
Sudah beberapa kali Aldera menerima banyak keluhan mengenai penyakit yang mulai bermunculan di Desa Penampungan, meski belum menjadi wabah besar tapi akan lebih baik memangkasnya saat masih sedikit.
Hanya saja ia mendapat sedikit pro dan kontra saat melakukan pemeriksaan ke desa. Penduduk lama dapat mengerti dan menerima peraturan Pack seiring berjalan nya waktu, tapi beberapa kelompok yang masih baru tinggal di desa ini---masih menyimpan kebencian kepadanya.
Aldera tahu ia tidak memerlukan maaf dari mereka atas tindakan nya tapi ia hanya punya masalah dengan musuhnya bukan dengan rakyatnya. Lagipula perang yang seperti apa jika tidak menimbulkan kerusakan pada wilayah dan daerah sekitarnya?
Jadi dia membawa mereka ke Darkmoon Pack untuk menaungi kehidupan mereka yang telah ia hancurkan. Meski begitu bukan berarti ia juga bisa terus berbelas kasih, karena ia pun sadar posisi nya sebagai Alpha di raih dari pemberontakan jadi bukan berarti dia tidak bisa menjadi kejam jika tidak ada yang menurutinya, apalagi di wilayah teritorialnya sendiri.
"Mau sampai kapan kalian bersikap keras kepala kepada Alpha?" Demian masih berseteru dengan beberapa penduduk yang terlihat enggan menerima bantuan dari Aldera mengenai pengobatan.
Sebenarnya masalah ini simpel, jika mereka mau membiarkan Alchemist istana memeriksa atau memberikan informasi terkait bahan untuk membuat obatnya. Aldera pasti akan segera menyuruh bawahannya mengirim bahan herbal yang di perlukan.
Tapi sikap keras kepala penduduk yang menjadi kontra di tempat ini terus mempersulit. Padahal jika di biarkan mereka yang menderita penyakit bisa dalam bahaya.
"Kami tidak butuh bantuan kalian. Pembunuh seperti mu tidak perlu menunjukkan simpatik hanya untuk nama baik mu!" Teriak seorang wanita muda sembari melempar beberapa sayuran hasil ladangnya kearah Aldera, begitu juga dengan beberapa orang tua yang terlihat sangat tidak suka dengan kehadiran Aldera.
"Pergilah, kami tidak ingin melihat mu. Kau telah merenggut putraku!" Wanita tua yang terlihat menangis masih terus melempar kentang yang ada di keranjang.
Meski di perlakukan dengan tidak bersahabat, dan di pandang dengan cacian kutukan kepadanya. Aldera masih bersikap tenang tanpa merespon perlakuan hina kepadanya. Sayuran yang tergeletak di bawah kakinya menjadi kotor dan sia-sia, seakan itu bukanlah hal besar untuknya.
Jay dan para pasukan wariorr istana bergerak menenangkan warga dan membuat barisan terdepan guna melindungi aksi kontra dari mereka. Aldera menyilang kan tangannya, menatap satu-satu sekumpulan warga yang ia bawa dari pemukiman kumuh di dekat Burnerr Pack yang kalah perang melawan nya dua tahun lalu.
Ini hanya tinggal masalah waktu, sebelum akhirnya mereka menjadi tenang dan memahami situasi seperti penduduk yang lain. Hanya saja, dia datang bukan untuk unjuk kuasa melain kan menyelamatkan beberapa anak-anak yang menjadi sasaran utama dari penyakit tersebut.
Apalagi besok malam akan ada perjamuan besar. Jika kabar ini melintas ke seluruh Pack pengikutnya. Akan menjadi konferensi rapat cukup panjang untuk menanggulangi wabahnya, jadi sebelum menjadi parah ia harus segera memangkasnya.
"Daripada menerima bantuan, lebih baik aku mati---bunuh diriku! bunuh saja aku!!" Teriak wanita paru baya tersebut.
"Seret orang tua itu kehadapan ku!"
TERDIAM-----mereka semua diam menahan takut ketika Alpha perkasa itu mulai bersuara. Auranya yang begitu mendominasi membuat mereka tercekat hingga membuat seluruh urat pada tubuh mereka kaku.
Jay membawa wanita tua itu kehadapan Aldera sembari membuatnya duduk berlutut di hadapan Alpha. Mereka semua selalu berteriak hingga memakinya dengan begitu berani, tapi sekali saja mendengar suara Alpha---yang bahkan begitu rendah dari suara tinggi mereka, bisa membuat nyali mereka padam seketika, karena jika Aldera sudah bergerak, tidak akan ada hal baik yang terjadi kedepannya.
Aldera berjongkok di hadapan wanita paru baya itu kemudian tertawa kecil. "Apa kau sungguh ingin mati? Apa tidak ada beban lain yang harusnya kau pikirkan saat ini?"
"Ti--tidak ada, daripada hidup tanpa melihat putraku akan lebih baik mati saja!"
Aldera sempat menatap bingung tapi bukan jadi urusannya jika itu permohonannya. "Membunuhmu bukanlah hal yang sulit." Aldera bangkit kembali.
"Habisi dia, Jay."
Jay terlihat ragu, "Apa tidak masalah Alpha?"
__ADS_1
"Kenapa? Bukankah itu yang dia mau. Lagipula sudah jadi tugas sang Alpha mendengarkan dan mewujudkannya semua keinginan rakyatnya, jadi bunuh dia karena dia terlalu pesimis untuk bertahan hidup?" Aldera melirik dingin ke seluruh penduduk yang menjadi kontra di Pack nya.
Jay mengangguk paham kemudian menarik wanita tua tersebut sedikit menjauh dari Alpha agar darahnya tidak mengenai Aldera. Ia mengeluarkan pedang kemudian menunjukkan mata dari sebilah pedang yang memantulkan bayangan wajahnya.
Mereka semua berteriak histeria bahkan di buat terkejut hingga diam ketakutan. Apa ini sungguhan? Jika mereka meminta mati maka Alpha itu tidak akan segan-segan mengabulkannya. Dia sungguh monster!
Wanita tua tersebut seakan menyerah akan hidupnya, ia dengan segenap hati menutup matanya tanpa ada rasa memberontak membiarkan Jay mengayunkan pedangnya kearah lehernya---Seakan mati sekarang pun bukanlah hal yang buruk untuknya.
"Tidak! Jangan lakukan itu kepada Nenek ku!"
Teriak seorang bocah laki-laki sembari menabrakkan diri ke arah Jay hingga membuat pergerakan tangan Jay goyah, hasilnya pedang itu melesat dari bidikannya dan hanya meninggalkan luka goresan pada leher wanita tua tersebut.
Karena hal itu juga, wanita tua tersebut seketika sadar akan sebuah rasa takut saat lehernya terasa perih, bukankah ini mengerikan jika pedang itu berhasil menebasnya?
"Ja--jangan bunuh Nenek ku, dasar pen--penjahat!" Anak laki-laki tersebut adalah Willy yang baru tiba dan sempat menyaksikan perdebatan mereka.
Willy berdiri di hadapan sang Nenek dengan merentangkan kedua tangannya yang juga memegang bunga Kamelia, seolah menjadi pelindung untuk Nenek nya meski dia pun sebenarnya takut menghadapi mereka.
Jay yang kembali sadar setelah cukup shock dengan serangan tiba-tiba, menatap anak kecil tersebut. "Menyingkir lah, nak."
"Ti--tidak mau!" Teriak Willy sembari menahan tangisannya.
Aldera menghela nafas melihat akan ada perdebatan drama yang sudah cukup memuakkan baginya, karena terlalu sering melihat adegan seperti ini. Maka dia pun mengamati dengan teliti bocah pemberani seperti nya. Tapi, satu hal yang membuatnya menatap dengan serius---adalah sebuah bunga familiar di tangan anak tersebut.
"Iya?"
"Tidak ada tanaman bunga Kamelia di sini kecuali----istana utama?" Willy menundukkan kepalanya saat menyadari tatapan tajam dari mata merah Aldera mengintimidasi nya, seakan memaksa bocah tersebut untuk berkata jujur.
"Itu---itu..., aku..., bunganya....," Willy tidak bisa berbicara dengan baik dan sudah sangat ketakutan berhadapan dengan Aldera.
"Aku yang memberikannya," Ujar seseorang memecah keadaan yang hampir berbahaya untuk anak dan wanita tua tersebut.
Semua orang termasuk Aldera menoleh dan menatap wanita berjubah merah dengan kepala masih tertutup tudung jubahnya. Ia berjalan perlahan mendekati mereka, membuat banyak warga setempat membicarakan kedatangan nya yang begitu dengan berani menyela seorang Alpha. Sosok wanita tersebut membuka tudung kepalanya menunjukkan wajahnya dan menatap Aldera dengan penuh keyakinan.
"Clarissa...," Gumam Aldera.
Clarissa tahu Aldera menyimpan banyak pertanyaan mengenainya, tapi saat ini Clarissa hanya membalasnya dengan senyuman dan memintanya untuk tetap tenang melalui tatapan mata. Kemudian ia memegang bahu Willy mencoba menenangkannya bahwa tidak ada yang perlu di takutkan.
"Apa dia keluarga mu, Willy?"
"Iyaa, dia Nenek ku, Nona."
Clarissa yang sudah tahu garis besarnya karena tadi juga menyaksikan perdebatan mereka saat sudah berada di Desa. Saat ini dia harus membantu Aldera untuk meyakinkan beberapa oknum kontra terhadap dirinya. Salah satunya adalah Nenek tersebut yang terlihat jauh lebih keras menentangnya karena dendam pribadi.
__ADS_1
Clarissa menghampiri Wanita tua tersebut sembari melepaskan jubah hangatnya, kemudian memberikannya kepada wanita tersebut. Dengan sangat ramah dia membantu menyadarkan pikiran Nenek tua tersebut dari rasa shock akibat luka pada lehernya.
"Anda tahu, cucu tampan anda menentang larangan Alpha dan memberanikan diri melawan bahaya---menerobos hutan dan rela di buru oleh sekawanan serigala hanya untuk mengambil bunga Kamelia untuk menyembuhkan Adiknya." Clarissa berbicara dengan ramah sembari menyembuhkan luka pada leher Nenek di hadapan nya.
"Tapi kau mengatakan mati dan menyerah begitu saja tanpa mengingat bahwa kau masih punya anak-anak yang membutuhkan perhatian orang dewasa."
"Aku tahu, aku terlalu ikut campur dengan urusan mu yang telah kehilangan seorang Putra. Tapi jangan lampiaskan kepada anak-anak, kau berhak membenci sikap Alpha tapi dia mencoba yang terbaik untuk tetap memberikan atap teduh untuk kalian. Mencoba membangun sesuatu hal yang sudah ia hancurkan, tapi beliau bukan Dewa yang bisa melawan hukum langit untuk menghidupkan seseorang yang sudah mati, Nyonya. Alpha mencoba membayarnya dengan memberikan kehidupan yang jauh lebih baik untuk masa depan kalian."
Clarissa meraih tangan keriput wanita tua tersebut, menggenggamnya agar kulitnya tidak menjadi dingin akibat musim dingin. Wanita tua itu terdiam menatap seraya mendengarkan baik-baik apa yang di ucapkan Clarissa.
"Aku memohon kepada mu dan kepada kalian semua." Clarissa menatap dengan tatapan percaya diri kepada seluruh penduduk desa penampungan. "Cukup sampai sini dan hari itu saja, tolong jangan terus ter kalut dalam masa lalu. Kalian hanya akan semakin hancur karena tidak berani melangkah ke depan, yang membuat masa masa itu terus terngiang adalah kalian. Lihat lah sekeliling mu, apa saat ini situasinya sama?"
"Jika kalian terus menolak, dan membiarkan anak-anak kalian mati---lukamu akan semakin parah, berderai dengan kesedihan tidak akan membawa perubahan. Kalian boleh kecewa, kalian boleh menutut dengan segala kebencian hingga mengumpat serapah kepada Alpha. Tapi, sampai saat ini apakah ada perubahan?"
" Alpha juga memikul banyak beban dari kematian orang-orang terkasih kalian. Beliau mengulurkan tangan bukan berarti menjadikan hal ini sebagai pembalasan dosa ataupun menaikkan nama baiknya. Tapi, ia ingin kita berubah bersama menunjukkan rumah idealis yang jauh lebih baik daripada kediaman yang dulu. Jika kalian memang membencinya, kenapa kalian masih tetap bertahan disini? Kenapa kalian tidak pergi dan meninggalkan Darkmoon Pack?"
Semua terdiam, seakan setiap kalimat Clarissa dapat menetralisir kan emosional mereka. Jujur saja mereka memang sudah tahu bahwa Aldera berperang hanya berurusan dengan musuh saja, tapi tidak menyentuh rakyat dari Pack musuh sedikit pun. Hanya saja kemarahan yang mereka pendam saat ini hanyalah perasaan tidak terima karena kepergian dari orang-orang terkasih.
Mereka terlalu kalut hingga tidak menyadari bahwa masih ada hidup yang harus di pertahan kan, mereka terlalu menyalahkan keadaan tanpa berpikir jernih padahal mereka sangat bersyukur tidak di tinggalkan dalam keadaan sehancur-hancurnya. Di terima dan di sambut dengan sangat baik oleh Alpha.
Meski mereka di bicarakan buruk oleh penduduk asli Darkmoon Pck. Aldera tetap menjaga nama baik mereka dan melindungi mereka di bawah namanya. Apalagi mereka telah di beri tahu oleh penduduk lama di desa penampungan, bahwa jasad dari keluarga mereka dulu tetap dimakamkan dengan layak sebagai bentuk respeknya terhadap dampak perang yang ia perbuat.
"Mereka yang telah pergi sudah sangat bersyukur kalian tetap hidup, tolong tinggalkan perasaan penyesalan itu hanya sampai hari ini. Untuk esok, mulailah dengan hidup baru. Aku tidak menyuruh kalian melupakan kenangan kelam nya. Tapi jangan terlalu lama bersedih, karena itu sudah cukup menyiksa mu. Cukup sampai hari ini saja, kalian semua sudah sangat hebat bisa bertahan dan belajar untuk mengiklaskan mereka. Kita masih bisa menciptakan era baru dengan masa yang lebih baik untuk anak-anak kalian kedepannya. "
Seakan semua menjadi sadar mereka ter kalut hingga tertegun saat melihat Clarissa sendiri menangis tapi masih tetap tersenyum seolah dia baik-baik saja---tapi tercermin kan, bahwa ia pun punya masa lalu kelam yang tidak bisa di tinggalkan. Tapi dia tetap ingin hidup dengan baik dan terus bertahan demi mewujudkan harapan dari orang-orang yang sudah pergi lebih dulu, dan hanya menyisihkan dirinya seorang.
" Jadi.., bisakah kita bertahan dan berjuang bersama? Jika kalian masih merasa sesak, kita bisa memulainya dengan pelan-pelan."
Willy menangis sembari berlari--memeluk Clarissa, tidak hanya Willy mereka semua yang masih belum bisa menerima keadaan turut menyesali beberapa hal, bahkan sampai mengatakan banyak ungkapan hati yang jauh lebih jujur untuk di dengar meski semua masih dalam bentuk kritikan kepada Aldera tap jauh lebih hangat dan sopan terdengar.
Demian, Jay dan seluruh wariorr yang melihat hal ini benar-benar tertegun. Tidak mudah menenangkan sekumpulan masa yang punya banyak emosional tak terkendali. Tapi Luna nya mampu meredam suasana hanya dengan beberapa ucapan saja.
Aldera menghela nafas, ia tahu dan sadar, bahwa akan ada banyak musuh baik dari sekutu ataupun musuh yang siap menikamnya kapan saja tapi ia tidak bisa terus bersikap diam. Aldera hanya ingin menciptakan era yang jauh lebih baik di masa mendatang.
Akhirnya Aldera harus mengalah, ia pun menghadapkan dirinya ke seluruh penduduk Desa Penampungan.
"Selama kalian masih belum bisa menerima dampak paska perang waktu itu, jangan pernah memaafkan ku. Jika kalian muak dengan sikap ku, kalian bebas pergi dari sini tapi jika kalian tidak memiliki tujuan, kalian boleh kembali kapanpun kalian mau. Mungkin terlambat dan sangat terkesan sangat biad*b dengan sikap ku saat ini, tapi aku hanya berurusan dengan mereka yang mencoba mengusik wilayah dan orang-orang ku. Begitu juga dengan kalian, jika ada yang memperlakukan buruk kalian jangan sungkan untuk melaporkannya kepada ku. Karena kalian telah menjadi bagian dari Darkmoon Pack."
"Tapi jika kalian terluka karena perbuatan ku yang terlalu berlebihan---Aku, sebagai Aldera Herrostica Mahenziv meminta maaf telah merenggut banyak kebahagiaan kalian di masa lalu."
Aldera menurunkan ego nya dan membungkuk memberikan penghormatan atas rasa bersalahnya kepada korban dampak perang yang ia sulut. Melihat seorang Alpha dengan harga diri yang begitu tinggi membungkuk seperti itu membuat mereka semua menatap tidak percaya, sosok kejinya bisa sehangat itu jika kita memahami sosoknya yang sebenarnya.
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...
__ADS_1