasa inginnya untuk kabur dan hubungan mereka kian membaik, tapi Aldera tetap tidak tenang bagaimana jika semua sikap tenangnya hanyalah kepura-puraannya untuk menunggu monent pas untuk kabur lagi.


Karena, bisa saja Clarissa masih membencinya mengingat ia sudah sangat kasar dan mengatakan hal buruk mengenai Ayah Ibu nya.


Aldera sampai di ruang kamar rahasianya, dan membuka perlahan pintu di ujung lorong tangga tersebut. Di sana ia menemukan Clarissa masih dengan aktifitas rutin nya selama terkurung di kamar ini----duduk merenung menatap keluar jendela, entah apa yang sedang ia pikirkan. Seakan pandangan matanya menembus cakrawala hingga ke alam Manusia, dengan perasaan gundah. apa dia sangat merindukan keluarganya? Akan kah ia meninggalkan nya lagi?



"Rissa..., "


Suara bariton pria dengan kerendahnya yang begitu candu, kembali menarik perhatian Putri menara untuk melihat sang pujaan hati yang datang seperti kestria berkuda putih, membawa kehangatan dan kerinduan di tengah kesunyian sangkar merpati.


Clarissa menoleh menyambut kedatangan Aldera dengan ramah, namun senyuman nya menjadi rancu ketika sebuah selembar lukisan menarik iris mata purnamanya---membuatnya paham kenapa Aldera datang dengan wajah penuh kesedihan dan kekecewaan.


Semua yang mengetahui kisah masa lalunya pasti akan menunjukkan raut wajah empatik yang begitu iba terhadapnya, dan Clarissa sudah cukup yakin tanpa bertanya---bahwa Aldera pasti akan mencari tahu mengenai dirinya.


Maka dia meraih tangan Aldera memintanya untuk duduk di hadapan nya, dengan menunjukkan senyum terbaiknya, seakan ia mengatakan---sekarang sudah tidak masalah karena semua itu telah lama berlalu, tidak ada yang perlu di sesali, walau dia sendiri pun masih sering mengecewakan janji teguh yang ia tanamkan dalam dirinya. Bahwa dirinya pasti bisa melewati semua kenangan pahit tersebut.


"Clarissa, aku sungguh malu dan begitu bodoh---aku minta maaf untuk semua ucapn ku mengenai Ayah mu. Aku..., aku---haa.., aku tidak tahu harus bagaimana lagi bersikap saat bertemu dengan mu." Aldera menundukkan wajahnya.


Clarissa menangkup wajah Aldera. " Aku tidak suka di pandang iba, Aldera. Jika kau sudah tahu masa lalu ku dan perasaan penyesalan datang seperti pedang untuk mu, maka kau hanya perlu menepati kata-kata mu."


"Clarissa, aku bisa merebut Gladea Pack untuk mu, aku bisa menghabisi seluruh werewolf di Pack tersebut. Semua orang yang menertawakan kematian Ayah dan Ibu mu."


"Tapi Clarissa---"


"Aldera, musuh ku hanya dengan Paman bukan rakyat Gladea Pack. Tolong jangan menambah luka lama mereka, meski aku tidak ingin merebut kekuasaan, bukan berarti aku tidak punya keinginan membebaskan penderitaan mereka."


Clarissa menoleh keluar jendela. "Suatu hari nanti, aku pasti akan membalaskan kematian Ayah Ibu dan membunuh Albram dengan tangan ku sendiri. Ayah hanya tidak memperbolehkan ku kembali ke Gladea Pack bukan melarang untuk menghukum perbuatan nya. Tapi sekarang belum saat nya, aku masih belum sekuat itu."


"Aku pasti akan mendukungmu, aku pasti akan membantu mewujudkan nya. Bersama ku, kau akan kuat, ayo saling berbagi beban itu bersama, Rissa."


Clarissa merenungkannya sejenak, meski ia sendiri masih ragu tapi---ia rasa, Mate nya berbeda, sekarang satu-satunya sosok yang bisa dan harus ia percayai adalah belahan jiwanya. Ada pepatah yang mengatakan kecewa setelah mempercayai jauh lebih baik daripada kecewa karena tidak mengambil keputusan awal, setidaknya ia bisa melihat dan menelaah langkah selanjutnya dari perbuatan setelahnya.


"Bagaimana jika bersama ku adalah kehancuran, Aldera?"


"Maka aku tidak akan menyesalinya, karena cukup diriku yang membawa kehancuran tersebut---karena aku adalah Aldera, sosok Alpha yang berdiri dan menikmati kehancuran setiap Pack dan wilayah jarahan ku. Kau tidak perlu takut, ada aku yang bisa kau percayai."


Clarissa mengambil nafas cukup dalam dan menghembuskan nya guna menenangkan pikiran nya, "Baiklah, aku akan membagi ruang hidup yang begitu sesak ini. Dapatkah aku merepotkan mu untuk kedepan nya, Aldera?"

__ADS_1


Aldera tersenyum ia meraih dan memeluk kekasihnya, "Apapun! Kau bisa memanfaatkan ku jika kau mau, kekang aku dengan rantai sesukamu. Atau kau bisa menganggap ku sebagai alat dan memperbudak ku untuk kepuasan mu dalam mencapai tujuan mu---aku rela melakukannya, selama kau berjanji tidak akan meninggalkan ku, itu sudah cukup! Balas kan semua hal yang brengs*k itu lakukan kepadamu, sayang."


Aldera menggigit manis jemari tangan Clarissa dengan menunjukkan tatapan buas---seakan predator ini tidak akan pernah melepaskan buruan nya. Clarissa yang mendengarnya---sejenak berpikir ragu dan hatinya kembali merasa takut untuk mengambil kata janji tersebut, apa ini sungguh pilihan tepat?


Karena mau bagaimana pun, tatapan mata Aldera seakan menunjukkan jalan buntu dan tepian jurang. Bersama nya mungkin jauh lebih berbahaya daripada berhadapan dengan Paman nya. Cinta nya melebihi kata obsesi, sikap perlindungannya melampaui batas posesif seorang Mate, dan gairahnya untuk memiliki seorang Clarissa berada di titik red flag---julukan monster mungkin sangatlah cocok untuknya daripada seekor serigala yang gila!


Tapi seperti yang di perhitungkan, kabur pun percuma menyesali pun tidak akan berguna lagi. Aldera tidak akan perduli dengan alasan apapun dan Clarissa pun sangat yakin, jika pun dia harus mati, Aldera pasti akan memilih mengawetkan tubuhnya daripada merelakan dirinya untuk di kubur. Maka tidak ada pilihan lain atau bahkan Clarissa memang sudah harus siap menerimanya, karena ia sendiri pun telah telanjur----mencintai sosok Monster tersebut!


"----ha! cukup sampai disini,"


Clarissa pun tersenyum sinis, apa lagi yang harus ia ratapi. Bukankah takdirnya memang sudah sangat berantakan sejak dulu? Berdoa pun tidak akan membawa hasil apapun, karena melihat sosok Mate nya pun sudah seperti andromeda yang begitu gelap dan juga kuat----Jika mate nya adalah bentuk kutukan dari Moon Goddess, maka dia akan menerimanya dengan senang hati. Karena mau bagaimana pun Clarissa juga lelah hidup dalam tekanan batin yang selalu menuntutnya untuk diam! diam! terus terbungkam! Seperti serangga lemah!


"Rissa---"


Aldera terlihat terkejut saat Clarissa membalas tatapan nya dengan sangat tajam dan begitu serius, seakan ia telah menjadi gila seperti pikiran Aldera mengenai hidup memuakan ini.


Clarissa melingkarkan tangannya di leher Aldera mendekatkan diri seakan menantang mata predator di hadapan nya---jauh lebih kuat.


"Aku bersedia menjadi Luna dan mengabdikan diriku bersama mu, hingga maut memisahkan kita sendiri. Bukankah tidak akan ada yang bisa mengkhianati takdir mate nya? Berdusta pada perasaan pasangan nya jauh lebih menyakitkan daripada terhunus pedang. Jika pun kau dilukis kan sebagai kutukan untuk ku, maka aku akan menerima mu sebagai berkat terbaik dari Moon Goddess!"


Aldera tersenyum menunjukkan puncak kepuasan nya yang begitu arogan. Ia tahu mate nya tidak lah lemah, karena ia tidak bodoh dalam menilai Clarissa. Mau bagaimana pun ia menjalani hidup dengan keji---dia satu-satunya sosok wanita yang pantas menjadi mate nya.


"----Ayo arungi neraka itu bersama, Aldera! Jika menuntut balas dendam adalah dosa---maka aku pun akan mempertanyakan kepada Dewi Bulan, kenapa beliau harus merenggut orang-orang baik di sekitar ku dengan keji. Seakan ia pun memihak Paman ku untuk menunjukkan penderitaan kepadaku!"


Aldera mencium Clarissa sembari mendorongnya---menekan dirinya di bawah tubuhnya.


"Karena para Dewa bukanlah penguasa langit, Clarissa. Mereka juga pernah bermurai darah untuk apa yang mereka kasihi, melawan hukum langit dan hanya memberi batasan perlindungan tertentu untuk mahluk yang ia pilih sendiri, bukankah setiap mahluk Immortal memiliki Dewa atau Dewi penjaga nya sendiri? Jadi, takdir mu berada di tangan mu sendiri dan aku bisa memberikan---apa yang tidak bisa Dewi Bulan berikan untuk mu, sayang."


Clarissa tahu, Aldera seperti sosok iblis dalam wujud serigala suci. Mata merahnya yang berdelik pekat melebihi darah dan juga tiap tutur katanya yang menegaskan, bahwa sosok Alpha Werewolf tersebut punya dendam tersendiri kepada Moon Goddess, atau bisa saja jenjang kehidupan nya jauh lebih buruk daripada seorang budak!


Apa yang membuatnya menjadi kuat? Apa yang sudah ia lewati, dan ucap serapahnya terhadap para Dewa begitu mudah di utarakan---sakan ia jauh lebih mengenal sosok mereka dari siapapun.


Aldera, siapa kau sebenarnya?


"Jadi, bisakah aku menyimpulkan---bahwa kau bersedia menjadi milikku sekarang, tidak perduli jika kau akan jatuh ke neraka berama ku. Karena aku bukanlah sosok pria yang membawa banyak kebajikan dalam menjalani kehidupan ini---Aku tidak sebaik itu untuk di sebut pahlawan ataupun penguasa berbudi luhur, Clarissa." Bisik nya dalam mencumbu tiap senti dari tubuh wanitanya, lalu kembali menatap manik permata rembulan Clarissa.


"Aku tidak akan menyesalinya,"


Aldera tersenyum smrik, "Kau milik ku, seorang. Hidup dan mati mu berada di tangan ku, Luna."

__ADS_1


...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...



__ADS_2