
Clarissa benar-benar terkejut dengan keberadaan Mia yang kini sudah sangat mengenaskan, terlihat beberapa luka memar pada tubuhnya belum lagi kedua matanya terus tertutup dengan air mata bercampur dengan darah.
Aneh, bukankah sebelumnya dia berada di sekitaran toko? bagaimana bisa Vampir itu menculik Mia? Tunggu, mereka kan bukan manusia, dan sudah di pastikan, bahwa sihir adalah alasan utama kenapa Clarissa tidak dapat menyadari hal itu. Mungkin karena di Indonesia lebih banyak ras Elf dan Werewolf daripada Vampir sehingga keberadaan aura mereka masih terasa asing baginya.
Clarissa mencoba menghampiri Mia tetapi Aldera mencegahnya seakan bertanya apa yang ingin dilakukan Clarissa---melalui tatapan matanya. Dengan acuh Clarissa mengabaikan pandangan itu, saat menyadari Edward mulai menunjukkan taringnya untuk menggigit leher gadis belia itu.
Dengan panik, Clarissa melepaskan diri dari genggaman Aldera lalu dengan cepat berlari---bergerak gesit menggunakan kekuatannya untuk mengendalikan beberapa salju, menghentikan aksi Edward.
Dan ketika Edward lengah Clarissa langsung memutar tubuhnya---menendang leher Edward guna menjauhkan nya dari Mia, kemudian menangkap tubuh kecil tersebut sebelum jatuh menghantam akar pohon yang berada di bawah mereka.
Clarissa melompat mundur sembari melihat kondisi Mia. "Mia, kau bisa mendengar ku?"
"Kak Rissa?" Mia yang menyadari siapa sosok yang memeluknya dengan histeris kembali menangis dengan tubuh yang bergetar ketakutan. "Kak Rissa, Mia tidak bisa melihat---ini sangat menyakitkan kakak, hiks. Mia mau bertemu Mama, Mia takut, hiks..."
Clarissa yang melihat kondisi mata Mia begitu sangat marah sampai menatap tajam kearah Edward.
"Kak Rissa, aku takut ..." Dengan khawatir, Clarissa mengahapus air mata serta darah dari wajah mia sembari mengatakan banyak hal untuk mencoba menenangkan anak manis tersebut.
"Sekarang Mia, sudah aman, kau bersma ku. kita akan bertemu dengan Mama, jangan khawatir, mata mu hanya sedang lelah. Setelah tertidur, Mia akan bisa melihat kembali."
Clarissa memeluk erat Mia yang masih saja menangis dan perlahan Isak tangisnya mereda, seiring Mia kehilangan kesadaran nya karena Clarissa menggunakan sihir tidur kepadanya.
"Dasar Jal*ng. Beraninya kau menghentikan ku! Manusia seperti----Bukan, siapa kau sebenarnya?" Edward kembali bangkit dengan menatap tajam saat merasakan wanita itu sepertinya bukan manusia.
"Apa kau yang melakukanya?! Bukankah Vampir tidak di perkenankan untuk memburu Manusia." Tanya balik Clarissa kepada Edward.
__ADS_1
"Itu bukan urusan mu! tapi, hidup ini memiliki rantai makanan secara harfiah, cantik. Dan Manusia adalah akar paling rendah untuk menjadi makanan kami." Singgung Edward dengan memandang rendah pola pikir Clarissa.
"Kenapa diam? Habisi wanita itu, tapi jangan melukai wajahnya karena dia cukup rupawan----apalagi, tubuhnya pasti sangat indah jika diletakkan di dalam peti emas." Ujarnya menatap dengan maksud lain.
Kedua Vampir yang menjadi bawahan nya bergerak menuruti perintah Edward dan secara bersamaan menyerang Clarissa tapi sebelum itu terjadi Pedro dan Demian menjadi tameng bagi Clarissa.
Masih dalam wujud serigala, Demian serta Pedro menggigit lalu menghabisi sekelompok Vampir yang sudah cukup membuat mereka sangat geram dengan aksi mereka yang mencoba melukai calon Luna bagi Darkmoon Pack.
Sialan! Edward sudah sangat panik dia harus melarikan diri dari mereka sebelum berakhir mengenaskan seperti bawahan nya. Kenapa selalu Werewolf yang harus lebih unggul setiap ada pertarungan seperti ini. Harusnya dia tidak datang ke perbatasan, jika saja pria itu tidak berhenti mengirim anak-anak dari asia. Ia pasti tidak akan di perintahkan oleh ayah nya untuk menculik anak-anak dari perbatasan.
Terlebih yang membuatnya semakin kesal sekarang adalah wanita itu! Dengan tertatih Edward mencoba berjalan dengan ringisan kesakitan akibat luka yang terhambat untuk sembuh.
Tapi, seakan predator di satu sudut sudah sangat lelah menanti buruan nya lengah. Aldera dalam sekejap mencekik leher Edward, membuatnya menegang hingga menggeliat seperti seekor ulat. Aldera sudah sangat murka dengan sikap Edward belum lagi dia menatap wanitanya dengan penuh nafsu.
"Kau mengusik milik ku!" Aldera memiliki banyak dendam dengan mata Edward.
"Kau terlalu lancang menyentuhnya." kini Aldera juga turut mengincar tangan putra kebanggaan Vampir dengan banyak mengukir cakaran. Aksi kejinya bukanlah sesuatu hal yang pantas di lihat.
Bahkan Clarissa harus menahan napasnya setiap mendengar Edward memohon ampun kepada Aldera tapi seakan ia menjadi tuli----Aldera tidak mengindahkannya dan terus menghabisi Edward.
"Alpha, di sini masih ada Luna yang menyaksikan kita. Tolong tenangkan diri anda." Bisik Demian memalui telepati pikiran.
Aldera membuang tubuh Edward yang tak lagi bernyawa itu ke sembarang arah. Lalu melirik Clarissa yang sudah sangat ketakutan melihat aksinya, Oh Sial, ia terlalu terbuai dengan perasaan cemburu hingga menunjukkan hal mengerikan di hadapan Mate nya untuk pertemuan pertama mereka. Lihatlah bagaimana respon nya yang menjadi takut kepadanya.
"Kau harusnya mengendalikan dirimu, bodoh. lihatlah Mate ku jadi ketakutan karena mu."
__ADS_1
"Dia mate ku, jika dia sampai takut----ini salahmu karena kekuatan mu yang terlalu menekan jiwanya."
"Lagi-lagi kau menyalahkan ku. Lakukan sesuatu agar dia tidak takut, Aldera."
"Aku juga tahu itu." Aldera memutuskan komunikasi pikiran nya dengan Zack, dan kemudian berjalan mendekati Clarissa.
"Jangan lukai dia," Clarissa memeluk erat Mia dan bergerak mundur ketika Aldera mencoba meraih mereka.
Sungguh, respon Clarissa membuat Aldera terluka---apa dia juga akan di tolak oleh Mate nya sendiri. Ini karena Edward sialan itu, yang merusak momen pertemuannya, jika saja dia tidak berulah mereka pasti sudah berkenalan dengan kesan baik dan hasilnya tidak akan seperti ini.
"Clarissa, aku hanya ingin mengobati kedua matanya. Aku tidak bermaksud melukai kalian, tenang lah sayang ...," Aldera mencoba merendahkan suaranya agar membuat Clarissa yakin bahwa ia tak bermaksud jahat.
Clarissa tahu bahwa pria ini berada di pihaknya atau bahkan sebenarnya ia tidak akan bisa melukainya, karena Clarissa tidak bodoh untuk mengetahui perasaan apa yang ia rasakan saat melihat Aldera----bahwa sebenarnya Moon Goddess tengah merestui mereka dalam ikatan Mate, dan ia adalah belahan jiwanya.
"Baiklah, aku percaya dengan mu."
Clarissa membiarkan Aldera menyentuh Mia dan dengan kekuatan Aldera kedua mata Mia kembali normal, seakan luka pada matanya tidak pernah terjadi. Melihat itu Clarissa dapat bernafas dengan lega sembari mengelus pipi Mia.
Ia tahu kejadian ini tidak ada kaitan nya dengan dia, tapi entah mengapa, setiap manusia yang dekat dengan nya pasti akan berakhir mengenaskan, dan Clarissa tidak mau membebani siapapun lagi.
"Terimakasih---emm,"
"Aldera. Kau bisa memanggil ku Aldera, Mate." Aldera mengusap rambut Clarissa, menunjukkan perhatian nya kepada Mate nya dan terus bersikap lembut agar kekasihnya tidak kembali menatap takut kepadanya.
"Terimakasih Aldera."
__ADS_1
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...