
"----Ayah mohon, tetaplah hidup tanpa di ketahui oleh kaum Werewolf ataupun bangsa Imortal yang lain Rissa."
Gama menarik tubuh kecil Clarissa yang sejak tadi terus memberontak tatkala ia melihat Ayahnya semakin tersudutkan dan ketika Paman nya mengambil sebuah pedang untuk menghabisi seorang Alpha, Clarissa menjerit menangis sembari meneriaki nama sang Ayah tapi Gama terus menjauhkan Clarissa dari tempat dimana Ayahnya tergeletak tak lagi bernyawa.
"Daddy!!"
"Pergi, jangan pernah kembali ke Gladea Pack---lari lah sejauh yang kau bisa CLARISSA!!!"
.......
.......
.......
"HA!!" Clarissa membuka kedua matanya dengan kasar, seolah jiwa dan raganya di paksa untuk kembali ke dunia nyata dari mimpi buruk yang selalu menjadi teman tidurnya mengenai hari pemberontakan tersebut.
Ia terlihat mengusap kasar wajahnya saat menyadari kejadian mengerikan itu kembali bersinggah di setiap malam. Dengan nafas yang tersengal dan begitu menyesakkan, Clarissa menyibak selimut---melangkah turun dari ranjang tidur sembari mengambil secangkir air di dekat ranjang.
Sesaat setelah menenangkan dirinya, Clarissa menyadari bahwa ada banyak perbedaan di kamarnya. Kediaman kamar yang terpaut warna hitam dan merah di berbagai furnitur. Nuansa dingin serta lembab yang terasa dari dinding bebatuan marble serta kayu pinus, mengesankan nuansa gelap.
Ia juga menatap penampilannya di depan cermin. Gaun tidur berwarna putih sebatas lutut dengan terbalut gardigan sedikit menerawang sepanjang betis. Menampilkan tubuh gemulai nan seri dengan kulit putihnya yang seindah salju, menambah kecantikan dari sosok putri tidur tersebut.
Seakan ingatannya berhasil kembali, Clarissa berjalan cepat menuju sudut ruang---membuka pintu balkon kamar dengan mentari senja sudah menyapanya begitu menyilaukan. Karena sejak tadi ia berada di ruangan yang gelap, sehingga harus menyipitkan kedua matanya saat terpapar cahaya matahari.
Namun semua itu hanya sementara saat ia menatap penuh kagum pada pemandangan yang ia lihat. Jauh di depan sana terbentang pemukiman Pack dan berbagai aktivitas dari Werewolf. Salju yang mendominasi hampir seluruh wilayah termasuk pegunungan nya, menunjukkan kilauan permata dari salju yang membeku----memantulkan cahaya matahari kembali. Belum lagi langit jingga yang hampir memasuki waktu malam, membuat pemandangan itu seperti lukisan dalam bingkai canva.
Clarissa mencondongkan tubuhnya dengan memegang bibir pembatas balkon kamar lalu menegakkan kembali tubuhnya. Tempat ini berada jauh lebih tinggi di perbukitan, dan balkon kamarnya, sepertinya hampir berada di puncak lantai.
Beberapa hutan lebat yang mengelilingi istana dan perbatasan di luar benteng di pemukiman Pack pada lereng bukit---menjadi miniatur berwarna selain putih salju. Clarissa bisa menyimpulkan bahwa dia sedang berada di Pack bangsa Werewolf.
Hingga, sebuah pelukan dari uluran tanga kekar yang melingkar di perutnya membuat Clarissa tahu---ini adalah wilayah tempat dimana Aldera berada.
"Aku sangat senang, akhirnya kau sadar Mate. Apa kau tahu betapa gilanya aku saat melihatmu hanya tertidur selama tiga hari ini? Bahkan para Alchemist hebat saja tak bisa menjelaskan dengan benar dan hanya bisa berkata terbata-bata---mereka sangat menyebalkan dan tidak berguna!"
Aldera melepas rindunya dengan menyelami aroma memikat dari setiap jenjang leher menuj pundak yang sangat terasa menggoda untuknya.
"Apa tidak ada yang mau kau jelaskan kepada ku, Aldera?"
Clarissa mulai bersuara tanpa menghentikan aksi Aldera karena ia pun tak bisa menolaknya. Baik sentuhan atupun pelukannya yang selalu dapat menenangkan hati Clarissa, seakan perasaan kacau dari mimpi buruknya dapat di hilangkan hanya dengan aroma dari tubuh Matenya yang menyerbak---bunga anggrek dan suasana hutan. Dan hal ini akan semakin candu bagi setiap pasangan werewolf.
"Lalu bagaumana dengan mu? Bisakah kita bertukar informasi pribadi sebagai transaksinya, Rissa."
"---jika aku mengatakannya, apa kau akan bersedia membawaku kembali ke bumi?"
Aldera menghentikan aksinya dalam mengecup jenjang surinya. Kedua mata yang tertutup menjadi terbuka sempurna dengan dua iris manik merahnya yang menatap tidak suka dengan ucapan Clarissa.
Lantas Aldera pun memutar paksa tubuh Clarissa untuk menghadapnya. Ia dapat melihat bahwa Clarissa menahan rasa takutnya untuk menentang dirinya. Kedua matanya yang sangat berani menatapnya secara langsung---bahkan tidak akan berani di lakukan seorang Tetua sekalipun. Hal itu membuat Aldera menunjukkan senyum ketertarikan nya. Seakan sosok Alpha nya tak akan pernah bisa memdominasi Shewolf di hadapannya, untuk tunduk dengan mudah.
__ADS_1
"Kembali lah jika kau ingin identitas mu di ketahui seseorang." Aldera menunjukkan sebuah kalung di tangannya. Secara sepontan Clarissa meraba lehernya dan mencoba merebut kalung tersebut saat mengetahui bahwa itu miliknya.
Tapi Aldera tidak akan semudah itu memberikannya, ia pun mengangkat tangannya membuat Clarissa harus herjinjit dan melompat kecil untuk meraihnya. Sepertinya ia harus bersyukur untuk tinggi badan kekasihnya yang sangat mungil ini.
"Aldera kembalilan!"
"Tidak sebelum kau mengatakan sebenarnya."
"Jika aku merahasiakan keberadaan ku, itu artinya tidak ada yang boleh tahu mengenai rahasiaku."
"Tapi aku mate mu Clarissa, bergantung lah ke padaku."
Clarissa tidak bisa percaya begitu saja. Ia masih takut dan sangat trauma, meski Aldera adalah matenya tapi mereka baru saja bertemu, semua hal tentang Aldera masih sangat rancu untuknya. Apakah ia sungguh bisa berpijak jika selama ini ia bertahan seorang diri, bisakah ia tetap tinggal pada satu atap untuk waktu yang lama, jika selama ini ia selalu berpindah atap untuk melindungi dirinya.
Dapatkah ia mempercayai sosoknya? Ada begitu banyak manusia maupun kaum Werewolf lain yang ia temui untuk mengatakan "kau akan aman berada disini." Tapi hasilnya? Mereka harus menjadi target Paman nya dan beberapa dari mereka mati atau bahakan mengkhianati Clarissa dengan melaporkan keberadaan nya.
Bahkan Gama yang merupakan Beta Ayah nya saja masih harus menjaga jarak dengan nya dan hanya menemuinya beberapa bulan sekali agar Paman nya tidak mengetahui wilayah perlindungan nya di hutan Papua. Pada akhirnya Clarissa di paksa untuk bertahan seorang diri dan jangan pernah bergantung pada siapapun!
15 tahun berlalu dan itu bukan lah hal yang singkat untuk di katakan---bahwa perjalanan hidup ini sangatlah ringan dan terasa mudah. Banyak hal yang telah Clarissa alami hanya untuk bertahan hidup, jika pun ia bisa berpangku pada Aldera akankah Aldera juga menerima sebagian dari kekurangan nya sebagai Werewolf yang cacat?
Clarissa harus mempertimbangkan dari berbagai sudut pandang dan masalah hidupnya. Apalagi Aldera memiliki aura dengan jiwa kepimpinan---yang berarti, ada kemungkinan dia seorang Alpha.
"Apa kau masih bersikeras untuk diam? Apa kau masih ingin pergi?"
"Aldera, kita masih bisa bertemu. Kau bisa mengunjungiku, Villa kediaman ku beraa di sisi hutan Nehela."
"Apa kau tahu, sudah berapa lama aku bertahan seorang diri di dunia keji ini? Bertahan dari kesepian dan hanya membunuh untuk menghilangkan perasaan kesal dan muak terhadap hidup membosankan ku?! Aku sudah sangat lama dan cukup bersabar untuk menunggu kedatangan mu, ketika Moon Goddess menghadirkan mu maka aku tidak ingin kehilangan mu. Tolong mengerti diriku, Rissa."
"Tapi aku juga tidak bisa berada di Imorrtal. Aku berjanji bahwa aku harus tetap hidup---tidak perduli bahwa keberadaan ku seperti orang mati!"
"Dan kau menyagupinya? Hidup dalam kejaran seseorang, bersembunyi seperti hama lalu setiap harinya kau harus merasa cemas bahwa bisa saja kau di bunuh dari arah tak terduga---dan kau menyanggupi janji itu?" Clarissa mengangguk pelan.
"JANGAN BODOH, CLARISSA!!"
Aldera memegang kedua bahu Clarissa dengan kuat. Ia memang banyak bertanya mengenai mate nya kepada raja peri bulan tapi Bobby tetap merahasiakan beberapa poin yang menjadi hal mengganjal dalam urusan Mate nya. Jika saja Bobby bukan utusan Moon Goddess, Aldera sudah pasti akan mencengkram kepala kecilnya sampai hancur!
"Katakan kepada ku, siapa yang memaksa mu untuk berjanji?"
"Dia ayah ku. Ayah ku yang menyuruh untuk hidup dalam pelarian dan harus selalu bersembunyi."
"Itu berarti, dia pria bodoh yang tak bermoral---"
"Aldera!!" Clarissa menepis tangan Aldera yang mencekramnya. "Kau tidak tahu apapun mengenai ku ataupun hal yang terjadi pada Ayah ku, jangan pernah menghina nya."
"Kalau begitu bergantung lah kepada ku, Clarissa. Ceritakan siapa yang mencoba membunuh mu, aku bisa menjadi tempat untuk mu berlindung. Atau kau berpikir aku tidak akan sebanding dengan nya?!"
"Ya! Kau tidak sebanding dengan nya. Mungkin saja kau dan seluruh Pack mu akan hancur seperti tempat tinggal ku!"
__ADS_1
Clarissa memang tidak tahu seperti apa sosok Aldera, siapa dia, dan seberapa besar kekuatan nya untuk bisa menekan musuh-musuh nya. Karena Ayahnya yang merupakan Alpha terbaik di seluruh Pack Werewolf di asia tenggara saja, berakhir dengan kematian. Bagaimana jika nanti Clarissa juga menyaksikan Aldera berakhir sama seperti ayah nya?
Tidak! Clarissa tidak bisa kehilangan sesuatu yang berharga lagi. Akan lebih baik mereka berpisah daripada bersama, karena itu akan membuat Mate nya tetap aman. Oh sungguh, apakah ini semacam kutukan dari Moon Goddess untuknya? Apanya yang di cintai rembulan, jika setiap langkah nya untuk bertahan harus selalu sesulit dan sangat memuakkan.
"Kau terlalu memandang rendah diriku, Clarissa."
"Aldera!"
Dengan sangat marah Aldera membanting kalung tersebut dan membuat liontin kalungnya hancur. "Aku tidak mau bersikap kasar kepada mu, Rissa. Kau tidak akan pernah bisa pergi atau meninggalkan wilayah teritorial ku! Kalung itu telah hancur dan kau tidak punya pelindung apapun untuk lepas dari kejaran mereka, pada akhirnya hanya bersamaku kau akan aman. Pergilah jika kau memang sebenci itu beramaku, tapi aku pasti akan membawamu kembali dan menarik mu secara paksa agar tetap bersamaku."
"Kau mungkin saja akan menyesal dan berpaling dariku jika tahu bahwa aku Werewolf yang tidak sempurna. Aku tidak akan bisa menunjukan sosok serigala ku, karena aku tidak memiliki lambang Wolfy yang dianugerahkan Moon Goddess kepadaku. Melihatmu yang begitu arogan---Apa kau seorang Alpha?" Clarissa mencoba mengatakan dan melebihkan kisahnya agar membuat Aldera memandang benci dan melepaskan nya.
"Jika benar, maka aku hanyalah aib untuk mu. Kedudukan kita berbanding jauh."
"...................."
Aldera tidak menunjukkan reaksi apapun mendengar hal itu, ia justru menunjukkan senyum semirk nya yang puas akan sesuatu. Kemudian kembali menarik Clarissa---memaksanya untuk menerima ciumannya yang terkesan sedikit kasar, lalu kembali menatapnya dengan penuh obsesi.
"Mungkin bagi seorang Clarissa, kau bisa berpikir bahwa perasaan ku hanyalah sebatas obsesi karena kita di takdir kan sebagai Mate semata. Tapi bagi seorang Aldera----tidak ada sedikitpun rasa penyesalan dari pertemuan ini. Mencintai mu adalah anugrah paling membahagiakan dari banyaknya pencapaian yang pernah ku raih selama hidup ini, Rissa."
Clarissa tahu terkadang Aldera itu menakutkan seakan di kepalanya memiliki banyak intrik keji dan raut wajah nya yang selalu menunjukkan senyum obsesi, pasti memiliki maksud yang menyeramkan. Dan pria berbahaya ini justru menjadi Mate yang sudah direstui Moon Goddess untuknya.
"Al--aldera," Clarissa melenguh saat pria itu membuat banyak tanda kiss mark pada jenjang lehernya. Kemudian menarik diri menatap puas pada mahakarya nya di tubuh wanitanya---Itu sangat cantik!
Aldera memainkan rambut Clarissa sembari memakaikan selendang hangat di bahu Clarissa. "Seprtinya kau harus berusaha lebih keras untuk membuatku melepaskan mu. Aku tersanjung dengan pengakuan mu dan itu membuatku semakin menyukaimu-----bahwa aku sangat bersyukur jika Mate ku harus terlahir tidak sempurna, karena jika kau sampai bisa berubah menjadi sosok Wolf. Kau akan semakin lincah untuk kabur dari sisi ku! Tidak perduli jika kau di pandang aib atau di kritik sebagai Werewolf yang cacat. Karena aku akan menghabisi mereka dan kau akan melihat setiap kepala dari seluruh Werewolf yang mencoba menghina Mate seorang Aldera!"
Clarissa merasakan seluruh tubuhnya merinding mendengar penuturan Aldera yang tidak main-main. Apa dia sebenarnya memang sosok Alpha yang jauh lebih buruk daripada Paman nya? Clarissa tidak bisa membayangkan kehidupan seperti apa yang akan ia lewati jika terus bersama Aldera. Bersama nya seperti berada di medan perang, baik sekutu atupun musuh jika tidak sependapat dengan keinginannya----kehancuran adalah akhir dari hidup mu.
"Hilangkan khayalan mu tentangku, sayang. Selama kau menurut, hal baik akan selalu di pihak mu. Jadi, jangan pernah mencoba berpikir untuk kabur dari ku." Aldera mengusap lembut kepala Clarissa.
"Salam Alpha."
Perhatian mereka teralihkan saat kedatangan dua Omega---Shewolf yang menjadi pelayan di istana Aldera. "Kami datang menerima panggilan anda, Alpha."
Aldera tidak merespon, ia justru kembali melihat Clarissa "Kau bisa membenahi dirimu. Aku akan kembali menjemput mu untuk makan malam."
Aldera mengecup kening Clarissa lalu berjalan menuju pintu, tapi sebelum ia keluar dari kamar. Aldera melirik tajam kepada dua pelayan istana tersebut.
"Pastikan kalian melayani Luna ku dengan baik. Jika aku mendengar kekuhan darinya---" Aldera tersenyum sinis. "---para peliharaan ku yang akan melayani kalian untuk bertemu Moon Goddess." Lanjut Aldera yang di tanggapi anggukan penuh ketakutan dari dua pelayan tersebut. Lalu Aldera melihat mate nya sekali lagi sebelum ia menutup pintu.
Clarissa yang melihat pintu kamar telah tertutup sempurna, kini dapat bernafas dengan lega bahkan kedua lututnya saja sudah sangat lemas dan tak sanggup menahan dari tekanan Aldera sebagai seorang Alpha yang terus memaksanya untuk tunduk kepadanya. Atau mungkin Clarissa salah, ia bukan lah Alpha yang lemah seperti yang dipikirkan nya.
"Sekarang, bagaimana aku harus menghadapi situasi ini---Ayah..., ibu." Clarissa pecahan kristal dari liontin kalung milik ibunya.
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...
__ADS_1