MINE! The Alpha'S Lover

MINE! The Alpha'S Lover
Kelinci di mulut Serigala


__ADS_3

"Aldera. Kau bisa memanggil ku Aldera, Mate."


"Terimakasih Aldera."


Aldera menyukai saat bibir ranumnya berkicau memanggil namanya, ia terlihat sangat menggemaskan dan harsat nya untuk segera membawa Mate nya kian meningkat. sepertinya, ia benar-benar akan sangat serakah untuk Clarissa, tapi ia juga masih harus menahan diri jika tidak respon Mate nya akan semakin menjauh.


"Sekarang kau bisa tenang, aku juga telah menghapus ingatan mengenai kejadian hari ini. Sisanya kita bisa menyerahkan nya kepada peri bulan, mereka penjaga manusia di bumi."


"Ah, benar. Aku juga harus segera kembali, Bobby pasti sudah menunggu lama-----"


"Clarissa, bukankah kau bilang tidak akan mendekati perbatasan? Terlebih, aku sudah memperingati mu mengenai serigala hitam." Tiba-tiba saja Bobby datang bersma Diy.


Kucing gemulai itu berjalan mendekati Clarissa kemudian mengibaskan ekor nya kepada Mia dan secara perlahan tubuh Mia menghilang, sepertinya Bobby mengantarkan nya ke kediaman di toko permen di desa, setelah mengurus beberapa kekacauan yang di lakukan kaum Vampir.


Bobby duduk di pangkuan Clarissa dan menatap tajam kearah Aldera. "Sepertinya, pesan ku sudah tersampaikan dengan baik, Alpha?"


Aldera terlihat mencerna kalimat Raja peri bulan tersebut. Dan seakan otaknya menangkap memori pada kemarin malam---ia menyadari, bahwa sepertinya Clarissa adalah tamu Raja peri yang tak boleh dirinya ataupun rakyat Werewolf di Pack nya untuk mendekatinya.


Jadi benar, Raja peri ini memang memelihara bunga Kamelia yang ia cari selama ini.


"Turun dari pangkuannya." Aldera dengan acuh mengangkat Bobby lalu melemparnya---membuat Bobby harus tertanam di dalam tumpukan salju.


"Dasar tidak sopan, beraninya kau melakukan hal itu kepadaku?!" Bobby keluar dari salju dan menggoyangkan tubuhnya mencoba menjatuhkan serpihan salju pada bulunya.


"Aku ini utusan Dewi Bulan yang sangat dekat dengan nya. Jadi tunjukkan rasa hormat mu!" Ujarnya sembari mengangkat kepalanya dengan angkuh.



"Sayang, kau harus menjauh dari dia. Aku dengar kucing di bumi akan sangat berbahaya jika belum di vaksin?" Aldera membantu Clarissa bangkit dari posisi duduknya.


"Apa?! Aku ini Raja peri, bukannya kucing liar. Jangan samakan aku dengan mereka!"


Clarissa meraih dan mengangkat Bobby, ia mengelus leher Bobby guna membuatnya tenang, dan seperti dugaan nya, Bobby mendengkur dan itu menandakan bahwa ia sudah cukup tenang. "Kita harus kembali, Bobby."


"Tunggu, kau ingin kemana?" Aldera meraih lengan Clarissa.


"Aku ingin pulang, Aldera."


"Tapi kau Mate ku, aku tidak bisa berpisah dengan mu. Akan lebih baik jika kau ikut dengan ku ke Immortal."


Clarissa panik mendengar hal itu, dengan ragu ia berjalan mundur. "Tidak---aku tidak bisa tinggal di sana?"


"Kenapa? Kau akan aman jika bersama ku, jika kau takut dengan penyerangan Vampir seperti, tadi---jangan khawatir Clarissa mereka tidak akan bisa menyentuh mu" Aldera menangkup wajah Clarissa.


Tapi kecemasan yang melanda Clarissa dan perasaan dilema akan banyaknya janji yang ia ikarkan---tidak mampu mendorong perasaan Clarissa untuk membantah dan memilih bersama Mate nya.


"Clarissa, ada apa dengan mu?"


"Aldera, aku---aku tidak bisa ikut dengan mu." Clarissa terlihat sangat cemas.


"Tapi kita adalah Mate Clarissa."


Clarissa sangat bingung---tanggapan apa yang harus ia tunjukan kepada Aldera. Darimana ia harus menjelaskan masalah rumit yang sudah terjadi selama ini.

__ADS_1


Clarissa menurunkan Bobby lalu ia melepaskan cengkraman Aldera pada kedua lengannya dan memilih berjalan meninggalkan nya. "Maaf...,"


Aldera tidak suka suasana ini! Dengan sangat egois ia kembali mencegah langkah Clarissa, kemudian menarik paksa tangan Clarissa untuk mengikutinya ke Immortal tanpa mendengarkan suara lirih Clarissa untuk minta di lepaskan.


"Lepaskan Clarissa, serigala gila! Kau tidak boleh membawa Putriku!" Bobby mencoba mencegah Aldera.


"Singkirkan kucing itu!" Perintah Aldera kepada kedua bawahan nya---sejak tadi hanya dapat menyimak keadaan tersebut.


Raja peri itu mencoba menyerang Aldera tapi Demian menahan nya dan memasukan nya kedalam kurungan kayu mahoni berukuran sedang---yang dapat menjadi kelemahan peri bulan dan membuat mereka tertidur karena aroma dari kayu mahoni.


"Aldera lepaskan! Kau tidak bisa memaksaku----'


"Kenapa aku tidak bisa? Jika kau tidak bersedia maka aku hanya perlu memaksamu bukan? Aku tidak akan melepaskan mu----Mate ku hanya akan berada di sisi ku, Clarissa." Aldera kembali menarik paksa Clarissa untuk menuju portal dimensi yang sudah terbuka di depan sana.


"Aldera aku mohon jangan seperti ini, tolong lepaskan aku! Mungkin saja kau salah tentang diriku."


"Mengenai apa?"


"Seperti..., aku bukan Mate mu-----"


Aldera menarik kuat Clarissa hingga menghantam dada gagahnya, lalu menarik tengkuk Clarissa mencium dengan serakah bibir ranumnya yang secandu wine. Clarissa yang berusaha memberontak menampar kuat Aldera setelah berhasil mendorongnya.


Seakan ia menikmati sentuhan kasar dari wanitanya, Aldera justru mengusap pelan bibirnya yang masih terasa aroma manis dari Clarissa dengan melirik buas kearah Clarissa. Ia mendorong Clarissa---menghimpitnya pada pohon di belakangnya. Perbedaan tinggi badan yang terlampau 19 cm, membuat Aldera harus sedikit membungkuk ketika sebelah tangannya bertumpu pada pohon, berada tepat di atas kepala Clarissa.


"Jangan membuat lelucon, Clarissa. Kau pun merasakan nya----tidak kah kau mendengarnya? Jantung mu berdetak lebih keras dan gairah mu jauh lebih menginginkan diriku. Pasangan Mate, tidak akan pernah bisa berdusta untuk perasaan nya." Aldera mencoba membuat Clarissa menatap matanya dengan menahan dagunya.


Mate nya sangatlah mungil, seperti seekor kelinci dan begitu terlihat menggemaskan di matanya. Dengan suara baritone beratnya yang sangat rendah, Aldera mencoba berbisik dengan menekan kan kalimat mendominasi sosok Shewolf di kukungannya.


"Kau ingin aku melepaskan mu? Tidak akan pernah! Kau bisa memohon-----Memohon lah sampai kau lelah mengatakan nya. Karena itu hal yang sia-sia, Clarissa. Aku tidak akan melakukan nya, walau hanya sedetik pun!"


"Aldera---haa..., haa..., Aldera tolong berjalan lah dengan pelan." Suara lemah Clarissa terus di abaikan Aldera sampai mereka berhasil melewati portal dan memasuki dunia Immortal.


"Aldera tunggu---akh!"


Clarissa menghentakkan kakinya dan jatuh terduduk sembari mencengkram kerahnya seakan ia tengah mencoba meraih jantungnya yang terasa semakin sakit dan hingga rasanya napasnya ikut tersengal sesak. Suhu musim dingin pada Immortal jauh lebih rendah daripada dunia manusia, tapi kondisi tubuh Clarissa justru menjadi sangat panas saat ini, beberapa keringat dingin menghiasi keningnya.


Aldera yang merasa ada yang aneh dengan mate nya menoleh dan dengan cepat bersimpuh merendahkan tubuhnya untuk mensejajarkan dirinya dengan Clarissa yang terlihat mencoba menahan sakit.


"Rissa, ada apa dengan mu?" Aldera panik melihat kondisi Clarissa.


"Aldera----" Clarissa mencengkram lengan gagah Aldera dengan sayup mata yang sudah sangat lemah.


Sepertinya ini karena efek dari pasca menggunakan kekuatan sihir telah tiba. Benar ini memang sering terjadi setiap Clarissa menggunakan kekuatan sihirnya, mungkin karena jiwa wolf nya tidak pernah bisa menunjukkan shift Serigalanya, sehingga tubuh Clarissa terbilang lemah daripada Werewolf pada umumnya.


Sepertinya Selena juga harus tertidur lebih lama untuk dapat memulihkan tenaganya. Karena sampai saat ini Clarissa masih tidak bisa merasakan nya, meski dia sudah mencoba memanggilnya. Itu juga berdampak pada penyembuhan nya jika wolf nya sendiri masih tertidur.


"Clarissa----sayang, kau baik-baik saja?" Aldera yang tak mendapat respon dari Clarissa, dengan sigap mengangkatnya dan bergerak melompati pepohonan secepat mungkin menuju istana Darkmoon Pack nya.


"Isnah, datang ke kamar ku sekarang!" Aldera melakukan mindlink jarak jauh kepada salah satu Alchemist terbaik di Pack nya.


"Baik Alpha."


Aldera mendekap kuat kekasihnya sesaat setelah ia dapat melihat istana megahnya yang berada di perbukitan tinggi. Dan dalam sekali lompatan tinggi serta jauh Aldera berhasil melewati tembok yang menjadi benteng pembatas pertahanan Pack nya.

__ADS_1


Ketika dia sudah sampai di kediaman kamarnya, Aldera membaringkan Clarissa dengan hati-hati di ranjang tidurnya---mengelap banyak keringat dingin yang sudah hampir membasahi pakaiannya.


"Rissa,"


"Aldera...," Panggil Clarissa dengan sangat lemah. "---Tolong bawa aku kembali."


Gumam nya begitu kecil tapi dapat di dengar dengan jelas oleh Aldera dan tak lama Clarissa kehilangan kesadarannya.


Tok.., Tok.., ketukan pintu serta kehadiran Alchemist---Shewolf yang terpaut cukup tua memberi hormat kepada Aldera lalu berjalan perlahan menuju Alpha nya.


"Alpha apa anda terlu----"


"Lakukan sesuatu kepadanya. Kau harus mengobati Clarissa." Ujar Aldera dengan sangat panik.


Isnah melihat wanita jelita yang terbaring tak sadarkan diri di ranjang tidur sang Alpha, dengan terdiam sembari berpikir dengan keras siapa wanita itu?


"Kenapa diam saja! Apa kau sekarang menjadi tuli Isnah?!"


"Maaf atas ketidaksopanan saya, Alpha. Saya akan mengeceknya." Ujarnya dengan takut, saat menyadari suasana Alpha saat ini sedang tidak bersahabat.


"Bagaimana?"


"Alpha, Lady hanya sedang kelelahan aja, mungkin karena perpindahan dimensi---saya merasa tubuhnya belum terbiasa dengan energi alam dari dunia Immortal. Apakah dia berasal dari bumi?"


"Yaa. Tapi kau yakin, dia hanya kelelahan saja? Bukankah hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya."


"Mungkin karena saat ini juga kondisi tubuhnya sedang lemah, Alpha."


"Sungguh?"


Isnah terlihat gugup tapi sekali lagi ia mengangguk mantab sebagai jawaban nya, jika dia menjabarkannya dengan canggung, Alpha mungkin akan menghabisinya. Aldera yang melihat respon penuh yakin dari dokter Pack membuatnya merespon paham dan kembali menatap Clarissa.


"Alpha, boleh saya tahu siapa manusia ini?"


"Manusia? Kau pun menganggapnya sebagai manusia?" Aldera melirik dingin kearah Isnah hingga membuat wanita parubaya itu menunduk takut.


"Maaf atas kelancangan saya. Kalau begitu saya permisi Alpha." Dengan sigap ia buru-buru meninggalkan kediaman sang Alpha.


"Aldera kau pasti tahu bahwa Mate kita bukanlah Manusia, kenapa mereka berpikir seperti itu?" Zack sepertinya memiliki satu pemikiran dengan Aldera.


Aldera menarik selimut tebal guna menghangatkan tubuh Clarissa. "Demian, bawa kucing itu kehadapan ku. Aku perlu menanyakan banyak hal kepadanya!"


"Baik Alpha," Balas Demian lewat mindlink.


Aldera berbaring miring di tepi ranjang---bersebelahan dengan Clarissa sembari menikmati deru nafasnya yang terdengar sangat teratur dan menenangkan bagi Aldera. Tapi, melihatnya dalam kondisi demam seperti ini membuat Aldera juga tidak nyaman.


Yang lebih mengganjalnya lagi adalah sesuatu hal yang membuat Mate nya harus menyembunyikan identitasnya. Sejak awal Aldera tahu kalau Clarissa itu bangsa Werewolf tapi kenapa Edward dan rekannya hingga Isnah wanita tua yang menjadi Alchemist terpercaya pada Pack nya mengira Clarissa hanyalah Manusia biasa.


Dan satu petunjuk terkuat dari semua itu adalah kalung berliontin crystal di leher Mate nya lah----yang menyamarkan aura Werewolf nya menjadi sosok manusia biasa. Mungkin Demian dan Pedro sekarang telah meragukan sosok manusianya karena Clarissa sebelumnya menunjukkan bahwa dia bisa menggunakan sihir.


"Mate ku punya banyak hal yang menarik rupanya."


...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...

__ADS_1



__ADS_2