MINE! The Alpha'S Lover

MINE! The Alpha'S Lover
Willy ; Aku Butuh Bunga Kamelia


__ADS_3

Clarissa membalik halaman buku dengan sangat antusias, mencoba memahami struktur wilayah Darkmoon Pack, tidak lupa juga mempelajari beberapa hal baru dari dunia Immortal.


Secangkir teh dan beberapa dissert kecil terus diletakan Enisha tanpa mengganggu waktu Clarissa. Karena besok malam acara perjamuan para Alpha akan berlangsung---meski belum tahu apakah ia kan ikut andil dalam prosesnya mengingat ia adalah Mate Aldera.


Tidak salah bukan jika dia mempelajari beberapa hal mengenai dunia ini untuk beradaptasi dengan baik karena ini juga adalah hal yang baru bagi dirinya. Lihatlah sudah ada banyaknya buku yang di bawa para Omega untuk membantunya memuaskan rasa haus akan keingintahuannya.


Nala juga turut menemaninya, kucing manis bermata biru langit dan berbulu putih keabu-abuan. Meski saat ini dia hanya tidur dengan nyaman di atas rak perpustakaan sembari memperhatikannya.


"Jadi dunia Immortal terbagi dalam beberapa wilayah sesuai arah mata angin. Selatan untuk wilayah Elf dan Dark Elf, Timur untuk bangsa Witch, Barat wilayah Vampir, Utara bangsa Werewolf---hm?" Clarissa mendekatkan diri mencoba melihat dengan jelas beberapa kata di halaman buku geografis tersebut.


"Kelima adalah wilayah Hayperioness, berlokasi tepat ditengah antara keempat wilayah mata angin?" Gumam Clarissa. "---Sebuah wilayah inti atau jantung Immortal yang memiliki energi spirit paling murni sekaligus paling buruk. Terbagi menjadi dua teritorial antara kaum Demon dengan Dragon pada perbatasan ufuk Utara dan ufuk Selatan pada masanya."


"Apa maksudnya?" Clarissa melihat kearah Nala seakan memintanya untuk menjelaskannya.


"Dahulu, 1000 tahun yang lalu Immortal memiliki lima bangsa ras dan satu hewan suci sebagai lambang perdamaian nya. Semua ras cukup rukun di bawah peraturan Dragon, sebagai wujud wahyu dari Dewi Bulan serta Dewa Matahari."


"Tetapi ketamakan akan sebuah kekuatan mulai memecah perdamaian sehingga para ras mulai berperang untuk menunjukkan siapa diantara mereka yang berhak menjadi Kaisar pemilik Immortal."


"Lalu, apakah ada yang berhasil menjadi Kaisar nya?" Nala melihat Clarissa, kemudian turun dari posisinya---berpindah ke hadapan Clarissa.


"Ada, pada masa itu, kaum Demon berhasil memimpin seluruh Wilayah di Immortal. Walau hanya sesaat tapi Kaisar Demon tersebut tidak terkalahkan ataupun berlutut kepada siapa pun termasuk kepada para Dewa. Sehingga ia menjadi angkuh dan sedikit demi sedikit mulai membangun ras di bawah kekuasaannya dan mereka adalah bangsa Elf yang menentang Dewa Matahari sehingga di cap sebagai Pengkhianat dan di sebut sebagai Dark Elf karena memuja Demon sebagai Dewa malam paling agung daripada Moon Goddess."


"Jika kau bilang sesaat, itu berarti Kaisar Iblis tersebut berhasil di kalahkan?"


"Itu karena masa kejayaan nya hanya bertahan selama 5 tahun, meski singkat tapi dampak kehancuran terhadap wilayah sungguh sangat memprihatinkan, Rissa."


"Apa Dewa yang melakukannya?"


"Bukan Dewa tetapi salah satu anak-anak manisnya yang menerima berkat cinta dari cahaya rembulan. Ia berasal dari bangsa Werewolf. Karena penentangan dan perang besar yang menyeret antara Dragon dan Demon membuat wilayah Hayperioness hancur bahkan memusnahkan seluruh kaum Demon tanpa tersisa."


"Kalau begitu bagaimana dengan Dragon dan Werewolf tersebut?"


"Mereka selamat, karena Dragon adalah hewan suci dari para Dewa tentu ia membantu Werewolf yang memimpin peperangan itu hingga menjadi sahabatnya---hanya saja, hingga saat ini tidak ada yang dapat memastikan apakah bangsa Dragon masih hidup atau telah punah seiring berjalannya masa."


"Jika seorang pahlawan dari bangsa Werewolf yang memimpin perang tersebut selamat, pasti keturunan mereka masih hidup bukan? Harusnya mereka tahu dimana Dragon berada."


"Entahlah...," Nala menatap intens kedua mata Clarissa. "Sayangnya, tidak ada yang pernah melihat Werewolf tersebut sejak perang berakhir. Ia meninggalkan Pack nya dan menghilang seakan sosoknya hanya lah urban legend saja."


"Hm?"


"Luna, maaf menyela, tapi anda sudah dari sejak pagi berada di perpustakaan istana, bagaimana jika beristirahat sebentar?"


Clarissa melihat Enisha yang duduk bersimpuh di lantai seakan menunjukkan kerendahan sosoknya di hadapan Clarissa sebagai Luna. Ia sudah mengatakan berapa kali untuk menghilangkan salam kasta seperti itu, meski kebiasaan di Pack ini sulit di rubah tapi setidaknya ia akan merubahnya pelan-pelan. Apa sebaiknya dia bicarakan masalah ini dengan Aldera.


"Lagi-lagi kau seperti itu, tolong lah, demi kenyamanan ku jangan tunjukan sikap yang seperti itu. Ada banyak cara untuk menunjukkan kesopanan terhadap seseorang jika kau ingin menghormatinya."


"Akan saya usahakan Luna. Maaf atas kurangnya pemahaman saya."


"Sudahlah, itu bisa dilakukan secara bertahap jika kau belum terbiasa."


"Ouh, Risaa kita sangat baik hati sekali." Clarissa mengangkat Nala. "Jadi, apa kau akan ikut dengan ku?"


"Tentu saja! Seperti yang Bobby bilang, kau anak yang manis. Aroma mu juga sangat menenangkan, jika boleh, aku ingin menemanimu selama berada di sini. Pasti Bobby sangat berisik jika berada di sekitaran mu?"


Clarissa tersenyum, seakan ia pun tak mampu mengelak mengenai Bobby yang terlalu protective kepadanya. "Aku sangat senang jika punya teman bicara seperti dirimu, Nala."


...--༺🌛🌟🌜༻--...


Clarissa kembali mengunjungi taman di belakang istana. Sejak perjalanan menuju taman, ia juga telah memperhatikan beberapa pelayan yang begitu sibuk menyelesaikan persiapan perjamuan antar Alpha di malam bulan sabit sebagai bentuk kesetiaan dan juga persiapan perayaan malam purnama sebagai festival tahunan kepada Dewi Bulan.


Jadi selama 15 hari, setelah perjamuan para Alpha dari berbagai wilayah akan tinggal sampai Festival berakhir.



Clarissa mengangkat sedikit tudung kepalanya lalau menatap langit sembari merenungkan banyak hal. Sebenarnya ia bingung harus darimana ia mencari tahu mengenai keluarganya dan masalah Paman nya.


Kalau di pikir secara turun temurun tidak ada catatan mengena wilayah Immortal di Gladea Pack sehingga ia tidak banyak tahu---sejarah keluarganya yang berkaitan dengan larangan mendatangi Immortal.

__ADS_1


Lagi-lagi Clarissa hanya mampu menghela nafas dengan sagat lelah, harusnya dia menemui Bobby dan memaksanya untuk mengatakan banyak hal kepadanya.


Clarissa memetik bunga Kamelia, melihat bunga ini dapat ia jumpai lagi membuat perhatian teralihkan oleh ucapan Aldera yang sebelumnya sempat mengatakan di dekat taman terdapat kebun bunga kamelia yang ia tanam karena penasaran dengan aroma nya.


Lucunya Enisha mengatakan Aldera sampai hampir memindahkan berbagai jenis bunga kamelia dari wilayah Elf yang terletak di ujung selatan untuk di bawa ke istana dalam semalam. Untunglah dia bertemu dengan nya meski tanpa sengaja, sehingga bunga yang ada di hutan Ivy tidak sampai habis di babat oleh Aldera.



"Oh, dia sepertinya sangat perduli dengan mu. Kau punya Mate yang perhatian sekali, Clarissa." Nala berjalan mengitari beberapa sela kebun Kamelia.


"Benar, anda sangat beruntung menjadi Mate Alpha. Saya sempat tidak menyangka beliau akan sangat mencintai Mate nya ketika anda hadir, karena sebelumnya Alpha terlihat sangat sensitif jika membahas pendamping. Apalagi banyak yang berpikir Alpha tidak akan berjumpa dengan pasangan nya karena ini sudah hampir 50 tahun sejak ia bertahta."


"Kau terlalu melebihkannya Enisha."


"Saya rasa tidak, melihat anda saja sudah cukup menggambarkan sosok Alpha yang begitu menawan. Kalian sangat serasi, saya sangat bangga bisa melayani anda Luna."


"Terimakasih atas pandangan mu terhadap ku."


"Bukankah kau sama? Dulu kau juga sempat enggan dan malas jika aku terus membahas mate kita Rissa. Sekarang, setelah bertemu kau yang paling agresif."


"Diamlah Selena, kenapa kau juga harus ikut-ikutan."


"Habis kau jadi jarang berbicara dengan ku."


"Aku akan berbicara jika kau tidak menggoda ku mengenai hal kemarin lagi."


"Baiklah, tapi ketika kau berjumpa dengan Aldera lagi coba perkenalkan sosok ku. Meski kita tidak bisa berganti shift setidaknya sampaikan beberapa kesan rinduku kepadanya."


"Iyaa, aku tidak akan melupakan mu. Aldera juga sudah pernah ku ceritakan mengenai mu dan dia terlihat sangat senang mendengar tentang mu."


"Benarkah! Aku jadi tidak sabar bertemu dengan nya lagi."


"Kau tida------"


"Hiks, huu..., huu..., hiks!"


"Aku? Tidak, itu bukan suara ku."


Clarissa melihat kesekitaran taman, lalu mendekati Enisha. "Apa kau mendengar ada yang menangis?"


Enisha yang mendengar itu mencoba menajamkan pendengarannya---mencari sumber suara yang di maksud Clarissa. "Benar, saya mendengar ada yang menangis Luna."


"Mungkinkah dari sana." Nala yang juga ikut memperhatikan menunjuk kesebuah hutan pinus di dekat taman.



Clarissa berjalan lebih dulu memasuki hutan pinus mendekati salah satu pohon yang menjadi sumber suara tangisan tersebut, lebih tepatnya sosok yang meringkuk di baliknya.


Saat Clarissa mendekatinya, ia melihat seorang anak laki-laki tengah duduk sembari memeluk kedua lututnya. Ia terlihat sangat ketakutan apalagi ada beberapa luka cukup serius dilengan mungilnya.


"Apa yang terjadi kepadamu, nak?"


"Heup!" Karena kedatangan Clarissa yang begitu tiba-tiba membuat anak laki-laki berusia 9 tahun tersebut terkesikap hingga bergerak menjauh.


"Oh, kau tidak perlu takut. Em.., aku mendengar ada yang menangis dan ku lihat kau ada di sini. Apa aku boleh mendekat?" Anak laki-laki tersebut terlihat ragu, tapi ia juga tidak bisa berlari lagi karena tangannya terasa keram akibat luka cakaran di lengan nya.


"Jika kau terus bergerak, lukanya bisa terbuka semakin parah. Biar ku bantu menyembuhkannya, jika kau kurang nyama aku berjanji akan membiarkan mu pergi setelah mengobatinya."


"Seperti nya dia diserang hewan buas. luka di lengannya terlihat sangat dalam, kalau dia masih takut kita tidak bisa mengobatinya. Coba bujuk dengan cara lain Rissa."


"Jangan takut Willy, dia berusaha menolong mu." Ujar Nala mendekati anak bernama Willy tersebut.


"Peri Bulan---Nala!" Ujarnya riang setelah melihat Nala.


"Kau mengenalnya Nala?"


"Tentu, Rissa. Dia salah satu anak-anak Werewolf yang sering mengunjungi kuil bulan di sekitaran sini." Mendengar itu Clarissa mengangguk mengerti.

__ADS_1


"Halo Willy, nama ku Clarissa. Hm.., apa sekarang aku boleh mendekati mu?" Dengan ragu Willy mengangguk.


Clarissa menyentuh luka Willy dan terdengar anak itu meringis perih, tapi itu tidak lama setelah Clarissa berhasil menyembuhkannya dan membuat luka tersebut menutup.


"Meski luka luarnya sudah menutup, kau tetap tida boleh banyak menggerakkan tangan mu. Bagian dalam masih memproses penyembuhannya, jadi tetaplah tenang."


Willy terlihat malu bahkan tersipu saat melihat senyum ramah Clarissa yang terlihat sangat menawan. "Terimakasih," gumam Willy.


"Nak, apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kuil bulan berada di jalan sebaliknya. Meski tidak ada benteng pembatas di sekitaran hutan belakang istana, tapi ada banyak serigala pemburu milik Alpha yang berkeliaran disekitaran sini untuk melindungi istana utama." Nala mendekati Willy.


"Itu..., itu karena...,"


"Sepertinya dia gugup."


Clarissa sudah memahami struktur wilayah Darkmoon Pack. Di tengah hutan pinus pada belakang istana terdapat kuil bulan yang juga terhubung dengan Houspack tempat tinggal pra penduduk, hanya saja sebelum memasuki area kuil biasanya mereka masuk melewati gerbang di sisi barat istana guna menghindari serangan serigala peliharaan Aldera.


Meski kuil dan istana tidak terbatasi oleh tembok benteng, tapi hutan dan serigala peliharaan Aldera di jadikan sebagi penjaga area lingkaran istana utama dibandingkan dengan istana timur dan barat.


"Kau baik-baik saja Willy? Apa masih ada yang terluka." Clarissa terlihat khawatir melihat Willy sedang ketakutan seakan menyembunyikan sesuatu.


"Itu, aku.., aku hanya----"


"Apa yang ada di saku celana mu?"


Enisha terlihat begitu tegas mendekati Willy hingga menarik tangan kiri yang mencoba meraih sesuatu di saku celananya, dan sesuatu jatuh dari kantung tersebut.


"Kamelia?" Clarissa meraih sekuntum bunga Kamelia yang jatuh dari saku Willy.


"Lepaskan aku!"


"Apa kau memetik tanpa izin dan mencuri bunga Kamelia milik Alpha? Jika melihat tanda lingkaran hitam di pergelangan tangan mu, sepertinya kau dari Desa Penampungan ya."


"Tunggu, Enisha, jangan bersikap kasar kepadanya. Dia hanya anak-anak, mungkin Willy tidak bermaksud mencurinya."


"Aku tidak mencuri!! Aku..., aku---aku memang mengambilnya dari kebun Alpha." Willy mengatakan dengan nada kecil pada akhir ucapannya.


"Itu sama saja mencuri, kau ini----"


"Enisha, ini hanyalah sebuah bunga bukan permata atau emas."


"Tapi taman ini milik Alpha, biasanya Alpha tidak suka ada yang mengusik miliknya, Lu..Luna." Enisha mulai merendahkan suara tingginya saat melihat tatapan Clarissa.


"Saya tahu ini salah karena mencoba mengambil milik Alpha. Tapi saya butuh bunga Kamelia yang berasal dari hutan Ivy untuk mengobati Arisha, karena wilayah Elf sangat jauh dan juga aku hanyalah anak kecil itu akan sangat terlambat untuk Arisha." Willy menundukkan kepalanya.


"Beberapa hari lalu saya dengar ada banyak bunga Kamelia yang di kirim ke istana dari hutan Ivy. Jadi, aku pergi ke taman belakang istana."


"Jadi itu sebabnya kau menerobos hutan perbatasan istana ini meski berbahaya. Hm---Kalau di ingat lagi, desa penampungan juga memang berada di tengah hutan dekat dengan kuil bulan dan memiliki jarak cukup jauh dengan Houspack." Gumam Enisha.


"Tolong biarkan aku membawanya, aku hanya butuh satu tangkai---tidak, tiga kelopak bunganya saja itu sudah cukup. Bibi Shua bilang tiga kelopak bunga Kamelia sudah bisa digunakan sebagai tambahan obatnya."


"Tenanglah Willy. Boleh aku tahu siapa Arisha?" Clarissa merendahkan dirinya---mensejajarkan diri dengan Willy.


"Dia adik ku. Nona, saya hanya ingin mengobati adik ku bukan merusak tanaman Alpha."


"Kenapa kau tidak menghadap Alpha? Beliau pasti akan mendengarkan mu, meski kau bermaksud baik tapi tetap saja ini juga bisa termasuk mencurinya. Bagaimana jika ada penjaga yang salah paham seperti Enisha tadi, kau bisa dalam bahaya."


"Menghadap Alpha?"


Anak kecil itu terlihat mengeratkan gigi rahangnya saat nama Alpha di katakan, seolah ia menyimpan beberapa kemarahan kepada Aldera. "Tidak, Alpha keji sepertinya pasti akan langsung membunuhku sebelum mendengar permintaan ku!"


Clarissa terlihat terkejut mendengar ucapan anak kecil berusia belia yang mengatakan kata dalam seakan ia orang dewasa yang tumbuh karena melihat peristiwa berdarah. Apa Aldera sudah melakukan sesuatu kepadanya, dan juga kenapa juga Enisha bilang dia dari Desa Penampungan?


"Aku tidak mau memohon apapun kepada pembunuh sepertinya, apalagi aku dari Desa Penampungan beliau mungkin tidak akan punya waktu hanya untuk mendengarkan ucapan anak kecil sepertiku dan malah menertawakan ku saja!" Ujar Willy sembari menahan air matanya.


"Willy?"


...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...

__ADS_1



__ADS_2