
Menghela dengan kasar! Beberapa geraman terdengar tertahan, serta kepalan tangan yang sudah berapa kali menghancurkan kan meja yang menyediakan barisan hingga tumpukan bunga Kamelia yang tersusun sangat ramai dengan berbagai jenis serta warna----memenuhi pikiran para Werewolf yang melihat ketakutan dan terheran pada ruangan Alpha.
Apa sekarang sang Alpha mencoba merawat bunga? Tapi sepertinya tidak deh, melihat bagaiman dia sudah dengan sangat kesal menahan amarah pada sesuatu yang terus menjadi kekecewaan nya.
Belum lagi di luar istana juga masih berbaris rombongan gerbong kuda yang menarik lebih banyak jenis bunga Kamelia dari hutan Ive wilayah Elf. Demian tidak tahu harus bersikap seperti apa, setiap melihat Alpha di hadapannya selalu tidak puas dengan kemauannya. Sekarang ada begitu banyak furnitur istana yang harus ia beli lagi, bahkan barang-barang yang Alpha rusak semalam saja belum sempat ia pesan.
"Bukan yang ini!"
"Ini tidak ada baunya!"
"Aku benci warna ini terlalu mencolok di mataku."
"Buang! Singkirkan!"
"Argh!! Kenapa kalian tidak bisa membawa yang sama dengan aroma itu sih?! Cepat singkirkan semuanya!"
Sudah berapa kali Aldera terus berteriak dengan para Omega. Ia terlihat mengusap kasar wajahnya, rambut panjang hitamnya kini terlihat lebih berantakan dan matanya sangat kurang sehat----benar sejak semalam meski ia tidak bisa merasakan nya, tapi aroma penuh candu yang membuatnya menggebu-gebu memintanya untuk segera meraih dan memiliki sosok pemilik aroma manis itu, terus terngiang di benaknya.
Belum lagi perasaan gelisah yang tidak nyaman ini mengusik nya dan membuat Aldera terus terjaga. Dan sekali lagi Aldera meninju cermin besar membuat retakan kacau, dan dalam satu sudut, Demian dapat melihat ada banyak bayangan wajah Alpha nya yang terkesan sangat murka di tiap retakan cermin tersebut.
"Hei, cepat kau tenangkan dia, dan coba tanyakan---sebenarnya, apa yang di cari Alpha dari bunga Kamelia?" Frans jiwa wolf Demian yang terdengar sudah geram melihat sosok Alpha nya itu, tapi mereka berdua terlalu takut untuk bertanya.
"Sebaiknya kau diam saja! Atau kau mau menanyakan sendiri?" Ujar Demian pada wolf nya.
"Oh tidak-tidak, aku lebih sayang nyawa."
Demian menghela nafas, ia mencoba mengumpulkan sebanyak mungkin keberanian untuk mendekati Aldera, sedangkan Jay masih bersembunyi di balik pilar, untunglah dia bukan Beta dari Aldera. Kalau iya, bisa-bisa sebelum bertanya Jay sudah mati karena menegur keinginan random dari Alpha nya.
"Alpha...,"
"Apa kau yakin ini sudah semua, Demian?!" Aldera melirik Beta nya dengan tatapan tajam seakan ia melarang Demian untuk mencoba menghentikan aksinya.
"Semua yang anda inginkan sudah tersedia dan beberapa bunga Kamelia yang tersisa hanyalah di gerbong yang baru saja tiba, Alpha." Ujar Demian mencoba setegar mungkin menghadapi Alpha nya karena ia adalah Beta---wakil yang memimpin setelah Seorang Alpha.
Aldera juga tahu bahwa masih ada yang tersisa di luar sana tapi ia bisa pastikan hanya dengan mencium aroma nya dari sini----tidak ada satupun dari semua bunga itu yang sama dengan aroma pada malam itu. Secara samar aroma nya memang terkesan mirip, tapi yang ia rasakan dari hutan itu jauh lebih memikat hingga membuat pembuluh darahnya mendidih seakan bergejolak, apalagi jika bisa mendekap sekuntum bunga Kamelia tersebut.
"---Alpha, maaf jika saya lancang bertanya."
Aldera berdecak kesal melihat Demian masih terasa ragu untuk mengungkapkan sesuatu dan mempertimbangkan apa pertanyaan nya itu menyinggung dirinya atau tidak. Padahal ia tahu Aldera lebih benci saat seseorang menggantung ucapan nya dan membuatnya harus bersabar.
"Segera katakan!"
"Mungkin saja bunga Kamelia yang anda cari ada di dunia manusia. Bukankah anda merasakan nya sampai ke perbatasan hutan Nehela?"
Aldera mengangkat kedua alisnya yang sejak tadi terpaut dalam amarah. Kenapa dia juga tidak terpikirkan, bukankah aroma itu memang datang dari sana? Tapi, bagaimana jika itu hanya jebakan musuh, ia yakin itu adalah aroma Kamelia tapi semua bunga ini tidak ada yang secandu dan seharum yang ada di hutan itu.
Aldera meraih sebuah kain untuk mengelap darah di tangan nya akibat tinjuan kasar pada cermin---tentu lukanya telah menutup kembali hanya saja darah di sela jemarinya masih tersisa.
"Bagaimana dengan yang ku minta menganai perbatasan?" Aldera duduk dengan santai di atas meja sembari melihat belati yang di buat oleh kaum Drawf---bangsa kurcaci yang berlindung di bawah kekuasaan nya dekat pegunungan Nerd, wilayah Darkmoon Pack.
"Mengenai itu Jay datang untuk melaporkan nya sendiri."
__ADS_1
Jay yang sejak tadi berlindung di balik pilar perlahan keluar dengan senyum canggung nya. "Ekhem, seperti perintah anda kami menyusuri hutan Nehela dan mengamati daerah Vampir, tapi seprti nya tadi malam tidak ada satupun bangsa Vampir yang menyebrangi perbatasan sejak kita menggantung tubuh Geordan dan rekan nya di alun alun kota Hanschel kerajaan Vampir, dua hari yang lalu." Jelas Jay mempersingkat laporan nya.
Aldera menyukai laporan yang di bawa Jay, setidaknya para kelelawar itu sedang bersembunyi di goa dengan ketakutan bukan? Yah walau ia yakin, dalam waktu dekat mereka akan berulah lagi.
"Bagus. Kalau begitu Jay---"
Aldera melempar belati ditangan dengan melesat cepat kearah Jay. Untungnya Jay punya reflek yang bagus sehingga pisau itu menancap di pilar kayu di sebelah Jay---dan hanya berjarak sekitar 1cm dari telinganya.
Jay tahu Alpha nya tak bermaksud membunuhnya. Tapi, ia akan tetap dan selalu menguji anak buahnya dengan serangan mengejutkan yang tak terbaca. Jika bawahan nya mati karena kaget tak bisa mengelak maka Aldera akan dengan senang hati membantu pemakaman nya.
Itu lebih baik daripada dia hidup menjadi bawahan nya dengan sangat tidak berguna, karena Aldera memiliki syarat garis keras untuk menjadi warrior Werewolf di Pack nya. Bahwa Aldera tidak butuh bawahan yang tak bisa melindungi dirinya sendiri apalagi jika harus berada di garda depan.
Mungkin kejam dan tak berbelas kasih, tapi sebenarnya keputusan Aldera tepat! Mati lebih baik daripada harus hidup menderita di bawah tekanan musuh-musuh Aldera yang memiliki kekuatan yang cukup setara dengan nya.
"----Tolong jaga Pack selama aku pergi." Ujar Aldera melanjutkan kalimatnya yang sempat terputus akibat serangan dadakan barusan.
"Baik Alpha, anda bisa mengandalkan saya." Ujar Jay.
"Alpha anda ingin kemana?"
"Bukankah kau ingin membeli beberapa barang-barang istana ku yang rusak karena Zack? Dan lihatlah, ruangan ini saja sudah sangat tidak layak untuk seorang Alpha---Sungguh, Zack terlalu kekanakan."
"Cih! Lihatlah bagaimana kau berbohong dengan sangat tidak tahu malunya! Mau kejadian semalam atau sekarang, semua barang itu rusak karena dirimu bukan diriku, bodoh." Zack yang selalu menjadi tumbal Aldera setiap kekacauan membuatnya mendelik tidak suka dengan celotehan Aldera.
Tapi Aldera mengabaikan suara yang menggema di pikirannya. Sedangkan Jay dan Demian hanya bisa tersenyum kaku karena ini memang kebiasaan Aldera. Padahal meraka satu tubuh dan satu identitas tapi lihatlah kelakuan mereka yang sangat berbeda---oh hanya ada satu kesamaan dari mereka. Mereka sama-sama suka menyulut peperangan dengan keji!
"Lalu bagaiman dengan anda, apa Alpha juga akan pergi ke bumi?"
Lagi?! Demian dan Jay mengangguk paham, sepertinya sang Alpha sangat terobsesi kali ini dan juga merasa yakin kalau hobi barunya akan segera berganti dalam beberapa hari. "Kalau begitu, saya akan menemani anda----"
"Tidak perlu, kau urus urusan mu saja. Aku akan mencoba menemui kucing liar itu sendiri."
"Apa anda akan membujuk Raja Bobby? Aku dengar ia sangat menjaga taman bunga itu selama 18 tahun, bahkan kaum nya saja tidak di izinkan ke sana."
"Kau meragukan ku? Lagipula kenapa Alpha harus membujuk? Seret saja dia jika dia menolaknya." Aldera menunjukkan senyum sinis nya lalu melangkah pergi, sedangkan Demian dan Jay saling melirik dan kemudian ia mengikuti langkah sang Alpha.
"Segera bereskan semua kekacauan yang ada di ruangan Alpha." Perintah Jay pada pelayan.
...--༺🌛🌟🌜༻--...
Grindelwald
Aldera menyesali kedatangan nya ke dunia manusia. Sepertinya Bobby sudah memperkirakan hal ini, lihatlah bagaimana dia juatru malah berputar putar di pemukiman manusia lebih tepatnya Desa Grindelwald sesaat dia ingin mendatangi hutan peri yang berada di tepi hutan Nehela.
Awas saja jika dia berhasil menangkap kucing buntal itu, Ia pasti akan merebusnya! Biarlah Moon Goddess mengutuk aksinya, tapi setidaknya rasa haus nya harus ternetralisir.
Aldera dan Demian memutuskan berpisah setelah melewati perbatasan alam dan akan saling mendatangi jika ada sesuatu. Dengan sangat bosan Aldera berjalan di tengah kerumunan manusia, ia menyamarkan keberadaan nya agar tak menjadi pusat perhatian. Tidak ada satupun yang ia temui bahkan aroma bunga camelia itu saja tidak akan terasa keberadaannya, apa perkiraannya salah?
Cih! Mungkin saja malam itu dia terlalu berhalusinasi. Sekarang lebih baik ia kembali saja ke istana nya, toh masih ada pertemuan antar Alpha di seluruh Pack pada malam bulan sabit tiga hari lagi. Jadi masih banyak pekerjaan yang harus ia lakukan karena pertemuan itu di laksanakan di Darkmoon Pack nya.
"Namaku, Clarissa..." Aldera menakap sebuah suara lembut yang terdengar sangat memekik di telinga nya. Entah bagaimana di tengah kebisingan di desa ini, hanya suara wanita itu yang terdengar jelas di telinga nya.
__ADS_1
Ia menoleh melihat sesosok wanita muda denga paras dewinya yang terlihat seperti pahatan alam yang sangat i dah. Aldera terdiam sangat lama memperhatikan setiap hal kecil dari pergerakkan wanita itu yang masih asik berbincang denga seorang penjaga toko bunga tak jauh dari posisinya berdiri.
Dan sekali lagi! Aroma wangi bunga Kamelia tercium dengan sangat menggoda hingga membuat degupan jantungnya yang berdetak tak menentu, setiap wanita itu tersenyum sembari menerima sebucket bunga Kamelia dan beberapa buah.
Aldera seperti pria bodoh yang tiba-tiba saja tertawa kecil hanya karena melihat wanita itu semakin kepanikan, karena berusaha menolak untuk di buatkan serangkai bunga Kamelia lagi---karena menurutnya reaksinya itu sangat imut dan begitu menggemaskan.
Lihat lah bagaimana bibir ranum nya yang semerkah kelopak Kamelia, manik mata teduhnya yang terlihat seperti cerminan rembulan, menarik hati Aldera. Rambut hitam gelombangnya yang berkibar karena angin musim dingin serta suara merdunya yang begitu sagat indah di telinga Aldera---tapi yang paling membuatnya berpikir semakin gila dan liar adalah aroma manis yang membuatnya sangat tercandu melebihi bunga Kamelia yang ada di pelukannya.
Perasaan yang tidak enak di hatinya bukanlah kegelisahan melainkan kerinduan akan seseorang yang ia nanti selama 50 tahun hidup dalam kesendirian.
"Hei bodoh, kenapa hanya diam saja. Kau pasti merasakan dan menyadarinya bahwa wanita di hadapan mu itu adalah wanita yang kita cari, Aldera." Zack mencoba menyadarkan Aldera yang benar-benar sudah jatuh terpesona oleh sosok Clarissa.
Aldera tersenyum---bukan senyuman keji yang selalu ia tunjukan setiap merasa puas di medan perang atau menghabisi musuhnya. Tapi ini lebih dari kata bahagia bahwa kehadiran sosok wanita di hadapan nya membuat perasaan euphoria di dalam hatinya melonjak hingga sangat besar.
"Mate..," Gumam Aldera.
Betapa bodohnya dia tidak menyadari hal ini dan malah sibuk mencari jawaban ini di tumpukan bunga. Tiba-tiba saja Aldera menertawakan aksi kekanakan nya yang meminta Demian membawa sekebun bunga Kamelia dari berbagai jenis---tentu saja dia tidak akan bisa menemukan nya jika Mate nya saja jauh lebih cantik daripada bunga Kamelia itu sendiri!
Secara perlahan Aldera melangkah menuju wanita tersebut. Sungguh, Ia ingin mendekap nya, ia ingin mata itu hanya menatapnya, oh jangan lupa--suara merdunya hanya boleh menyebut nanya saja! Bibir yang tersenyum itu juga harus di tunjukan untuknya seorang tidak boleh di perlihatkan kepada siapa pun.
Tubuh nya yang mungil mungkin bisa ia dekap secara keseluruhan di dalam pelukan nya, itu karena ia hanya memiliki tinggi 163cm jauh lebih pendek dan hanya bersekitar dada bidang Aldera---sangking mungilnya ia malah seperti seekor kelinci di mulut serigala.
Aldera belum pernah merasa segila ini untuk memiliki sesuatu, bahkan ini jauh lebih candu daripada perang yang meraup sebuah wilayah dengan serakah. Sudah bukan rahasia lagi jika seorang Hewolf akan sangat terobsesi bahkan sampai ke titik posesif tinggi kepada pasangan matenya. Tapi perasaan Aldera terhadap Clarissa berbeda atau mungkin lebih dari kata Mate!
"Alpha." cengkraman kuat pada pundaknya yang membuat Aldera harus melihat Beta nya datang dengan menghentikan nya---terlihat sangat mengusiknya.
"Kenapa?" Ucapnya sembari kembali memperhatikan Mate nya.
"Pedro memberi kabar bahwa 7 Vampir kembali melewati perbatasan."
"Kau bisa mengurusnya dan juga, bukankah Pedro harusnya membunuh mereka? Kenapa juga Pedro bisa kecolongan seperti ini?!" Aldera terlihat sangat marah. Masalahnya mereka memasuki dunia yang dimana Mate nya berada.
"Pedro tidak bisa menghabiai mereka tanpa persetujuan anda."
"Kau gila? Aku sudah bilang habisi Vampir yang melewati perbatasan dan memasuki wilayah ku."
"Tapi anda melarang kami membunuh Putra Mahkota Edward." Ucapan Demian membuat Aldera memicingkan mata merahnya dengan sangat tidak suka seakan ia membenci nama itu melebihi siapa pun.
"Beraninya bocah itu! Apa yang mereka inginkan?"
"Saya berhasil melacak keberadaan mereka dan melihat Putra Mahkota Vampir itu menculik anak-anak di desa. Sepertinya ia ingin menjadikan anak-anak itu sebagai persediaan makanan nya."
"Kali ini aku akan membalaskan perlakuan nya 5 tahun yang lalu----yang berani membuat beberapa Pack Wolf menyerang wilayah ku dan kabur seperti pengecut kemudian bersembunyi selama 5 tahun!!"
Aldera menggeram kesal. Ia baru saja bertemu mate nya tapi sepertinya ini bukan waktu yang tepat untuk menyapa ataupun membawanya ke istana nya. Lihat saja, ia akan menggantung kepala Edward di ruangan koleksi kebanggaan nya---dimana Aldera memajang banyak kepala para pemimpin dari pasukan musuh atau kerajaan yang kalah dalam peperangan!
Aldera kembali melihat mate nya yang terlihat seperti mencari seseorang. Oh, apa dia juga merasakan keberadaan nya? Aldera menarik sudut bibir nya sedikit, untuk sekarang ia akan membiarkannya tapi tidak untuk kedepan nya.
"Ketika kita bertemu lagi---Aku tidak akan melepaskan mu Clarissa." Ujarnya, lalu beranjak pergi di ikuti Demian yang sempat kebingungan saat melihat Alpha nya menatap sangat antusias kepada seorang wanita tak jauh dari posisi mereka.
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...
__ADS_1