MINE! The Alpha'S Lover

MINE! The Alpha'S Lover
Penandaan Mate


__ADS_3

"Aku tidak akan menyesalinya,"


Aldera tersenyum smrik, "Kau milik ku, seorang. Hidup dan mati mu berada di tangan ku, Luna."


Aldera kembali mencumbu kasar kamelia jelita tersebut dalam puncak obsesinya untuk menunjukkan---betapa ia sangat mencintainya dan tidak akan pernah melepaskan nya. Ia menarik Clarissa berpindah dalam sekali gerak keatas ranjang, cakar tajamnya telah merobek kasar gaun indah di tubuh mate nya.


Dia tidak akan sungkan menandai mate nya dalam ikatan resmi, lagipula ini akan membuatnya tenang jika harus memperkenalkan Clarissa sebagai Luna nya saat pertemuan para Alpha yang di adakan beberapa hari lagi.


Ia juga tidak perlu takut Clarissa akan kabur, karena ada peraturan tak tertulis, bahwa Shewolf yang telah di tandai mate oleh belahan jiwanya---tidak akan bisa pergi jauh tanpa seizin pasangan nya, sebagai gantinya ia akan mati lemas secara perlahan karena energi kehidupan nya berada di jantung pasangan Hewolf nya.


Aldera mengecup dan meraba sebuah luka yang telah membekas---tanda dimana Ayah Clarissa pernah menusuk lambang wolfy dan membuatnya hilang, seakan Clarissa adalah werewolf yang cacat sejak lahir. Tapi di mata Aldera, terdapat hal keganjilan di sana--gejolak manna dan kekuatan Clarissa meningkat. Seolah ia di bungkam untuk menyembunyikan sesuatu.


"Apa benar kau werewolf yang tidak sempurna, Rissa?" Clarissa terdiam sesaat lalu membalas tatapan Aldera, ia memejamkan matanya kemudian menggeleng pelan.


"Ayah ku yang membuat lambang wolfy ku hilang, sehingga aku tidak bisa menunjukkan sosok wolf dalam jiwaku. Selena, tidak sebebas Zack yang bisa berganti shift sesukanya."


Aldera paham kenapa Mate nya memiliki fisik lemah padahal aura dominasinya begitu besar. "Mungkinkah, Paman mu mengincar hal lain dari dirimu?"


"Aku tidak tahu, mungkin karena aku bisa menjadi Alpha?" Memang benar dalam beberapa kasus ada Shewolf yang bisa menjadi Alpha, tapi itu hanya sekitar 5% dalam 100 tahun.


Aldera cukup yakin ada beberapa hal yang membuatnya masih mengganjal dengan sosok Clarissa, ada sesuatu yang mungkin ia kenali dari identitasnya---tapi apa?


"Aldera...," Panggilan lemah yang mendayu candu, mengalihkan pikiran Aldera dari segala hal dan menarik secara serakah perhatian nya kepada kekasihnya.


Tangan Clarissa memainkan rambut panjang Aldera yang jatuh secara indah dan menutupi sebagian wajahnya. Bulu mata lentiknya dan pancaran matanya yang terlihat malu menatapnya, membuat Aldera sadar akan sesuatu---bukan saatnya mereka membahas hal lain di kondisi seperti ini!


Aldera menarik sudut bibirnya, mencium gemas pipi chuby nya. "---entah kau berniat menggoda atau memang sangat polos, tapi aku bisa sangat gila melihat reaksi manis mu sekarang."


Aldera kian terbuai dan mengabaikan semua perasaan tak nyaman itu dan kembali fokus pada sosok wanita gemulai yang memiliki paras melati. Keduanya saling berpandangan sebelum hasrat memaksa mereka untuk lebih agresif dalam menyatakan cinta dalam cumbuan arumi yang begitu memabukkan.


Lenguhan manis terdengar mendayu sangat harmoni di setiap tindakan Alpha dalam memanjakan mate nya. Beberapa kali Clarissa mencengkram kuat kedua lengan gagah Aldera yang kini telah menggores luka---menahan sakit, ketika Aldera mencoba mengukir nama Woobin dalam aksara kuno dengan kuku tajamnya sebagai tanda bahwa Clarissa adalah Mate nya.


Altzackrie, yang berarti raja gulita. Setiap Werewolf memiliki nama berkat dari sang Dewi sebagai bukti bahwa mereka anak-anak serigalanya yang ia lindungi di bawal cahaya rembulan. Nama lain yang tidak boleh di beritahu jika bukan kepada pasangan mereka sendiri, meski itu adalah keluarga sendiri.


Dan ketika nama itu berhasil terukir di tubuh Clarissa, secara otomatis nama Wolf rembulan Clarissa pun akan terukir sendiri di tubuh Aldera. Darah yang mengalir dari bagian dada kiri Clarissa, membuat Aldera puas karena namanya terukir secara permanen di sana---dan sebagai peresmian akhir mereka bercumbu ria dalam penyatuan heat yang terbilang sakral bagi setiap bangsa werewolf.


...--ΰΌΊπŸŒ›πŸŒŸπŸŒœΰΌ»--...


.......


.......


.......


DEGH!


Clarissa terjengah dalam kondisi terkejut---diam dalam kebingungan. Bagaimana tidak jika di sekelilingnya begitu berisik akibat pertarungan yang di lakukan oleh bangsa Vampir dan juga Werewolf, di suatu posisi ia hanya berdiri diam di tepian bebatuan tebing---melihat kekacauan ini.


Aldera terlihat meneriaki namanya yang terdengar samar, tatapan wajahnya begitu ketakutan sembari menghajar semua vampir yang mencoba menghalanginya untuk berlari kearahnya.


Ia tidak bisa mendengar dengan jelas, hanya teriakan dan lolongan serigala yang bergema dengan sangat ricuh. Clarissa bingung melihat situasi aneh ini, bukankah dia harusnya terbangun di kamarnya dengan Aldera? Kenapa sekarang malah terjadi peperangan?


"Clarissa, menjauh dari tebing!"


"----Iya?"


GRUUOOOO!!!


Tiba-tiba saja angin kencang pada malam bulan purnama tersebut mengguncang area tersebut dengan sangat kasar. Dari arah belakang Clarissa, terdengar raungan mengerikan yang mampu membuat siapapun pendengarnya pasti ketakutan.


Suara besarnya memecah pertikaian, dan menghentikan kericuhan. Clarissa berdiri tegap dengan tubuh yang merinding, melihat sesuatu muncul dari balik kabut tebal---sosok mahluk yang tidak di ketahui wujud jelasnya, hanya saja tubuhnya memiliki ukuran yang sangat besar bahkan bisa hampir setengah dari tinggi pegunungan di sana.


Lagi-lagi mahluk itu meraung keras lalu menatap tajam kearah Clarissa, "Sudah lama aku menunggu, kedatangan mu---Putri Wintermoon."


Kemudian kedua kaki mahluk besar dengan kuku cakarnya yang tajam mencoba menerkam Clarissa dengan perkasa. Clarissa memejamkan kedua matanya dengan tangan yang menghalau angin kencang dari tepian jurang.


"Rissa, bangun!"


"Egh!" Clarissa membuka kedua matanya dengan sangat kasar, menerawang langit-langit kamar secara remang yang perlahan nampak jelas terbayang.


Nafasnya berderu sesak dengan beberapa keringat telah memenuhi dahinya. Jika saja bukan karena suara Selena ia mungkin masih terperangkap dan di terkam oleh mahluk misterius di dalam mimpinya---Eh, tunggu! Selena berteriak?


"Selena, apa kau sudah kembali?"


"Selamat pagi, Rissa. Maaf aku terlambat menyapa mu, tapi syukurlah berkat penandaan woobin yang kau lakukan dengan mate kita, aku sepertinya mulai bisa pulih dengan cepat."


Penandaan Mate? Ah! Clarissa melupakan sejenak kejadian kemarin. Ia lantas menoleh melihat sosok rupawan pemuda tampan yang terlihat masih tertidur pulas di sebelahnya, jika melihatnya---kilas bayangan kegiatan kemarin begitu sangat membuai dirinya hingga rasanya malu hanya untuk sekedar mengingatnya kembali.


Harus dia akui sih, Aldera itu tampan nya kelewatan banget. Bahkan rasanya ia sendiri tidak bisa percaya---Alpha yang begitu sempurna ini adalah Mate nya! Meski begitu, dia tetep monster. Lihatlah bagaimana ia menyiksanya seharian penuh hanya untuk melakukan peresmian hubungan mate, bahkan matahari sampai ia sapa kembali di pagi hari lagi.


"Tapi kau menikmatinya kan?"


"Selena!"

__ADS_1


"Oh lihat ini, Clarissa kita sudah sangat dewasa ya rupanya---hahaha! Kau terus berusaha lari, tapi sebenarnya kau juga tidak rela meninggalkan nya, bukan?"


"Berhenti membaca pikiran ku, Selena."


"Ahahahahaha!"


"Selena berhenti tertawa. Pergilah---kau membuat kepalaku sakit."


Clarissa terus menahan malunya karena Selena masih menggodanya, tapi untunglah sekarang dia mulai diam. Sebenarnya kenapa dia harus kembali di saat hal memalukan seperti ini sih?! Oh, mau di bawa kemana harga dirinya ini jika masih di ejek seperti itu, tunggu tapikan yang bisa mendengar Selena hanya dia---Huft, syukurlah.


"Clarissa...," Panggilan ramah yang selalu bisa membolak-balikan perasaan euphoria di daam diri Clarissa, menarik manik rembulan nya untuk segera melihat kekasihnya.


Aldera terbangun setengah sadar, ia mencoba melawan cahaya mentari yang datang menghantam kediaman kamar mereka. Lalu jiwanya kembali secra sempurna ketika melihat sambutan hangat dari senyum cerah Clarissa.


"Selamat pagi, Aldera ..." Ujarnya dengan kepalanya bersandar pada kedua lutut yang di tekuk, senyum manisnya mengukir lengkungan lembut pada kedua matanya, sukses membuat Aldera terdiam sesaat lalu membalas sapaan manis itu dengan kecupan.


"Apa kau baik-baik saja?"


"---Yaa, tentu ..." Gumam nya begitu kecil sembari menarik selimut menutupi tubuh mungil polosnya, dan mengalihkan pandangannya.


Aldera bangun lalu menerka waktu yang sepertinya sudah sangat terlambat jika dia menghadiri rapat wilayah. Tidak, akan lebih bagus jika dia tetap menghadirinya, karena mau bagaimana pun Demian akan tetap menunggunya sampai rasanya ia terlihat ingin membunuhnya karena kesal dengan sikap santainya.


"Apa hari ini, kau juga ada rapat?"


"Iyaa."


"Ah, begitu, yaa..."


Aldera diam sejenak, melihat wajah kekasihnya yang semakin hari semakin menarik hatinya, oh tunggu, reaksi ini berbeda dengan hari sebelumnya. Apa Clarissa mengharapkan respon lain?


"Ada apa?"


"Tidak ada," Clarissa menundukkan kepalanya. "Hanya saja, ruangan ini terlalu sunyi jika hanya aku sendiri."


Aldera mencerna baik-baik ucapan Clarissa lalu kembali terbaring sembari menutup sebagian wajahnya dengan punggung tangannya, mencoba menghalau perasaan dari musim semi yang terasa akan merkah. Sepertinya dia akan absen dari rapat hari ini. Toh ada Demian yang bisa memimpin rapat, bukankah itu memang tugas Beta sebagai perwakilan Alpha?


"Aku berubah pikiran, akan lebih baik jika aku menghabisi waktu bersama mu saja hari ini."


"Hm?"


"Mendekat lah," Clarisaa mencondongkan tubuhnya lebih dekat kepada Aldera yang masih terbaring.


"Kau ingin mandi dulu, atau sarapan?"


"Okee," Aldera kembali bangun lalu tanpa aba-aba langsung mengangkat Clarissa begitu saja, membantunya menuju kamar mandi.


"Aku bisa sendiri."


"Kau yakin?"


Eum..., sepertinya tidak deh. Aldera tertawa kecil melihat Clarissa hanya mengalihkan pandangan nya. "Biar ku bantu," Lanjut Aldera sembari tersenyum.


"Aku tidak percaya! melihat senyum mu saja, itu sudah cukup meyakinkan ku, bahwa kau punya maksud lain."


"Tidak akan. Lagipula berdua jauh lebih cepat."


"Kau licik seperti predator."


"Karena kita bangsa werewolf. Percayalah, aku hanya ingin membantu mu." Clarissa mendelik curiga. "Rissa, apa lagi yang harus membuatmu malu? Aku kan sudah melihat-----"


"Baiklah-baiklah, kau bisa membantu ku. Jadi tolong jangan bahas hal itu!" Clarissa menutup wajahnya dengan kedua tangan nya mencoba menyembunyikan wajah malunya.


"Oh, sepertinya aku membuat keputusan salah dengan monster ini." Gumam nya dengan keluhan yang terdengar lucu bagi Aldera hingga ia pun tertawa senang melihat reaksi mate nya.


...--.β€’πŸŒ•β€’.--...


Clarissa melihat lambang bulan sabit berwarna merah dengan dua kelopak bunga kamelia berukuran kecil di dekat nama woobin Aldera pada bagian dadanya. Apa ini lambang mate mereka?


Bukankah lambang mate hanya sebuah nama woobin saja yang terukir? Tapi kenapa ada lambang bulan dan juga bunga, apa Aldera juga memilikinya juga. Clarissa melihat Aldera dari pantulan cermin rias---tengah menata sarapan mereka di meja.


Sajian makanan ringan berupa soup yang di letakan pada roti yang di keringkan dalam suhu tertentu. Makanan ciri khas Darkmoon Pack yang terlihat mirip dengan makanan di desa Grindelwald.



Beberapa dissert mewah lainnya juga di letakan di meja seperti biasa oleh Aldera sendiri, itu karena Omega di larang masuk ke ruangan ini. Clarissa berjalan mendekati Aldera, karena penasaran yang besar, secara sepontan ia langsung menarik lengan Aldera membuat pria itu kini menghadapnya dengan tatapan bingung.


Karena kebetulan kemeja bagian atasnya tidak tertutup, Clarissa bisa melihat lambang yang sama persis dengan nya, hanya saja di sana tertulis nama woobin nya---Helenna.


"Apa kau masih belum puas? Aku masih bisa melanjutkannya jika kau mau, tapi lebih baik sarapan dulu."


"Melanjutkan apa?" Clarissa melirik heran, sedangkan Aldera melingkarkan tangannya di pinggang Clarissa. Seakan menyadari sesuatu, Clarissa buru-buru menjaga jarak--berjalan mundur. "Aku tidak sedang membahas hal itu!"


"Begitu kah?" Goda Aldera.

__ADS_1


"Itu..., itu lambang mate. Maksudku, ada lambang bulan sabit---"


"Ah, mungkin karena kau mate ku. Jadi lambang wolfy ku juga terikat pada mu, untuk menutupi dirimu dengan aura ku."


"Kalau bunga kamelia ini?"


"Entahlah, mungkin saja itu lambang wolfy mu. Bukankah kau bilang sebelum Ayah mu menghilangkannya kau punya lambang wolfy juga?"


"Em.., mengenai itu, aku kurang tahu. Itu sudah 15 tahun yang lalu dan aku juga masih kecil jadi tidak begitu mengingatnya."


"Anggap saja kita pasangan yang dirindukan langit, jadi berbeda dengan yang lain." Clarissa mengangguk mencoba memahami nya.


"Duduk lah, jika kau menghabisi makanan mu, aku akan membawa mu berkeliling di sekitaran istana utama dan taman belakang Castle."


"Apa kau yakin? Apa kau sungguh mengizinkan ku keluar, Aldera."


"Tentu, aku memang tidak berniat mengurung mu terlalu lama. Jika rasa khawatir mu dan rasa percaya mu kepada ku telah menguat atau tidak berpikir untuk kabur lagi, aku akan membiarkan mu beradaptasi dengan bebas."


"Sungguh! pokoknya kau sudah janji yaa, jangan menarik kata-kata mu lagi."


"Aku berjanji, tapi untuk saat ini, kau hanya boleh berkeliling di sekitaran istana utama dan taman belakang. Jangan datangi istana timur dan barat atupun castle camp pelatihan, mengerti."


"Aku mengerti, itu sudah cukup untuk ku!"


"Kau terlihat sangat senang, maaf jika aku terlalu mengekang mu."


"Lagi-lagi kau menunjukkan ekspresi seperti itu. Jangan buat aku terlihat menyedihkan, jika aku memang seekor merpati, setidaknya buat aku tidak terlihat rapuh."


"Kau bukan merpati, tapi kelinci. Pokoknya nanti ada pita merah yang di ikat di sekitaran perbatasan nya. Aku masih belum mau menunjukkan sosok mu, jadi akan lebih baik kau tidak berkeliaran terlalu jauh karena bisa saja ada musuh ku yang mencoba melukaimu. Sekarang aura ku telah mendominasi tubuh mu, sehingga musuh ku akan mudah mengetahui bahwa kau adalah mate ku, ku harap kau mengerti Rissa."


"Jangan khawatir, aku mengerti maksud baik mu Aldera."


"Sekarang makan lah, setelah itu aku akan menunjukkan sesuatu juga di taman nanti"


"Hem, aku jadi tidak sabar. Sepertinya salju juga hari ini akan sangat indah."


"Ah, kalau di pikir di Indonesia tidak ada salju ya."


"Secara iklim tidak ada, tapi ada salju di puncak gunung wilayaj papua. Karena aku tidak mungkin mendaki gunungnya, jadi setelah datang ke Swiss aku sangat senang dengan salju---tapi kau malah langsung menculik dan mengurung ku."


"Baiklah, aku minta maaf. Kau bisa bermain salju sesukamu nanti."


"Terimakasih." Clarissa tersenyum.


Aldera cukup puas, karena selama Clarissa datang ke istana nya---baru hari ini ia bisa melibat reaksi riang Clarissa, ia terlihat lebih menerima keadaan dan juga tempat ini daripada tatapan kosong yang selalu merenung dengan hampa beberapa hari lalu.


"Oh lihatlah betapa manisnya mate ku, ketika tengah tersenyum seperti itu."


"Dia mate ku, Zack."


"Hei, berganti shift lah dengan ku. Aku juga ingin berbicara dengan Rissa."


"Apa kau mau tambah Soup lagi?"


"Tidak perlu, ini sudah terlalu banyak."


"Hei bocah, apa kau mengabaikan ku? Aldera, hei----" Aldera memutus mindlink nya sebelum Zack mengganggu momen indahnya.


"Aldera, jangan di tuang lagi."


"Kau perlu menaikkan berat badan mu, bahkan saat aku mengangkat mu tadi tubuh mu hanya sehelai bulu angsa."


"Apa itu hinaan?"


"Itu pujian."


"Pujian mu menyakiti hati----Oh! tidak-tidak, ini terlalu banyak! Aldera!" Clarissa terus berdebat dengan Aldera yang masih menambahkan lebih banyak potongan daging dan beberapa dissert di piring sebelah roti soup Clarissa.


"Ugh, rasanya aku ingin muntah melihat semua ini." Clarissa melirik sinis kepada pria di sebelahnya, yang justru hanya tersenyum ramah kearahnya. Memang ya, setiap dia tersenyum manis seperti itu pasti akan ada hal buruk.


"Jika kau tidak enak badan kita istirahat saja, lagian aku bisa akan menemani mu seharian di sini."


"Tuh kan, kau sebenarnya tidak serius mengajak ku berjalan-jalan ke luar."


"---Em, tidak juga." Aldera mengalihkan pandangan nya. Sebenarnya dia juga tidak masalah ke luar bersama, tapi jika mereka di kamar seharian lagi--kan akan lebih bagus untuk kedekatan hubungan mereka?


"Hentikan pikiran licik mu itu." Sindir Clarissa yang bisa membaca pikiran Aldera.


Tapi Aldera lagi-lagi hanya membalas dengan senyum rupawan nya lagi. Sekarang, Clarissa semakin tahu beberapa hal dari monster di hadapan nya ini. Apa dia perlu mencatat semua arti dari senyum poker face nya yang punya makna berbahaya ini.


...Β«β€’β€’--ΰΌΊπŸŒ›πŸŒŸπŸŒœΰΌ»--β€’β€’Β»...


__ADS_1


__ADS_2