MINE! The Alpha'S Lover

MINE! The Alpha'S Lover
Selamat Tinggal Indonesia


__ADS_3

Indonesia


Bandara Soekarno-hatta


Dua hari lalu, Clarissa berhasil menghubungi Gama dan akan bertemu di bandara ini. Selama dua hari juga ia berupaya melarikan diri, Clarissa terus melawan mereka dan menipu setiap ia bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Untung saja kalung ibunya berfungsi sebagai menghilangkan aroma sosok werewolf nya.


Kembali pada posisi Clarissa yang terus melirik lingkungan sekitarnya, karena beberapa mahluk seperti mereka terkadang memang suka hidup berbaur di sekitaran manusia, jika saja dia bukan werewolf ia bisa sulit membedakan aura manna mereka.


"Tolong tunjukan paspor dan visa anda." Ujar petugas di bandara tersebut sembari mengecek dirinya.


Selama proses pengecekan, Clarissa terus melirik cemas. perasaan nya sangat tidak enak seakan lokasinya berhasil di temukan maka ia terus meminta proses pengecekan nya di lakukan dengan cepat.


"Baiklah, selamat menikmati perjalanan mu, Nona."


Tanpa menunggu lama Rissa langsung bergegas menuju tempat pertemuan nya dengan Gama. Tapi di saat ia berbelok dari lorong menuju pintu pesawat nya di depan sana sudah ada terdapat tiga Assasin Albram--sial, mereka menemukan nya lebih cepat.


Para Assasin itu bergerak menuju Rissa, ia benar benar sudah geram. Dengan pasti Clarissa mencoba memutar jemarinya mencoba melawan dengan sihir seadanya.


"Jangan Rissa, di belakang mereka masih ada manusia."


Clarissa yang mendengar Selena langsung berdecak kesal. Lantas ia pun hanya mampu berlari menerobos keramaian manusia untuk berbaur, ia menaiki tangga eskalator lalu berlari kencang menuju lift yang terbuka. Di sana ia menekan tombol lantai satu lalu berlari keluar lift sebelum tertutup dan kabur menuju area terminal landasan 2


Para Assasin yang menyadari Clarissa pergi ke lantai satu pun mencoba mengejarnya tapi salah satu Assasin itu merasa ada yang ganjal saat ia merasakan lift itu hanyalah umpan.


"Kalian cari di area landasan 3 ini aku akan mencari di tempat lain. Dan juga pastikan untuk bertanya kepada petugas----pesawat mana yang akan di naiki Clarissa Mour Wintermoon."


"Itu merepotkan, kenapa tidak menggunakan kekuatan saja?"


"Apa kau lupa jika menunjukan sihir di hadapan manusia, jantung mu akan sakit."


"Moon Goddes kepar*t! Kalau begitu kita berpencar." Ujarnya lalu mereka berpisah untuk menyeret Putri mendiang Alpha Harrit.


Clarissa yang tadi berhasil kabur ke area dua buru buru pergi ke landasan satu lokasi penerbangan tujuan sebenarnya. Dia bisa melihat Gama sudah menunggunya di depan pintu pesawat penerbangan ke Swiss.


"Gama."


"Anda sudah tiba putri."


"Maaf, mereka sudah mengetahui keberadaan ku."


"Apa mereka berhasil mengikuti anda?"

__ADS_1


"Tidak, aku berhasil melepaskan diri dari kewaspadaan mereka. Ah, sebelum datang kesini aku sudah menyerahkan tiket penerbangan ku menuju Filipina di landasan dua seperti ucapan mu."


"Syukurlah," Gama melihat wanita pramugari yang menjadi penjaga pintu pesawat untuk mengecek tiket pesawat. "Dia adalah teman ku, Hanna."


Hanna tersenyum kearah Clarissa "Hanna, aku berasal dari bangsa Elf yang memilih tinggal di bumi."


"Clarissa."


"Putri dia akan membantumu pergi ke Swiss. Tanpa menyertakan nama mu di penerbangan ini."


"Apa tidak masalah, bukankah itu berarti kita melakukan pelanggaran---"


Hanna tertawa kecil melihat kepolosan Clarissa. "Jangan khawatir, kami bisa menggunakan sihir. Elf bukanlah Werewolf yang berlindung di bawah peraturan bulan."


Seketika Clarissa mengangguk paham toh mereka juga bukan manusia. Gama meraih tangan tuan putri nya sekali lagi dan menatap wajah Clarissa dengan lara ini mengingatkan nya dengan peristiwa dimana ia membiarkan Tuan Putri kecil itu berlari melewati hutan belantara.


"Putri kali ini anda harus hidup dengan bahagia, temukan lah Mate mu dan hidup dengan tenang bersama nya. Kau tidak perlu khawatir, kami yang ada di sini akan mencegah Albram mengetahui keberadaan anda di sana."


"Maaf merepotkan mu, Gama." Rissa memeluk Gama, ia sudah seperti ayah bagi Clarissa.


"Saya juga minta maaf tidak bisa menemani anda selama di sana, tapi jika ada kesempatan saya akan berkunjung. Dan ingatlah, Putri akan tinggal di desa Grindelwald yang merupakan lokasi terdekat Hutan Nehela---saya harap anda tidak terlalu penasaran atau berkeinginan untuk menyebrang ke perbatasan Immortal."


"Gama jangan khawatir, aku selalu mengingat janji ayah."


"Selena akan sangat merindukan mu, Gama."


"Saya juga merindukan anda Putri Selena. Saya harap, Moon Goddes selalu melindungi kalian."


"Terimakasih banyak, dan tolong jangan memaksakan diri seperti dulu Gama. Kau bisa mengabaikan tugas mu menjaga ku, selama kalian hidup itu sudah cukup untuk ku."


Gama mengangguk ia tidak mau berlama-lama menahan Clarissa. Dengan perasaan berat Clarissa melepas genggaman Gama dan berjalan memasuki pesawat yang akan menerbangkan nya jauh dari Asia tenggara menuju eropa tengah.


Clarissa duduk di kursi nya, untungnya penerbangan ini tidak terhambat karena para Assasin Albram. Clarissa memandang dataran perkotaan Indonesia yang begitu indah. Ia menghela nafas dengan pasrah sembari memejamkan matanya.


Tanah kelahiran nya benar-benar telah mengusir Clarissa, ini sangat memilukan untuknya. Ia tidak bisa kembali ke Gladea Pack, hidup berpindah-pindah seakan ia adalah mahluk hina yang tidak di terima keberadaan nya. Sekarang Negeri ini pun tak mampu lagi menjadi atap untuknya berteduh.


"Sekarang aku sudah lari sejauh yang aku bisa----Ayah." Guman Rissa dengan parau mencoba menahan air matanya seakan ia benar-benar sangat lelah dengan takdir hidupnya.


"Jangan sedih Rissa, aku akan selalu bersama mu."


"Terimakasih karena kau sudah bersama ku Selena."

__ADS_1


Selama perjalanan menuju ke Swiss--yang selalu di sebut sebagai negeri dongeng, tidak membuat Clarissa lelah. Ia menyukai alam yang terbentang luas begitu sangat indah dari atas pesawat. Dan menakjubkannya adalah musim yang saat ini tengah bersinggah adalah musim dingin karena salju akan tetap bersemayam hingga akhir maret nanti dan untunglah ia pergi dari pertengahan bulan januari.


Bisa di rasa Selena kegirangan di dalam dirinya melihat putihnya salju yang Sagat lembut dan seperti apa rasanya menyentuh salju. Pasti sangat menyenangkan.


"Kau senang?"


"Tentu saja, ini pengalaman paling berkesan selama kita hidup Risaa."


"Baiklah, mari mulai petualangan baru kita di negeri ini." Ujar Clarissa yang juga sangat antusias datang ke tempat seindah ini.


Pertama kali yang Clarissa rasakan saat berpijak di Swiss adalah udara dingin yang menyambutnya---seakan mengatakan selamat datang kepada wanita cantik dari negeri jauh. Mungkin karena perbedaan waktu yang terlampau jauh sehingga saat ini malam telah menguasai cakrawala.


Clarissa berjalan sembari membawa koper yang tidak terlalu banyak menuju kearah wanita mencolok di dekat tiang gedung. Yah, bangsa witch punya aura yang sangat unik di mata bangsa werewolf jadinya Clarissa mudah mengenalinya meski ini adalah pertama kalinya dia kesini.


"Selamat datang di Swiss sayang, nama ku Fiera Lambordie aku akan menjadi tetangga mu selama kau tinggal disini." Ujarnya dengan sangat ramah.


"Sini ku bawakan koper mu, mobil ku tidak jauh dari parkiran depan. Sebaiknya kita segera berangkat kau pasti sangat lelah, apa kau sudah makan?"


"Em, terimakasih. Tapi aku sedang tidak ingin makan."


"Baiklah, ayo." Fiera merangkul Clarissa dan itu sukses membuat Clarissa bersikap canggung, meski begitu syukurlah masih ada yang mau menyambutnya.


Selama perjalanan menuju Desa Grindelwald yang berjarak 16Km dari ibu kota. Mereka banyak bercerita hingga menjadi cukup akrab, sesekali Clarissa tertawa kevil melihat sikap Fiera yang seperti tante-tante cerewet jika soal urusan pacar. Karena ia banyak bercerita mengenai keluh kesahnya terhadap kekasihnya yang terkadang lebih sering menghabiskan waktunya di Immortal. Ada begitu banyak topik pembahasan yang menarik hingga suasana terasa ramai untuk Clarissa dan ia sudah lama mendambakan situasi seperti ini.


"Hei, jangan terlalu di pikirkan. Di sini kau aman. Albram brengs*k itu tidak akan mudah melacak mu. Karena kau akan tinggal di villa milik ayah ibu mu, bahkan Albram tidak mengetahuinya karena para peri bulan menjaga Villa nya tetap aman dari mahluk Immortal ataupun manusia yang berniat nakal."


"Villa Ayah ibu?"


"Lima tahun sebelum kelahiran mu, mereka sempat membangun Villa di dekat perbatasan hutan Nehela. Karena cukup dekat dengan portal menuju Immortal dan juga desa Grindelwald tempat yang sangat indah, mereka berencana tinggal di sana selama 4 tahun sebelum akhirnya kembali ke Indonesia---kurasa selama itu mereka juga membuat mu hingga kau lahir hahaha." Fiera tertawa riang seakan sudah sangat menanti kehadiran Clarissa.


Benar ia adalah sahabat terdekat Kiara ibu Clarissa. Mendengar kematian sahabatnya Fiera sudah sangat khawatir dan berniat menjemput Clarissa tapi Gama selalu saja melarangnya.


Bukan karena apa, Gama takut tempat persembunyian terakhir untuk tuan putrinya justru malah di hancurkan Albram.


"Maaf merepotkan mu. Dan juga terimakasih telah menyambut ku."


"Ayolah Clarissa, kau harus lebih bersemangat. Ini hidup mu, jangan terpaut dalam bayangan Albram---aku tak bermaksud meminta mu melupakan kejadian itu. Tapi Ibu mu ingin melihat mu bahagia."


Clarissa menarik nafas dengan sangat dalam, lalu mencoba menunjukan senyum kelegaan walau sebenarnya ia tak rela. "Kau benar, mari lupakan masa lalu."


Freya tersenyum, ia kemudian kembali fokus pada kemudinya. Karena sepertinya sebentar lagi akan sampai, ia mempercepat laju mobilnya menuju rumah Freya yang berada di perbukitan Grindelwald.

__ADS_1


...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...



__ADS_2