
"Aku tidak mau memohon apapun kepada pembunuh sepertinya, apalagi aku dari Desa Penampungan beliau mungkin tidak akan punya waktu hanya untuk mendengarkan ucapan anak kecil sepertiku dan malah menertawakan ku saja!" Ujar Willy sembari menahan air matanya.
"Willy?"
"Kau harus berhati-hati dengan ucapan mu, jika para Assasin Alpha mendengarnya, kau akan semakin dalam bahaya." Enisha terlihat panik sembari melihat ke sekeliling hutan di sana.
Mendengar itu Willy kembali menangis, dan membuat mereka semakin kebingungan. "Luna, bagaimana tanggapan anda. Apa sebaiknya kita biarkan saja?"
Clarissa memeluk Willy "Berhenti menangis, Willy. Alpha tidak mungkin menertawakan permintaan mu. Kau memiliki tekad yang mulia untuk membantu Adik mu, bagaimana jika kau ambil beberapa bunga lagi?"
"Tapi, jika Alpha tahu....,"
"Taman ini milik ku, kau boleh mengambilnya. Oh, atau perlukah aku sekalian mengantar mu juga kembali ke desa? Setidaknya jika ada aku para serigala tidak akan menyakiti mu, bagaimana menurut mu Enisha."
"Iya? Em.., Tapi itu berada di luar batas yang telah Alpha berikan. Jika saya mengantar anda, beliau pasti marah."
"Nala, apa kau melihat ada pita merah di sekitaran hutan ini?"
"Pita merah? Tidak, hutan ini seperti nya bukanlah batasan nya. Jika selama di dalam istana tadi aku sudah melihat nya sejak kita keluar perpustakaan."
"Baiklah, kalau begitu kita tidak melanggar nya. Selama aku tidak melihat pita merah itu berarti ini masih wilayah yang di perkenankan untuk ku."
"Luna, tolong jangan gegabah. Bagaimana jika ternyata ada pita merah, hanya saja kita tidak melihatnya."
Clarissa terdiam sesaat, "----Katakan saja kita tidak melihatnya karena terlalu kecil."
"Apa?! Luna...," Enisha masih cemas.
"Kalau bisa kembali jika takut Aldera memarahi mu, nanti aku yang bilang---aku yang meminta mu beristirahat."
"Tidak.., tidak. Saya tetap akan mengikuti anda."
"Baiklah, terimakasih." Clarissa kembali mendekati Willy. "Jadi, apa kau bersedia aku antar kan?"
"Em, bagaimana jika Alpha melukaimu karena membantu ku Nona."
"Sepertinya tidak mungkin."
"Nona, dia Alpha yang kejam."
"Jangan khawatir, kau akan baik-baik saja. Bukankah kita harus segera pergi menemui Adik mu?" Clarissa mengusap kepala Willy.
Willy masih merasa khawatir, bagaimana jika wanita ini dalam masalah karena membantunya. Tapi dia juga tidak bisa menolak, karena ini seperti jarum emas di tumpukan jerami untuk menyelamatkan adiknya.
"Ba--baiklah, maaf merepotkan mu Nona."
__ADS_1
"Okee, kalau begitu tolong pandu kami yaa, aku akan mengikuti mu dari belakang."
"Willy, jika takut, sekalian kau menggendong ku saja. Serigala itu tidak akan mendekati mu jika kau bersamaku juga." Ujar Nala yang melompat ke pelukan Willy.
"Terimakasih, Nala."
Karena keputusan Clarissa, mereka sepakat membantu Willy untuk kembali pulang dan menelusuri hutan musim dingin. Untunglah hari ini tidak terlihat akan adanya tanda-tanda hujan salju, jadi perjalanan mereka cukup terbilang mudah.
Sepanjang perjalan terlihat beberapa kali serigala pemburu mengamati mereka dari jarak tertentu dan ada juga yang melihat dari balik pepohonan. Hanya saja mereka tidak berani mendekat karena mereka semua pernah di beri peringatan oleh Aldera untuk tidak mengusik Clarissa di sekitaran taman.
Apalagi tatapan Clarissa yang seakan berbicara kepada mereka untuk tidak terlalu menargetkan anak tersebut. Clarissa tersenyum melihat betapa riangnya Willy menatap bunga Kamelia hingga membuat Nala hampir tercekik di pelukan bocah polos tersebut---hanya saja sejak tadi, ia juga terus merasa tidak nyaman dengan ucapan serta tatapan Willy terhadap Aldera.
"Enisha, apa aku boleh tahu, apa itu Desa Penampungan dan kenapa reaksi Willy begitu membenci Aldera?"
Enisha terlihat terkejut sesaat lalu menundukkan kepalanya, merasa enggan dan bingung harus mengatakannya bagaimana kepada Clarissa mengenai sosok Alpha yang begitu terkenal akan sikap arogannya---bahkan hingga ke ujung wilayah sekalipun.
"Enisha?"
"Sa--saya takut, ini bukanlah hal yang sopan jika membicarakan Alpha, apalagi dari mulut saya sendiri."
"Jangan khawatir, hanya ada kita dan aku tidak akan bersikap gegabah. Hanya saja aku datang dari luar wilayah, tentu saja aku perlu mengenal mate ku sendiri. Jika masalah kejam, aku sudah tahu Aldera punya sifat dengan temperatur yang tinggi. Maksudku, seperti apa dia memimpin?"
"Alpha sosok yang sangat menakjubkan bagi kaum Immortal. Baik martabat ataupun sosoknya yang begitu kuat. Alpha, pemimpin yang sangat tegas. Dalam sekali beraksi ada banyak kemakmuran yang tercipta di bawah kekuasaan nya."
"Lalu, kenapa Willy menunjukkan reaksi seolah membenci nya? Jika dia punya kesan yang baik."
"Perang?"
"Meski ia punya kursi yang terhormat dan begitu di puji, tapi beliau punya sisi gelap juga sebagai pemimpin. Semua penghuni Immortal tahu seperti apa beliau, ia memiliki banyak julukan sebagai penguasa yang gila, keji, berhati dingin, pembunuh sadis, dan masih banyak lagi orang-orang menjulukinya dengan predikat terburuk di punggungnya."
"Selain itu Alpha juga penggila perang. Setiap beberapa bulan atau tahun, jika beliau tidak menyukai ataupun tertarik terhadap sebuah wilayah baik itu Pack Werewolf, distrik Elf, Vampir dan Witch. Alpha akan mengirim surat deklarasi perang untuk menjarah wilayah tersebut."
"Aldera mendeklarasikan perang, apa itu atas kemauan nya?"
"Benar, kami tidak begitu terlalu memahami sosok dan apa yang ada di pikiran beliau. Terkadang juga beliau suka melakukan sesuatu hal yang kurang normal, dan sering berganti-ganti hobi sesuai suasana hatinya. Meski banyak yang membenci sosoknya, tapi tidak ada satupun yang berani mendeklarasikan prang terlebih dahulu kepada Alpha Aldera; semua karena merekapun sadar bahwa besar kekuatan yang beliau punya di luar kemampuan mereka."
"Kadang kala beberapa wilayah yang menerima surat peringatan akan langsung mendatangi Darkmoon Pack untuk meminta banding keringanan atau janji kesetiaan bahwa kekuasaan wilayah mereka akan bersedia menerima perlindungan Alpha tanpa melakukan gencatan senjata, atau bahasa kasarnya menyerahkan diri."
"Lalu bagaimana dengan Desa Penampungan?"
"Mengenai itu---Lebih tepatnya Alpha menyediakan tempat tinggal atau menanggung kebutuhan hidup dari para korban yang terdampak oleh perang yang beliau perbuat sendiri. Seperti wanita muda, para orang tua, anak-anak dan beberapa dari mereka yang mengalami kelumpuhan akibat prang. Alpha menyediakan rumah dan kehidupan yang layak."
"Ada berbagai ras yang hidup di desa penampungan, dan demi kenyamanan mereka Alpha sengaja membuat tempat cukup berjauhan dengan lokasi ibu kota. Mau bagaimana pun, mereka masih di pandang sebagai tawanan dan budak jarahan perang oleh penduduk asli Darkmoon Pack."
"Apa Aldera yang menyatakan itu?"
__ADS_1
"Bukan, Luna. Meski beliau punya sikap arogan, tapi beliau sosok yang baik serta adil kepada kami. Bahkan, Alpha membuat pernyataan bahwa kami bagian dari Darkmoon Pack juga."
"Hanya saja luka hati tidak akan pernah bisa sembuh, Luna. Meski orang dewasa bisa menilai dan perlahan menerima keadaan saat ini, tapi ada banyak anak-anak dan wanita muda yang masih memiliki trauma. Begitu juga dengan Willy yang kehilangan ayah nya karena perang dua tahun lalu."
Clarissa menghentikan jalannya dan berdiri diam sembari melihat Enisha yang terlihat menahan air matanya, jika di lihat lagi Enisha punya tanda lingkaran yang sama seperti Willy. Apa mungkin dia juga korba dari perang itu?
Willy yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka terus berpura-pura tenang, bahwa sebenarnya ia pun tidak bisa melupakan hal apa yang telah terjadi pada Ayah nya. Rumah dan Pack yang ia banggakan dahulu, kini tinggal wilayah tandus bahkan tak layak huni.
Clarissa melihat punggung Willy yang prlahan menunjukkan gerakan kecil---menahan isak tangisannya. Sepertinya Clarissa membuka luka mereka, ia tidak bisa menjadi pembela karena bagaiman pun perang adalah situasi paling buruk bagi siap pun.
Aldera punya mahkota permata di kepalanya sebagai Alpha terkuat, tetapi ia juga harus merangkak dari tumpukan mayat yang terus mengutuknya dengan berbagai macam pandangan kebencian.
Clarissa seakan di tampar untuk melihat hukum alam, ia terlalu membenci takdir Moon Goddess yang berprilaku tak adil hanya kepada hidupnya. Tetapi, ada banyak mahluk hidup---punya cerita kelam tersendiri dala hidup mereka, bahkan jauh lebih buruk daripada dirinya.
Hidup itu punya banyak cabang pilihan, mau kau seberusaha apapun merangkak meraih cahaya di ujung jalan. Kau pasti akan menemui banyak lika-liku, tak mudah menjabarkan hidup seseorang hanya dari satu sudut pandang saja. Dan Kini Clarissa sadar bahwa ia terlalu berpikiran sempit menilai hidupnya dan kehendak Dewi Bulan selama ini.
"Maaf, aku telah menyinggung luka kalian."
"Luna, jangan berkecil hati. Sebenarnya Alpha tidak begitu merugikan kami, em---memang hasil dari dampak perang tersebut merusak segalanya. Tapi Alpha hanya menargetkan penguasanya saja dan tidak menghabisi rakyat lemah seperti kami. Bukankah beliau membuatkan kami tempat tinggal dan mencukupi kebutuhan hidup, itu sudah lebih dari cukup. Setidaknya kami tidak di telantarkan di tengah kekacauan tersebut."
"Enisha ...,"
"Aku! Aa--aku memang tidak menyukainya tapi beliau cukup baik menjadi Alpha daripada pemimpin kami di Pack dahulu." Ujar Willy dengan canggung, mencoba meringankan keadaan berat saat ini terutama ia tidak suka melihat Clarissa menunjukkan raut sedih seperti itu.
"Luna, tolong jangan terlalu di pikirkan, sekarang kami sudah baik-baik saja. Mungkin memang sudah menjadi kehendak Dewi, yang berlalu biarlah berlalu. Kami hanya berharap, tidak akan ada perang untuk kedepannya dari Alpha. Dan juga, ketika andatelah resmi menjadi Luna di Darkmoon Pack---tolong jangan abaikan kami." Enisha dan Willy melanjutkan perjalanan seakan pandgan iba kepada mereka sudah menjadi hal yang biasa.
"Mereka sungguh tangguh. Meski berat merelakannya tapi mereka harus tetap kuat untuk tetap menjalankan hidup kedepannya."
"Kau benar, mereka jauh lebih tangguh daripada kita...,"
"Dan, Aldera punya alasan sendiri kenapa harus memulai perang tersebut. Bukan kah aneh, jika Aldera adalah Villain nya dia justru malah mencukupi kehidupan mereka hanya untuk sekedar penebusan dosa tapi memulai perang lagi dan lagi."
Clarissa merenung dan hanya diam selama berjalan menelusuri hutan. "Aku hanya berharap, dia tidak melakukannya hanya untuk kesenangannya saja ...,"
"Desanya sudah terlihat," Enisha menunjuk jajaran pemukiman yang memiliki bangunan rumah serta wilayah yang cukup luas bahkan bisa di katakan ini adalah ibu kota kedua di Darkmoon Pack.
"Kita masih harus menuruni bukit ini untuk bisa sampai ke gerbang Desa." Willy berlari setelah menurunkan Nala, untuk bisa sampai Desa.
"Jangan lari, kau bisa terjatuh."
"Aku harus cepat menemui Bibi Shua!" Teriak Willy dengan bersemangat.
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...
__ADS_1