
Immortal
Istana Darkmoon Pack
Salju turun dengan sangat lebat di seluruh wilayah Darkmoon Pack. Namun Tidak begitu mempengaruhi kegiatan malam perayaan kejayaan Darkmoon Pack yanga ada di sekitaran Houspack, tapi tidak dengan suasana di dalam istana.
Saat ini Alpha Werewolf itu sedang menunjukkan dominan nya sebagai serigala pemimpin. Tekanan kekuatan yang diberikan kepada para Wolf yang ada di pesta istana bergejolak dengan sangat mengerikan saat seorang Tetua Pack mencoba menasehati Alpha untuk segera memiliki keturunan dengan Unmate---karena sudah sangat lama tidak ada kehadiran Mate bagi Alpha sedangkan kursi seorang Luna tidak boleh kosong terlalu lama.
Jadi Tetua Pack itu menghadirkan Shewolf bangsawan dari beberapa Wolfy terkemuka yang juga belum bertemu dengan pasangan Mate.Mendengar itu, Aldera sangat marah ia sudah sangat bosan mendengar persoalan kursi Luna.
Memang kenapa jika dia belum memiliki Luna apakah itu akan mempengaruhi kekuasaan serta kekuatan nya selama memimpin? Ha! Jangan bercanda, kejayaan yang selalu mereka banggakan sebagai hidup nikmat tanpa di pandang rendah oleh ras lain----semua dari hasil jerih payah yang Aldera lakukan tanpa bersusah paya meminta para Werewolf petarung dari ibu kota untuk berkorban di medan perang.
Benar Aldera punya pasukan khusus sendiri untuk berdiri di garis depan, hanya bersekitar 300 Werewolf----Pasukan Red Moon. Dan itu tidak sebanding dengan 10,000 Werewolf yang saat ini bersantai dengan damai di dalam teritorial Pack nya. Jadi, jangan mencoba menasehatinya mengenai pasangan Alpha.
"Alpha----"
"Diam! Aku tidak meminta mu berbicara Kend."
Aldera kembali memporak-porandakan semua pajangan atau apapun barang di sekitarnya untuk ia hancurkan, bahkan suasana pesta istana yang tadinya megah dan indah kini menjadi sangat suram seperti istana belantara.
"Aku yang menentukan siapa Luna ku! Siapa penerus ku! Jika pun Mate ku tidak hadir sekarang atau akan datang 100 tahun lagi----itu tidak akan mempengaruhi diriku."
Aldera meneguk sebotol arak ditangan nya lalu membantingnya di hadapan para Shewolf yang sedang bersimpuh menahan ketakutan dengan air mata di bawah sana, mengingat kursi Alpha sedikit lebih tinggi pada ruang pertemuan ini.
"---atau.., ada wanita yang kau suka dari mereka Zack?" Ujar Aldera seakan meminta pendapat dari ide gila Tetua Pack itu, kepada wolf nya.
"Singkirkan mereka, aku bahkan hanya bisa mencium bau busuk dari mereka. Tapi mungkin, akan sangat cantik jika mereka menjadi mayat nanti---Hahaha."
"Mereka bisa saja menangis jika mendengar ucapan mu Zack."
"Aku tidak perduli. Memang nya kau menyukai mereka? Jangan menodai perasaan ku yang sudah sangat setia menunggu Mate ku hadir, Aldera."
"Itu menggelikan tapi aku pun hanya akan menjadikan Mate ku sebagai Luna di Pack ini, tidak ada yang lain. Jadi----" Aldera melihat Tetua Pack.
"---Tunggulah Luna mu sampai dia muncul sendiri! Atau kau bisa pergi ke kuil bulan untuk mempertanyakan dimana Mate ku berada? Mungkin saja, Moon Goddess memberitahukan mu sesuatu, cih." Aldera berjalan melewati kumpulan Tetua dan wanita di bawah lantai tanpa ada simpati sedikitpun.
"Tapi kami tidak bisa menerima Pack yang cacat tanpa adanya Luna. Alpha, tolong segeralah memiliki keturunan agar kami--bukan, rakyat Darkmoon Pack merasa ten----ARGH!!"
Salah satu Tetua bernama Gin terhempas sangat kasar hingga menabrak meja sampanye pesta yang kini sudah hancur, setelah menyeruakan pendapatnya yang sangat menantang bagi Aldera.
Para Shewolf yang berlutut dan semua tamu undangan, berteriak histeris bahkan merangkak menjauh dari pandangan Alpha sembari menangis.
Mereka menatap merinding dan sangat ketakutan saat mata Alpha berubah menjadi kuning keemasan, menandakan sosok wolf dalam diri Aldera mengambil alih tubuhnya. Biasanya jika Zack sudah mengambil alih tubuh, itu menandakan bahwa Aldera bersiap menghabisi semua yang menentangnya, dan untuk mencegahnya Zack lah yang akan menggantikan kemarahan Aldera dengan hukuman ringan.
Yah walau tidak membunuh semua Werewolf di ruangan ini, tapi membunuh 3 atau 4 Tetua itu sudah cukup kan? Tidak, sepertinya Zack punya cara lain karena ia juga masih butuh para bedeb*h itu untuk mengurus hal merepotkan nanti.
Zack berjalan menghampiri Gin lalu berjongkok menatap iba kepadanya. "Kalian harus berterima kasih karen dia akan menggantikan semua kepala Werewolf yang hadir di istana ku. Karena ini malam kejayaan ku, aku tidak ingin Aldera mengamuk lebih parah---jadi ikut dengan ku Gin." Dengan suara bass dan beratnya Zack menarik kerah belakang Gin dan menyeret nya keluar dari ruang pesta.
"Ah, pastikan aku tidak melihat Shewolf atau pun para Tetua itu, Demian!" Ujar Zack yang sempat berhenti lalu tersenyum sakarstik saat melihat Gin berusaha meronta untuk di lepaskan.
"Akan saya pastikan, Alpha Zack."
Demian tidak akan menghentikan aksi Zack atau bahkan sekedar menatap iba kepada Gin, karena mereka sendirilah yang menginginkan nya.
Lagipula, bodoh jika mereka malah menunjukan pasangan Unmate untuk Alpha sedangkan Moon Goddess telah menciptakan setiap Wolfy nya memiliki belahan jiwa----Mate. Tidak perduli jika dia berbeda ras karena yang namanya kehendak Moon Goddess siapa yang berani menolaknya. Ah, ada dan mahluk itu adalah para tetua itu. Mereka di hormati karena memiliki usia terlampau jauh dan telah banyak melihat pergantian Alpha.
Tapi tidak berpikir, apakah Alpha saat ini akan bersikap seperti Alpha terdahulu? Karena sebenarnya, Aldera bukanlah keturunan resmi Alpha terdahulu di Pack ini. Ia merebut secara keji kedudukan Alpha di Darkmoon Pack dan ketika berhasil mengalahkan seluruh werewolf petarung, Aldera mendeklarasikan dengan sangat arogan bahwa ia adalah Alpha; penguasa yang baru di Pack ini-----lalu secara fantastis ia melebarkan teritorial nya dan membuat nama Darkmoon Pack menjadi wilayah werewolf terbesar sepanjang sejarah.
__ADS_1
"Hal pertama yang ku lakukan adalah memesan furnitur baru untuk istana Alpha." Ujar nya dengan mengangguk tenang seakan ini bukan hal besar, kemudian melihat bagaimana Zack menyeret Gin untuk di habisi dengan sangat kejam. Karena baik Zack ataupun Aldera tidak ada hal baik jika sudah menyinggung mereka.
"Ampuni aku Alpha, tidak! Saya mohon---ARGH!!" Jeritan Gin melolong dengan sangat keras membuat siapapun yang mendengarnya merinding dan sudah bisa di pastikan, ada Werewolf lagi yang mati hari ini di tangan Alpha.
...--༺🌛🌟🌜༻--...
Aldera yang telah kembali mengambil alih kesadarannya setelah membiarkan Zack bersenang-senang dengan Gin, membenahi dirinya. Melepas kemeja hitam yang sudah banyak ternodai darah lalu mengambil jubah tipis yang hanya ia ikat asal untuk menutupi bagian tubuh atasnya.
"Dasar, seharusnya kau bermain dengan lebih tenang. Sekarang tangan ku penuh bau anyir."
"Hei, aku masih lebih baik daripada dirimu yang tidak akan menyisakan tubuhnya---setidaknya sisakan tulang untuk di mainkan para serigala di hutan." Kritik Zack tidak terima.
"Diam lah, kau membuat kepala ku sakit. Berhenti menggonggong."
"Dasar bocah kurang ajar, kau menyamai ku dengan seekor anjing ha? Tidak tahu diri, padahal aku juga adalah dirimu!"
"Alpha," Demian menghampiri Aldera yang berada di taman belakang istana.
"Kau sudah menghabisi mereka?"
"Alpha Zack hanya ingin mereka menjauh dari istana, sepertinya kita memang masih membutuhkan para Tetua itu."
"Kau harusnya menggigit mereka semua, bodoh."
"Diam lah! Aku ingin tidur jangan menggerutu terus." Zack kemudian memutuskan komunikasi Maindlink pada pikiran mereka secara sepihak.
"Alpha, mengenai barang-barang baru untuk istana anda, apa boleh saya membelinya dari distrik di desa Grindelwald di bumi?"
"Terserah, aku tidak perdu-----argh!"
"Alpha, anda baik-baik saja?" Demian terlihat khawatir saat Aldera menggeram sakit pada jantungnya.
Aldera mendelik menerawang sebuah tempat yang menjadi satu tujuan pikiran nya----Hutan Nehela? Entah apa yang terjadi kepadanya, rasanya ada sesuatu hal yang berada di hutan itu untuk membuat Aldera harus segera ke sana. Tapi ia sendiri tidak yakin ada apa di sana.
"Apa kau merasakan nya?"
"Benar, ada sesuatu hal yang terasa aneh pada diriku---seakan kita harus segera pergi ke hutan perbatasan. Tapi aku tidak bisa merasakan dengan jelas apakah itu musuh dari pasukan Rebels atau para Rogue yang mencoba membuat masalah." Zack yang tadi tertidur harus kembali terjaga, seakan mereka adalah satu jiwa Aldera ataupun Zack merasakan perasaan gelisah yang sama.
"Alpha, apa perlu saya memanggil Alchemist Pack?"
" Ah, sial! Aku benci kegelisahan yang harus membuatku penasaran!"
"Apa----Tunggu, Alpha anda mau kemana?!"
Demian melihat bingung saat melihat sang Alpha berubah, menunjukkan sosok Wolf---serigala besar berwarna hitam legam dengan manik mata kuning kemasan, yang begitu mencolok di tengah gelapnya hutan pada malam hari karena bulu hitamnya terlihat menyatu dengan kegelapan.
Perasaan yang menggebu dan rasa keinginan untuk memiliki sesuatu yang ada di hutan Nehela membuat Aldera tidak bisa berpikir jernih, ia berlari secepat mungkin menuju daerah perbatasan yang sangat jauh dari posisi istana nya. Pohon-pohon cemara yang menjulang tinggi serta rimbunan pohon Maple berwarna merah di bawah pegunungan Nerd, harus terombang-ambing oleh hembusan angin kencang akibat ulah Aldera.
Kamelia? Itulah yang ada di pikiran Aldera saat mencium aroma wangi bunga Kamelia yang entah terasa sangat wangi hingga rasanya membuat ia tercandu untuk mencicipi pemilik aroma yang begitu menggoda----pasti akan sangat manis!
Tunggu, serigala tidak makan bunga, apalagi ia benci makanan yang bersifat manis. Ada apa ini? Memangnya sesuatu yang ada di sana itu apa sih?! Seketika larinya terhenti saat aroma yang membuatnya tercandu itu hilang dan menjadi samar.
"Alpha!" Teriak Demian yang sejak tadi juga berubah untuk mengejar Alpha nya. "Alpha, ada apa? Apa ada musuh?"
Aldera kembali dalam wujud manusianya, ia terlihat menoleh ke segala arah mencoba merasakan kembali aroma kamelia tadi. Tapi, seketika perasaan menggebu dalam dirinya hilang begitu juga dengan aroma bunga Kamelia tersebut.
"Alpha?" Tanya Demian sedikit takut karena melihat raut wajah Aldera yang berdecak kesal.
__ADS_1
"Coba kau suruh Jay berpatroli di sekitaran hutan Nehela. Mungkin saja ada Vampir atau Rogue yang mencoba mengelabui ku dengan sihir."
"Baik. Tapi, apa anda merasakan sesuatu?"
"Aku hanya gelisah dengan sesuatu hal. Pokoknya cari tahu saja, dan segera laporkan jika ada hal aneh."
"Baik Alpha."
Tring! "Meow...,"
Aldera maupun Demian terjaga saat melihat seekor kucing berwarna oren sedang duduk dengan santai di atas salju sembari menatap mereka tanpa ada ekspresi.
"Apa yang kau lakukan di sini, Luce? Apa mungkin ada manusia yang tersesat lagi?"
"Tidak, saya datang membawa pesan dari Raja peri bulan." Ucapnya.
Aldera menghela nafas dengan bosan. "Kali ini, apa lagi yang dikeluhkan kucing gemuk itu?"
"Hei! Tolong bersikap sopan lah pada nya, Alpha." Luce menunjukan khising---berdesis sembari menunjukkan gigi tajam imutnya.
"Cepat katakan."
"Raja ingin anda dan seluruh Werewolf yang menjaga perbatasan tidak mengusik tamu nya yang akan tinggal di dekat hutan Nehela di desa Grindelwald."
"Hanya itu saja?" Luce menganghuk dengan wujud gembul nya yang menggemaskan. "Ya, hanya itu pesan dari Raja peri."
"Sangat tidak berguna! Itu tamu nya, kenapa aku harus menghormatinya juga. Apa dia bangsa Immortal atau manusia?"
"Entahlah, sepertinya-----"
"Sudah lah aku tidak mau dengar masalah sepele ini, mau dia manusia atau bagian dari Immortal. Tolong katakan kepada tamu tersebut, jangan ganggu teritorial ku! dan juga, jika dia Manusia tolong peringati dia mengenai bangsa Vampir. Aku tidak akan bertanggung jawab untuk semua kejadian di luar wilayah kekuasaan ku."
"Baiklah, saya ucapkan selamat untuk malam perayaan anda Alpha."
"Dan untukmu Demian, besok kumpulkan semua jenis bunga Kamelia dan bawa ke ruangan ku!" Lalu Aldera kembai dalam wujud Wolf nya kemudian berlari pergi tanpa meninggalkan penjelasan.
Sedangkan Demian yang masih dalam sosok serigala saling berpandangan dengan peri bulan berwujud kucing mungil tersebut---Luce.
"Apa Alpha kalian sedang jatuh cinta? Sepertinya Luna akan segera hadir di Pack suram kalian."
"Singkirkan opini bodoh mu, dan pergilah sebelum Frans menggigit mu karena tidak bisa menahan aroma enak dari peri bulan." Ujar Demian yang memperingati Luce bahwa wolf nya sangat gemas untuk menerkam sosoknya yang mungil itu.
"Dasar hewan buas! Kita ini ras yang sama sama di lindungi rembulan, jadi jangan pernah menganggap kami mainan." Luce langsung pergi kembali ke bumi sebelum ia menjadi mainan untuk menajamkan gigi serigala tersebut.
"Sekarang aku perlu menghubungi Flora untuk memintanya mengirimkan bunga Kamelia dari wilayah Elf."
"Apa kau tahu, ada apa dengan Alpha, Demian?"
"Jika aku tahu, kau pasti tidak akan bertanya Frans."
"Ouh, kau benar. Apa karena ia sedang memulai ide gila untuk berkebun?"
Demian dan Frans menggelengkan kepala dengan aksi baru yang tak lazim dari Alpha nya dan itu sepertinya akan cukup membuat gempar wilayah Elf jika tahu kemana bunga Kamelia di kirim.
"Sepertinya aku harus menunda sebentar jadwal jalan-jalan ku di Grindelwald. Padahal beberapa toko di sana mempunyai desain terbaru untuk hiasan dinding dan lukisan."
"Dasar maniak seniman!"
__ADS_1
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...