
Di tengah hutan Helena beberapa serigala berlari mencoba berburu pasukan Vampir yang terus melarikan diri dari sekelompok hewan buas. Diantara mereka terdapat tiga Werewolf yang telah berubah shift menjadi wujud Wolf nya dan mencegat ketujuh Vampir tersebut dari arah yang berbeda.
Demian, Pedro, serta warrior Wolf yang ikut menangani penyusupan wilayah tanpa seizin Alpha. Apalagi penyusupan itu di pimpin oleh Pangeran Vampir yang terkenal alan kebrutalan nya dalam memenuhi hasrat nafsunya dalam berpesta darah. Karena sekarang dia masuk sendiri ke wilayah kekuasaan Aldera itu berarti tidak Maslah kan jika dia membunuhnya?
Serigala coklat yang merupakan sosok Demian menggeram ganas menunjukkan gigi tajam wolf nya sembari mendekati kelompok Vampir tersebut.
"Apa kalian berhak takut kepada bangsa Werewolf? Pasukan Litch tidak pernah tunduk pada siapa pun kecuali keluarga kerajaan Vampir." Edward keluar dari persembunyianya menunjukkan sosoknya dengan sangat bangga.
"Lihatlah, mereka hanya bertiga dan beberapa serigala liar."
"Yang Mulia, tapi mereka adalah Demian dan juga Pedro---sebaiknya anda waspada."
"Aku tidak pengecut brengs*k!" Edward menusuk bawahan nya sendiri saat merasa tersinggung bahwa keberadaan dua Werewolf itu saudah cukup mengalahkan mereka.
"Biar aku lihat, apa kau masih sekuat yang di rumorkan Demian."
"Sebelum melawan Demian, aku sudah cukup membunuh mu. Serangga!" Frans sosok wolf Demian yang mengambil alih kesadaran, memberikan tatapan merendahkan kepada putra bangsa Vampir tersebut.
Edward yang terasa terprovokasi mulai menunjukkan kemarahan kemudian menyerang Demian. Sedangkan anak buahnya yang lain bergerak untuk melawan juga. Perkelahian sengit cukup terjadi diantara kedua belah pihak menunjukkan siapa paling perkasa diantara mereka dan yang pasti mencoba bertahan seakan berkata----siapa pun yang berhasil menyudutkan lawan dialah pahlawan nya!
Edward menggunakan kuku panjangnya mencoba mencakar serigala besar di hadapan nya, tetapi Werewolf punya sihir yang dapat melapisi pertahanan meski tidak di anugrah kan banyak macam sihir seperti kaum Witch.
Sesekali Frans hampir mengenai bahu Edward untuk ia hancurkan tiap tulang kakunya, dengan semangat memburu yang tinggi Frans menunjukkan senyum merendahkan seakan Edward bukanlah sosok yang patut di takuti.
Hingga pada suatu kondisi, Edward menggeram sakit saat serigala coklat di hadapan nya berhasil menggigit bahunya. Dengan rasa kesal, ia memutar otaknya dan mencoba melarikan diri saat sihir penyerangan nya berhasil menghempas Demian.
ia merubah wujudnya menjadi manusia saat merasakan pria di hadapan nya memiliki kekuatan sihir yang berbeda dari sebelumnya. Sesuatu yang gelap dan tercium aroma tak sedap.
"Lihatlah, aku tidak selemah dulu!" Edward tertawa sangat bangga kemudian membuat bola sihir aneh yang belum pernah di lihat mereka.
"Pasti reaksi Darkmoon Pack akan sangat menghibur melihat Beta---Werewolf terkuat setelah Aldera mati!" Edward bergerak cepat menelusup kearah Demian dan seketika ledakan besar hingga membuat tumpukan salju di dahan pohon cemara jatuh akibat getaran bumi nya.
Tapi---bukan Demian yang terpojok, melainkan Edward sendiri yang kini sudah jatuh menghantam tanah tepat di bawah kaki seekor serigala jauh lebih besar berbulu hitam legam manik emas langitnya menatap tajam sembari menekan Vampir itu kuat-kuat dalam cengkraman kukunya.
Benar, Aldera menyerang Edward sebelum ia menyerang Beta nya, tingkat kekutan yang begitu besar membuat Aldera semakin berada di atas langit dan hanya menunjukkan eksistensi nya sebagai seorang Alpha.
Keenam vampir yang melihat kedatangan Aldera secara tiba-tiba membuat mereka mundur perlahan, menatap ngeri dengan sosok serigalanya yang melebihi ukuran normal Werewolf. Seakan menyatakan bahwa ia adalah raja di seluruh pegunungan serigala. Aldera semakin yang menyukai wajah tersiksa Edward saat ia mencoba meronta dari kukungannya sangatlah lucu seperti seekor tikus!
"Ada yang bilang, jika kau memakan darah murni bangsa Vampir maka kau akan mewarisi kekuatan sihir besar dari leluhur Nobless. Bagaimana jika aku mengunyah kepala mu itu daripada memajang wajah buruk rupa mu, Edward?"
"Egh!" Edward terlihat ketakutan.
Aldera sudah menebaknya, mau di katakan dia seorang putra mahkota tapi sebenarnya dia hanyalah bocah pengecut yang selalu berlindung di ketiak ayah nya.
Edward sungguh sial, bukan kah katanya Aldera sedang tidak ada di perbatasan? Jika tahu, dia pasti hanya menyuruh anak buah nya saja.
Edward harus mengerang kesakitan saat Aldera menendang serta menginjak perut Edward lebih kuat dengan kelima kuku tajamnya mencengkeramnya, bahkan bisa di lihat bagaimana darah mulai mengalir dari baju mewah sutra emasnya.
"Memohon lah Edward, mungkin aku akan meringankan hukuman mu."
"Aku lebih baik mati daripada memohon untuk di biarkan hidup. Monster seperti mu tidak akan pernah menepati janjinya kepada musuh bukan? Jangan mencoba mengibur-----ARGH!!" Edward kembali terhempas dan tubuhnya terbanting di atas tumpukan salju yang terasa tajam serta perih akibat butiran kristal es nya.
Aldera tertawa puas melihat bocah brengs*k itu terus berteriak kesakitan. Namun tiba-tiba saja raut wajah Aldera menjadi kaku dan terdiam saat merasakan kehadiran seseorang yang sangat ia kenal bahkan perasaan candu atas kerinduan nya membuncah naik hingga ke pitam gairahnya.
__ADS_1
"Alpha, ada apa?" Pedro menghampiri Aldera saat ia terlihat menggeram seperti menahan hasrat sesuatu.
Dengan acuh, Aldera menoleh kearah sisi selatan---arah dimana ia dapat mencium aroma manis itu kembali. Ini hanyalah hutan belantara dan lebat yang terselimuti salju, tidak ada yang menarik selain putihnya salju. Tapi kini kehadiran seorang wanita di tengah musim dingin menghadirkan musim semi yang hangat untuk Aldera.
Tunggu, apa yang dilakukan Mate nya di sini?
Aldera yang teralihkan fokusnya membuat Edward mengambil kesempatan ini untuk kabur. Ia bangkit lalu berlari sekencang mungkin mengabaikan luka perih di perutnya lalu menyandra leher Wanita tersebut yang tak lain adalah Clarissa---beberapa saat lalu memutuskan mencari pemilik aroma wangi serta sejuk yang mampu menempati perasaan kosong di hatinya.
"Jangan mencoba mendekat atau aku akan membunuh manusia ini, Aldera!!" Teriak Edward sembari mendekatkan kelima kuku tajamnya pada leher Clarissa yang tak lagi terbalut syal hangatnya.
Sedangkan di posisi Clarissa.
Ia sangat terkejut dengan kejadian yang begitu tiba-tiba ini. Awalnya ia hanya penasaran dan semua menjadi canggung ketika ia melihat beberapa Serigala dan Vampir terlibat dalam pertarungan bahakan sampai membuat tanah bergetar.
Ia mencoba membaca situasi dengan cermat dan sepertinya secara kesimpulan kelompok Vampir ini berhasil terpojok oleh Werewolf di hadapan nya. Jadi, apa dia sedang di sandra sebagai jaminan keselamatan nya kepada bangsa Werewolf---Tidak ada satupun serigala yang ia kenal? Bodoh, Entah mengapa hanya itu yang bisa menggambarkan sosoknya dikepada Clarissa.
Edward sedikit bingung di tengah kepanikan nya. Bukankah biasanya wanita akan segera berteriak jika merasa terancam tapi lihatlah wanita ini, dia justru terlihat sangat tenang seakan ancaman nya bukanlah hal yang besar.
Tentu saja, dari pada kuku----Clarissa sudah lebih banyak mencoba berbagai ancaman untuk menawan lehernya dari kejaran paman nya. Harusnya dia menggunakan metode lain.
Ketika Demian dan Pedro merasa berhati-hati karena nyawa manusia di tangan Edward. Lain hal nya dengan Aldera yang sudah sangat marah ketika ujung kuku itu telah mengukir luka kecil hingga dapat ia lihat dengan jelas---darah wanitanya hampir menetes.
Clarissa hanya bisa mengikuti alur permainan saat ini, karena ia juga perlu waktu dan mencari cara lain untuk bisa keluar dari cengkraman Vampir tersebut Untungnya kalung Ibunya masih menyamarkan identitasnya sehingga mereka beranggapan bahwa ia adalah manusia.
Tapi entah mengapa saat ia melihat serigala hitam di hadapan nya, ia jauh lebih berbahaya dan memiliki respon agresif setiap Edward mencengkram kuat lengan kirinya, guna menahan Clarissa untuk tidak bergerak.
Dan lain sisi juga, Clarissa telah berulang kali memanggil Selena tapi ia tidak merespon ataupun sekedar menunjukkan kehadiran nya ada benak pikiran. Sehingga Clarissa hanya mampu pasrah sampai ia menemukan celah. Aneh, dia kan belum menggunakan kekuatan nya jadi harusnya Selena belum tertidur untuk memulihkan tenaganya bukan?
"Beri aku jalan dan jangan mencoba menghentikan ku!" Edward menarik paksa Clarissa untuk mengikuti batas dimensi perbatasan.
"Aku tidak akan melepaskan nya, sebelum kau menjamin keselamatan ku."
Serigala besar itu mulai berjalan perlahan maju dengan sangat berani dan yang pasti ia menunjukkan dominasinya sebagai seorang Alpha hingga membuat Edward tercekik dengan aura Aldera.
Sedangkan Clarissa tak dapat sedikitpun mengalihkan pandangan nya dari mata serigala itu yang menurutnya----dia sedang mendominasi jiwa wolf nya untuk tidak perlu khawatir ataupun merasa takut.
"Alpha, manusia itu bisa terluka dan juga kita tidak boleh menunjukkan kekuatan-----"
"Perset*n! Apa kau ingin membiarkan Luna ku mati ditangan nya, Demian? Aku akan membunuhmu jika kau menghentikan ku!"
Pedro dan Demian menegang saat nama Luna di ucapkan oleh Alpha mereka. Ini tidak mungkin kan jika manusia itu adalah Mate Aldera, dengan kata lain wanita yang di sandra pangeran Vampir merupakan calon Luna bagi Darkmoon Pack mereka. Jadi itu alasannya kenapa Alpha mereka terlihat sangat agresif terhadap sandera tersebut.
"Lepaskan dia, sebelum ku hancurkan tubuh mu!"
Edward tertawa sembari memandang rendah dan bersikap tidak perduli. Dengga arogan, Edward menekan kukunya hingga darah semerkah mawar mulai mengalir dari celah kuku tajamnya----seakan menantang, Edward menusuk pelan leher Clarissa dan itu cukup membuat Aldera menggila karena mendengar rintihan kecil dari bibir ranum Mate nya.
Kemarahan yang tak dapat membendung membuat Aldera melolong keras membuat badai salju di sekitaran hutan tersebut turun dengan sangat lebat, hingga membuat udara semakin dingin. Lalu ia menggeram kasar dengan menunjukkan deretan gigi gagahnya untuk mengoyak separuh tubuh Edward.
"Pangeran, akan lebih baik kita melepaskan manusia itu lalu segera lari. Saat ini Alpha Aldera tidak akan bisa kita hadapi."
"Kau pikir itu akan berhasil? Jika pun kita melepasnya, Monster itu akan menerkam ku dengan sangat gila, jadi manusia ini adalah kunci nyawa ku, bodoh!"
"Yang Mulia-----"
__ADS_1
"Diamlah kepar*t!"
Aaaauuuuu....!!
Sekali lagi Aldera melolong kemudian mulai berlari secepat mungkin kearah Edward. Mereka yang melihat itu di buat kelabakan dan hanya diam membisu saat Serigala besar hadir seperti andromeda yang kuat. Begitu juga dengan Clarissa yang turut terkesikap kaget dan menegang saat ia melihat mulut besar serigala itu sudah membuka----di seiring lompatan jauh kearahnya.
Clarissa dengan cepat memejamkan mata ketakutan, mencoba pasrah pada keadaan karena ia sendiri tidak tahu harus melarikan diri dengan cara apa di situasi bahaya seperti ini.
Teriakan keras dan nyaring terdengar di telinganya, cengkraman kuat dari Vampir tersebut mengendur---membuat keseimbangan Clarissa tergoyahkan, belum lagi kedua kakinya lemas di buat merinding oleh sosok serigala besar yang belum pernah ia lihat adanya serigala dengan ukuran wujud seperti dia.
Namun bukan salju yang menjadi hantaman Clarissa, melainkan sesuatu yang hangat serta gagah menghantam keningnya. Rangkulan nya yang terasa memeluk seluruh raganya membuat Clarissa merasa aman.
Dan aroma bunga anggrek itu tercium kembali hingga dapat ia rasakan perasaan sejuk berada di tengah hutan yang tersayup ombak angin senja, membawa perasaan aman bagi Clarissa.
Clarissa membuka kedua matanya----menoleh dengan perlahan keatas karena sosok yang mendekapnya jauh lebih tinggi daripada dirinya. Kamelia! Itulah yang ada pada pikiran Clarissa saat melihat manik mata merahnya yang mempunyai kemiripan dan sangat menawan seperti warna bunga Kamelia.
Detak jantung pria itu yang terasa selaras dengan irama pada jantungnya, menumbuhkan desiran perasaan aneh yang bergejolak aneh, seakan Clarissa menjadi serakah----Ia menginginkan sosok rupawan nya yang begitu sempurna!
"Jangan menjauh dariku." Bisiknya dengan suara bariton berat, sembari menahan punggung Clarissa yang sempat bergerak mundur.
Tanpa pikir panjang, Clarissa menenggelamkan seluruh wajahnya---bersandar dengan pasrah pada dekapan pria tersebut yang seakan menyelimutinya hanya dengan satu rangkulan tangannya saja. Dada bidang yang terekspos bebas tanpa ada kain yang menutupinya selain celana pendek selutut----Membuat Clarissa dapat menyimpulkan, bahwa pria ini adalah Serigala besar tadi.
Clarissa begitu menyukai aroma pria ini, pelukannya membuat perasaan menenangkan dari ketakutan pada sebelumnya. Ini aneh, belum pernah ia merasa seaman ini berada di sisi seseorang bahkan kepada Gama yang merupakan bawahan Ayahnya----Dan juga rasa aman yang jauh berbeda daripada pelukan seorang Ayah.
Sial! Aldera hampir kehilangan fokusnya saat jemari gemulai milik Clarissa menyentuh lekukan ototnya dan membalas pelukannya----aroma manis yang menyerbak dengan sangat harum membuat Aldera harus menahan hasrat gilanya untuk tidak menyentuh kekasihnya secara posesif dan int*m.
Tapi---yang harus ia lakukan sekarang adalah menghabisi pria brengs*k itu, karena telah menyentuh Mate nya bahkan membuatnya terluka!
Edward yang tadi sempat tergigit dan di lempar secara kasar oleh Aldera masih mengatur nafasnya serta tangan yang menahan darah keluar lebih banyak akibat gigitan Aldera. Keenam penjaganya yang sekarang telah menjadi tiga, karena serbuan Demian dan Pedro membuat kondisi semakin gawat bagi kaum Vampir.
"Cepat bawa anak kecil itu---argh!" Edward menarik kerah anak buahnya, dengan sangat kasar.
"Tapi anak-anak itu akan kita jadikan persembahan untuk King Hexornt. Jika Pangeran menggunakannya, beliau----"
"Diam dan turuti ucapan ku! Nyawaku lebih penting sekarang."
"Pangeran-----"
"Argh!!" Edward mencengkram kemejanya menahan rasa sakit yang seakan mulai mengikis jiwanya itu. "Suruh Lyn untuk membawa yang lain dan sisakan satu anak manusia itu kepada ku! Dia tidak akan rugi, ji...jika tumbalnya berkurang satu---Eugh!!"
Pedro mencoba mencegah salah satu bawahan Vampir membuat lingkaran sihir untuk membawa 10 anak-anak manusia menuju wilayah Vampir di Immortal---namun sayang, ia gagal saat sebuah kejutan listrik sihir dari rekan lainnya mencegah Pedro.
"Aku akan menghabisi mu!" Aldera Menjentikkan jarinya dan di susul suara teriakan Edward yang sudah sangat kejang pada tubuhnya seakan nyawanya berada di tangan sang Alpha saat ini.
"ALDERA!!!" Edward yang murka, segera menarik anak manusia yang di biarkan satu untuk ia minum darahnya, agar dapat membantu memulihkan lukanya lebih cepat.
"Aaaa!! Tolong lepaskan aku---hiks ibu..., tolong aku....,hiks." Ujar bocah perempuan tersebut sembari menangis histeris di cengkraman Edward.
"Berhenti menangis!!" Edward membentak sembari menggenggam kuat pergelangan tangan anak itu. Dan hal itu membuat anak kecil tadi menangis semakin keras.
Clarissa yang sebelumnya terbuai akan Aldera kembali sadar saat pendengaran nya menangkap suara yang tak asing baginya. Dengan ragu Clarissa menoleh melihat anak kecil tersebut yang kini sudah sangat terlihat sangat mengenaskan.
"Mia...," Gumam Clarissa saat menyadari anak kecil itu adalah Mia---Putri pemilik kedai gulali Nenek Ros, tadi.
__ADS_1
...«••--༺🌛🌟🌜༻--••»...